Laman

Mutia : Blog Sebagai Medium Metamorfosis Diri



Mutia : Blog Sebagai Medium Metamorfosis Diri - Ketemu lagi di rubric Sosok.  Kamu masih  sering buka-buka album foto lama gak? Album  yang berisi kenangan foto-foto yang merekam jejak kita semenjak bayi hingga dewasa. Atau kamu malah tidak punya? Kacian…deh

Soalnya kan sekarang kita rada malas yah cetak-cetak foto. Lihat foto ya buka gadget atau laptop dulu. Dunia digital kadang-kadang memang bikin malas kita berusaha.  Padahal kalau hardisk rusak/hilang, baru deh nangis darah.

Anyway, foto mungkin satu-satunya medium yang menyimpan sejarah perjalan hidup kita Dimulai lahir, foto pas SD, foto wisuda, pernkahan, dan sebagainya. Dari sana kita bisa menyimpan informasi apa-apa yang pernah dilalui dan kita capai dimasa lalu, bagaimana kita hidup di masa lalu dan satu penanda perkembangan fisik.
 
Namun ya itu, foto hanya mampu menampung informasi yang berupa fisik.  Tapi tidak bisa secara eksplisit menandakan informasi perubahan seseorang berdasarkan waktu dari faktor sifat emosional dan kejiwaan juga mungkin.

Nah kira-kira kalau kamu mau menelisik masa lalu seseorang, sifat-sifatnya kayak gimana, gak perlu datangin dukun ya.  Ntar diminta ngelakun yang aneg-aneh lo.

Jadi apa dong?

Ubek-ubek saja blog-nya. Lho kok blog? Iya…memang blogger memang dapat menyimpan informasi sebagaimana fungsi dari sebuah buku Diary.

Dari Diary Pindah Ke Blog

Mau tau cara dan bagaimananya?  Yuk kenalan dengan Mutia Nurul Rahmah, blogger Pekanbaru yang ngetop. Mutia ini jadi blogger sudah lama lho, persisnya sudah sembilan tahun. Dimulai saat Mutia masih berusia sangat muda, 15 tahun.  Saya kaget banget ketika tahu umur 15 tahun sudah nge-blog.

“Memangnya Mutia lahir tahun berapa? “ tanya saya. Ternyata tahun  1994.

Awalnya memang Mutia rajin menulis Diary selama menempuh pendidikan di Pesantren. Kemudian melanjutkan SMA di dekat rumah,  Saat SMA itu, orangtua Mutia  membuka usaha jual alat tulis dan jasa print. Tak lama kemudian dipasangi jaringan internet hingga Mutia pun sering diminta menjaga ‘warung’.  Dari niat awal hanya bikin email, akhirnya mengantar Mutia berkenalan dengan blog. Akhirnya mutmuthea.blogspot.com terlahir.

Mau tau isinya apa? Ya alay banget kalau istilah anak muda jaman sekarang. Isinya memang diary banget. Curcol yang dipindahin ke media blog. Kadang cerita sehari-hari Mutia. Maka beragam perasan Mutia saat itu akan terekam melalui blognya. Ada yang sedih, marah ataupun bahagia. Tapi dengan menuliskan beragam perasaan tersebut, paling tidak Mutia telah berbagi perasaan.
Galau Menjelang Perpisahan Sekolah


Nah kira-kira dulu siapa ya pembaca blognya Mutia? Teman-teman SMA-nya kah? Menurut Mutia dulu pas awal ngeblog dia tidak peduli dengan siapa pembacanya. Yang penting blog dijadikan sebagai wadah menulis. Soalnya kalau mau nulis di Facebook Mutia kurang merasa luas jangkauannya.

Aih jadi malu nih. Saya aja punya akun Facebook tahun 2009 dan itu sama sekali gak mikirin reach tulisan karena FB masih dijadikan tempat untuk kangen-kangenan dan memantau pergerakan orang-orang di masa lalu. Ha..ha…

Kapan Turning Point-nya?

Cerita dari Mutia kalau tahun 2012 adalah tahun perubahan dari style-nya dalam blogging. Saat itu doski sudah masuk kuliah. Udah dewasa. "Mulai cerita-cerita yang rada bener," cerita Mutia. Dalam berinternet sudah tahu etika. Gak hajar bleh lagi.

