Laman

Mugniar, Blogger Yang Peduli Isu Feminisme


Kenapa Seorang Mugniar Menginspirasi? 

Saya mengenal mbak Mugniar melalui forum ibu-ibu blogger juga. Blogger mana yang belum kenal dengan mbak Mugniar? Beliau Srikandi Favorit Emak Blogger tahun 2014, Blogger Muslimah Terbaik versi Blog Walking dan sederet prestasi-prestasi beliau. Nah yang paling mencuri perhatian saya adalah bahwa Blogger Makassar yang satu ini aktif banget menulis. Tiap hari ada aja tulisan yang di-share di media sosial. Kadang menjadi pertanyaan saya, ini si mbak nulis udah kayak ngomong aja. Anytime...anywhere...

Kenapa mbak Mugniar begitu senang menulis? Dalam salah satu post-nya yang berjudul Mengurai Empat Hal Perjuangan Kartini, Mugniar memang menakankan bahwa membaca dan menulis adalah hal paling sederhana yang bisa dilakukan oleh perempuan untuk mengembangkan dirinya. Dan menurut beliau menulis memang bukan hal yang sulit untuk dilakukan.

Lakukan melalui langkah yang paling kecil. Jadi jangan ngimpi mau nulis buku dulu. Tapi lakukan secara terus-menerus. Tangkap kebaikan-kebaikan yang ada di sekitar kita dan tuliskan.

Kenapa membaca dan menulis begitu penting bagi seorang Ibu? Menurut Mugniar karena seorang Ibu akan menjadi contoh dan tauladan buat anaknya sehingga mengedukasi satu orang Ibu akan mengedukasi beberapa orang anak yang terlahir dari rahimnya.

Mugniar Peduli Isu-isu Feminisme

Banyak orang bertanya kenapa bisa menulis berpanjang-panjang. Kita tahu bahwa menulis artinya menuliskan gagasan dan menulis bisa berkembang kalau wawasan kita luas.

"Apalah saya ini, hanya ibu rumah tangga basa..."

Ungkapan di atas sama sekali tak terjadi pada diri seorang Mugniar. Walaupun seorang ibu rumah tangga, lulusan Teknik Elektro Universitas Hasanuddin ini dikenal karena keluasan wawasannya. Tiga buah blogger yang dikelola sudah cukup menggambarkan 'jangkauan' wawasannya. Beberapa buku duet dan antologi adalah contoh dari buah wawasannya.

Kalau ibu rumah tangga berbicara hanya dari frame keluarga dan anak, namun sosok ibu yang satu ini juga peduli lingkungan dan peduli masalah-masalah perempuan. Beliau tidak hanya menulis tentang sosok Ibu Kartini yang sudah beberapa kali peringatan tulisannya dimuat di koran lokal Makassar, namun beliau juga aktif menulis hal-hal yang menyangkut perempuan yang amat jarang diulas oleh blogger - blogger lain. Agak 'berat' bahasannya kata blogger di grup.

Yah memang bahasannya mengenai Perempuan, Kekerasan dan Seks. Ini diperlihatkan dari keikutsertaannya secara aktif pada diskusi-diskusi publik. Kemudian menuliskan kembali materi tersebut di blog.

"Bukan gue banget.."

Kalau seorang Mugniar tidak peduli tidak mungkin satu seminar feminisme yang diikutinya akan menghasilkan empat artikel di blognya.

Melalui artikel dari blognya yang berjudul Mengapa Perempuan Perlu Belajar Gender, Seks dan Ham disebutkan bahwa dampak dari diskriminasi gender di antaranya adalah terciptanya perencanaan, kebijakan, atau program yang buta gender. Implikasinya adalah pengabaian bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai kebutuhan, kepedulian, dan prioritas yang berbeda serta ketidakadilan bagi laki-laki dan perempuan dalam memperoleh akses, manfaat (dari perencanaan), keikutsertaan di dalam proses, kontrol terhadap sumber-sumber daya. 

Jadi jangan bilang lagi, "Ha? Kamu kan cewek...ngapain masuk teknik elektro." Itu gender....

Makanya mbak Niar, demian beliau disapa, memutuskan masuk jurusan paling seret wanita se Indonesia mungkin ya.... Anyway karena masih April...selamat Hari Kartini dan selamat menginspirasi buat mbak Mugniar lewat tulisan-tulisannya.
Read More

Menyusui Di Depan Umum, Kenapa Tidak?


Si kembar saya tidak cukup bulan ASI ekslusifnya. Hanya 4.5 bulan tidak sesuai dengan standar WHO minimal 6 bulan ASI eklusif tanpa ada makanan lainnya. Perkaranya sederhana sekali? Apa coba.....
"Saya malu menyusui di depan umum..."

