Laman

Eksotisme Sawahlunto : Tambang Batubara, dan Kenangan Jejak-jejak Imigran Belanda dan Jawa

sawahlunto, kota tambang, batubara, de greve
Courtesy : Minang Tourism
Hier rust de mijn ingenieur W.H de Greve den 12 October 1872 door een ongelekkig toeval alhier omgekomen R.I.P (Di sini beristirahat dengan tenang insinyur pertambangan W.H de Greve yang pada tanggal 22 Oktober 1872 meninggal karena kecelakaan).
Sumber : Minanglamo.blogspot.com
Makamnya hanya ditandai dengan nisan berukuran 107 cm x 88 cm. Tak ada ornament lain. Begitu sederhana. Terletak di tempat yang tidak biasa. Di kaki bukit, di pinggir sungai Kuantan  Jorong Koto Hilia Nagari Durian Gadang Sawahlunto.  Dipayungi pohon nangka, ditutupi oleh semak-semak dan rumput liar. Apa yang membuat seorang Belanda Willem Hendrik De Greve dimakamkan di tempat seperti  ini?

Demikian risalah baris demi baris dalam buku Jejak  de Greve Dalam Kenangan Sawahlunto yang ku baca. Begitu menggelorakan, begitu menakjubkan. Buku ini sudah ada sekitar dua tahun di rumah, namun baru kali ini aku berkesempatan untuk membacanya.

Emas Hitam

Berawal dari ambisi besar kerajaan Belanda dalam pencarian sumber-sumber energy untuk mendukung revolusi industry yang tengah marak di Eropa hingga mengantarkan seorang seorang insinyur pertambangan W.H de Greve hingga sampai ke Padangsche Bovenlanden, sebutan untuk daerah Minangkabau oleh Belanda.

Berbekal petunjuk dari penyelidikan awal yang dilakukan oleh C.De Groot van Embden, sembilan tahun sebelumnya.  Setelah mengkaji beberapa petunjuk, mengumpulkan beberapa benda uji dan mengujinya, pada tahun 1868 secara meyakinkan  de Greve menyatakan bahwa keberadaan batu bara di wilayah Ombilin itu benar-benar ada.

Batu bara dengan kalori terbaik dengan cadangan deposit hingga mencapai 200 juta ton. De Greve bahkan bisa memetakan wilayah sebarannya. Tapi de Greve belum puas.

Bagaimana pendistribusian batu bara itu nantinya hingga sampai ke negeri Belanda. Sawahlunto berada di tengah bentang pulau Sumatera. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan transportasi air. Inilah yang tengah di rintisnya, dijelajahinya kemungkinan jalur transportasi air hingga mencapai pantai timur Sumatera. Bagaimana menemukan jalur dari Batang (sungai) Ombilin, bertemu dengan Batang Kuantan, Sungai Kampar dan sungai Siak di Riau hingga berakhir di pertemuan sungai Indragiri dan Selat Melaka.

Namun takdir telah menemukan bahwa ekspedisi transportasi de Greve harus berakhir dengan sebuah kecelakaan di Batang Kuantan. Masih belum separuh jalan. Namun temuan de Greve di Ombilin kelak menjadi cikal bakal peradaban kota Sawahlunto.

Infrastruktur di Ranah Minang, Semua Berawal Dari Batubara


Kerajaan Belanda menanamkan modal berjuta Gulden untuk membangun infrastruktur di Sumatera Barat. Eksploitasi batu bara di Ombilin Sawahlunto membutuhkan banyak dukungan. Berbagai sarana dan prasarana dibutuhkan untuk memuluskan jalur logistic batu bara.

Proyek Tiga Serangkai dicanangkan oleh Kerajaan Belanda. Eksploitasi batu bara di Ombilin menjadi langkah awal dibangunnya sistem transportasi kereta api dari Sawahlunto hingga Padang dan dimulainya pembangunan pelabuhan Emmahaven (pelabuhan Teluk Bayur sekarang).Tidak hanya di Sawahlunto, tapi hingga menyebar ke berbagai daerah lain di Ranah Minang. Akhirnya terbangunlah sistem transportasi kereta api yang terintegrasi dari Pulau Air Padang - Padang Panjang- Bukittinggi - Solok - Muaro Kalaban - Sawahlunto - Teluk Bayur. Semua berawal dari batubara.

‘The Little Dutch’ Sawahlunto


Terletak di lembah Soegar, dikelilingi oleh perbukitan bukit barusan. Belantara hutan, persawahan dan areal lainnya dalam sekejap berubah menjadi kota industry. Gedung-gedung bernuansa kolonial Belanda dan China banyak dibangun, yang hingga kini masih terawat.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap didirikan untuk mendukung pertambangan. Lembah Soegar tidak lagi gelap di malam hari. Mana ada di Indonesia pada awal abad ke-20 listrik terang benderang di malam hari. Batu-bara telah mengubah segalanya. Sawahlunto telah menjadi daerah penting dalam geopolitik ekonomi Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, Indonesia sekarang.

Dulu disebut sebagai gedung Societeit. Dibangun pada tahun 1910 yang digunakan oleh petinggi tambang sebagai bangunan entertainment. Kini gedung ini difungsikan sebagai Pusat Kebudayaan Sawahlunto.
Kerlap-kerlip Lampu Gedung Societeit di Malam Hari (Sumber : Sawahlunto A Journey Into The Past)
Tampilan Gedung Societeit Kini

Senjakala Sawahlunto dan Transformasi Kota


Sejak penambangan pertama kali di Sungai Durian pada tahun 1891 yang membuahkan hasil produksi satu tahun berikutnya, kota Sawahlunto praktis bertumpu pada batu bara. Berduyun-duyun berbagai etnis berpindah hidup ke sini. Suku Jawa, Melayu, Batak dan lain sebagainya. Puluhan tahun masyarakatnya menumpukan kehidupannya pada batubara. Tambang batubara Ombilin merupakan tambang batubara terbesar di Indonesia pada masanya.

Menjelang tahun 1998, PT Bukit Asam sebagai BUMN yang bertindak sebagai operator tambang batubara Ombilin Sawahlunto, memindahkan kegiatan eksplorasinya karena cadangan yang sudah tidak ekonomis untuk ditambang. Denyut kehidupan mulai kembang kempis dan Sawahlunto terancam menjadi kota mati. Ribuan orang eksodus dari Sawahlunto hingga menjelang tahun 2002.

Kemudian datanglah seorang pengusaha Ir Amran Nur, putra daerah yang menjadi Walikota. Potret suram Sawahlunto direvitalisasi pada tahun 2005. Kota itu kini tidak lagi mengandalkan sektor pertambangan, tetapi dari pariwisata. Sawahlunto bangkit dengan menjual kisah masa lalunya.

Sawahlunto, A Cultural Tourism City

Yang kuingat dari memori kanak-kanak ketika pertama kali aku ke Sawahlunto adalah kota ini berbeda dari kota-kota lainnya yang pernah kukunjungi. Tidak terlalu besar, dikelilingi oleh perbukitan, bangunan-bangunan ‘aneh’ dan suasana yang ‘lain’.

Tak pernah lagi kukunjungi Sawahlunto hingga besar. Agustus tahun 2016 akhirnya aku kembali ke kota ini untuk suatu keperluan riset. Hari itu kota Sawahlunto  tengah bersiap-siap menggelar hajat Sawahlunto International Songket Carnival (SISCa) yang kedua. Sebuah gelaran dalam rangka ekspose Songket Silungkang kepada dunia internasional. Songket Silungkang merupakan salah satu kekayaan kultural nagari Silungkang Sawahlunto. Industri kreatif ini mampu mendukung geliat pariwisata Sawahlunto. Dengan menggunakan  mesin tenun tradisional, songket Silungkang dihasilkan dari tangan-tangan terampil nan lincah.

Aku senang sekali bisa menyaksikan kegiatan SISCa ini. Ratusan peserta datang dari berbagai daerah di dalam dan luar propinsi Sumatera Barat. Peserta parade berjalan mengelilingi daerah kota tua untuk mempromosikan songket Silungkang dan pariwisata Sawahlunto. Berharap gaungnya bisa menyamai Jember Fashion Carnival di tahun-tahun mendatang.
Berpose Di Depan Parade SISCa

Inilah masterpiece Songket Silungkang yang dipamerkan dalam gelaran Sawahlunto Internasional Songket Carnival tahun 2016. Dengan panjang hampir mencapai 20 meter lebih, perlu beberapa orang untuk merentangkannya. . .

Jejak-jejak Imigran Belanda dan Jawa 

Karena gelaran SISCa baru dimulai pukul dua siang, sehabis waawancara untuk keperluan riset, aku dan tim menyempatkan berkunjung ke beberapa destinasi yang menarik. Tujuan pertama kami adalah Lubang Mbah Soero.
Aku dan Tim berpose di mulut Lubang Soero
Lubang Soero merupakan saksi bisu sejarah panjang pertambangan batubara di Sawahlunto. Lubang Soero merupakan terowongan pertama yang digali untuk penambangan batubara. Dibuka pada tahun 1898. Terowongan ini mempunyai tiga level. Pada gambar di bawah merupakan level pertama dari terowongan. Dulunya terdapat rel pada jalan sekarang ditutup dengan paving block, untuk mendistribusikan batu bara dari tempat galian ke atas. Setelah 30 tahun beroperasi terowongan ini akhirnya ditutup karena terjadi rembesan dari Batang Lunto.
Intersection di Dalam Tunnel (Sumber Sawahlunto A Journey Into The Past)
Dua puluh ribu pekerja dari seluruh Indonesia dengan mayoritas dari Jawa didatangkan untuk menggali terowongan ini. Sebagian besar dari mereka merupakan orang tahanan. Satu grup pekerja terdiri dari sekitar tujuh orang pekerja yang diawasi oleh satu pengawas. Soerono merupakan salah satu pengawas lokal pertama dalam penggalian terowongan batubara ini. Namanya diabadikan sebagai branding destinasi wisata ini.

