Laman

Menikah Muda Dalam Perspektif CutDekAyi


 Alhamdulillah, beginilah pernikahan yang saya inginkan. Mahar diberikan oleh suami tanpa permintaan berapa jumlahnya dari orang tua saya. Saat make up di hari pernikahan, hampir saja alis saya dicukur, namun dengan perdebatan yang panjang akhirnya si kakak tidak melangsungkan niatnya. Jilbab di hari nikah juga hampir diputar-putar jika sejurus kemudian saya tak mengambil jilbab petak dalam lemari dan memakainya sendiri- Sri Luhur Syastari
Saya mengenang bahwa kata-kata pernikahan adalah hal yang paling memuakkan untuk dibicarakan dulu. Baru aja lulus S1, masing terbayang prosesi wisuda ala anak Teknik Universitas Andalas. Masa-masa perkuliahan yang tiba-tiba dirindukan. Berusaha menatap masa depan. Mencari kerja!! Cuma itu yang ada di kepala. Berusaha menjadi tukang insinyur dari proyek kecil-kecilan.

Tiba-tiba aja saya syok. Kata pernikahan memenuhi arah pembicaraan di rumah. Tepatnya saya belum siap. Belum siap secara psikis dan tentunya belum siap mengenalkan calon yang entah dimana. :(
Maka pelarian saya saat itu dimulai. Kuliah kembali adalah jalan yang dapat memperpanjang masa kegadisan saya. (Ketahuan... niat ga lurus).

Mungkin semua perempuan ketika memasuki usia dewasa pernah membayangkan dan bercita-cita di umur berapa nantinya menikah. Saya dulu membayangkan di usia 24 tahun saat yang tepat untuk menikah. Tidak ada alasan khusus kenapa memilih usia segitu. Nyatanya di usia 23 tahun saya masih gamang. Belum merasa siap berumah tangga, apalagi punya anak. Akhirnya malah di usia 28 tahun ijab kabul itu terjadi.

Memang kesiapan berumah tangga tidak selalu berkorelasi dengan umur. Ada juga yang sudah berusia matang, tapi masih tetap merasa belum sreg untuk menikah. Dan tak mungkin pada usia muda, kesiapan untuk menikah malah terjadi. Lihatlah seorang ibu muda yang bernama asli Sri Luhur Syastari.

Menikah Muda, Kenapa Takut?

Ayi, seperti itu dia biasa dipanggil. Menikah dalam usia masih tergolong muda, untuk jaman sekarang. Dua puluh tahun dan masih berstatus sebagai mahasiswa. Saat yang lain masih sibuk memikirkan pe-er sekolah, Ayi sedari SMA sudah bercita-cita untuk menikah muda. Motivasi ini dia dapatkan karena melihat keharmonisa pernikahan orangtuanya. Ibunya sendiri, menurut Ayi, memang menjadi Role Model bagi dia untuk melakukan pernikahan dini.

Dari mereka, Ayi melihat sendiri bagaimana suka duka menikah muda. Dan itu menjadikannya bermimpi untuk mengikuti jejak sang ibu. Mundur dua tahun dari usia sang Ibu menikah, umur 20 tahun Ayi dipersunting oleh seorang aktivis yan dikenalnya melalui aktivitas pada organisasi yang sama. Waktu satu bulan cukup membuat Ayi yakin akan jodohnya yang terpaut usia 3 tahun diatasnya.
Pernikahan Muda, Cutdekayi
Source : Cutdekayi.com


Namun, sebagaimana menjalani sesuatu yang belum tahu ujungnya seperti apa, menurut Ayi ada empat hal yang musti dipunyai ketika memutuskan untuk menikah muda.
1. Ilmu Agama
Agama Islam sudah  mewajibkan untuk melakukan pernikahan bagi siapa-siapa yang sudah mampu untuk melakukannya. Kesiapan dapat dilihat sebagai kesiapan fisik dan non fisik, kedua syarat tersebut musti harus dipenuhi oleh kaum laki-laki.