Jadi ceritanya pas si kembar usia 4.5 bulan, barulah diadakan syukuran kelahirannya. Mengingat mereka dulu lahir tidak cukup minggu dan dalam berat yang kurang dari 2.5 kg, jadinya pelaksanaan acara ditunda untuk 'menyiapkan' kondisi fisiknya. Neneknya khawatir nanti kalau nanti cucunya jatuh sakit karena berinteraksi dengan banyak orang. Tahulah budaya kita kalau ada bayi pengennya langsung gendong bahkan hingga menciuminya.

Tahu gak kalau menyusui bayi kembar itu praktis waktu kita hanya untuk menyusui…menyusui dan menyusui lagi. Sayangnya saat itu saya belum mengenal AIMI dan belum tahu ragam posisi menyusui bayi kembar. Jadinya mereka saya susui hanya dengan posisi yang sama yakni duduk ataupun tidur untuk satu bayi. Sehingga Dhila dan Thiya bergantian saya susui. Saat itu jadwal mereka masih bisa saya atur. Begitu satu selesai dan tertidur, giliran bayi yang berikut. Konsekuensinya ya itu… kalau mereka bersama saya, hampir-hampir tidak punya kegiatan lain selain menyusui.

Nah kembali ke cerita syukuran sikembar di atas. H-1 sebelum acara, saya rada galau. Gimana nantinya menghadapi tamu-tamu yang datang dengan skedul menyusui saya yang padat. Gak mungkin saya di kamar terus sedangkan tamu datang untuk mengucapkan selamat. Apalagi saya malu menyusui di depan umum. Lha di depan papa sendiri saya juga malu. Apalagi di depan orang lain.

Dan waktu itu…belum ada apron/celemek menyusui atau sayanya yang belum tahu. Jadinya kalau menyusui ya pasti di dalam kamar. Apalagi sejak umur tiga bulan kebutuhan ASI perah sikembar saat saya sedang bekerja, amat meningkat. Mulai deh saya keteteran. Stok sudah hampir habis, jadinya kebutuhan ASIP didapat dengan kejar tayang.

Saya kasih saran ya teman-teman… daya juang itu butuh benchmarking. Saat itu saya udah merasa cukup ‘Hero’ sudah bisa memberi ASI bayi kembar. Saya pikir, kalau besoknya pas acara syukuran, bolehlah kasih sufor untuk satu bayi biar gak terlalu repot menyusui. Jadi bisa dipegang sama yang lain juga. Singkat cerita, akhirnya ASI ekslusif berhenti saat umur mereka 4.5 tahun. Nah saat itu saya juga gembira karena ternyata sikembar tidak menolak minum sufor. Beda banget dengan kakaknya. Betapa bodohnya saya saat itu ya. Ternyata saya belum apa-apa. Ada yang punya bayi kembar tiga namun tetap bisa asi ekslusif enam bulan.

Kenapa Malu Menyusui Di Depan Umum

Karena sebagian kita masih berpandangan bahwa memperlihatkan payudara saat menyusui bayi berarti memperlihatkan aurat. Malah dijadikan jokes-jokes gak jelas. Pernah baca tulisan “Jangan Mengeluarkan Sebagian Anggota Tubuh” saat menaiki bis-bis umum jaman dulu?. Nah ini sering juga dipergunakan untuk menggoda orang yang sedang menyusui.

Memang benar payudara adalah aurat bagi wanita dalam Islam. Sehingga kalau ada wanita yan menyusui di depan umum, biasanya orang lain yang melihat menjadi jengah atau risih karena merasa sudah bersoda eh berdosa telah melihat aurat orang tidak sah baginya.

Sehingga timbal-balik jadinya. Wanita yang menyusui pun akan merasa dua kali merasa risih karena telah memperlihatkan aurat dan membuat yang lain merasa tidak nyaman.

Kalau menimbang hak bayi, tentu ini tidak dapat terus dipertahankan. Karena menyusu bagi bayi adalah hak dan menunda pemberian Asi karena sedang Ibu sedang berada di daerah publik, rasanya menzalimi bayi itu sendiri.

Jadikan Menyusui Di Depan Umum sebagai Life Style

Tahukah anda, bahwa bila Ibu mengeluarkan payudara untuk memberikan ASI pada bayinya karena memang Ibu ingin memberi zat yang dibutuhkan oleh bayinya untuk hidup? Jadi bukan untuk terlihat seksi atau bukan untuk memperlihatkan keseksiannya.

Untuk itulah dalam rangka ulang tahun Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang ke-9, kemarin 24 April 2016 telah diselenggarkan acara SEMBILAN yakni SErentak Menyusui Bersama Ibu-ibu dan Laktivis Aimi Nasional yang dilaksanakan di 15 provinsi di Indonesia dan di 25 kota.