Orang rantai, demikian masyarakat menyebutnya. Pekerja-pekerja tambang dalam keadaan kaki di rantai dipaksa bekerja menggali terowongan dan batubara untuk memenuhi target dari pengawas. Tak jarang karena beban kerja yang berlebihan, banyak diantara mereka akhirnya menemukan ajal di sini.  Pemerintah Belanda hanya membuat nomor identifikasi pekerja pada batu nisannya. Tidak ada informasi yang lain.

Replikas Batu Nisan Orang Rantai Di Museum Gudang Ransum

Hingga sekarang di Sawahlunto sudah terjadi akulturasi kebudayaan jawa pada kehidupan masyarakatnya. Nama-nama penduduk yang berbau Jawa hingga diadakannya kegiatan pewayangan dan kuda lumping pada waktu-waktu tertentu.

Beranjak dari Lubang Soero, lalu kami menyinggahi Museum Gudang Ransum yang letaknya tidak begitu jauh dari Lubang Soero.

Museum Gudang Ransum memiliki kaitan erat dengan penambangan batubara. Disebut Gudang Ransum karena bangunan ini menyediakan konsumsi setiap harinya untuk ribuan pekerja tambang. Dibangun pada tahun 1918, kompleks bangunan Gudang Ransum merupakan sebuah konsep dapur masakan yang terintegrasi.

Terdapat enam bangunan di komplek ini. Ada bangunan yang memproduksi panas dari uap batubara dan mengalirkannya melalui pipa ke bangunan dapur untuk memasak. Terdapat juga gudang makanan yang memiliki tujuh ruangan untuk menyimpan tujuh jenis bahan makanan yang berbeda. Disamping itu juga ada bangunan yang khusus untuk memproduksi Es Krim dan penggilingan padi.
Bangunan Tungku Pembakaran



Periuk-periuk Raksasa Yang Digunakan Untuk Memasak
Berada di dalam Museum Gudang Ransum ini, aku membayangkan kesibukan di dapur umum dalam menyediakan konsumsi untuk pekerja. Hawa panasnya, riuh ramai suara pekerja di dapur diringi dengan asap yang menyeruak hingga keluar dapur. Semua peralatan memasak digunakan dalam ukuran besar dan dalam jumlah yang banyak. Dan dilengkapi dengan tiang-tiang tinggi yang menggunakan sistem katrol untuk mengangkat penutup periuk ketika memasak. Begitu terintegrasi, begitu terencana sistem logistik yang digunakan dalam gudang ransum ketika itu.

How To Get  Sawahlunto by SkyScanner


Sawahlunto berjarak sekitar 115 km dari Padang, ibukota Sumatera Barat. Traveler bisa menggunakan bus antar kota maupun jasa penyewaan mobil maupun mobil-mobil travel dengan durasi perjalanan berkisar 2.5 jam. Terletak di ketinggian 250 - 650 di atas permukaan laut.

Bagi Traveler yang juga ingin mengeksplor Sawahlunto sebagai tempat untuk menghabiskan liburan, jangan khawatir. Sekarang sudah ada situs yang membantu kamu untuk mewujudkan impian tersebut. Yup, pakai Skyscanner dong. Masak masih datang ke biro travel konvensional kayak dulu.

Sekarang kan zamannya online. Apa-apa bisa dilakukan dengan hape dan ujung jari. Nah kalau kamu pake aplikasi Skyscanner kamu gak hanya bisa booking tiket pesawat dan hotel, kayak kompetitor lainnya. Tapi kamu juga bisa sewa mobil sekalian. Jadi buat yang belum pernah ke Sawahlunto dan bingung cari kendaraan umumnya dari Bandar Udara Minangkabau, Skyscanner adalah solusi yang tepat.
Tampilan antar muka web Skyscanner

Oh ya maskapai apa aja yang bisa kamu gunakan kalau mau ke Sawahlunto? Banyak dong. Hampir semua maskapai brand dalam negeri membuka rute penerbangan ke Padang. Bagi kamu yang memilih Garuda Indonesia, kamu yang berangkat dari Jakarta terdapat tujuh kali penerbangan ke Padang, dan dari Batam sekali penerbangan sehari. Tiket Pesawat Garuda Indonesia pun bisa kamu dapatkan di Skyscanner.

Trus apalagi kemudahannya?

Situs Skyscanner merupakan situs terpercaya di seluruh dunia. Menampilkan harga yang jujur. Harga yang tertera merupakan harga yang anda bayar. Disamping itu pastinya hemat waktu. Iya dong karena sekarang Skyscanner juga sudah ada dalam platform aplikasi di gadget. Jadi bisa lebih ringkas.


Disamping itu Skyscanner juga menampilkan informasi, harga tiket pada penyedia jasa lainnya. Jadi kita bisa dengan mudah dapat informasi dan gak perlu ngabisin waktu buka dan search di tiap situs penyedia.

Kembali Ke Sawahlunto Dalam Impianku

Petang membatasi aku menjelajahi Sawahlunto pada hari itu. Aku dan rombongan harus kembali lagi ke Padang. Masih banyak tempat lagi yang belum aku kunjungi.

Ada Masjid Nurul Islam, masjid kebanggaan masyarakat Sawahlunto. Sepintas tidak ada yang istimewa dari masjid yang dibangun tahun 1952 ini. Selain fasad bangunannya yang memang mencirikan arsitektur jaman lampau dan jumlah kubahnya yang banyak. Aku belum belihat seperti apa di dalamnya, seperti apa cantik tegelnya.

Tapi lihatlah dari dekat kedua gambar di bawah ini. Sepertinya keduanya memiliki kemiripan. Hey coba pandangi kedua tiang tinggi yang terdapat di kedua gambar itu.
Kompleks PLTU Sawahlunto dulu (Sumber : Sawahlunto A Journey Into The Past)

Masjid Nurul Islam Sawahlunto (Sumber Beritanuansa.wordpress.com)
Benar kawan, itu adalah benda yang sama namun dengan fungsi yang berbeda. Cerobong asap dari pembakaran batubara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang dibangun pemerintah Belanda pada tahun 1894. Gedung instalasi pembangkit listriknya memang sekarang sudah tidak ada lagi. Sudah digantikan oleh bangunan fisik masjid. Namun tiang tinggi cerobong asapnya masih ada, dan difungsikan sebagai menara masjid. Menakjubkan bukan?

Masih ada Museum Kereta Api yang merupakan satu dari dua museum kereta api di Indonesia. Aku membayangkan suatu hari bisa menaiki kereta wisata dari Sawahlunto ke Muaro Kalaban yang ditarik oleh lokomotif Mak Itam, lokomotif uap peninggalan masa lampau. Ah betapa menyenangkan menyaksikan bentang alam sambil sesekali diselingi jeritan lokomotif uapnya.

Di Sawahlunto masih terdapat areal pemakaman Belanda, satu-satunya di Sumatera Barat. Terletak di Lubang Panjang sekitar dua kilometer dari pusat kota. Dengan luas areal 7000 m2 kamu bakal menyaksikan kuburan dengan ornamen-ornamen kolonial yang elegan.

Courtesy : @rizaanggraini
Sawahlunto bertabur bangunan-bangunan kolonial bergaya art deco. Keberadaannya hingga sekarang masih dapat kita jumpai. Bagi kamu yang suka selfie-selfie, Sawahlunto adalah tempatnya.
Kantor Pusat PT Bukit Asam (courtesy Minangtourism.com)
Berada di Sawahlunto seakan-akan membawa aku kembali ke masa lampau. Bangunan-bangunan kuno yang masih tegak berdiri, memberi tahu betapa hebatnya peradaban masa lampau. Tugas kitalah untuk menjaganya. Bukan berarti kita melestarikan kekuatan imperialis di bumi pertiwi ini, namun bangunan-bangunan itulah yang menjadi sebentuk penghubung dari masa sekarang dengan masa lampau. Yang bisa kita gunakan sebagai telaah berpikir untuk rencana di masa depan.

Menyusuri eksotisme Sawahlunto mengingatkanku betapa banyak peluh keringat bangsaku dalam membangun kota ini. Yang bahkan tidak hanya cukup diberikan dengan tenaga dan airmata, karena banyak dari mereka akhirnya menemui kematiannya disini.

Sawahlunto kaya dengan hasil bumi. Sawahlunto berlimpah kerajinan kreatif. Dan yang tidak kalah penting, Sawahlunto kaya akan sejarah perjuangan bangsa. Sudah sepantasnyalah kamu memilih Sawahlunto sebagai destinasi wisatamu. Skyscanner nanti yang akan membantumu.

Ah, Sawahlunto. Aku tak sabar untuk kembali bertemu denganmu...

                                                                        **AV**


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner


Referensi :
1. Yonni Saputra, Jejak de Greve Dalam Kenangan Sawahlunto, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2011
2. Yenny Narny, Sawahlunto A Journey Into The Past, Pemerintah Daerah Sawahlunto
3. https://minanglamo.blogspot.co.id/2013/04/wh-de-greve-explorer-1840-1872.html?m=1
Read More

Melahirkan Bayi Kembar Secara Normal? Bisa! Simak Pengalaman Saya

melahirkan, bayi, kembar, pengalaman

Melahirkan Bayi Kembar Secara Normal? Bisa! Simak Pengalaman Saya - Pandangan dan tatapan mata penasaran dan takjub selalu mengiringi saya dan suami ketika menggendong bayi kembar kami di depan umum. Bagaimana tidak, dua sosok bayi imut dan lucu dengan penampakan wajah yang mirip dan selalu menggunakan pakaian dan aksesoris yang sama?

