Laman

Mau Lebaran Ceria Di Payakumbuh? Siapkan Saja Perut Anda


 Tidak hanya menjalin silaturrahmi, anak-anak pun senang karena mendapat pengalaman yang belum pernah mereka rasakan

Wah, nggak terasa sudah hampir tiga minggu ya Hari Lebaran 1437 H berlalu. Suka citanya masih terasa hingga hari ini. Hari Lebaran terasa spesial karena sebulan sebelumnya kita telah melewati serangkaian ‘ujian’ demi meningkatkan ketaqwaan kepada-NYa. Lha kok ‘ujian’ sih? Bukannya malah ibadah?

He..he… menurut pendapat pribadi saya selama bulan Ramadhan sesungguhnya kita memang menjalani ujian apakah ibadah yang dilakukan dengan ikhlas atau tidak yang membedakan kita apakah hanya mendapat haus dan lapar atau menjadikan kita kembali menjadi manusia yang suci.

Nah, sobat blogger apakah lebaran kemarin telah memberi keceriaan buat anda sekeluarga? Bagi saya sendiri lebaran tahun ini terasa sekali maknanya. Lebaran tahun ini menghapus kerinduan saya untuk menunaikan ibadah sholat sunat Aidil Fitri setelah hampir lima tahun tidak pernah lagi menjalaninya.

Emang kemana aja buk lima tahun ini?

Gak kemana-kemana kok. Di rumah aja.

Tapi ada alasannya memang. Tahun 2012 ketika lebaran,  sikembar masih bayi banget. Lebaran 2013 dan 2014 mereka udah besaran dikit sih, cuma ya itu jadwal bangunnya masih belum klop dengan waktu syalat Ied. Sholat Ied kan pagi banget ya. Kalau di Masjid dekat rumah saya mulainya jam 7.15 pagi. Belum lagi harus datang lebih cepat biar dapat tempat yang bagus. Nah, tahun kemarin saya juga baru selesai di operasi Mastektomi beberapa hari sebelum lebaran.  Suasana masih mendung di keluarga saya sehabis saya di vonis Kanker Payudara.

Jadilah sholat Aidil Fitri tahun ini berkesan banget buat saya. Datang ke  Masjid dengan mukena yang paling bagus dipunya, derap langkah menuju Masjid sambil ditemani oleh lantunan suara Takbir Tahmid dan Tahlil dari pengeras suara Masjid, itu rasanya sesuatu. Belum lagi ini merupakan sholat Ied pertama saya di Masjid  tanpa kehadiran mama yang berpulang tahun kemarin.  Syahdu.

Oh ya kami sekeluarga memang selalu sholat Ied di Masjid dekat rumah. Masjidya tidak terlalu besar. Tapi dengan begitu kita bisa bersalam-salaman dengan tetangga. Dan sholat Aidil Fitri  di Masjid biasanya lebih khusyuk dibanding dengan di lapangan. Tidak ada penjual dagangan atau orang-orang  yang selfie dengan handphone-nya.

Nah esok harinya, baru kami berangkat pulang kampung. Karena jalur Padang-Bukittinggi yang selalu macet kala lebaran, kami memutuskan berangkat sehabis subuh. Tak dinyana, karena kesibukan ini- itu membereskan rumah yang bakal ditinggal, keberangkatan pulang kampung urung menjadi pukul tujuh pagi. Tapi Alhamdulillah lancar jaya sampai di Bukittinggi.

Lebaran di Kampung Kakek

Lebaran memang membawa banyak manfaat. Lebaran dapat mempererat silaturrahmi dengan sesama anggota keluarga, sanak family, dan tetangga.  Saling kunjung mengunjungi, memberi makanan tamu yang datang atau hanya sekedar buah tangan.

Belum lagi praktek mudik atau pulang kampung yang memberi ikatan secara historis dan psikologis. Kembali ke kampung berarti kembali ke asal. Dari sanalah ayah bunda, kakek nenek kita berasal.  Betapa sedihnya bagi yang tidak punya kampung.

“ Lebaran kemana?”

“Gak kemana-mana. Disini Aja” Alamak malangnya.

Apalagi buat warga suku Minang. Kampung identik dengan sawah, rumah gadang yang selalu memanggil untuk pulang.