Postingan pun sudah mulai diatur walaupun target siapa pembaca belum ditentukan. Makin lama makin tertarik menulis pengalaman, perjalanan ataupun pikiran. Jadi gak sekedar curcol. Konsistensi penulisan dipertahankan minimal empat kali posting sebulan.

Ini Di Post Sept 2009. Masih ada hawa-hawa alaynya


Ke Depan Mau Seperti Apa?

Lanjut dengan cerita Mutia ya. Awalnya Mutia biasa-biasa aja dalam ngeblog. Artinya tidak terlalu diseriusin. Lama-kelamaan ternyata mendapat apresiasi yang tidak hanya sekedar memberikan komentar di setiap postingan. Makin banyak phak yan menawarkan kerjasama. Ngajak makan gratis....ngajak ngobrol2 (ini gratis juga mut?). Ngajak meliput tentang suatu produk.

Tak dinyata Mutia sudah melakukan monetisasi pada blog-nya sendiri, walaupun awalnya tidak mempunyai niatan sama sekali. Makanya di history blognya kita bisa banyak lihat kerjasama-kerjasama yang sudah Mutia lakukan sebagai Blogger.

Jadi mau serius jadi blogger bayaran, Mut? Eh...blogger yang dibayar lebih sesuai konteks. " Inginnya sih gitu. Blog jadi salah satu pintu rejeki entah itu sampingan atau tetap," ujar Mutia.

"Tapi ortu tetap ingin saya kerja yang beneran seperti kantoran," Mutia melanjutkan. Ya iya lah Mut...itu mah perilaku mainstream ortu sedunia.

Cukup sekian yah pemirsa...obrolan kita dengan Mutia seorang lifestyle blogger dari Kota Bertuah. Semoga bisa diambil manfaatnya. Salam


         **AV**
Read More

Ibu Indonesia, Please Say No To 'Dot'

Ibu, Say, No, Dot

Pagi pagi, bunyi telepon menghentikan sejenak aktivitas Novi di rumah. Seorang ibu muda dengan suara panik menelepon. “Uni tolong…saya gak tau lagi harus bagaimana. Si Dedek udah tiga hari tidak mau menyusu,” suaranya terdengar bergetar.

Tantangan pemberian ASI terhadap bayi bisa dikatakan sebagai sesuatu yang bukan sederhana. Tidak hanya berasal dari faktor internal ibu dan bayi, tapi bahkan juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Sebagai ibu bekerja yang baru saja kembali memulai hari setelah cuti melahirkan, tentunya Desi (bukan nama sebenarnya) sudah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan bayinya selama Desi berada di kantor. Tabungan stok ASI bisa dikatakan sudah mencukupi dan  pihak ketiga yang akan menjaga bayinya juga sudah ada yakni nenek si bayi sendiri.

Permasalahan yang terjadi dengan bayi Desi karena nenek menggunakan media Dot untuk pemberian ASI perah. Si nenek beralasan bahwa selama Desi tidak di rumah, bayi tidak merasa nyaman menggunakan media lain. Akhirnya dipilihlah Dot untuk pemberian Asi. Dengan menggunakan Dot, selama dua minggu itu nenek tidak mengalami kesulitan dalam memberikan Asi perah untuk cucunya.

Awalnya saya heran. Kenapa Danish (bukan nama sebenarnya) seperti malas menyusu. Putting dan Areola sudah masuk di mulut, tapi sepertinya tidak dihisab. Sebentar-sebentar sudah selesai. Makin lama Danish mulai rewel dalam menyusu. Terlihat marah karena haus dan lapar tapi menghisapnya kurang walaupun putting areola saya masukkan ke dalam ke mulutnya. Sampai akhirnya tiga hari yang lalu Danish tidak mau lagi menyusu.” Demikian penuturan Desi kepada Novi, seorang Konselor Menyusui.

Apa yang terjadi pada Danish merupakan suatu bentuk dari keadaan bingung puting. Tentunya sebagai seorang ibu yang baru saja mengalami penolakan oleh bayinya untuk disusui, berbagai perasaan mendera batinnya. Ada sedih karena ini baru pertama kali terjadi dan rasanya sama sekali tidak enak. Cemas dan khawatir bayinya akan kekurangan asupan. Frustasi karena berbagai cara telah dilakukan belum membuahkan hasil. Bahkan sampai menyesali diri. Tapi tindakan yang dilakuan oleh Desi sudah tepat, segera menghubungi konselor menyusui.

Apa itu Bingung Puting dan Apa Penyebabnya?