Tak cukup hanya itu. Orang-orang akan selalu bertanya meminta konfirmasi tentang dua bayi kami.

“Kembar ya, Bu?”

“Iya,”jawab saya.

“Ih lucunya.”

Selalu begitu. Pun tak lupa kejadian yang sama terjadi lagi ketika kami membawa sikembar ke dokter untuk imunisasi. “Dulu lahiran sikembar operasi, Bu?”tanya ibu yang duduk di sebelah saya penasaran. “Gak kok, persalinan spontan .” Si Ibu tercegang tak percaya. “Oh, bisa ya melahirkan bayi kembar dengan normal?”

Itulah pertanyaan yang selalu saya tanyakan kepada dokter kandungan ketika pemeriksaan kehamilan dulu.

Teringat Awal-awal Diberitahu Hamil Kembar

“Selamat ya, Bu, Pak. Bayinya kembar,” begitu dulu dokter kandungan menyampaikan. “Tuh lihat kantong kehamilannya ada dua.” Saya dan suami malah sempat bengong tidak percaya. Kembar? Masa iya?

Iya, kami sama sekali tidak pernah membayangkan bakal punya anak kembar karena memang tidak punya garis keturunan langsung yang kembar. Sebuah nikmat Allah SWT yang tidak diduga-duga. Alhamdulillah.

Tidak ada yang berbeda antara kehamilan kembar ini dengan kehamilan sebelumnya. Saya tidak rewel pun demikian juga dengan  calon bayi di kandungan saya. Perkembangannya selalu sesuai dengan umur kehamilan saya. Hingga saya menyadari bahwa pada usia kehamilan enam bulan, baju-baju hamil saya terdahulu sudah tidak muat lagi untuk dipakai.

“Bu Dokter, gimana apa saya bisa melahirkan normal?” tanya saya ke dokter Kiki, dokter kandungan saya. “InsyaAllah bisa, Bu. Mudah-mudahan nanti posisi kepala bayinya bagus.”

Saya memang selalu cemas menghadapi persalinan nanti. Banyak dapat cerita kalau amat jarang orang yang melahirkan normal pada bayi kembar. Belum lagi teman kuliah saya yang juga kebetulan juga hamil kembar, juga memilih untuk melahirkan secara cesar bayinya. “Gak enak banget melahirkan Cesar. Ngilu di bekas operasi sebulan gak hilang-hilang” cerita teman saya tersebut. Makin takutlah saya.

Memasuki trimester terakhir, ukuran perut makin bertambah besar. Strechmark ada dimana-mana. Belum lagi kulit perut yang teregang sempurna hingga hanya menyisakan kulit tipis mengkilat pelapis perut. Makan sudah tidak bisa banyak-banyak. Sedikit makan, perut langsung terasa penuh dan berat. Demikian juga kaki sudah tidak kuat menopang tubuh berjalan. Sedikit melangkah, perut bagian bawah terasa sakit. Saya baru menyadari bahwa ternyata minggu-minggu akhir menjelang melahirkan , saya malah makin kurus.

Tidak bisa banyak makan pun juga tidak bisa banyak gerak. Saya makin cemas dengan masa persalinan saya. Bagaimana bisa melahirkan normal tanpa ada persiapan sama sekali. Mau ikut senam hamil, udah capek duluan karena tempatnya jauh. “Bisa gak ya Pa, Mama melahirkan normal nanti,” tanya saya pada suami.

“Serahkan sama Yang Maha Kuasa saja, Ma. Mudah-mudahan ada pertolongan dari Allah nanti,” nasehat dari suami.

Minggu-minggu terakhir kehamilan

Minggu-minggu terakhir menunggu proses persalinan, merupakan sebuah penantian yang melelahkan. Ukuran perut bertambah besar yang membuat mobilitas tubuh terganggu. Tidak itu saja. Besarnya perut ternyata berefek ke kenyamanan tidur. Tidur hanya bisa di bagian tepi dari tempat tidur. Mau bergeser sedikit saja, sungguh susahnya. Pantat sudah tidak sanggup lagi bergeser ke tengah tempat tidur karena bobot perut yang besar.  Dengan posisi tidur di tepi seperti ini, kaki tinggal dijuntaikan saja ke lantai yang memudahkan untuk bangkit dari tempat tidur. Jangan coba-coba untuk tidur telentang. Bisa-bisa tidak akan sanggup untuk duduk kembali.

Jadi bagaimana posisi yang nyaman untuk tidur? Saya bilang bahwa tidak ada posisi yang benar-benar nyaman. Sebentar tertidur dengan miring ke kiri, lalu kemudian pegal. Namun untuk berpindah miring ke kanan, itu bukan sebuah proses yang mudah. Belum lagi di setiap perpindahan posisi, kita harus menyertakan pemindahan bantal untuk mengganjal perut. Ya memang, perut di setiap perpindahan posisi harus diganjal dengan bantal. Itu keadaan nyamannya.

“Pa, masukin dong baju-baju dan semua persiapan mama melahirkan nanti ke kopernya”.

“ Entar aja deh, Ma. Masih lama juga, sebulan lagi.”

“ Sekalian gitu, Pa. Cek-cek apa yang masih kurang.”

Tapi akhirnya, barang-barang persiapan melahirkan tersebut baru dimasukkan ke dalam koper di saat-saat injury time. Kami abai dalam menyikapi nasehat dokter.

“ Karena hamilnya kembar, biasanya melahirkan gak sampai umur kandungan 38 bulan lho, Bu. Jadi bu Evi mesti siap-siap,” kata dokter Kiki pada saya suatu hari.

“Kenapa bisa gitu, Dokter?” tanya saya.

“ Karena dengan bayi kembar, bobot dari kedua bayi dan perangkatnya akan menekan leher rahim lebih berat. Dan itu bisa memicu kelahiran lebih awal.”

Saya masih ingat malam sebelum melahirkan bayi kembar saya. Tidak ada yang spesial pada hari itu. Saya makan dengan porsi makan sebagaimana biasa. Saya beraktifitas di rumah seperti biasa. Tidak ada yang mencurigakan dengan kondisi kehamilan saya kala itu walaupun saat itu sudah masuk minggu ke-35. Walaupun dokter kandungan saya sudah memprediksi kelahiran yang lebih cepat, namun hingga minggu ke-35 tersebut, saya belum memiliki feeling akan melahirkan. Kontraksi palsu terjadi seperti biasa sebagai persiapan rahim untuk melahirkan.

Saya tertidur pulas malam itu. Hingga saya menyadari bahwa tubuh bagian kanan sudah pegal yang menkitakan saya terlalu lama tidur dengan posisi miring ke kanan. Pelan-pelan saya ubah posisi dari miring ke kanan menjadi telentang. Bersiap-siap untuk ganti posisi miring ke kiri.

Lalu tiba-tiba, saya merasakan sesuatu merembes di celana dalam. Pipiskah saya? Bagaimana bisa pipis sedangkan saya masih dalam posisi setengah tertidur. Pun tidak ada perasaan ingin buang air kecil. Karena kaget saya secara otomatis berdiri karena ingin melihat sesuatu yang merembes tersebut.

Oh la la. Begitu saya berdiri tegak, air berwarna putih dengan bau khas mengucur melewati sela-sela kedua paha saya.  Ketuban saya telah pecah pada pukul 03.30 dinihari pada tanggal 5 Januari 2012. Saya membangunkan suami dan segera suami juga membangunkan kedua orangtua saya. Saya hanya bisa duduk dengan kaki rapat untuk menahan laju kucuran air ketuban keluar lebih banyak.

“Pa, kita belum jadi memasukkan perlengkapan melahirkan ke koper,”ujar saya cemas. Ini pengalaman pertama kehamilan dengan pecahnya ketuban.

“ Mama tenang aja,” suami menimpali. “Tinggal dimasukin aja kok ke koper dari kantong-kantong belanjanya.”

“Jangan sampai ada yang ketinggalan, Pa,” saya mengingatkan.

Rasanya waktu bergerak dengan lambat pagi itu. Menit ke menit waktu berganti terasa lama. Saya cemas dengan banyaknya air ketuban yang keluar. Apa yang terjadi kalau air ketuban yang keluar terlalu banyak. Bagaimana cara menghentikannya. Saya sama sekali tidak tahu dan tidak mempersiapkan diri kalau semua ini akan terjadi. Pembalut wanita yang saya pakai dengan cepat penuh dengan air. Akhirnya saya memakai pembalut nifas yang lebih besar dan volume tampungnya lebih banyak  daripada pembalut biasa.

“Evi, makan dulu sedikit,” saran Mama pada saya. “Biar tambah tenaga untuk melahirkan.

“Nanti aja, Ma. Ke rumah sakit aja dulu. Evi cemas, banyak sekali air ketubannya keluar.”

“Iya makan aja sedikit dulu. Nanti siapa tahu udah ga selera makan, “ kata mama meyakinkan saya.
Subuh jam 04.30 pagi kami berangkat ke rumah sakit. Untungnya Nessa, putri pertama saya tidak rewel dibangunkan menuju rumah sakit.  Dia masih terheran-heran dengan situasi yang terjadi. Maklum umurnya baru tiga tahun kala itu.