Berikut foto-foto selebrASI SEMBILAN dari beberapa provinsi.
Menyusui, serentak, aimi, padang
SEMBILAN di kota saya, Padang. Coba cari saya yang mana?

Menyusui, serentak, aimi, jakarta
SEMBILAN Jakarta

Menyusui, serentak, aimi, yogya
SEMBLAN Yogyakarta

SEMBILAN Kaltim

SEMBILAN memang mengkampanyekan menyusui di depan umum dapat dijadikan sebagai life-style. Menyusui merupakan sesuatu hal yang alamiah sehingga pemandangan Ibu yang tengah menyusui anaknya pun diharapkan dapat menjadi sesuatu yang aneh dalam pandangan umum masyarakat. Sama halnya tatkala seorang anak lapar, kemudian orangtua menyuapkan anaknya nasi. Hal yang sama sesungguhnya tengah terjadi pada bayi yang menyusu pada Ibunya.

Dukungan lingkungan merupakan faktor penting pada kesuksesan menyusui. Tidak hanya keluarga terdekat seperti kakek, nenek, om, tante dan sebagainya. Namun lingkungan tempat Ibu berada entah itu kantor kalau Ibu membawa bayinya ke kantor atau pun ranah publik kalau Ibu sedang beraktifitas diluar ruangan. Jadi jangan lagi memandang aneh atau pun merasa risih kalau ada adegan menyusui di depan anda. Sesungguhnya sebuah keintiman yang indah antara Ibu dan anak tengah terjadi.

***
Read More

[Guest Post] 10 Sikap Dosen yang Kadang Bikin Ilfil Mahasiswa


Kuliah itu,... beda. Jangan pernah samakan kuliah dengan sekolah. Sebab ketika kuliah kamu bukan lagi berstatus siswa tapi sudah mahasiswa. Kata “maha-” sebelum “siswa” merupakan sebuah kata untuk menunjukkan derajat super. Dengan kata lain mahasiswa adalah siswa yang super.

Jika demikian, maka wajar jika tugas-tugas yang harus dikerjakan mahasiswa super banyaknya, beban kuliah super padatnya, hingga ke dosen pengajar yang super killer-nya. Oopss.

Bicara soal dosen, pengajar di perguruan tinggi jauh lebih variatif dibanding guru-guru ketika SMA/SMK dulu. Segalak-galaknya guru di sekolah tetap saja kalau disapa di luar kelas bakal senyum. Nah kalau dosen, disapa kagak nyapa balik (beuh, sakitnya tuh di sini).

Pun tidak semua dosen yang berwatak cuek begitu (dengan kata lain banyak juga dosen yang baik, supel, kece dan kekinian), tapi tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa sikap dari dosen yang sadar atau tidak sadar bisa bikin mahasiswa hilang feeling (ilfil) dalam belajar.

Sikap-sikap tersebut saya tuangkan menjadi 10 poin sebagai berikut:

#1 Suka nyuruh mahasiswa disiplin tapi beliau sendiri tidak memberi contoh
Ketika pertemuan pertama hampir semua dosen memberikan kontrak kuliah/belajar. Isi dari kontrak itu adalah aturan serta poin-poin penilaian. Seringkali dosen tertentu melarang mahasiswanya terlambat namun di saat yang bersangkutan (ybs) yang terlambat meminta maaf ke mahasiswa pun tidak. Piye toh Pak/Bu?

#2 Masuk cuma buat ngasih tugas
Sikap dosen yang suka bikin ilfil selanjutnya adalah masuk ke kelas cuma buat ngasih tugas. Well, sebenarnya ini bukan masalah besar, jika metode belajar student center learning yang diterapkan. Selama dosen ybs masih di kelas saat mahasiswa mengerjakan tugas itu tidak masalah, sebab fungsi pengajar untuk membimbing masih bisa dilaksanakan, kalau-kalau ada mahasiswa yang bertanya karena kurang mengerti. Nah, kalau yang masuk cuma buat ngasih tugas terus keluar entah kemana dan masuk lagi di akhir jam pelajaran buat kumpulin tugas? Keselnya tuh bikin gigi gemeretak, Sob 

#3 Jarang datang dan digantikan asistennya
Ada juga dosen yang suka jarang datang karena satu, dua, tiga dan entah berapa kegiatan lain. Sudah rahasia umum kalau dosen suka nyambi, mahasiswa suka menyebutnya “dosen proyek”. Tiap waktu suka keluar kota atau keluar negeri. Yang masuk ke kelas cuma asistennya. Biar adil, bagusnya mahasiswa juga boleh gitu, yang masuk cuma asisten mahasiswanya biar asisten ketemu asisten, gitu.