Dan lebaran merupakan momen yang tepat untuk mengenalkan kepada sikembar darimana asal kakeknya.  Melalui lebaran anak-anak menjadi terhubung dengan masa lalu kakeknya. Rumah Gadang kakek dimana, kamar kakek dulunya, sekolah kakek dan sanak family yang ada.
Suliki, Payakumbuh, bukit kapur, lebaran
Awal rute 'pendakian' ke kampung kakek


Apalagi kampung kakek yang berada di desa Atas Koto Suliki, sekitar 20 kilometer dari kota Payakumbuh, yang harus ditempuh dengan mendaki. Maklum kampung tersebut berada di atas bukit kapur. Walaupun ada jalan beton yang sempit, namun jurang yang menganga dibawahnya membuat suami tidak berani nyetir. Sedangkan kakek sudah terlampau tua-mendekati 70 tahun- untuk menyetir dengan medan yang menantang. Terakhir kami datang tahun 2010 bahkan mobil sempat mati mesin di pendakian. Karena itulah kami lebih memilih berjalan kaki menuju desa kakek.

“Nanti kalau kita ke kampung kakek, kita mendaki ya. Bawa sandal jepit supaya gak susah jalan.” Demikian instruksi saya.

“Eggak mau, Mi. Capek,” ujar sikembar.

“Trus kalau kita gak sanggup gimana, Mi?” tanya Nessa

“Nanti kita telepon saudara kakek, supaya dijemput pake motor,” kata saya.

Ternyata benar. Baru saja sampai di tempat penitipan mobil dan melihat tingginya medan yang akan didaki, anak-anak mulai mengeluh. Apalagi cuaca cukup panas kala itu.

“Uni, disini ada ojek sekarang?” tanya suami ke penduduk.

Alhamdulilah ternyata, sekarang ada ojek motor yang dapat disewa untuk mencapai kampung kakek. Dan kami menyewa tiga ojek yakni untuk kakek, saya beserta Nessa dan Thiya serta suami yang bersama Dhila.
Jalan Menurun Yang Sempit Ketika Pulang. Mobil Dijemput Oleh Saudara Kakek

Anak-anak kesenangan karena jarang sekali naik motor. Walaupun pengemudi sedikit ngebut, tapi anak-anak menikmati pemandangan yang ada. Dikejauhan terlihat bukit-bukit yang ditumbuhi oleh pohon pinus, dengan pasir kapur berwarna putih disisi bukit. Apalagi ada pohon beringin besar yang telah menaungi desa Atas Koto Suliki ratusan tahun. Anak-anak ingin berfoto disana sebenarnya. Tapi saya tidak berani.
Suliki, Payakumbuh, bukit kapur, lebaran, beringin
Pohon beringin yang menaungi desa kakek

Suliki, Payakumbuh, bukit kapur, lebaran, rumah gadang
Rumah Gadang yang sudah berusia puluhan tahun


Satu Rumah, Satu Hidangan

Tahukan makanan paling lezat dunia? Warga minang tentu sangat berbangga hati karena Rendang kuliner khas minang menjadi masakan paling lezat. Dan tahukah kamu bahwa Rendang Payakumbuh merupakan rendang paling enak seantero Sumatera Barat. Dibuat dari santan pilihan yang dimasak dengan memakai kayu. Kalau anda memakannya maka akan langsung terasa enak dan terasa perbedaannya dengan rendang-rendang yang sudah anda jumpai. Minim minyak dan bumbu rendang yang kering. Sehingga terasa gurih dilidah. Rindu dengan Rendang Payakumbuh merupakan alasan terbesar saya untuk datang lebaran ke kampung papa.

“Anak-anak, nanti makan yang banyak ya. Rendang di kampung kakek enak lho.”

Saya sudah jauh-jauh hari mengompori mereka untuk makan. Dan ternyata, memang mereka menyukainya. Jadilah mereka makan bertambah di rumah kakek.

Dan sebagaimana biasanya, silaturahmi lebaran juga dilakukan dengan mengunjungi saudara-saudara kakek yang tinggal di sekitar rumah kakek. Maklum kami harus kembali ke Bukittinggi pada malamnya. Jadi roadshow silaturrahmi lebaran jadwalnya agak ketat. Seperti saya bilang di atas, karena ini kali pertama kali sikembar datang ke kampung kakek, jadi momen ini benar-benar dimanfaatkan untuk mengenalkan sikembar ke sanak famili kakek dan pun jalan bagi mereka untuk mengenal sanak familinya.