 Saya segera disuruh tidur dan tidak banyak gerak, begitu sampai di rumah sakit. “Semakin Ibu banyak bergerak, nanti air ketubannya makin banyak keluar,” demikian perawat tersebut menjelaskan.

Perawat segera menelepon dokter Kiki untuk melaporkan situasi saya. Saya dipasangi infus untuk menyuplai cairan ke rahim sebagai pengganti air ketuban yang keluar dan juga dipasangi kateter. Perawat pun memeriksa apakah sudah ada bukaan pada leher rahim. Pukul 05.30 subuh perawat tersebut memberi tahu bahwa ternyata saya belum ada bukaan.

“Kami akan memasang induksi ya, Bu, “ kata perawat pada saya.

“Mengapa gitu, Suster?“ saya cemas karena kabarnya dengan induksi kontraksi makin terasa sakit.

“Dokter Kiki bilang supaya mempercepat bukaan Ibu. Terlalu lama bayi dalam kandungan dengan air ketuban yang keluar, bisa menyebabkan bayi kekeringan,” ujar perawat menjelaskan.

Saya hanya bisa menyetujui tindakan yang dilakukan perawat. Percaya dan pasrah dengan intruksi yang diberikan dokter Kiki. Mudah-mudahan itu jalan terbaik yang diberikan Allah SWT untuk saya. Dan menunggu memang pekerjaan yang tidak mengenakkan dan terasa membosankan. Waktu terasa pelan berjalan begitu kita fokus mengikuti geraknya. Tak ada yang bisa saya lakukan, melainkan hanya menunggu dan menanti. Saya mensyukuri saran dari Mama untuk langsung makan saat subuh tadi. Sudah tidak ada nafsu makan memang dalam kondisi seperti ini. Mudah-mudahan dengan bekal yang tidak banyak itu membantu menambah tenaga buat saya.

Satu jam berlalu setelah diinduksi. “Masih belum ada bukaan, Bu,” ujar perawat pada saya. Saya resah, punya perasaan kalau proses induksi ini akan memakan waktu yang lama. Sementara badan udah mulai pegal-pegal karena kelamaan dalam posisi tidur. Berpindah-pindah posisi sudah tidak nyaman. Disamping tempat tidurnya yang sempit yang membuat saya serasa akan jatuh, tangan kiri saya juga dipasangi infus.

Dua jam berlalu. Namun saya tetap belum ada bukaan. Saya bertambah cemas. Saya mulai dihinggapi perasaan tidak akan kuat berlama-lama dengan kondisi perut buncit dengan posisi telentang.

“ Mohon ampun pada Allah SWT dan mohon pertolongan dan perlindungan-Nya agar prosesnya mudah dan lancar,” nasehat Mama ketika pamit mau absen ke kantor beliau. Saya mengikuti nasehat Mama. Berdoa memohon kelancaran terhadap proses persalinan dan mengucapkan Istighfar. Ternyata memang, doa yang khusyuk dapat menjadi obat mujarab mengusir kegelisahan. Hati pun menjadi tenang. Saya percaya dengan pikiran yang tenang, tubuh pun akan merespon dengan baik setiap doa-doa yang kita panjatkan.

Jam 09 pagi. Alhamdulillah saya sudah mulai merasakan sedikit sakit kontraksi di perut. Bukaan satu telah terjadi. Sebuah pertkita alamiah bahwa rahim sudah mulai bersiaga untuk mengeluarkan bayi kembar saya.

Walaupun begitu yang namanya perasaan ada saja syetan pengganggunya. Tangan kiri saya yang sudah hampir tiga jam lebih dipasangi infus terasa kesemutan. Belum lagi punggung rasanya mau rontok karena menopang tubuh dalam posisi terlentang yang lama. Saya sudah mulai dihinggapi ketidakyakinan akan kekuatan saya sendiri. Kontraksi perut masih bisa ditahan sakitnya. Namun kelelahan dengan kondisi fisik yang serba terbatas gerak menurunkan daya juang saya untuk persalinan normal.

“Pa, rasanya gak kuat lama-lama kayak gini,” imbuh saya pada suami. “Cesar aja deh, Pa. Berapa harga paketnya kalau Cesar?”

“Jangan menyerah gitu dong, Ma. Mama pasti bisa,” ujar suami menyemangati. “Papa selalu mendampingi Mama kok, disini.”

“Tapi capek lama-lama kayak gini, Pa. Mama gak kuat”

“Ayo kita sama-sama berdoa yuk, semoga Mama diberi kekuatan oleh Allah SWT dalam menjalani persalinan ini.”

Jam 10 wib sudah mulai ada kemajuan. Saya sudah dalam posisi bukaan tiga. Sakit kontraksi sudah mulai terasa lebih sering dan lebih sakit dari sebelumnya. Mama menyuruh saya agar senantiasa mengucapkan Alhamdulillah kala sakit kontraksi menyerang. Dengan begitu, pertkita kita mensyukuri jalan kelahiran akan semakin dekat. Rasa sakit yang menyerang merupakan cara rahim untuk membantu bayi dalam proses kelahirannya.

“Suster, dokter Kiki kok belum juga datang,”tanya saya. Sudah sekian jam saya di ruang bersalin sejak kedatangan, namun dokter kandungan tersebut belum juga muncul.

“Ibu kan masih bukaan tiga. Masih lama kok, Bu,” jawab perawat tersebut. “Dokter Kiki selalu kami kabarkan kok mengenai perkembangan kondisi Ibu.”

Ibu mertua dan kakak ipar saya juga akhirnya datang dari Bukittinggi menjelang siang. Walaupun bukan merupakan cucu pertama beliau, namun proses kelahiran ini disambut dengan gembira karena  bakal mempunyai cucu kembar. Sementara itu rasa sakit kontraksi semakin sering datang dan semakin dalam. Benar saja yang diucapkan orang-orang. Persalinan dengan induksi jauh lebih sakit kontraksinya dibandingkan dengan tidak diinduksi. Rasa sakit yang mendera, yang membuat kita hanya mampu meresponnya dengan erangan kesakitan dan meringis memejamkan mata.

“Percepatlah proses ini, ya Allah. Berilah kekuatan pada hamba.” Tak putus-putusnya saya berdoa ditengah sakit. Entah mana yang lebih sakit, ketika melahirkan anak pertama dengan sekarang.

Harusnya karena ini persalinan kedua, sakit kontraksi tidak akan sesakit ketika kelahiran normal pertama. Entahlah, saya hanya merasakan sakit yang teramat sangat.

Terkadang menunggu bukaan kelahiran yang prosesnya lama dan tidak menentu memang butuh kesabaran tingkat tinggi. Siapa yang tidak ingin proses melahirkan cepat dan gampang. Kalau bisa lebih cepat kenapa harus menunggu lama. Tapi ini adalah tubuh, makhluk hidup yang butuh proses dalam setiap tahapannya. Bukan mesin yang selalu mencetak produk dengan cepat. Kita harus bisa sabar terhadap setiap reaksinya. Proses melahirkan normal adalah proses yang butuh waktu. Jadi tidak bisa instan.

Yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan bersabar dalam setiap tahapannya. Buang jauh-jauh semua erangan, keluhan dan emosi-emosi negatif lainnya. Karena itu hanya akan memakan cadangan energi kita. Padahal menunggu proses bukaan belumlah puncak perjuangan kita. Siapa yang tidak merasakan sakit ketika kontraksi makin menyiksa. Tapi rasakan secukupnya saja. Yakinilah bahwa pertolongan Allah SWT akan datang masanya.

Perawat memeriksa kembali bukaan leher rahim saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 siang. Ternyata saya sudah mencapai bukaan 8. Rasa sakit makin sering datang dan bertambah hebat. Saya sudah berfirasat bahwa akan melahirkan dalam waktu yang tidak lama.

“Kenapa dokter Kiki belum datang juga, Suster,” tanya saya .

“Iya sedang kami telepon, Bu.”

Tapi saya makin khawatir karena dari ruangan sebelah, terdengar suara kepala perawat menginformasikan bahwa dokter Kiki tidak mengangkat-angkat pesawat Handphone-nya.

“Coba telepon nomor rumah beliau,” saran dari perawat lain.

Lalu terdengar bunyi pesawat telepon kembali ditekan-tekan nomornya. “Kata orang di rumah, dokter Kiki visite ke RSUP M. Djamil,” terdengar kembali suara kepala perawat menginformasikan.

“Aduh, gimana ini, Pa?” saya demikian cemas membayangkan bakal melahirkan tanpa didampingi dokter.

“Sabar sayang,” mama menenangkan, “perawat di sini kan juga bidan yang bisa membantu pasien melahirkan.”

Kepala perawat kemudian menginformasikan kalau dari bagian kebidanan dan kandungan RSUP M. Djamil Padang di dapat kabar kalau dokter Kiki pergi ke Fakultas Kedokteran Universitas Kitalas. Mendengar itu, saya makin hopeless dengan keberadaan dokter Kiki, dokter kandungan saya. Sementara itu rasa sakit kontraksi frekuensinya sudah makin sering dan hampir-hampir tidak berhenti.

“Bukaan hampir lengkap,” ujar perawat yang memeriksa saya setengah berteriak.

“Tahan dulu, Bu. Jangan mengejan dulu.”

Saya panik. Bagaimana mungkin bisa melawan dorongan bayi yang mau keluar. “Sama bidan aja. Tolong bantu saya melahirkan,” teriak saya putus asa.