#4 Tidak interaktif dalam belajar
Penyebab gairah belajar mahasiswa suka rendah itu bukan semata karena faktor internal, bukan? Kalau kamu ditanya, kenapa kamu suka bosan di kelas, mungkin salah satu jawaban kamu karena perkuliahannya monoton. Saya pribadi lebih suka dosen yang suka mention secara acak nama mahasiswa dan diberi pertanyaan terkait pelajaran saat itu. Pernah di kelas waktu itu, mau tidak mau mahasiswa mesti melek biar gak malu kalau ditanya tapi tidak bisa jawab. Intinya, dosen yang interaktif di dalam kelas itu lebih punya power.

#5 Malas gerak
Pernahkah kamu lihat dosen yang dari awal hingga akhir jam cuma duduk di kursi? Sikap dosen yang satu ini juga bikin ilfil dalam belajar. Dalam proses belajar, semakin banyak indera yang bergerak maka semakin banyak yang bisa diserap. Tentu saja hal ini juga berlaku untuk proses mengajar. Setidaknya gerakan-gerakan yang dibuat dosen bisa diikuti secara aktif oleh para mahasiswa.
Dalam ilmu performa panggung, penampil harus bisa membuat pandangan mata penonton tidak terlepas padanya, ia bisa melakukan apapun yang bisa menarik perhatian. Lain lagi dalam ilmu presentasi, presentator harus membuka torsonya agar pendengar bisa menerima materi dengan lebih terbuka. Itulah mengapa dosen yang malas gerak dan cuma duduk bisa bikin mahasiswa suntuk.

#6 Gak punya belas kasihan
Pengalaman pahit yang pernah saya rasakan rasanya cukup baik untuk disampaikan. Ya, waktu itu mengambil sebuah mata kuliah yang terbilang sulit. Sudah memaksimalkan kehadiran, sudah buat tugas, sudah ikut kuis, sudah ikut ujian. Tapi,...
...entah mengapa nilai akhir yang keluar adalah E.
Lantas, apa bedanya orang-orang seperti saya dengan orang-orang yang memang malas datang dan tidak mengindahkan tugas dari dosen? Aku tuh gak bisa diginiin! *nangis di pojokan*

#7 Soal ujian suka beda dengan yang diajarkan
Gondok. Sumpah. Mahasiswanya sudah mati-matian belajar untuk ujian tapi nyatanya soal ujian yang keluar jauh dari prediksi, bahkan tidak pernah diajarkan di kelas sama sekali.
No comment, lagi sakit hati.

#8 Suka mendikte dan menyuruh catat tapi terlalu cepat
Ada juga dosen yang suka bikin ilfil karena gemar memberi dikte dan menyuruh mahasiswa mencatat. Yang didiktekan itu,... panjangnya luar biasa. Sudah gitu, mana diktenya cepat-cepat pula. Pegal tangan. Makan hati. Lelah batin Hayati *ehhh

#9 Suka remehin mahasiswa
Demi apa. Ada juga dosen yang bersikap suka remehin mahasiswa. Tentang inilah. Tentang itulah. Apa ybs tidak tahu bahwa murid bisa saja lebih pintar dari guru? Menulis ini, saya jadi teringat film 3 Idiot, tentang sang rektor yang suka ngeremehin si tokoh utama. Hingga pada saat sang dosen sekaligus rektor ini mau tidak mau harus mengakui kapasitas muridnya.
Nah, kalau di kelas nemu yang seperti itu ya jelas bikin ilfil.

#10 Terlalu textbook dan gak mau diprotes
Memang pada dasarnya mahasiswa mempunyai sikap kritis dan kreatif. Jawaban ujian suka dimodifikasi menjadi lebih terkini. Tapi sayangnya ada dosen yang tidak bisa menerima kebaruan tersebut. Selama jawaban berbeda dengan yang ada di buku maka jawaban itu salah.

Ada juga kasus di mana mahasiswa membenarkan pernyataan, memprotes atau menyuarakan pemikirannya di kelas tapi sang dosen tidak terima. Pada akhirnya muncul sebuah mental block dalam diri mahasiswa sehingga memilih diam-diam saja.

Bagaimanapun dosen juga manusia biasa...

Mengutip kalimat Bu Yervi di artikel 10 Hal yang Bikin Dosen Jengkel di Kelas “Dosen juga manusia, yang punya hati dan perasaan..”. Pada akhirnya kita juga harus memberi pemakluman.

Bukankah dalam membangung sebuah hubungan yang baik seseorang dengan seseorang lainnya harus saling memahami, baik kelebihan maupun kekurangan?