Ketika Bayi yang masih dalam tahap belajar menyusu diberikan dot untuk media meminum Asi perah, bayi dapat berada dalam kebingungan karena bayi menjadi tidak tahu bagaimana cara menghisap payudara setelah bayi menggunakan dot. Dalam bahasa yang sederhana, bingung puting diakibatkan karena bayi mengalami kesulitan menghisap payudara ibunya untuk mengeluarkan Asi setelah sebelumnya bayi merasakan kemudahan ketika penggunaan dot.
Perbedan Mekanisme Kerja

Kenapa bisa begitu ya, Ibu? Dari gambar diatas ibu perlu tahu bahwa menghisap payudara dan puting memiliki mekanisme kerja yang berbeda. Bayi memerlukan koordinasi mulut, pipi, langit-langit dan lidah untuk memeras areola supaya Asi keluar. Bahkan puting susu ibu akan 'dibuat' memanjang untuk memudahkan bayi memeras. Sedangkan Asi yang diberikan dengan media botol dot, maka Asi dapat dengan mudah mengalir melalui lubang pada dot. Kepala dot ditaruh diujung lidah dan bayi cukup melakukan gerakan lidah menyedot sehingga Asi akan keluar terus menerus.

Begitu bayi terbiasa melakukan gerakan menyedot Asi melalui dot, maka bayi merasa harus melakukan ‘kerja keras’ untuk menghisap payudara. Hal itulah yang menyebabkan bayi akhirnya menjadi tidak mau lagi menyusu langsung pada ibunya. Karena dot sudah memberikannya 'kemanjaan'.

Resiko-resiko Lain Dari Penggunaan Dot 

Oh ya, bingung putting bukan satu-satunya resiko dari penggunaan dot lho, Ibu-ibu. Lebih jauh lagi kita perlu mengetahui kehigienisan dari dot yang dipakai. Salah salah nanti bayi bisa menderita muntah dan diare akibat dot yang tidak bersih.

Bayangkan dalam sehari berapa kali bayi menggunakan dot. Apakah jumlah botol dot yang tersedia cukup banyak di rumah ibu? Sehingga begitu di pakai, botol tersebut harus langsung dicuci. Belum lagi sisa lemak-lemak Asi yang menempel di sela-sela dot, terkadang susah untuk dibersihkan. Satu lagi apakah pembersihan dot dengan menggunakan spons pembersih yang berbeda dengan spons yang dipergunakan untuk mencuci piring?  Jadi higienitas dot merupakan hal yang mutlak bagi bayi karena sistem imunnya belum sempurna.

Menyusu langsung pada payudara bukan hanya untuk membuat bayi kenyang saja, lho Ibu. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang kompleks. Melibatkan seluruh otot yang berada di sekitar mulut dan rahang. Sebaliknya pemberian ASI dan pengganti ASI melalui dot tidak merangsang bayi untuk belajar dan bekerja. Akibatnya, kekuatan otot-otot mulat dan rahang tersebut melemah, dan bisa menyebabkan kemampuan bicara menjadi terhambat.


Ibu-ibu pasti tersenyum geli lihat foto diatas ya. Itu foto salah seorang
putri kembar saya yang tengah meminum susu dengan dot. Walau umurnya sudah hampir lima tahun, januari tahun depan, mereka masih menggunakan dot untuk minum susu.

Permasalahan menyusui akan selalu ada jika tidak dilandasi dengan ilmu dan tekad yang kuat. Begitu pun dengan saya dulu. Ilmu per-asi-an masih sedikit. Walaupun tidak mempunyai kendala menyusui, tapi kegiatan perah-memerah asi untuk menjamin stok terkadang membuat ‘kelelahan’ jasmani dan rohani juga.

Nah, suatu hari saat masih ngajar di kampus, pengasuh bayi di TPA menelepon bahwa stok asi tinggal sedikit. Jangan tanya rasanya ibu-ibu. Saya takut banget sikembar marah karena mereka belum kenyang saat stok habis. Saya pun buru-buru mengakhiri kuliah dan langsung pulang. Padahal jarak antara kampus dengan TPA sikembar hampir 45 menit. Sungguh saat itu hanya bagaimana supaya cepat sampai yang ada dipikiran.