Saya benar-benar kecewa dengan dokter Kiki. Bagaimana bisa saya pasiennya, yang hamil kembar, dalam posisi akan melahirkan namun keberadaannya tidak jelas. Sedari awal sudah saya sampaikan bahwa saya ingin didampingi ketika melahirkan nanti. Bagaimanapun ini kelahiran yang tidak biasa.
Lalu kepala perawat datang dengan tergopoh-gopoh ke ruangan bersalin.

 “Ayo, segera disiapkan. Dokter Kiki sedang menuju kemari,”ujarnya memberi instruksi. Kaki saya ditaruh digantungan dan diikat. Saya pasrah saja. Ini terasa menakutkan karena dulu tidak seperti ini.
Saya sudah tidak sanggup menahan dorongan untuk mengejan. Disaat yang tepat dokter Kiki akhirnya tiba di ruang bersalin.

 “Aduh maafkan saya, HP saya silent karena sedang mengajar,”ujarnya. “Saya tidak menduga prosesnya cepat.”

“Mari, Bu. Kita mulai sekarang,” kata dokter Kiki memandu.

Ternyata walaupun ini bukan persalinan yang pertama buat saya, saya masih tidak kuat mengejan. Setelah beberapa kali mengejan, akhirnya bayi pertama terlahir ke dunia. Alhamdulillah, kami sama-sama mengucapkan rasa syukur atas nikmat dan kekuasaan Allah SWT. Hilang sudah semua rasa sakit begitu melihat bayi yang baru terlahir.

“Ayo, Bu. Kita siap-siap yang kedua,” instruksi dari dokter Kiki. Ternyata saya harus persalinan lagi untuk yang kedua kali. Dokter Kiki sama sekali tidak menunggu jeda untuk mengisi kembali tenaga yang telah terkuras.

“Mulut rahimnya masih terbuka lebar sekarang,” katanya memberi penjelasan. Saya bersiap-siap kembali untuk mengejan. Saya pikir ini tidak akan susah karena ini bayi kedua. Tentunya jalan kelahiran akan lebih mudah karena sudah dibukakan oleh bayi pertama. Ternyata sama saja dan bahkan lebih terasa sakit. Disebabkan bayi kedua ini dalam posisi sungsang. Saya mencoba untuk kembali untuk mengejan dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Begitu kaki dari bayi kedua keluar, dokter Kiki segera membantu kelahirannya dengan cara menariknya keluar. Bukan main terasa sakit di panggul dan vagina. Alhamdulilah bayi kembar saya terlahir selamat dan sempurna.

***

Saya langsung menangis, begitu Mama masuk ke ruang bersalin untuk melihat kedua cucunya yang baru lahir. “Sst gak boleh nangis,” kata Mama, “Alhamdulilah sudah selesai.”

“Sakit sekali, Ma,” kata saya sesegukan.

Selesai sudah perjuangan saya hari ini. 5 Januari 2012 mendekati jam 14 wib kedua puteri kembar saya terlahir. Sungguh saya tidak menyangka proses kelahirannya kurang dari 12 jam sejak pertama kali ketuban pecah. Apalagi saat ketuban pecah, bukaan sama sekali belum ada.

Saya pikir tadi akan berakhir di meja operasi. Saya sama sekali tidak yakin dengan kekuatan fisik saya. Kondisi sudah teramat tidak mengenakkan. Tubuh bagian bawah sudah basah karena air ketuban tetap keluar walaupun saya sudah dalam posisi tidur dan tidak bergerak. Tulang punggung rasanya sudah remuk menahan tekanan beban dari perut. Belum lagi keberadaan dokter Kiki yang tidak bisa dihubungi.

Namun kuasa Allah SWT memang maha besar. Tak disangka melewati bukaan 8, proses bukaan berjalan dengan cepat. Disaat-saat genting saya sudah dalam posisi siap untuk melahirkan, dokter Kiki akhirnya berhasil dihubungi. Saya percaya itu sudah menjadi scenario dari-Nya. Manusia hanya diminta menjalankan dengan sabar dan ikhlas. Yakinilah pertolongan dari Allah SWT itu akan selalu hadir di saat yang tepat terhadap hamba-Nya yang selalu meminta pertolongan.

Satu proses kelahiran saja, sudah sedemikian menguras energi. Apalagi untuk kelahiran bayi kembar, energi yang dibutuhkan menjadi berlipat gkita. Kadang ditengah rasa sakit kontraksi, saya dihinggapi perasaan tidak akan mampu dan kuat melahirkan bayi kembar saya secara normal. Ternyata kita mempunyai kekuatan yang jauh debih dasyat dari yang kita perkirakan. The strength you never know you have. Allah SWT telah mentakdirkan saya hamil bayi kembar. Allah jugalah nantinya yang akan mengatur dan membantu kelahiran bayi kembar tersebut dengan kuasa-Nya.

Namun bagaimana sesungguhnya dunia kedokteran menyikapi kelahiran bayi kembar secara normal?
Selama kondisi kedua bayi normal dan tidak ada gangguan kehamilan lain, ibu bisa melahirkan bayi kembarnya dengan normal meskipun tercatat sebanyak 6 dari 10 bayi kembar dilahirkan melalui operasi caesar. Posisi bayi dalam kandungan menjadi salah satu faktor penentu proses persalinan yang akan dijalani ibu.

Persalinan normal dapat dilakukan jika setidaknya kembaran yang akan lahir pertama berada dalam posisi kepala di bawah dan plasenta tidak menghalangi leher rahim. Bayi kembarnya juga bukan merupakan kembar identik, sehingga tidak berbagi plasenta yang sama.

Beberapa rumah sakit akan merekomendasikan operasi caesar untuk ibu dengan bayi kembar dalam satu plasenta. Pasalnya, kembar identik berisiko mengalami komplikasi selama kelahiran.
Calon orangtua akan dianjurkan untuk melahirkan bayi kembar di rumah sakit atau klinik bersalin dengan fasilitas yang memadai, bukan di rumah. Ini karena persalinan bayi kembar memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi daripada persalinan satu bayi.

Apapun keputusan yang akan dijalani, keselamatan ibu dan bayi akan diawasi secara ketat. Persalinan normal untuk bayi kembar tentunya memerlukan penanganan yang lebih intensif daripada persalinan normal untuk satu bayi. Hal ini dapat meningkatkan kemungkinan operasi caesar demi keselamatan ibu dan anak. Pada beberapa kasus, salah satu bayi kembar dapat dilahirkan secara normal, sementara bayi yang lain diangkat melalui operasi caesar.

Para ahli memperkirakan bahwa setengah kasus bayi kembar akan dilahirkan premature. Ada banyak alasan mengapa banyak bayi kembar lahir prematur. Misalnya karena rahim sudah berkontraksi, air ketuban sudah pecah, atau leher rahim sudah membuka. Hamil anak kembar memang meningkatkan risiko persalinan lebih cepat.

Sekarang puteri kembar saya sudah berusia enam tahun. Setelah besar mereka tak lagi terlihat seperti anak kembar. Memang mereka bukanlah kembar identik yang mempunyai sifat dan kemiripan wajah. Bahkan sekarang mereka sudah tidak suka lagi memakai baju-baju yang sama. Masing-masing sudah mempunyai keinginan yang berbeda terhadap sesuatu.

Tapi buat saya, mereka tetaplah anak kembar saya. Dua bayi yang saya kandung dalam waktu sekaligus. Begitu banyak keajaiban yang saya rasakan semenjak kehamilannya. Suatu pengalaman hidup yang maha dasyat yang tidak semua orang miliki. Menjadi ibu kembar dengan kelahiran normal.

                                                                              ++ AV ++
Read More

Mencapai Indonesia Sehat Dengan Germas, Apa Yang Harus Dilakukan?

germas, indonesia, sehat, 7 kegiatan
Copyright : Mitra Kesehatan Masyarakat

Mencapai Indonesia Sehat Dengan Germas, Apa Yang Harus Dilakukan?- Sebagai peserta JKN, saya terperangah ketika membaca berita yang mewartakan bahwa BPJS mengalam deficit dalam pembiayaan. Bagaimana tidak dari tahun ke tahun, BPJS menanggung pembiayaan pengobatan pasien yang terus merangkak naik. Hingga September 2017 BPJS sudah membayarkan klaim pengobatan senilai lebih dari 12 Milyar. Dan itu didominasi oleh penyakit katastropik yang merupakan penyakit tidak menular seperti  jantung, kanker, diabeter, sirosis, leukemia dan lain-lain.

Dalam suatu riset menyebutkan Indonesia telah mengalami transisi epidemologi. Jika dibandingkan data penyakit yang signifikan terjadi pada tahun 1990 dengan 2015, telah terjadi perubahan polanya. Tahun 1990 56% penyakit yang sering menjangkiti adalah penyakit menular seperti TB, diare, ispa dll sedangkan tahun 2015 sekitar 57% penyakit merupakan penyakit tidak menular. Saya berhipotesis PTM ini lebih didominasi faktor individu terkait gaya hidup dan faktor perilaku. Berbeda dengan penyakit menular yang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang tidak bisa dikontrol.

Derajat Kesehatan dan Teori HL Blum

Faktor apa yang mempengaruhi derajat kesehat masyarakat? Pakar kesehatan HL Blum mengeluarkan teori bahwa ada empat faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan.
Seingga dengan demikian bagaimana respon kita terhadap penyakit? Pilihannya Cuma dua : menjaga agar selalu sehat atau mengobati.

Inisiasi Indonesia Sehat Dengan Germas dan Bagaimana Mencapainya?

Presiden Jokowi sudah mengeluarkan Instruksi Presiden no 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Germas ini merupaka suatu tindakan sistematis dan terencana  yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa  dengan kesadaran, kemauan dan kemampuanberprilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.

