Laman

Ini dia 5 Sisi Islami Kota Banjarmasin


Udah tahu kan ya, beberapa waktu lalu Ma’arif Institute merilis hasil penelitian tentang Indeks Islami kota-kota di Indonesia. Kotamu ada di nomor berapa, teman? Kalau kota saya ada di nomor dua urutan paling bawah. Sedih banget, tapi saya tetap bangga dengan kota saya.

Walau sedikit mengundang pertanyaan terhadap metode penelitiannya. Bagaimana mungkin dari 3 variabel yang diturunkan menjadi beberapa sub variabel, dapat secara komprehensif mencerminkan keislamian kota. Memang sih, cerita teman saya yang tinggal di Bali, Bali itu aman banget untuk ditinggali. Sepeda motor yang ditinggal berhari-hari di teras rumah, bakal aman. Lha di masjid dekat rumah saya, sampai meng-hire ibu-ibu untuk menjaga sepeda motor jama’ah yang tengah parkir, paska terjadinya pencurian saat sholat jumat.

Kalau menurut saya, nuansa Islami itu menancap dan terinternalisasi ke dalam sendi-sendi kehidupan. Jadi tidak proporsional kalau hanya menggunakan sedikit variabel tapi menyimpulkan banyak hal. Yang pasti setiap minggu pagi di seluruh masjid dan mushala di kota saya akan ada didikan subuh, dan kumandang kegiatan pesantren ramadhan anak-anak sekolah.

Eh, kok jadi curhat ya. Sudahlah case closed terhadap hasil penelitian Ma’arif Institue. Sekarang saya ingin membagi cerita tentang masyarakat Banjar, etnis mayoritas penghuni provinsi Kalimantan Selatan.
Kalau dari hasil penelitian Ma’arif Institute, kota Banjarmasin ada di kuadran tengah indeks Islami kota-kota Indonesia. Kebetulan orangtua saya dulu pernah menetap selama 3 tahun di Banjarmasin. Saya juga pernah sekali menikmati suasana lebaran disana. Berikut ini adalah kisah-kisah sisi Islami kota Banjarmasin berdasarkan pengamatan saya dan cerita-cerita dari orangtua saya.

1.    Bingka Lebaran

Sebenarnya Bingka tidak hanya terdapat di Banjarmasin. Bahkan di Makassar dan Pekanbaru kita bisa mendapati Bingka-bingka yang dijual penduduk setempat. Hal tersebut karena memang orang-orang Banjar pada dahulunya banyak merantau ke daerah tersebut.
Kue Bingka

Bingka atau juga disebut wadai oleh penduduk Banjarmasin adalah kue yang berasa sangat manis dan lembut. Terbuat dari tepung terigu, gula pasir, telur bebek dan santan. Warna dari kue bingka mencerminkan materi dasar dari kue tersebut. Bingka yang berwarna kuning merupakan Bingka yang terbuat dari kentang. Sedangkan Bingka yang berwarna hijau merupakan Bingka dari tapai dan air pandan. Kue Bingka secara budaya disajikan pada acara-acara adat, upacara pernikahan dan hari-hari besar keagamaan.

Lebaran tahun 2005 adalah lebaran pertama saya dan kedua orangtua saya di Banjarmasin. Kami ingin merasakan atmosfer lebaran di kota tersebut karena pada penghujung tahunnya saya akan menikah.

Tidak ada perbedaan prosesi sholat Ied di Banjarmasin yang dipengaruhi oleh buadaya setempat. Sebagai pendatang, tentunya kami sekeluarga berinisiatif terlebih untuk mengunjungi tetangga untuk mengucapkan selamat lebaran.

Setelah kembali pulang ke rumah, satu per satu tetangga dekat dan tetangga jauh mengantarkan kue Bingka. Awalnya tentu ada perasaan senang karena kedatangan kami tadi berbalas kunjungan balik. Apalagi dengan membawa oleh-oleh.

Satu per satu Bingka yang diberikan masuk ke kulkas. Sebagai orang Padang yang dominan menyukai makanan pedas, memakan Bingka terasa enak pada Bingka pertama dan kedua saja. Yang ketiga mulai merasa eneg. Hingga akhirnya Bingka-bingka yang diberikan memenuhi kulkas.


Sebagai yang diberi tentu kami sekeluarga merasa bahagia dikasih pemberian, namun di sisi lain kami juga merasa sedih karena tidak sanggup untuk menghabiskannya. Sedangkan menolak pemberian orang rasanya sungkan. Akhirnya daripada basi, kue-kue Bingka tersebut diberikan lagi ke teman-teman kantor orangtua.

Begitulah cara orang Banjar memuliakan pendatang.

2. Saya Jual – Saya Beli

Salah satu sahnya perdagangan adalah keberadaan akad jual beli. Jadi akad prosesinya tidak hanya pada waktu nikah saja, namun seharusnya ketika berjual beli, akad juga dilakukan. Namun secara umum prakteknya di Indonesia, jual beli hanya meliputi proses tawar menawar saja. Setelah penjual pembeli menyepakati harga, proses transaksi terjadi.

Bagaimana di Banjarmasin? Mereka disana akan menambahkan kesepakatan yang terjadi dengan mengakhirinya melalui sebuah akad. Akad yang menyatakan bahwa penjual menjual barang dan akad yang menyebutkan bahwa pembeli membeli barang yang diinginkan.

Unikkan? Tidak lazim dilakukan namun inilah sebenarnya syarat sah jual beli dalam Islam.




3. Tidak ada anjing di Banjarmasin 

Anjing adalah binatang peliharaan bagi beberapa kalangan di masyarakat. Karena sifat kesetiaan dan kepintarannya, sehingga Anjing dapat dijadikan teman yang baik bagi tuannya.