Belum lagi, pengasuh yang memberi tahu bahwa sikembar kadang-kadang marah karena pemberian Asi dengan pipet sudah tidak mencukupi kebutuhan mereka. Bayi saya harus menunggu karena pemberian dengan pipet cukup membutuhkan waktu karena harus bolak balik antara gelas yang berisi Asi dengan mulut bayi. Apalagi kecepatan tangan pemberi sangat menentukan.

Akhirnya di usia 4,5 bulan sikembar sudah saya beri tambahan susu formula dengan media dot. Awalnya saya takut-takut juga karena dulu si kakak tidak suka sufor. Tapi ternyata sikembar ok-ok saja dikasih sufor dan mereka juga tidak mengalami bingung putting. Dan pemakaian dot berlanjut hingga sekarang.

Kadang-kadang saya malu juga kalau ketahuan orang lain. “Ee…sudah besar kok masih ngedot,” celutukan orang-orang. Tapi apa boleh buat mereka tidak mau diganti dengan pemakaian gelas untuk minum susu. Menyapih anak dari dot bisa jadi lebih sulit dibanding menyapih dari payudara. Mau tidur minum susu pake dot demikian juga saat bangun tidur. Moga-moga dengan bersekolah nanti, mereka jadi malu dan akhirnya tidak mau lagi ngedot.

Dot dan Kaitannya dengan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Cukup menarik tema yang diambil dalam pelaksanaan Pekan Asi Sedunia tahun ini yang mengaitkan pemberian Asi dengan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Perintah pemberian Air Susu Ibu (ASI) oleh seorang ibu kepada anaknya sudah terdapat dengan jelas baik melalui ayat-ayat Al Quran dan Hadits Nabi. Bukan hanya itu saja, terhadap Ibu-ibu yang sedang menyusui, diperbolehlan untuk tidak berpuasa jika dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan anak apabila Ibu berpuasa. Sedemikian keutamaan ASI sehingga agama Islam memberikan keringanan dalam beribadah bagi Ibu-ibu yang sedang menyusui.

Pembangunan yang berkelanjutan dalam pengetian yang sederhana merupakan pembangunan yang dalam pelaksanaannya dilandasi oleh semangat untuk tetap memperhatikan aspek ekonomi, lingkungan dan komunitas. Sekarang mari kita bahas kenapa dot bertabrakan aspek ekonomi dan lingkungan.

Dalam satu bulan, kira-kira berapa buah dot yang diperlukan oleh bayi supaya kehigienisan masih tetap tercapai? Misalkan ada empat buah dengan asumsi dua dot dipakai selama dua minggu secara bergantian. Jika satu dot berharga lima ribu rupiah berarti kita menghabiskan dua puluh ribu setiap bulan. Belum lagi kalau dimasukkan biaya pembelian botol. Walaupun nominalnya tidak besar, tapi sesungguhnya kita bisa mengalokasikan ke pos lain bila tidak memakai dot. Belum lagi dari aspek lingkungan, dot yang sudah tidak terpakai biasanya langsung dibuang. Terbuat dari material plastik, tentunya dot bukan merupakan benda yang mudah terurai oleh tanah. Gimana Ibu-ibu, masih mau menggunakan media dot dalam memberikan Asi perah?

Penanganan Bayi Bingung Puting

Bagaimana cara penanganan terhadap bayi yag mengalami bingung putting? Apakah hanya dibiarkan saja dengan berharap nantinya akan membaik seiring waktu? Jangan salah Ibu-ibu, bingung puting bisa memicu penyapihan dini lho. Pastinya ibu tidak mau kondisi ini terjadi. Jadi langkah yang diambil oleh ibu Desi sudah tepat, segera menghubungi konselor menyusui begitu terjadi permasalahan menyusui.

Begitu terjadi bingung puting, Ibu harus tetap tenang ya. Yakinkan diri bahwa permasalahan akan bisa diatasi. Langkah berikutnya ibu harus menghentikan pemakaian dot karena itulah sumber permasalahannya. Tidak menggunakan dot merupakan salah satu dari 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui sebagaimana dinyatakan dalam PP No 33 Tahun 2012 tentang Asi. Kemudian luangkan waktu berdua dengan bayi anda. Ajak bayi untuk mengenal kembali anatomi payudara ibu. Untuk itu lakukan kontak kulit dengan bayi. Lalu ajak bayi untuk belajar menyusu kembali untuk membuat bayi ingat kembali reflek menghisap (suckling reflex) yang dipunyainya dan ini disarankan ketika bayi sedang rileks. Jangan lupa untuk tetap memerah Asi selama bayi masih bingung puting. Ini untuk menjaga supaya Asi tetap diproduksi.