Dengan adanya Germas diharapkan lingkungan menjadi bersih sehingga kesehatan terjaga, sehingga masyarakat produktif bekerja dan tercapainya pengurangan biaya berobat.

Siapa Saja Yang Melaksanakan Germas?

Seluruh masyarakat diharapkan dapat mengaplikasikan germas dalam kehidupannya sehari-hari baik sebagai individu, keluarga atau pun masyarakat.  Institusi dan organisasi juga diharapkan menjadi penggerak kegiatan germas ini dan ditunjang oleh pemerintah pusat dan daerah dalam menyediakan beberapa layanan terkait dengan germas.

Apa Saja Bentuk Kegiatan Germas?

Tujug kegiatan Germas
Germas dimulai dengan 3 fokus kegiatan yaitu meningkatkan aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur dan deteksi dini penyakit tidak menular (PTM). Namun untuk lebih mensukseskan tujuan gerakan masyarakat sehat dan meningkatkan kebiasan pola hidup sehat, ada 4 kegiatan tambahan yang bisa dilakukan.

1.    Aktivitas Fisik

Banyak dijumpai masyarakat usia produktif yang terserang penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, serangan jantung, obesitas, kolesterol tinggi, diabetes dan hipertensi akibat dari kurangnya aktivitas fisik dan pola hidup yang tidak sehat seperti merokok.

Meningkatkan aktivitas fisik setiap hari menjadi salah satu kegiatan Germas untuk menghindari dan mencegah timbulnya berbagai penyakit yang disebabkan karena obesitas atau penumpukan lemak dalam tubuh.

Kita juga bisa melakukan aktifitas fisik di sela-sela kegiatan kantor dengan melakukan senam ringan selama beberapa menit.

2. Konsumsi Buah dan Sayur

Buah dan sayur juga mengandung antioksidan yang mampu mencegah proses oksidasi molekul lain yang menghasilkan radikal bebas yang dapat merusak sel-sel dalam tubuh. Kalori yang terdapat pada buah dan sayur cukup rendah dan bebas dari lemak jahat sehingga sangat baik untuk mencegah kelebihan kalori dalam tubuh.

Hampir semua buah-buahan dan sayuran kaya akan vitamin, mineral. serat, antioksidan yang berguna untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan menghindari berbagai jenis penyakit secara alami.

3. Rutin Memeriksa Kesehatan

Pemeriksaan kesehatan atau medical chekup dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui kondisi kesehatan secara berkala. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dapat mendeteksi lebih dini penyakit yang ada dalam tubuh, khususnya penyakit-penyakit tidak menular yang berbahaya dan mematikan, sehingga kondisi penyakit yang lebih parah dapat dicegah.

Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan memiliki banyak manfaat diantaranya mengetahui kondisi kesehatan tubuh secara dini, juga dapat menekan biaya pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup seperti cita-cita Germas.

4. Membersihkan Lingkungan

Menjaga lingkungan agar selalu bersih menjadi salh satu kegiatan Germas yang harus dilaksanakan oleh setiap lapisan masyarakat. Tidak hanya lingkungan rumah sendiri namun juga lingkungan sekitar. Di Indonesia masalah lingkungan bersih masih sering dijumpai dan dapat menjadi sumber penyakit.

5. Menggunakan Jamban Sehat

Penggunaa jamban sehat dan bersih sangat diperlukan untuk mencegah penularan berbagai penyakit diantara penggunanya akibat bakteri dan virus. Pada umumnya jamban digunakan secara umum atau bersama-sama yang berpotensi meningkatkan angka penularan penyakit.

6. Tidak Merokok

Dampak buruk rokok dapat menyerang berbagai organ tubuh manusia, seperti otak, mulut dan tenggorokan, paru-paru, lambung, tulang, kulit dan organ reproduksi. Selain itu, rokok juga dapat meningkatkan tingkat stres dan sangat dapat menjadi sumber penyakit bagi lingkungan disekitarnya.

7. Tidak Mengkonsumsi Alkohol

Banyak dampak buruk yang diakibatkan oleh konsumsi alkohol seperti meningkatnya kadar trigliserida (suatu jenis lemak yang terdapat dalam darah) dan meningkatkan tekanan darah tinggi. Selain itu, mengkonsumsi alkohol juga berdampak pada psikologi yang menyebabkan hilangnya kesadaran sehingga sulit mengendalikan pikiran, perasaan dan tindakan.

Dengan 7 kegiatan Germas diatas kualitas hidup sehat dan tingkat kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Masyarakat sehat dan sejahtera adalah landasan untuk mencapai Indonesia Sehat.

PS : Artikel Ditulis Berdasarkan Paparan dr. Osca Primadi MPH  Irjen Kemenkes RI pada acara Temu Blogger Kesehatan di Padang
Read More

Disiplin Positif, Kunci Pengendalian Gadget Pada Anak


Masih ingat kan, beberapa waktu lalu viral video yang memperlihatkan seorang anak yang tengah menonton video tak pantas, luput pengawasan ibunya yang berada tak jauh dari si anak. Si Ibu mungkin beranggapan, dengan anak memainkan gadget, mereka lebih 'terkontrol' dan 'terkendali' sehingga ibu/oragtua bisa beraktifitas dengan tenang.

Sekarang ini, penggunaan gadget kadang susah untuk dikendalikan. Di satu sisi, menjadi kebutuhan karena segala informasi bisa dengan mudah didapat. Di sisi lain, gadget juga menyediakan dampak negatif yang menuntut perhatian, seperti penggunaan gadget pada anak. Bagaimana mencegah anak kecanduan gadget?

Memainkan gadget dalam waktu yang relatif lama, dengan jarak yang dekat membuat mata anak rentan sakit. Tidak hanya iritasi, tapi bisa membuat rabun dekat dalam umur yang masih dini. Belum lagi anak-anak menjadi malas bergerak dan beraktivitas karena permainan yang ditawarkan oleh gadget bersifat statis.

Kadang, kita secara tidak sadar turut membuat anak-anak menjadi kecanduan memainkan gadger. Dengan alasan supaya tidak mengganggu pekerjaan rumah tangga, anak-anak diberikan gadget. Atau supaya orangtua bisa beristirahat sebentar setelah pulang dari kantor, dan berbagai alasan lainnya.
Saya sendiri merasa kewalahan dalam mengontrol penggunaan gadget anak-anak, setelah saya memasang internet di rumah untuk keperluan studi lanjut saya. Mulai dari mengingatkan kalau mereka sudah lama bermain, tapi ini jarang digubris. Akhirnya harus diambil langsung HP yang dimainkan dari tangan anak-anak, supaya mereka berhenti bermain. Tak ayal anak-anak langsung marah dan mengamuk. Menangis tidak karuan.

Buat Kesepakatan 


Saya pikir problem disiplin memainkan gadget untuk anak-anak merupakan sesuatu yang perlu untuk dicari jalan keluarnya. Memutus penggunaan internet bukan opsi terbaik, karena saya membutuhkan koneksi yang stabil dengan kuota tidak terbatas. Di sisi lain, anak-anak mesti terkontrol dan tidak bisa diandalkan dengan jalan memarahi mereka saja kalau mereka tidak patuh.

Nah, disiplin positif adalah kunci mencegah anak kecanduan gadget. Apa itu disiplin yang positif? Disiplin positif adalah konsep lama dari Alfred Adler dan Rudolf Dreikurs yang mulai digunakan dan dikaji kembali karena munculnya banyak kekeresan yang terjadi di rumah dan sekolah. Disiplin positif merupakan sistem disiplin yang menfokuskan pada tingkah laku positif anak. Melalui disiplin positif anak diajarkan untuk berperilaku sesuai dengan aturan dan nilai keluarga.

1.  Kesepakatan dibuat dengan keterlibatan semua anggota keluarga

Dari hasil diskusi dan negosiasi antara saya, suami dan anak-anak akhirnya tercapai kesepakatan, bahwa anak-anak diperbolehkan main gadget maksimal 90 menit sehari. Mungkin waktu 90 menit ini sudah relatif lama untuk durasi penggunaan gadget pada anak. Tapi saya dan suami berpendapat, bahwa sesuatu perubahan tidak bisa secara drastis. Perlahan-lahan nanti durasi ini akan dipersingkat.

2.  Fokus hanya pada hal yang dianggap penting oleh semua anggota keluarga

Jadi kesepakatan yang dibuat, tidak mungkin bisa menjangkau semua aturan yang ingin diterapkan oleh orangtua. Untuk itu orangtua mesti fokus untuk beberapa hal yang dianggap penting saja. Misalkan disiplin sholat tepat waktu

3.  Hanya sedikit.

Usahakan aturan atau kesepakatan yang dibuat berupa poin –poin yang junlahnya tidak banyak sehingga anak mampu mengingat dan melaksanakan kesepakatan tersebut dengan konsisten. Kesepakatan pertama saya dan anak-anak adalah soal durasi penggunaan gadget. Di samping itu kami juga membuat aturan bahwa penggunaan hp tidak diperbolehkan di malam hari. Dengan hanya berupa dua poin kesepakatan tersebut, terlihat anak-anak mampu untuk melaksanakannya.

4.  Menyebutkan nilai yang dijunjung keluarga.

Anak memahami tanggung jawab sebagai anggota kelompok dalam keluarga dan senantiasa melaksanakan nilai-nilai kejujuran dalam keluarga. Dan tak dinyana si kembar Dhila Thiya menjadi pawang untuk penggunaan gadget untuk kakaknya. Dan sebaliknya juga demikian.