Nyatanya, yang ada di pikiran sang dosen bukan cuma kuliah dan mahasiswa saja. Sebab mana tahu sang dosen sedang:
Ada masalah di luar kampus yang terbawa ke kelas
Pernah punya pengalaman buruk dengan mahasiswa
Punya tujuan baik yang tidak bisa disebutkan
Dan banyak lainnya

So, jika dalam kehidupan kampusmu kamu menemukan 10 sikap dosen yang bikin ilfil itu kamu bisa melakukan hal-hal ini agar semangat belajarmu tidak terkorosi:
1.    Selalu berpikiran positif
2.    Menjadikan kritik/remehan/amarah dosen sebagai pemacu semangat
3.    Menjaga hubungan baik dengan tetap menyapa dan memberi senyum
4.    Memahami dan tidak membicarakan di luar kelas
5.    Berdoa kepada Tuhan agar urusan sang dosen dilapangkan dan dilancarkan, serta agar diberi petunjuk untuk memberi nilai bagus kepada mahasiswa, hehe

Pada kesudahannya, izinkanlah saya mengulangi paragraf pertama:
Kuliah itu,... beda. Jangan pernah samakan kuliah dengan sekolah. Sebab ketika kuliah kamu bukan lagi berstatus siswa tapi sudah mahasiswa. Kata “maha-” sebelum “siswa” merupakan sebuah kata untuk menunjukkan derajat super. Dengan kata lain mahasiswa adalah siswa yang super.

Supernya mahasiswa menuntut mereka untuk lebih kreatif dalam belajar. Supernya mahasiswa menuntut mereka untuk tahan banting dan mengakar kokoh di apapun keadaan. Supernya mahasiswa menuntut mereka untuk lebih mendahulukan logika daripada perasaan.

 Hidup mahasiswa!! Hidup juga buat dosen!! 

Salam hangat,

Fadli Hafizulhaq
Read More

Menikah Muda Dalam Perspektif CutDekAyi


 Alhamdulillah, beginilah pernikahan yang saya inginkan. Mahar diberikan oleh suami tanpa permintaan berapa jumlahnya dari orang tua saya. Saat make up di hari pernikahan, hampir saja alis saya dicukur, namun dengan perdebatan yang panjang akhirnya si kakak tidak melangsungkan niatnya. Jilbab di hari nikah juga hampir diputar-putar jika sejurus kemudian saya tak mengambil jilbab petak dalam lemari dan memakainya sendiri- Sri Luhur Syastari
Saya mengenang bahwa kata-kata pernikahan adalah hal yang paling memuakkan untuk dibicarakan dulu. Baru aja lulus S1, masing terbayang prosesi wisuda ala anak Teknik Universitas Andalas. Masa-masa perkuliahan yang tiba-tiba dirindukan. Berusaha menatap masa depan. Mencari kerja!! Cuma itu yang ada di kepala. Berusaha menjadi tukang insinyur dari proyek kecil-kecilan.

Tiba-tiba aja saya syok. Kata pernikahan memenuhi arah pembicaraan di rumah. Tepatnya saya belum siap. Belum siap secara psikis dan tentunya belum siap mengenalkan calon yang entah dimana. :(
Maka pelarian saya saat itu dimulai. Kuliah kembali adalah jalan yang dapat memperpanjang masa kegadisan saya. (Ketahuan... niat ga lurus).

Mungkin semua perempuan ketika memasuki usia dewasa pernah membayangkan dan bercita-cita di umur berapa nantinya menikah. Saya dulu membayangkan di usia 24 tahun saat yang tepat untuk menikah. Tidak ada alasan khusus kenapa memilih usia segitu. Nyatanya di usia 23 tahun saya masih gamang. Belum merasa siap berumah tangga, apalagi punya anak. Akhirnya malah di usia 28 tahun ijab kabul itu terjadi.

Memang kesiapan berumah tangga tidak selalu berkorelasi dengan umur. Ada juga yang sudah berusia matang, tapi masih tetap merasa belum sreg untuk menikah. Dan tak mungkin pada usia muda, kesiapan untuk menikah malah terjadi. Lihatlah seorang ibu muda yang bernama asli Sri Luhur Syastari.

Menikah Muda, Kenapa Takut?

Ayi, seperti itu dia biasa dipanggil. Menikah dalam usia masih tergolong muda, untuk jaman sekarang. Dua puluh tahun dan masih berstatus sebagai mahasiswa. Saat yang lain masih sibuk memikirkan pe-er sekolah, Ayi sedari SMA sudah bercita-cita untuk menikah muda. Motivasi ini dia dapatkan karena melihat keharmonisa pernikahan orangtuanya. Ibunya sendiri, menurut Ayi, memang menjadi Role Model bagi dia untuk melakukan pernikahan dini.