Kembali ke cerita Danish diatas. Pada pertemuan sore harinya dengan konselor menyusui, Novi mengupayakan agar Danish mau menyusu kembali kepada ibunya. Tetapi satu jam pertama Danish masih menolak. Beberapa cara dicoba dan berhasil ketika Danish diberikan Asi dengan media sendok. Dua jam berikutnya, akhirnya Danish mau menyusu kembali kepada Desi Ibunya. Walaupun begitu, Danish masih sensitif terhadap adanya gangguan. Bahkan terhadap bunyi pintu, Danish akan menghentikan menyusunya. Setelah lebih kurang menyusu selama satu jam, akhirnya Danish baru tertidur karena kenyang.

Alhamdulilah Desi berhasil melewati masa sulitnya. Bukan pekerjaan yang mudah lho Ibu, untuk membuat bayi mau kembali menyusu setelah mengalami bingung puting. Walaupun AAP (American Academy of Pediatrics) merekomendasikan penggunaan dot sebaiknya tidak dilakukan sampai umur bayi satu bulan, tetapi tidak ada jaminan bahwa bayi pada umur-umur di atasnya tidak akan mengalami bingung puting.

Belum lagi bayi yang sudah terbiasa ngedot, hisapan terhadap puting ibunya menjadi tidak maksimal sehingga setiap menyusu tidak membuat payudara ibu menjadi kosong. Padahal kelancaran produksi Asi dipengaruhi oleh mekanisme pengosongan payudara ini.

Untuk itu, bagi ibu bekerja, maka gunakanlah media lain selain dot. Bisa dengan pipet di bulan-bulan awal kelahiran bayi. Kemudian begitu kebutuhan Asi makin banyak, maka sendok bisa digunakan. Begitu kebutuhan akan Asi semakin meningkat lagi, Ibu bisa menggunakan cup feeder, seperti gelas namun dalam ukuran yang lebih kecil. Jika ibu menggunakan cup feeder, maka ibu tidak perlu melakukan penyapihan penggunaan nantinya. Bukankah kita akan terus menggunakan gelas untuk minum selama hidup? Melalui video berikut, Ibu bisa melihat bahwa bayi yang baru lahir pun sudah bisa menggunakan cup feeder.



So, dari sekarang ibu jangan ragu lagi ya untuk menggunakan media pemberian Asi perah selain Dot. Dot itu tidak sustainable dan banyak dampak buruknya. Yuk, Ibu Indonesia, katakan dari sekarang untuk tidak pada DOT!!!


**AV**
Read More

Menikmati Jari-jari Berkecepatan Mesin Di House of Sampoerna


Kalau museum-museum di Indonesia umumnya menampilkan benda-benda ‘purbakala’ yang sudah tidak dipakai, maka uniknya museum House of Sampoerna (HoS) juga terdapat aktifitas manusia untuk. Saat ini hanya terdapat tiga pabrik rokok yang masih menggunakan tenaga manusia. Dan ini dikhususkan untuk produk rokok kretek atau biasa diistilahkan sigaret kretek tangan (SKT). Sedangkan lainnya full dengan memggunakan mesin. Alasan terbesarnya adalah untuk menjaga cita rasa rokok kretek tersebut. Selain pabrik Sampoerna Surabaya ini, lainnya terdapat di Pandaan dan Lumajang.

Dilarang mengambil gambar

Sayangnya aktivitas buruh pabrik dalam membuat rokok terlarang untuk diambil gambarnya. Hal ini mungkin berkaitan dengan privasi buruh. Ini sangat menjadi concern dari manajemen HoS sehingga tour guide terlihat cukup mengawasi para pengunjung.

Kebetulan saat saya kesana, ada satu pengunjung yang ketahuan mengambil gambar dan oleh tour gouide langsung diminta untuk menghapusnya. Tapi ini cukup dimaklumi. Museum Baba Nyonya Melaka, Museum Ulen Sentalu Yogyakarta juga menerapkan kebijakan yang sama. Apalagi masuk HoS gratis. Udah gratis, masa minta bonus juga….

Tapi kira-kira aktivitas persis seperti gambar dibawah. Kita menyaksikan buruh bekerja dari balik kaca lantai dua museum HoS.


Berapa jumlah buruhnya?