Kalau anda bepergian ke kota Banjarmasin, anda jarang sekali melihat anjing-anjing berkeliaran disana. Saya tidak tahu pasti kenapa bisa seperti itu. Apakah pernah semua anjing yang ada di buru dan dipindahkan ke suatu tempat. Wallahu alam.

Hal itu terkait posisi Anjing sebagai benda hidup bernajis sebagaimana disebutkan dalam Alquran. Butuh tujuh kali siraman air dan campuran air serta tanah untuk menghilangkan najis dari benda-benda yang tersentuh oleh anjing. Karena hal tersebut, maka kota Banjarmasin menginginkan bebas dari anjing liar untuk mendukung kesucian kotanya.


4. ‘Menyembunyikan’ sepatu

Suatu hari orangtua jalan melakukan perjalanan dinas ke suatu daerah di provinsi Kalimantan Selatan. Karena jam sholat zuhur telah terlampai sedang perjalanan belumlah sampai ke daerah tujuan, akhirnya orangtua saya berhenti di suatu mushala kampung. Ketika itu masih terdapat beberapa jamaah yang duduk-duduk di dalam masjid.

Setelah selesai sholat, orangtua saya bergegas pergi mengingat daerah tujuan masih jauh. Alangkah terkejutnya orangtua, mendapati sepatu yang sudah tidak ada di tempatnya. Panik karena itu satu-satunya sepatu yang ada.

Saat sedang berusaha mencari, tiba-tiba datang seorang ibu-ibu tua. “ Apakah ini sepatu punya Ibu?” ujarnya. “ Maaf tadi saya ‘sembunyikan’ karena sepatunya bagus. Takut ada yang mengambil.”

Sungguh sangat terharu orangtua saya saat itu. Belum pernah seumur-umur hidup mendapati orang yang begitu perhatian terhadap barang orang yang tidak dikenalnya.

5. Akuntabilitas Pelayanan Publik

Pernah mengeluhkan timbangan belanjaan di pasar yang kurang dari bobot seharusnya? Rasanya itu merupakan problem keseharian kalau berbelanja di pasar tradisional. Namun hal itu amat jarang terjadi di pasar tradisional Banjarmasin. Timbangan yang digunakan akurat dan bagus. Pedagang Banjar dapat dikatakan jujur dalam berdagang.

Tidak hanya bentuk kejujuran dalam penggunaan timbangan, pelayanan publik di kota Banjarmasin pun sangat akuntabel. Kalau di kota saya yang paling sebel itu adalah pelayanan PDAM. Harusnya dengan pola kegiatan yang sama dan jumlah orang yang menetap juga sama, maka penggunaan air dari bulan ke bulan akan mendekati sama.

Namun ini  terkadang besarannya fluktuatif. Terkadang murah sekali dibawah 100 rb namun di kesempatan lain mahal bingit hingga lebih dari 300 rb. Apa pasal?

Saya mencurigai petugas pencatat meter tidak setiap bulan datang sehingga beberapa data hanya asumsi. Akibatnya pada waktu berikutnya tagihan membludak karena PDAM menggunakan sistem progresif dalam tarifnya.

Contoh di atas takkan terjadi di kota Banjarmasin. Setiap petugas pencatat baik PDAM maupun PLN pasca bayar datang, akan ada nota pemberitahuan pencatatan yang dilakukan. Sehingga itu dapat dijadikan bukti kalau seandainya ada klaim.

Nah, gimana dengan kotamu teman? Adakah sisi-sisi Islami yang lain di kotamu?

8 komentar:

  1. Ah itu wadai bingkai bikin kangen. Saya suka banget rasanya. Waktu di Banjarmasin entah menghabiskan berapa bua :)

    BalasHapus
  2. Kue Wadai itu keliatannya enak, tapi saya gak tau rasanya. Belum pernah makan soalnya he he he
    Kebayang kagetnya ya..kalo sandal kita gak ada. Tapi itu ibu, inisiatf ya, menjaga milik orang lain :)

    BalasHapus
  3. aku pernah ke banjarmasin tapi gak pada waktu ramadhan dan lebaran jadi belum lihat susana saat ramadan

    BalasHapus
  4. Ah.. Jadi kangen kampung halaman. Btw, Mbak. Wadai itu bahasa Banjar untuk kue. Jadi wadai bingka itu kue bingka. Hehee.. Kue2 lain juga disebut wadai.
    Btw lagiii. Iya tuh. "Tukar" dan "Jual" hanya ada di Banjarmasin ya. Orang di sana terbiasa pakai akad dalam jual beli. Di Kaltim sini juga kalau belanja sama urang dari suku Banjar pakai akad jual dan beli. Trus.... Anjing.. Xixixi. Iyes, Mbak. Jarang ada anjing berkeliaran. Ada sih di kampung2 biasanya anjing hutan. Kalau di kota mah jarang. Sepupu saya waktu ke Balikpapan heran ada banyak anjing di sana :D

    BalasHapus
  5. Eah serius mba gak ada anjing.. hihii.. lucu juga ya kota tanpa anjing... bingkanya jadi bikin kangen sama Bika di Padang.... :-)

    BalasHapus
  6. MasyaAllah... salut sama poin 2 dan 3

    berarti abaikan saja hasil risetnya ya Mba.. yang tinggal di sana lebih tahu kondisinya :)

    BalasHapus
  7. soal akad dalam belanja itu gak mudah kalau gak biasa ya. Saya sendiri suku banjar tapi gak terikat dengan tempatnya beda provinsi beda rasa

    BalasHapus
  8. bingka nya enak banget lembut cuman manis banget hahah

    BalasHapus