Dari mereka, Ayi melihat sendiri bagaimana suka duka menikah muda. Dan itu menjadikannya bermimpi untuk mengikuti jejak sang ibu. Mundur dua tahun dari usia sang Ibu menikah, umur 20 tahun Ayi dipersunting oleh seorang aktivis yan dikenalnya melalui aktivitas pada organisasi yang sama. Waktu satu bulan cukup membuat Ayi yakin akan jodohnya yang terpaut usia 3 tahun diatasnya.
Pernikahan Muda, Cutdekayi
Source : Cutdekayi.com


Namun, sebagaimana menjalani sesuatu yang belum tahu ujungnya seperti apa, menurut Ayi ada empat hal yang musti dipunyai ketika memutuskan untuk menikah muda.
1. Ilmu Agama
Agama Islam sudah  mewajibkan untuk melakukan pernikahan bagi siapa-siapa yang sudah mampu untuk melakukannya. Kesiapan dapat dilihat sebagai kesiapan fisik dan non fisik, kedua syarat tersebut musti harus dipenuhi oleh kaum laki-laki.

2. Ilmu menjadi seorang isteri
Tidak ada sekolah yang mengajarkan ilmu berumah tangga. Untuk itu wajib membekali diri dengan banyak membaca dan meminta petunjuk dari orang-orang yang telah berpengalaman.

3. Kesabaran
4. Mental yang kuat
Kesabaran dan mental yang kuat mesti dipunyai karena setiap pernikahan juga mempunyai tantangan tersendiri.

Satu hal yang saya kagumi dari Ayi adalah kesiapannya untuk menjadi seorang ibu. Banyak juga fenomena menikah muda 'hanya' sekedar untuk menjauhi zina. Tetapi Ayi memilih untuk menggenapkan perannya tidak hanya sebagai isteri namun juga sebagai ibu. Di usia yang masih muda dan dengan wajah yang masih imut-imut sekali, dia sudah punya baby.

Bagaimana Mengelola Pernikahan Pada Pasangan Muda?

Banyak yang bilang angka perceraian pada pasangan muda lebih banyak daripada pasangan yang sudah berumur. Salah satu faktor yang memegang peranan adalah emosi yang masih labil. Faktor keakuan yang masih tinggi diantara kedua pasangan. Sehingga begitu ada masalah, kedua hal tadi menjadi dominan.

Nah, mari simak tips-tips dari Ayi dalam mendapatkan pernikahan yang harmonis.
1. Komunikasi dan Introspeksi
 Dengan berkomunikasi, kita jadi tahu pasangan kita sedang merasakan apa. Sampaikan impian masa depan, atau rencana-rencana dalam pekerjaan atau apapun yg dirasa perlu untuk dibagikan. Tak menutup kemungkinan juga untuk mengungkapkan ketidaksukaan namun dg bahasa yg sopan. Misalnya suami tidak suka denngan pakaian  yang dipakai. Nah solusinya sebaiknya suami kasih tahu terus dengan begitu kita harus terbuka utk introspeksi diri biar keesokan harinya jadi lebih baik lagi.

2. Saling mengingatkan untuk kebaikan, saling mengerti dan memaafkan
Memang tidak semua hal bisa kita terima, apalagi kalo emosi sudah menggerogoti. Untuk itu kita saling mengingatkan.
"eh adek kalo marah kok mirip nenek-nenek ya?" atau "abang kalo cemberut bikin adek takut" 
Dengan begitu masalah bisa dilupakan, saling mengerti dan dan memaafkan.

3. Berikan hadiah, tak perlu mahal
Kejutan-kejutan kecil perlu diberikan dalam setiap pernikahan. Misalnya mengganti sprei kesukaan si Dia, menyiapkan baju untuk kerja, menyiapkan nasi goreng kesukaannya dan memberikan senyuan terhangat setiap Dia akan pergi dan pulang kerja. Menurut Ayi dengan begitu suami akan selalu nyangkut hatinya di rumah. Dan kalau sudah berangkat, jangan lupa untuk kirimi pesan agar berhati-hati dan ucapkan kata-kata cinta.

Mantapkan? Yuk mari kita praktikkan.....
Read More

10 Hal Yang Bikin Dosen Jengkel Di Kelas


Jadi ingat lagu Serious. Dosen juga manusia ya, yang punya hati dan perasaan....

Sebagai dosen, interaksi di dalam kelas tentunya dengan manusia. Kira-kira apa aja ya yang bikin dosen jengkel ketika sedang mengajar di kelas? Apakah semuanya berasal dari ‘ulah’ mahasiswa? Yuk simak satu-persatu.

1.    Listrik mati
Aih, sedap nih. Dah siap-siap ngajar, eh ternyata listrik mati. Jaman sekarang, dosen sudah dipermudah dengan adanya aplikasi presentasi dan tentunya butuh listrik untuk menampilkannya di layar display dari infocus.