Jumlah buruh yang bekerja di pabrik Sampoerna Surabaya ini sekitar 400 orang. Dan tahukah anda bahwa semuanya adalah perempuan. Mengapa laki-laki tidak diperbolehkan menjadi buruh rokok? Karena pekerjaan mengemas rokok dari awal hingga akhir merupakan pekerjaan yang membutuhkan kerapian, ketelatenan dan ketekunan. Dan itu hanya bisa dan dipunyai perempuan. Uhuk!

Mereka bekerja selama 5 jam tanpa henti dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 13 siang. Bekerja terus-menerus selama 5 jam tentu buka perkara mudah untuk dilakukan. Terkadang kelelahan dan jenuh melanda. Dan untuk mengatasi hal tersebut manajemen pabrik membuat kebijakan pemutaran musik untuk menemani buruh bekerja. Saya teringat salah satu penelitian dosen Teknik Industri FT Unand yang menyelidiki pengaruh musik terhadap produktifitas kerja. Ternyata memang musik memang dapat menjaga produktivitas manusia. Jadilah lagu dangdut mengalun merdu kala itu.

“…sakitnya tuh disini
Di dalam hatiku
….”

Jari-jari Berkecepatan Mesin

Mungkin anda bertanya apa sih enaknya menyaksikan buruh bekerja? Apa bedanya dengan melihat chef bekerja di restoran atau ibu-ibu masak di dapur? Toh yang dilihat sama-sama manusia yang bekerja.
Nah, disitulah asyiknya menyaksikan buruh bekerja. Melihat mereka bekerja terus-menerus pekerjaan yang sama tanpa henti. Duduk di depan meja panjang, menekuni pekerjaan tapi masih bisa sesekali  tertawa menimpali guyonan dari rekan lainnya. Beberapa supervisor berjalan mengawasi dan mengumpulkan hasil pekerjaan yang sudah dilakukan setiap jamnya.

Dan yang menakjubkan adalah mereka mengerjakan dengan kecepatan yang luar biasa. Rasanya mustahil tangan manusia dapat mengerjakannya secepat itu. Anda pasti akan terperangah kalau anda menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Benar-benar jari-jari berkecepatan mesin. Bayangkan dalam satu jam, rata-rata buruh tersebut dapat menghasilkan 500 lintingan rokok. Itu artinya satu lintingan rokok dikerjakan dalam durasi 7,2 detik. Wow.

Mereka memang dibayar harian berdasarkan jumlah pekerjaan yang bisa dihasilkan. Sehingga semakin banyak rokok yang bisa diselesaikan, mereka juga akan menerima upah yang lebih banyak. Namun sayangnya tour guide tidak mengetahui berapa persis upah dari burh-buruh tersebut.

Disamping menyaksikan aktifitas buruh pabrik, di lantai dua museum juga ada display tentang proses pembuatan rokok dari awal. Dalam ruangan yang juga tertutup oleh kaca transparan tersebut, kita dapat melihat empat buruh wanita yang mengerjakan empat jenis pekerjaan yang berbeda-beda. Keempat pekerjaan tersebut merupakan item-item dalam pembuatan rokok.

Yang pertama, adalah proses pelintingan rokok. Proses ini merupakan proses yang terdiri dari pengambilan campuran tembakau-cengkeh, kemudian ditaruh diatas kertas rokok dan lalu dimasukkan ke dalam alat lintingnya. Kira-kira gambarnya seperti di bawah ini.





Proses kedua, merupakan pengguntingan lintingan rokok untuk merapikannya. Bayangkan mereka menggunting tanpa ada pattern yang menjaga supaya hasil guntingan sama panjang. Semua dikerjakan manual sebagaimana kita menggunting kertas. Namun hasil kerapian dan kesamaan panjang hasilnya, dapat anda cek sendiri dari bungkusan rokok yang dijual di pasaran.









Proses ketiga adalah pemasukan rokok kedalam bungkusannya. Anda akan menyaksikan jari-jari yang bekerja cepat mengambil beberapa rokok, kemudian ditaruh dan disusun di atas kertas bungkusan dan lalu di lem. Rata-rata satu bungkus rokok dihasilkan dalam waktu 10 detik. Bayangkan kecepatannya. Bahkan jari-jari tersebut mengambil jumlah lintingan rokok dari tumpukannya dengan jumlah yang pas untuk kapasitas setiap bungkusannya. Tidak berlebih dan juga tidak kurang.