Satu hal yang membedakan berlebaran di Payakumbuh dengan daerah lain adalah budaya makan di rumah orang yang kita kunjungi masih terpelihara hingga kini. Kalau di Bukittinggi, makan saat silaturrahmi lebaran hanya di rumah saudara. Sedangkan di Payakumbuh tidak. Mau kenal dekat atau pun biasa, kalau datang berlebaran akan disuguhi makan.
Makan Di Rumah Pertama

Makan Di Rumah Kedua (Kakek yang berbaju hijau)


Jadi kalau ada lima kunjungan, maka anda akan makan lima kali juga. Tidak ada alasan untuk menolak, karena bagi tuan rumah merupakan suatu kehormatan untuk menjamu tamu dan bisa-bisa mereka akan tersinggung kalau anda tidak mau. Entah lauk yang disajikan banyak tersaji ataupun sedikit, tuan rumah akan senang menyambut tamunya makan.

“Aduh…kenyang, Mi. Nessa gak mau makan lagi.” Anak-anak gak sanggup lagi untuk makan saat kunjungan ke rumah saudara kakek.

Maka pandai-pandailah anda kalau datang berlebaran ke Payakumbuh. Begitu makan di rumah yang pertama, jangan terburu nafsu makan hingga kenyang. Karena masih ada rumah-rumah yang lain masih menanti mengisi perut anda.

Makanlah saketek…sekedar pangumuah piring.”

Demikianlah ungkapan yang diucapkan kalau anda menolak makan dengan alasan kenyang. Tuan rumah akan membujuk supaya makan walaupun sedikit asalkan piring terkotori.  Demikianlah budaya masyarakat Payakumbuh dalam memuliakan tamu di kala lebaran.

Lebaran memang menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kualitas ukhuwah islamiah di antara sesama muslim. Tapi jangan lupa, setelah lebaran silaturrahmi dan ukhuwah harus tetap dijaga. Bisa melalui media sosial bagi saudara yang jauh berada. Menghadiri reuni dan acara-acara yang bernilai ibadah juga bisa dimanfaatkan untuk membina silaturrahmi.

Oh ya tanggal 7-8 Agustus depan di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta juga bakal menyelenggarakan  ragam acara dalam rangka Hari Hijabers Nasional. Yuk bagi yang berkesempatan, jangan lupa dimanfaatkan untuk tetap menjalin silaturrahmi sesama hijaber. Semoga kita semua menjadi manusia yang lebih dalam keimanan dan ketaqwaan






7 komentar:

  1. Hihihi... gak kebayang tuh bagaimana kenyangnya... tapi nikmaat... ah jadi pingin makan nasi Padang nih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya makannya dikit-dikit mbak klo berencana banyak kunjungan dalam sehari

      Hapus
  2. Ada yang menohok di hati membaca posting ini, rindu pada suasana Lebaran di kampung. Tiap jenjang yang dinaiki akan dijamu oleh makan besar. Kadang-kadang Sayang makan cuman nyicip sedikit Cuma buat mengotori piring. Ah rindu yang dalam :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uni...kalau pulang kampung kita ketemuan ya

      Hapus
  3. Sayang pulang kampuang patang ko ambo indak sempat singgah ka Pikumbuah, maklumlah pulang takajuik indak barencana, bantuk koncek takajuik lansuang malompek sakali. Padohal Pikumbuah tu kampuang kaduo ambo. Pulang tahun lalu ambo sampai ka Tanjuang Bungo, iyo gambuang paruik dek naiak oto mandaki panjang, baganti sajo jurang jo tabiang suok jo kida. Hiii.... seremmmmmmm

    Salam kenal
    Dian Kelana

    BalasHapus
  4. Pas aku ke padang aku juga kaget, ternyata jalanannya puanjang2 banget...hihi
    Untunglah sudah ada ojek ya di tempat kakek
    Wah aku jadi teringat payakumbuh ni
    Aku inget ada yg cerita padang terkenal akan coklatnya

    BalasHapus
  5. Wak yo toghagak plo pulang, ko Lugah Tobek :D

    BalasHapus