Trus kenapa kalau listrik mati jadi terganggu? Apa otak dosennya sudah dipindah ke laptop?

Sebenarnya tidak juga. Penggunaan laptop sbenarnya dimaksudkan untuk membantu mahasiswa memahami materi yang disampaikan. Namun kadang kala sudah menjadi ketergantungan pada beberapa dosen termasuk saya.

Rasanya mati gaya, kalau ngajar tidak pakai slide presentasi. Apalagi untuk mata kuliah yang bersifat textbook, penggunaan slide presentasi berguna untuk mempertahankan konsentrasi mahasiswa.

2.    Infokus memble

Udah listrik OK, laptop Ok kondisinya tapi malah infokusnya yang memble. Biasanya ini terjadi di gedung-gedung perkuliahan umum yang teknisinya kadang suka tidak ditempat.

Ada yang hanya karena gambarnya yang tidak tajam, gambar tidak bisa diperbesar bahkan hingga lampu infocus yang sudah rusak. 

Kendalanya kalau kuliah dibatalkan kadang susah cari jadwal ganti, namun kalau diteruskan mahasiswa sering tidak bisa konsentrasi karena pengaruh display yang tidak OK.

Mereka menjadi tidak fokus, sudah lirik sana-sini, mulai bercakap dengan temannya dan ini mengganggu mood dari dosen.


3.    Ditanya diam saja tdk responsif
Kalau saya dosen yang menilai, maka mahasiswa yang tidak responsif saya kategorikan sebagai penyebab nomor wahid dosen jengkel di kelas. Pada metode pembelajaran satu arah, hal yang seperti ini amat sering dijumpai. Dosen menerangkan di depan kemudian meminta feedback atau bertanya kepada mahasiswa. Ternyata tak satu pun dari mahasiswa yang hadir memberikan respon atas pertanyaan atau pernyataan yang diajukan dosen.

Ih pasti semua dosen merasakan kekesalan seperti itu. Karena tidak bisa memetakan apakah diamnya mahasiswa pertanda sudah mengerti atau malah sebaliknya sama sekali tidak mengerti.

Akhirnya karena tidak ada volunteer, main tunjuk mahasiswa untuk menyelamatkan suasana.

4.    Mahasiswa Datang terlambat
Permisi Pak/Buk...Kami Telat (Courtesy Radar Bandung)

Sering kali masalah keterlambatan ini sudah diantisipasi sedari awal perkuliahan dimulai. Penetapan batasan waktu keterlambatan yang dizinkan dan sebagainya.Namun sering kali yang namanya mahasiswa terlambat tidak bisa dihilangkan.

Ada juga dosen yang memiliki trik tersendiri dengan memberikan quiz pada 10-15 menit pertama dengan tujuan yang sama. Saya sendiri pernah mencoba, tapi keteteran juga dari segi waktu untuk pemeriksaannya. Dan walhasil, mahasiswa yang terlambat tetap ada.

Apa sih yang menjadi kendala mahasiswa untuk selalu on time di kelas? Bisa dari teknis dan non teknis. Terlambat bangun, rumahnya jauh sering dijadikan alasan mahasiswa terlambat di jam-jam pertama kuliah. Namun keterlambatan hadir di kelas tidak selalu ada di jam pertama. Di jam-jam berikutnya masih sering terjadi. Biasanya ini disebabkan karena adanya concurrent delay, akibat tertundanya kelas sebelumnya yag mengakibatkan mahasiswa juga terlambat untuk kelas berikutnya. Apalagi dengan metode perkuliahan seperti di kampus saya, yang mengharuskan mahasiswa untuk berpindah-pindah tempat mengikuti jadwal yang ditetapkan. Terkadang jarak antara satu gedung perkuliahan dengan gedung berikutnya cukup jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki.

Banyaknya mahasiswa yang terlambat sangat mengganggu suasana perkuliahan baik bagi dosen maupun bagi mahasiswa lain yang telah berada di kelas. Kelas harus di-pause terlebih dahulu untuk memberikan ‘waktu’ bagi yang terlambat duduk. Bayangkan kalau yang terlambat jumlahnya lebih dari satu dan datangnya tidak sekaligus. Konsentrasi dosen buyar dan arah perhatian dari mahasiswa juga berubah, dari mengamati dosen dan bahan ajar menjadi memperhatikan mahasiswa yang datang.

Semua dosen pasti menginginkan ketika masuk ke kelas, semua mahasiswa sudah duduk rapi siap untuk belajar. Hatinya akan sakit sekali ketika sampai di kelas namun tak satu pun mahasiswa yang ada. Percayalah!