Yang terakhir adalah proses pembungkusan rokok dengan plastik dan pemberian pita cukai. Ternyata dalam industri rokok bisa memperlihatkan bahwa manusia melalui proses latihan yang berulang-ulang dapat mempunyai kecepatan yang hampir setara dengan kecepatan mesin. Perpaduan dengan dedikasi yang tinggi yang dipunyai. Ingin sekali saya bertanya, apakah jari-jari tersebut tidak mengenal rasa capek? Berapa lama istirahat yang dibutuhkan untuk membuatnya kembali segar? Namun sayang kita tidak dapat berkomunikasi dengan mereka karena dihalangi oleh kaca yang kedap suara.

**AV**





Read More

Kidzania : Mahalnya Sebuah Pengalaman

Kidzania, Jakarta, pengalaman, anak-anak

Singgah ke Jakarta satu  malam, dalam perjalanan pulang ke Padang dengan membawa anak-anak, memang waktu liburannya sempit. Namun karena sudah di Jakarta, rasanya gak tega juga tidak mengajak anak-anak untuk menikmati wahana permainan yang ada di Jakarta, walaupun cuma sehari.  Maka pilihan wahana buat anak-anak menjadi sesuatu yang penting. Awalnya dari Padang, saya sudah merencanakan untuk ke Dufan mengingat mereka belum pernah ke sana.

Namun membawa dua anak balita dan satu orang kakaknya, terkadang destinasi/wahana wisata harus dipikirkan dengan matang. Pertama, berlibur di Jakarta untuk waktu yang sempit maka mungkin hanya satu tempat yang bisa dinikmati dalam sehari. Pertimbangan jarak dan rute kemacetan mempengaruhi hal tersebut. Jadi maksimalkan saja liburan di satu tempat daripada menghabiskan banyak waktu di jalan untuk pergi ke destinasi lain. Kedua, pertimbangkan jenis dan sifat wahana permainan di lokasi. Apakah wahana permainan bersifat outdoor atau indoor mengingat kondisi anak2 yang masih balita. Disamping itu apakah wahana dapat dipergunakan untuk balita. Jangan-jangan mereka hanya jadi penonton disana. Ketiga, apakah ada orang lain yang akan menjaga seandainya anak-anak belum diizinkan untuk bermain di wahana tertentu. Nah, mengingat faktor-faktor diatas akhirnya kami memilih Kidzania untuk bermain anak-anak dalam liburan sehari di Jakarta.

About Kidzania

Kidzania Jakarta merupakan satu dari 24 theme park Kidzania yang ada di dunia. Menempati lantai enam Pacific Place Mall Senayan Jakarta, indoor theme park ini dapat kita nikmati dalam ruangan seluas hampir 7500 m2. Dari website resminya dinyatakan bahwa Kidzania merupakan 'kota'nya anak-anak yang mengedepankan unsur pendidikan dan hiburan. Oh ya Kidzania Jakarta merupakan Kidzania yang pertama di Asia Tenggara. Dirancang dan dibangun khusus menyerupai replika sebuah kota yang sesungguhnya namun dalam skala anak-anak, lengkap dengan jalan raya, fasilitas kota seperti rumah sakit, supermarket, salon, theater, pabrik-pabrik dan masih banyak lagi. Sehingga disini anak-anak bisa memainkan peran dalam 'kehidupan' yang sesungguhnya.

Jam operasional Kidzania dibagi menjadi dua sesi, sesi pagi dimulai dari jam 09.00 win hingga jam 14.00 wib. Sesi sore dimulai jam 15.00 wib hingga jam 21.00 wib. Dari pengalaman kemarin sesi pagi antrian tiketnya tidak seramai sesi sore. Anak-anak juga lebih puas main karena pengunjung tidak seramai sore hari. Oh ya untuk masuk Kidzania tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar. Kita hanya diizinkan membawa minuman. Ada pemeriksaan X-ray juga lho terhadap barang bawaan.

Tiket dan Bagaimana Mendapatkan

Tiket masuk wahana Kidzania bisa didapatkan on the spot dan secara online. Untuk weekend tiket on the spot untuk anak-anak adalah Rp 200K dan tiket orang dewasa untuk weekend Rp 150K. Sedangkan di weekday harga tiket lebih murah lima puluh ribu dari tiket weekend. Supaya lebih irit, kita bisa membuat grup dengan jumlah anggota 15 orang, namun ini tidak bisa dilakukan on the spot karena harus dikonfirmasi sebelum hari H.