5.  Menjelaskan konsekuensi

Bila kesepakatan dilanggar, maka konsekuensinya harus ada. Saya juga menerapkan kesepakatan dalam merumuskan konsekuensi tersebut. Misalkan tadinya saya menawarkan tidak boleh belanja pada esok hari, kalau anak-anak tidak mematuhi kesepakatan penggunaan hp. Sikembar setuju, namun si kakak meminta ganti. Dia menawarkan untuk mencuci semua piring yang kotor nila melanggar kesepatan.

6.  Dibuat Tertulis

Kesepakatan bersama dibuat tertulis di area yang mudah dijangkau anak-anak. Saya juga membuatkan tabel penggunaan hp pada setiap harinya. Dengan begitu, anak-anak bisa mengontrol diri akan durasi memainkan gadget. Isi tabelnya sederhana. Terdiri atas kolom nama, keterangan waktu pagi dan sore hari yang berisi durasi setiap anak dalam penggunaan hp.

Setelah beberapa lama, kesepakatan yang dijalankan perlu ditinjau ulang. Misalkan ada masalah yang muncul dan sebagai refleksi yang baik pada anak. Hingga hari ini, durasi penggunaan yang tadinya 90 menit sudah saya kurangi menjadi 60 menit sehari. Dan itu merupakan contoh sebuah refleksi yang baik bagi anak, bahwa mereka bisa melakukan aktifitas lain yang lebih menarik dibandingkan hanya memainkan jari mereka saja.  Mudah-mudahan kesepakatan dalam mencegah anak kecanduan gadget ini bisa diterapkan dalam hal lain lain.

PS: Bahan diskusi diambil dari Kelas Rangkul Keluarga Kita


**AV**


Read More

Pasien Kanker, DIlarang Malu !



Suatu hari seorang teman lama menghubungi via media sosial. Dia menceritakan bahwa ada sesuatu yang sakit di payudaranya namun tidak ada benjolan. Sebagai [mantan] pasien kanker payudara tentu saja menyarankan supaya teman tersebut segera menemu dokter bedah onkologi. Lalu yang bersangkutan mengiyakan menyetujui saran saya.

Seperti yang ditulis oleh mbak Harie Khairiah di web Emak2Blogger bahwa tumor adalah segala benjolan tidak normal atau abnormal. Tumor dibagi dalam 2 golongan, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Kanker adalah istilah umum untuk semua jenis tumor ganas. Dan adanya rasa sakit pada payudara yang tidak biasa, patut untuk dicurigai adanya tumor.

Beberapa hari kemudian teman tersebut mengontak saya untuk memberi tahu bahwa dia telah memeriksakan diri ke dokter bedah dan disampaikan Cuma masalah kelenjar saja katanya. Lalu saya tanyakan kenapa gak langsung periksa ke dokter bedah onkologi.

“ Malu. Gak ada dokter yang perempuan,” jawabnya

Malu. Cuma dua suku kata. Namun cukup menjadi penghalang untuk berbuat. Padahal dengan diperiksa oleh dokter yang lebih ahli dan lebih kompeten tentunya diharapkan hasil diagnose lebih valid dan dipercaya.

Sekarang mari kita diskusikan apa yang menjadi penyebab MALU menyerang perempuan kala memeriksakan diri ke dokter. Biasanya terjadi untuk keluhan yang berhubungan dengan penyakit .pada bagian-bagian vital perempuan. Dan jika ditanyakan kenapa musti malu? Pasti jawabannya karena berhubungan dengan aurat wanita sehingga wanita lebih nyaman apabila diperiksa oleh dokter wanita. Dengan diperiksa oleh dokter wanita, pasien wanita akan lebih terbuka dan tidak merasa malu kalo harus memperlihatkan auratnya.

Tapi sebenarnya, apakah harus malu kalau seandainya pasien wanita diperiksa oleh dokter laki-laki? Jawabannya seharusnya TIDAK.

Simak cerita saya berikut. Saat pertama memeriksakan benjolan pada payudara saya, pastinya ada rasa risi tatkala harus memperlihatkan payudara  kepada laki-laki lain yang bukan suami. Apalagi pemeriksaan payudara tidak hanya diperlihatkan namun juga dokter harus melakukan rabaan dan pemegangan. Namun itu wajar sebagai manusia yang masih punya iman memiliki rasa malu. Bukankah ada pepatah Malu adalah sebagian dari Iman?

Nah, sekarang kalau pertanyaannya dibalik. Apakah dokter akan merasa MALU juga tatkala memeriksa pasien wanita? Tidak kan? Karena itu memang bagian dari tugasnya sebagai dokter yang bekerja di bawah sumpah.

Kita merasa malu sebagai pasien, karena kita baru pertama kali melakukan pemeriksaan yang menuntut untuk memperlihatkan aurat. Sehingga ambang rasa malunya memang tipis. Namun bagi dokter yang sudah ratusan kali memeriksa apakah payudara pasien tersebut kanker atau bukan, atau terhadap organ vital lainnya, tentunya bukan menjadi suatu hal yang musti diambil perhatian.

Kata orang bilang alah bisa karena terbiasa. Saya sendiri merasakan demikian. Ketika harus menjalani kemoterapi setiap tiga minggu sekali dan sebelum kemoterapi ketemu dokter dan melakukan pemeriksaan payudara dan kelenjar. Ternyata karena sudah terbiasa dan memang sudah merasa bahwa itu dilakukan karena prosedurnya demikian, membuat pemeriksaan tersebut menjadi sesuatu yang lumrah untuk dilakukan.

Dan yang penting harus dicatat adalah bahwa dokter sama sekali hampir tidak melihat payudara selama pemeriksaan. Ini sudah saya buktikan sendiri dengan dua orang dokter yang berbeda. Jadi silahkan dihilangkan rasa sungkan tersebut.







**AV**
Read More

Anak dan Kemandirian Bertransportasi

anak, mandiri, transportasi


Moms, masih ingatkah jaman dulu dengan siapa berangkat ke sekolah dasar? Diantar orangtua atau pergi bersama-sama dengan teman-teman? Saya pikir mungkin jawaban mayoritasnya adalah  semua berangkat sekolah dengan teman-teman yang rumahnya berdekatan. Berjalan beriringan bersama-sama, bercanda saling meledek, yang tak lain membuat perjalanan menuju sekolah menjadi sebentar terasa. Nah, kalau sekarang gimana ya moms? Jawabannya bisa beragam. Ada yang berangkat sendiri, diantar orangtua, dan dijemput mobil sekolah. Namun sangat jarang saya melihat trombongan anak-anak yang berangkat ke sekolah dasar bersama-sama.

Perkara kemandirian merupakan tantangan untuk diajarkan orangtua kepada anak. Kita sebagai orangtua bukannya tidak mau mengajarkan kemandirian, namun terkadang situasilah yang membuat kemandirian itu sulit untuk didapat bagi anak-anak kita. Lihat saja bagaimana faktor rumah dan sekolah  memberikan kontribusi terhadap kemandirian anak-anak kita.

Ada banya kalasan dalam pemilihan sekolah anak-anak. Pertama adalah faktor jarak dan yang berikutnya adalah faktor mutu sekolah tujuan. Jarak yang dekat dari rumah merupakan salah satu alasan pemilihan sekolah anak-anak, terutama yang memasuki sekolah dasar. Dengan jarak yang dekat, orangtua dapat dengan mudah mengantarkan anak sehingga tidak terlalu mengganggu waktu untuk aktifitas lain. Jarak yang dekat juga memungkinkan spent time yang lebih lama di rumah, sehingga waktu kebersamaan dengan anggota keluarga lainnya juga lebih panjang. Dengan jarak sekolah yang dekat juga membuat anak-anak tidak terlalu pagi dalam mempersiapkan keberangkatannya ke sekolah.

Sekolah favorit dengan mutu yang bagus dan berada dalam jarak yang relatif dekat dari rumah, itu merupakan kondisi idealnya. Namun bagaimana jika sekolah pilihan berada pada jarak yang jauh? Otomatis anak-anak dikondisikan harus berangkat ke sekolah lebih pagi. Terkadang sekolahan juga tidak berada dalam daerah yang sama dengan tempat aktifitas bekerja orangtuanya. Akibatnya orangtua yang tidak memiliki cukup waktu untuk mengantar anak ke sekolah menggunakan jasa antar jemput dari sekolah.Tak sadar waktu telah berlalu, anak yang tadinya kelas satu sekarang sudah duduk di kelas enam, namun tetap dengan aktifitas yang sama, berangkat dan pulang dengan bus sekolah atau dijemput keluarga. Lalu kapan anak kita bisa mandiri untuk bertransportasi? Atau lebih tepatnya kapan mereka kita ajarkan untuk mandiri bertransportasi?

Faktor lain yang berkontribusi dalam pengembangan kemandirian anak adalah sikap dan perilaku orangtua dalam menumbuhkan kemandirian anak. Teman saya yang kebetulan punya anak tunggal. Dari sekolah TK hingga tamat SMA masih tetap diantar jemput orangtua, baik untuk kesekolah dan ketempat kursus. Menurut Moms sampai kapan praktik seperti ini akan berlangsung? Apakah tetap akan begitu  ketika kuliah?

Kemandirian bertransportasi merupakan salah satu hal yang musti dipunyai anak-anak. Kemandirian bertansportasi tidak didapat diajarkan dalam semalaman, namun harus diasah melalui praktek langsung bertransportasi mandiri. Ada beberapa dimensi yang terkait dengan kemandirian bertransportasi, yakni :

Mengasah kepercayaan diri
Kepercayaan diri hanya bisa didapat apabila kita yakin dapat mengerjakan sesuatu. Begitu apa yang kita yakini terlaksana dengan baik, maka kepercayaan diri akan terpupuk dengan sendirinya. Proses seperti ini juga diharapkan terjadi terhadap hal-hal lain dalam kehidupan anak-anak kita.