5.    Sering izin keluar

Kalau hanya satu dua mahasiswa yang minta izin selama perkuliahan, rasanya tidak mengapa. Namun kalau yang terjadi secara beruntun, lumayan bikin kesel.

Sekadar menghentikan pemaparan materi untuk menjawab permintaan izin mahasiswa, juga dapat mengganggu suasana.

6.    Tugas tidak dikerjakan

Tugas tidak dikerjakan mungkin dapat dikatakan penyebab yang paling mudah mendatangkan kemarahan bagi dosen. Kalau hanya satu dua orang yang tidak berbuat, mungkin tidak mengapa.

Tapi bagaimana kalau ternyata tugas tersebut tidak dikerjakan oleh keseluruhan mahasiswa? Hmmm...aliran darah langsung menuju ke ubun-ubun.

7.    Datang ke kelas tanpa bawa buku tulis dan tas
Yang ini tipe pemalas sekali. Datang ke kelas cuma buat isi absen. Kok bisa ketahuan? Karena datangnya setelah dosen masuk ke kelas. Bagitu yang bersangkutan berjalan menuju kursi, pasti akan langsung terlihat mahasiswa tersebut datang hanya bawa badan saja.
Mungkin dia malas, mungkin juga dia terlalu pintar.
Yang pasti mahasiswa tersebut sangat tidak menghiraukan dosen dan apa yang diajarkannya.

8.    Tidur di kelas

Jam-jam yang krusial mahasiswa tertidur yakni jam 14.00 wib keatas, memang sebagai dosen kita harus pintar-pintar untuk membikin suasana pembelajaran tidak membosankan.

Sebagai orang yang tidak pintar melucu, perkara ini bukanlah hal yang mudah untuk saya dilakukan. Biasanya dari dosen-dosen senior saya belajar bagaimana beliau-beliau tersebut memanfaatkan kharisma mereka untuk mendeterminasi mahasiswa. Alhasil mahasiswa 'dipaksa' untuk selalu melek.

Saya sendiri biasanya menyiasati, agar pada jam-jam krusial tidur tersebut mahasiswa lebih banyak interaktif sesamanya melalui kegiatan focus group discussion. Lumayan ampuh untuk menangani perkara ngantuk.

Tapi mungkin karena kurang tidur dan sebagainya ada juga saat-saat diskusi tersebut mahasiswa yang tertidur. Nah ini biasanya menempati posisi pada barisan belakang.

9.    Main hape ketika dosen menerangkan
Lagi Update Status!
Nah urusan pakai hp dalam kelas termasuk gampang-gampang susah ngaturnya. Khususnya buat saya. Mungkin bagi kelas-kelas ilmu sosial langsung bisa dibuat peraturan bahwa penggunaan hp di dalam kelas dilarang.

Namun kecenderungannya sekarang ini mahasiswa teknik sipil, khususnya di tempat saya, lebih memilih mengoptimalkan hp sebagai alat hitung juga. Maka merupakan pemandangan harang, mahasiswa saya sekarang bawa kalkulator segede gaban Fx 9700 keatas. Makanya susah juga membuat aturan tidak boleh mempergunakan hp saat kuliah berlangsung.

Apalagi dengan metode pembelajaran yang berpusat ke mahasiswa, terkadang juga butuh hp smartphone-nya untuk mencari bahan di internet untuk mendukung perkuliahan.

Kalau selama perkuliahan berlangsung, pengalaman saya memang belum pernah ada hapenya yang bunyi. Tapi ada juga mahasiswa yang apa kata pepatah, dikasih hati minta jantung, begitu hp-nya yang tengah silent mode bergetar, dia buru-buru keluar permisi untuk menjawab panggilan.

Nah ini nih...yang bikin kessel!!


10.    Mhs yang tidak fokus atau cuek

Penyebab terakhir dosen jengkel di kelas adalah mahasiswa yang tidak fokus atau cuek. Mata yang berpaling ke jendela atau kepala yang tertunduk dengan tangan yang mencorat-coret kertas.

Ini rentan terjadi pada mahasiswa duduk baris belakang. Terkadang mereka malah sibuk mengerjakan tugas mata kuliah lain saat kelas sedang berlangsung.

***

Jadi menjadi dosen bukan perkara mudah. Tidak hanya seputar penyampaian materi namun juga perlu mempunyai keterampilan penguasaan kelas.

Mungkin penyebab dosen jengkel di kelas tidak hanya terbatas pada hal-hal di atas. Ini hanya berupa critical factor saja.

Oh ya, apakah sumber dosen jengkel di kelas hanya  karena ulah equipment dan mahasiswa saja kah? Apakah dosen juga pernah jengkel karena faktor-faktor yang disebabkan diri pribadi?

Kita dengar pendapat dosen lainnya....

Read More