Disamping itu kita bisa membeli tiket melalui online. Beragam situs-situs yang menyediakan tiket secara online dapat dipergunakan. Namun yang paling irit kayaknya adalah membeli tiket di groupon.co.id. Terdapat diskon cukup menarik setiap hari. Namun untuk pemesanan tiket di groupon, harus dilakukan minimal satu hari sebelum hari H karena membutuhkan konfirmasi dari pihak marketing.


3B Bermain Belajar dan Bekerja

Dari website resminya tercatat ada 63 jenis wahana/peran yang bisa dimainkan anak-anak di Kidzania. Begitu masuk, kita sedikit bingung memilih mana yang akan dimainkan terlebih dahulu. Untuk itu searching sebelum berangkat akan lebih memudahkan dan mengefisienkan penggunaan waktu.

Secara umum setiap wahana dapat dikategorikan menjadi dua yakni wahana yang bersifat bermain - belajar dan wahana yang bersifat belajar dan bekerja. Bedanya adalah untuk wahana yang bersifat bermain - belajar, akan ada entrance fee yang harus diberikan jika kita menggunakannya. Sedangkan wahana yang bersifat belajar-bekerja, tidak ada fee malah anak-anak akan mendapatkan 'upah' atas kerja yang dilakukan.
Nessa bekerja jadi petugas Damkar
Lalu apakah anak-anak harus mengeluarkan uang lagi untuk bermain di Kidzania? Tenang bu-ibu. Tidak kok. Mereka akan dibekali satu buah cek ketika masuk dan harus diuangkan di Bank. Uang yang telah dicairkan berjumlah 50 kidzos dapat digunakan untuk bermain dan berbelanja di arena Kidzania.
Sehabis Mencairkan Cek di Bank BRI
Apa yang dilatih di Kidzania? Pertama, adalah kemandirian. Di dalam Kidzania semua proses harus dilakukan sendiri. Orangtua hanya berfungsi sebagai pengarah. Seperti gambar di atas anak-anak sudah berani menukarkan cek dengan uang tunai di Bank tanpa diantar.

Kedua, adalah keberanian. Seperti yang saya bilang, di Kidzania semua proses harus dilakukan sendiri oleh anak-anak. Sehingga mereka tahu, bahwa setiap mau mempergunakan sesuatu ada prosedur dan alur prosesnya. Seperti saat anak-anak ingin pergi berkeliling kota Kidzania menggunakan taksi Blue Bird. Mereka harus memesannya sendiri dengan cara menelpon call center dan kemudian pergi berkeliling sendiri tanpa ditemani orangtua.
Kalau mau naik taksi, pesan dulu....

Balapan Mobil

Ketiga, mengenal proses. Saat anak-anak ingin mencoba mengendarai mobil balap, maka terlebih dahulu harus mempunyai SIM. Nah bagaimana caranya membuat SIM? Ada lagi prosesnya. Anak-anak mesti di cek dulu kesehatannya. Seru pokoknya!
Punya SIM A walau masih anak-anak

Keempat, ya mengenal profesi. Ada beragam profesi yang ditawarkan oleh Kidzania. Dokter, Pilot, Penyiar radio, Voice Dubber, News Anchor dan lain-lain. Anak-anak tinggal memilih dan mengantri saja. Karena dengan keterbatasan ruangan biasanya hanya sekitar enam sampai sepuluh anak yang bermain dalam satu kali sesi. Dan durasi setiap sesi pertunjukan biasanya sekitar dua puluh menit.

Jadi Perawat Bayi

Bayinya Tertidur Sehabis Mimik Cucu

Nah, sehabis bekerja. Mereka akan senang karena diberi upah. Nessa mendapat uang plus donut yang dibuat sendiri ketika bekerja sebagai chef di toko Donut.

Lima jam waktu satu sesi pertunjukan tidak akan terasa lama. Memang tidak akan semua peran dan wahana dapat dicoba karena waktu banyak terpakai untuk antri dan menunggu serta lama durasi setiap peran/permainan. Kemarin anak-anak hanya sempat mencoba sembilan ragam profesi/pertunjukan. Itu pun sudah terpotong dengan waktu makan siang.

Jadi kalau mau mencoba semua profesi/pertunjukan, siapkan saja uang anda karena memang untuk masuk kesini memang tidak murah. Mehoong....

**AV**
Read More