Laman

Belajar Ilustrasi Bersama Lidha Maul...

Let The Wave Hold You Tight

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Suka lihat ilustrasi-ilustrasi kece diatas? Pengen coba membikinnya gak? Yuk kita kenalan dengan seorang blogger Balikpapan sekaligus kreator dari gambar-gambar keren tersebut. Lidha Maul nama aslinya. Tapi mbak Lidha ‘menolak’ disebut ilustrastor karena lebih nyaman dipandang sebagai seorang penggemar ilustrasi.
Susyeh cari fotonya mbak Lidha..akhirnya japri

Kalau kita lihat ilustrasi yang dibikin mbak Lidha itu halus dan detail ya. Profesional sekali. Mengesankan pastinya. Terlihat seperti ilustrasi yang dibuat oleh orang yang sudah mengenal lama alias bukan karbitan.
Memang mbak Lidha sendiri sudah menyukai gambar-menggambar sedari kecil. Namun uniknya beliau tidak berani menyebut itu sebagai bakat. Dalam terminologi umum bakat merupakan sesuatu yang sudah menjadi pemberian oleh-Nya. Apakah kesenang/kesukaan tidak merefleksikan bakat? Entahlah. Beda-beda tipis kali ya. Yang jelas mbak Lidha berujar bahwa beliau merupakan pribadi yang suka mencoba-coba.

Bagaimana Mengasah Bakat?

Kembali lagi ke paragraf atas bahwa kebisaan mbak Lidha membuat ilustrasi tidak berarti bahwa beliau berbakat. Untuk itu bagi kita-kita yang merasa tidak berbakat...apakah tidak akan mungkin untuk membuat ilustrasi keren?

Mungkin saja...

Tips dari mbak Lidha adalah selalu amati karya orang lain yang dijadikan rujukan kemudian praktikkan. Mbak Lidha sendiri selalu mempunyai pikiran,"aku kapan bisa seperti ini ya?" jika melihat suatu karya yang dikaguminya. Dengan begitu motivasi untuuk berkarya menjadi lebih besar.

Apalagi sekarang tutorial banyak dibagikan melalui internet sehingga kita bisa belajar otodidak. Inspirasi pun dapat berasal dari segala penjuru. Sehingga yang dibutuhkan hanya kemauan saja. Juga sudah banyak juga komunitas-komunitas yang berangkat dari hobi yang sama. Menjadi ilustrator dari masyarakat awam bukan hal yang tidak mungkin.

Yang penting untuk bisa menggambar atau membuat ilustrasi harun rajin praktik, dan jangan selalu mengharapkan hasil yang sempurna pada awal-awal menggambar. Karena kesempurnaan hanya milik bagi yang sudah berproses.

Bagaimana Menjadi Lebih Profesional?

Profesi sebagai seorang ilustrator di era digital seperti sekarang ini memang sangat mengiurkan. Tawaran pembuatan visualisasi sebuah produk atau ide ada dimana-mana. Apalagi sekarang software penunjang banyak ragamnya yang membantu membuat sebuah ilustrasi. Ada Adobe Ilustrator, Corel Draw maupun Photoshop. 

Bahkan pen tab/drawing tab juga disediakan bagi pribadi yang suka oret-oret dimana saja. Jadi  biar terkesan go green - gak pake kerta, oret-oretnya di media tab. Keuntungannya oretan bisa disimpan langsung.

Namun menurut mbak Lidha tidak ada aturan baku apakah menggambar atau membuat ilustrasi harus selalu menggandalkan pada olah digital. Jika kita hanya memiliki sarana pena dan kertas, itu saja sudah bisa kita gunakan untuk menggambar. Seperti seorang penulis membuat tulisan....tidak punya komputer/laptop dapat menulis dengan mesin tik atau langsung tulis di kertas dengan pena. Kira-kira begitu ya.

Nah kalau kita melihat sarana-sarana yang digunakan untuk membuat ilustrasi ada beragam. Untuk pensil saja beragam ukurannya. Demikian juga untuk pena. Tapi buat yang berbudget minim, dapat mengakalinya dengan hanya menggunakan spidol.

Lho kok bisa? Untuk mengakali tebal tipis gambar berikut langkah-langkah yang dilakukan oleh mbak Lidha.
 
Sumber : Bulirjeruk.com

 Iyess...dengan hanya memotong ujung spidol, kita akan mendapatkan ketebalan garis yang berbeda pada spidol. Hasilnya akan seperti gambar di bawah.

Sumber : Bulirjeruk.com




 Tapi menurut mbak Lidha, kalaupun tidak dipotong ujung suatu spidol sebenarnya kita masih tetap bisa menghasilkan tulisan atau gambar yang nyeni. Seperti gambar dibawah dibuat oleh mbak Lidha tanpa memotong ujung spidol. Penebalan pada tulisan dibuat dengan cara melakukan penebalan pada setiap huruf dengan mengisi warna hitam dari garis pada sisi kiri dan kanan setiap huruf. Sehingga cantik seperti menggunakan brush pen.

Sumber ; Bulirjeruk.com
Yuk, sepertinya teori sudah lengkap diberikan oleh mbak Lidha maul. Sekarang tinggal prakteknya.

Ambil pensil dan kertas dulu.....

***

3 komentar:

  1. Sepertinya memang butuh proses banget ya dalam menekuni segala macam bidang. Saya sendiri masih bertahan di posisi nyaman yaitu cuma bisa mewarnai aja alih2 menggambar :D.

    BalasHapus
  2. ayuk sama2 belajar seni menulis dengan tangan yuk, saya juga masih pemula kok :D

    BalasHapus
  3. Sampai saat ini hanya photoshop sebagai software yang lumayan ngerti, jadi lebih memperdalam desain banner dibanding illustrator

    BalasHapus