Mengasah kemampuan pengambilan keputusan
Dengan mandiri bertransportasi mampu mengasah kemampuan anak-anak kita dalam membuat pengambilan keputusan. Misalnya saja dalam perjalanan menuju ke sekolah terjadi kemacetan panjang. Nah apa yang harus diperbuat anak-anak supaya mereka tidak terlambat sampai di sekolah. Apakah mereka diamsaja di kendaraan umum sampai menunggu kemacetan terurai, atau mengambil keputusan pergi dan mencari alternatif kendaraan lain yang bisa menjangkau sekolah mereka. Ini contoh lebaynya Moms…

Peka terhadap bagaimana cara aman bertransportasi
Aman bertransportasi sangat dituntut apabila anak-anak kita menggunakan trasnportasi umum. Jadi kalau mau aman di jalan, enggak didekati pencopet, anak-anak jangan memakai perhiasan yang mencolok, jangan pamer barang-barang mewah di depan umum (baca: penumpang), bagaimana cara menyeberang jalan yang aman dan bagaimana mengambil keputusan sekarang waktunya menyeberang di tengah keramaian jalan. Semuanya hanya bisa didapat apabila mereka mandiri bertransportasi.

Seterusnya bisa Moms tambahkan ya.Yang penting di sela-sela kesibukan kita, jangan lupa untuk membimbing anak-anak kita untuk mendapatkan kemandirian mereka dalam bertransportasi.Walaupun karena sesuatu, mereka masih diantar jemput ketika pulang pergi sekolah, bukan berarti mereka tidak bisa mendapatkan kemandirian bertransportasi. Perbanyak latihan misalkan dengan melibatkan teman satu sekolah yang berdekatan tempat tinggal. Bahkan Moms bisa mengajukan ke pihak sekolah untuk menjadi salah satu bagian pembelajaran di sekolah. Bentuk dan frekuensinya bisa dilatih seiring dengan pertambahan usia anak.

Selamat mencoba ya, Moms...


**AV**
Read More

Masjid Romlie Musyofa, Replika Taj Mahal Di Utara Jakarta

taj mahal, masjid, romlie musofa, jakarta

Uni Diah dan saya baru saja selesai menunaikan sholat zuhur dan asyar yang dijama’ taqdim. Waktu menunjukkan satu jam lagi keberangkatan pesawat kami menuju Jakarta. Namun sebuah pengumuman tentang adanya delay pesawat, membuat harapan saya untuk melakukan wisata rohani di utara Jakarta begitu mendarat, mendadak buyar.
Saya memang sengaja memilih penerbangan jam 13.30 untuk menyiasati waktu tempuh uni Diah dari Payakumbuh yang cukup lama. Dengan penerbangan jam segini, saya mengkhayalkan akan sampai sore di Jakarta dan bisa berkesempatan untuk melihat dari dekat wujud sebuah masjid cantik yang pertama kali saya lihat fotonya dalam sebuah pariwara ucapan selamat lebaran di harian Kompas edisi Juli tahun kemarin. Sejak hari itu, saya sudah berdoa semoga suatu hari dalam kurun waktu yang tidak lama saya bisa sholat disana.

Nasi kotak pun akhirnya dibagikan oleh petugas bandara. Alamat delay ini akan lama. “Aduh, gimana nih un. Kayaknya ga bisa kita kesana. Udah malam nyampe Jakarta”. Dan memang benar akhirnya kami baru naik pesawat hampir pukul 4 sore. Saya mulai kecewa dan hanya berharap mudah-mudahan acara besok hari cepat selesai sehingga bisa kesana.

Kami mendarat bertepatan dengan waktu magrib Jakarta. Entah karena niat yang begitu ingin, tiba-tiba saja tercetus ide. “Kita tetap ke Masjid itu yuk un. Pasti indah juga masjidnya di malam hari”.
Uni Diah setuju. “ Iya ngapain juga cepat-cepat nyampai hotel. Kan kita berdua. InsyaAllah aman”, imbuhnya.

Perjalanan dengan taksi malam itu begitu indah. Gerimis tipis menyambut kedatangan kami di Jakarta. Arus lalu lintas di jalan tol lancar ramai kala itu. Tapi ternyata lumayan memakan waktu. Ah, Jakarta yang tidak bisa diprediksi. Dari google map diinformasikan waktu tempuh dari bandara Soetta mencapai 30 menit menuju Masjid Romlie Musyofa. Waktu sudah menunjukkan perjalanan memasuki menit ke-50.

“Rasanya masjid ini di sebelah kiri, Bu. Saya udah pernah lewat sini. Tapi kok GPS menyatakan kita harus memutari Danau Sunter ya,” tanya pak Sopir heran. Jadi harap-harap cemas karena ini Jakarta dan di malam har. Dan kami hanya berdua, perempuan. Alhamdulillah, tidak berapa lama masjid Romlie Musofa terlihat dalam pandangan. GPS taksi ternyata menginformasikan hal yang salah. Kami sampai beberapa menit menjelang azan isya.

“Mari saya bantu, Bu”. Sebuah sambutan ramah dari petugas satpam masjid. Maklum kami datang dengan menyeret-nyeret koper. “Ibu sholat aja, biar kopernya saya taruh di pos jaga”.

Namanya H. Ramli Rasidin. Beliau seorang mualaf keturunan tionghoa yang kesehariannya merupakan seorang pengusaha. Rumah tinggal pribadinya menurut cerita satpam masjid, hanya beberapa blok dari masjid yang menghadap ke danau Sunter tersebut. Mulai dibangun di awal tahun 2011 dan setelah lima tahun masa konstruksi, pada Mei 2016 masjid Romlie Musofa akhirnya diresmikan penggunaannya.
Ada lift di dalam masjid untuk penyandang disabilitas
 Subhanallah. Indahnya masjid Romlie Musofa. Masjid yang berdiri di atas lahan seluas 2000 m2 persis mirip dengan Taj Mahal di India. Detail arsitektus facadenya, warna putih bersih dindingnya yang memang dibuat menyerupai Taj Mahal.  Kabarnya pun penutup lantai masjid diimpor langsung dari Italia. Relief relief di dinding luar maupun dalam sangat indah, detil dan rapi. Informasi dari satpam, proses konstruksi detail-detail inilah yang memakan waktu paling lama. Mungkin yang agak membedakan adalah terdapatnya tempat berwudu yang bersih dan mewah di depan masjid, di kiri kanan tangga menuju pintu utama masing-masing untuk jamaah laki-laki dan perempuan. Tempat wudhunya pun unik karena dilengkapi dengan tempat duduk dan panduan untuk berwudhu secara benar dalam bahasa Indonesia, Arab dan Tionghoa. Perbedaan lainnya adalah tidak terdapat empat menara tinggi seperti halnya Taj Mahal. Saya pikir ini lebih karena keterbatasan lahan.



 



Malam itu tidak banyak jamaah yang menunaikan sholat Isya di masjid ini. Maklum karena lokasinya bukan di areal padat pemukiman melainkan di dekat kompleks perumahan mewah Sunter. Masjid Romlie Musofa terdiri atas tiga lantai dengan lantai paling atas yang menyerupai balkon. Untuk jamaah perempuan dikhususkan berada di lantai dasar dan jamaah laki-laki di lantai dua. Terdapat tangga dan lift yang bisa menghubungkan antar lantai.
Langit-langit kubah yang mempesona

Setelah selesai menunaikan sholat, kami berdua langsung jepret-jepret di perlbagai posisi. Ada delapan pilar yang menopang kubah utama masjid. Tulisan Allah di langit-langit kubahnya juga indah. Pintu-pintu masjid juga berukuran besar dan tinggi dengan relief-relief yang begitu indah. Ditambah dengan lempeng kuningan yang berhiaskan kaligrafi.
Menyesal gak bawa DSLR:(

“Masjid tutup jam sembiilan ya,”ujar wanita Tionghoa menyapa kami. Rupanya beliau merupakan kerabat H. Romli yang merupakan pengurus Masjid. Jam sudah menunjukkan pukul 20.30 malam. Sambil menunggu taksi online yang akan membawa kami menuju penginapan di daerah Mahakam Jakarta Selatan, kami bercakap-cakap dengan satpam Masjid.

Nama Romlie Musofa ternyata berasal dari singkatan nama pemilik dan anak-anaknya. Rom diambil dari nama Romli, Lie berasal dari nama Tionghoa bapak Romli yakni Lie Njoek Kim. Sedangkan Musofa merupakan singkatan dari nama anak-anak beliau yakni Muhammad Rasidin, Sofyan Rasidindan Fabian Rasidin. Masjid Romlie Musofa terbuka untuk umum, baik Muslim maupun non Muslim asalkan berpakaian sopan. Diperbolehkan berkegiatan di dalam Masjid, asalkan tidak untuk tidur.

“Boleh prewed gak Pak disini,”tanya saya. Ternyata gak boleh kata pak Satpam, namun  untuk tempat akad nikah diperbolehkan untuk dilaksanakan. Taksi online kami pun datang. Selesai sudah wisata rohani singkat kami. Dalam mobil saya menyadari, bahwa tadi ketika azan dan syolat Isya tadi, ternyata masjid Romlie Musofa sama sekali tidak mempergunakan TOA atau pengeras suara. Sebuah bentuk memelihara kerukunan ditengah lingkungan yang minoritas.


                                                                     **AV**
Read More