2. Ilmu menjadi seorang isteri
Tidak ada sekolah yang mengajarkan ilmu berumah tangga. Untuk itu wajib membekali diri dengan banyak membaca dan meminta petunjuk dari orang-orang yang telah berpengalaman.

3. Kesabaran
4. Mental yang kuat
Kesabaran dan mental yang kuat mesti dipunyai karena setiap pernikahan juga mempunyai tantangan tersendiri.

Satu hal yang saya kagumi dari Ayi adalah kesiapannya untuk menjadi seorang ibu. Banyak juga fenomena menikah muda 'hanya' sekedar untuk menjauhi zina. Tetapi Ayi memilih untuk menggenapkan perannya tidak hanya sebagai isteri namun juga sebagai ibu. Di usia yang masih muda dan dengan wajah yang masih imut-imut sekali, dia sudah punya baby.

Bagaimana Mengelola Pernikahan Pada Pasangan Muda?

Banyak yang bilang angka perceraian pada pasangan muda lebih banyak daripada pasangan yang sudah berumur. Salah satu faktor yang memegang peranan adalah emosi yang masih labil. Faktor keakuan yang masih tinggi diantara kedua pasangan. Sehingga begitu ada masalah, kedua hal tadi menjadi dominan.

Nah, mari simak tips-tips dari Ayi dalam mendapatkan pernikahan yang harmonis.
1. Komunikasi dan Introspeksi
 Dengan berkomunikasi, kita jadi tahu pasangan kita sedang merasakan apa. Sampaikan impian masa depan, atau rencana-rencana dalam pekerjaan atau apapun yg dirasa perlu untuk dibagikan. Tak menutup kemungkinan juga untuk mengungkapkan ketidaksukaan namun dg bahasa yg sopan. Misalnya suami tidak suka denngan pakaian  yang dipakai. Nah solusinya sebaiknya suami kasih tahu terus dengan begitu kita harus terbuka utk introspeksi diri biar keesokan harinya jadi lebih baik lagi.

2. Saling mengingatkan untuk kebaikan, saling mengerti dan memaafkan
Memang tidak semua hal bisa kita terima, apalagi kalo emosi sudah menggerogoti. Untuk itu kita saling mengingatkan.
"eh adek kalo marah kok mirip nenek-nenek ya?" atau "abang kalo cemberut bikin adek takut" 
Dengan begitu masalah bisa dilupakan, saling mengerti dan dan memaafkan.

3. Berikan hadiah, tak perlu mahal
Kejutan-kejutan kecil perlu diberikan dalam setiap pernikahan. Misalnya mengganti sprei kesukaan si Dia, menyiapkan baju untuk kerja, menyiapkan nasi goreng kesukaannya dan memberikan senyuan terhangat setiap Dia akan pergi dan pulang kerja. Menurut Ayi dengan begitu suami akan selalu nyangkut hatinya di rumah. Dan kalau sudah berangkat, jangan lupa untuk kirimi pesan agar berhati-hati dan ucapkan kata-kata cinta.

Mantapkan? Yuk mari kita praktikkan.....

7 komentar:

  1. Patut diacungi jempol nih buat nba Ayi yg berani memutuskan nikah muda..

    BalasHapus
  2. saya termasuk telat menikah, padahal kalau sudah cukup ilmunya, nikah muda lebih asik ya , kayanya :)

    BalasHapus
  3. muda bukan masalah asal punya ilmu menikah.

    BalasHapus
  4. Makasih Mba Yervi. Ayi juga masih belajar kok. Kadang-kadang juga masih nimbul sifat kekanak-kanakannya :'D
    Semoga dg postingan ini mengingatkan ayi kembali kalo menikah itu adl proses belajar. Belajar menjadi suami/istri yang baik. InsyaAllah..

    Terimakasih mba yervi :')

    BalasHapus
  5. Pembelajaran sabar tanpa batas waktu ya mba, pernikahan itu.

    BalasHapus
  6. Benar-benar ya mba Ayi jauh lebih dewasa daripada usianya. Bahkan lebih dewasa dari saya... :D

    BalasHapus
  7. Terimakasih sudah mengingatkan, Mba Hervi. Tinggal prakteeekk..:)

    BalasHapus