Laman

Ibu Indonesia, Please Say No To 'Dot'

Ibu, Say, No, Dot

Pagi pagi, bunyi telepon menghentikan sejenak aktivitas Novi di rumah. Seorang ibu muda dengan suara panik menelepon. “Uni tolong…saya gak tau lagi harus bagaimana. Si Dedek udah tiga hari tidak mau menyusu,” suaranya terdengar bergetar.

Tantangan pemberian ASI terhadap bayi bisa dikatakan sebagai sesuatu yang bukan sederhana. Tidak hanya berasal dari faktor internal ibu dan bayi, tapi bahkan juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Sebagai ibu bekerja yang baru saja kembali memulai hari setelah cuti melahirkan, tentunya Desi (bukan nama sebenarnya) sudah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan bayinya selama Desi berada di kantor. Tabungan stok ASI bisa dikatakan sudah mencukupi dan  pihak ketiga yang akan menjaga bayinya juga sudah ada yakni nenek si bayi sendiri.

Permasalahan yang terjadi dengan bayi Desi karena nenek menggunakan media Dot untuk pemberian ASI perah. Si nenek beralasan bahwa selama Desi tidak di rumah, bayi tidak merasa nyaman menggunakan media lain. Akhirnya dipilihlah Dot untuk pemberian Asi. Dengan menggunakan Dot, selama dua minggu itu nenek tidak mengalami kesulitan dalam memberikan Asi perah untuk cucunya.

Awalnya saya heran. Kenapa Danish (bukan nama sebenarnya) seperti malas menyusu. Putting dan Areola sudah masuk di mulut, tapi sepertinya tidak dihisab. Sebentar-sebentar sudah selesai. Makin lama Danish mulai rewel dalam menyusu. Terlihat marah karena haus dan lapar tapi menghisapnya kurang walaupun putting areola saya masukkan ke dalam ke mulutnya. Sampai akhirnya tiga hari yang lalu Danish tidak mau lagi menyusu.” Demikian penuturan Desi kepada Novi, seorang Konselor Menyusui.

Apa yang terjadi pada Danish merupakan suatu bentuk dari keadaan bingung puting. Tentunya sebagai seorang ibu yang baru saja mengalami penolakan oleh bayinya untuk disusui, berbagai perasaan mendera batinnya. Ada sedih karena ini baru pertama kali terjadi dan rasanya sama sekali tidak enak. Cemas dan khawatir bayinya akan kekurangan asupan. Frustasi karena berbagai cara telah dilakukan belum membuahkan hasil. Bahkan sampai menyesali diri. Tapi tindakan yang dilakuan oleh Desi sudah tepat, segera menghubungi konselor menyusui.

Apa itu Bingung Puting dan Apa Penyebabnya?

Ketika Bayi yang masih dalam tahap belajar menyusu diberikan dot untuk media meminum Asi perah, bayi dapat berada dalam kebingungan karena bayi menjadi tidak tahu bagaimana cara menghisap payudara setelah bayi menggunakan dot. Dalam bahasa yang sederhana, bingung puting diakibatkan karena bayi mengalami kesulitan menghisap payudara ibunya untuk mengeluarkan Asi setelah sebelumnya bayi merasakan kemudahan ketika penggunaan dot.
Perbedan Mekanisme Kerja

Kenapa bisa begitu ya, Ibu? Dari gambar diatas ibu perlu tahu bahwa menghisap payudara dan puting memiliki mekanisme kerja yang berbeda. Bayi memerlukan koordinasi mulut, pipi, langit-langit dan lidah untuk memeras areola supaya Asi keluar. Bahkan puting susu ibu akan 'dibuat' memanjang untuk memudahkan bayi memeras. Sedangkan Asi yang diberikan dengan media botol dot, maka Asi dapat dengan mudah mengalir melalui lubang pada dot. Kepala dot ditaruh diujung lidah dan bayi cukup melakukan gerakan lidah menyedot sehingga Asi akan keluar terus menerus.

Begitu bayi terbiasa melakukan gerakan menyedot Asi melalui dot, maka bayi merasa harus melakukan ‘kerja keras’ untuk menghisap payudara. Hal itulah yang menyebabkan bayi akhirnya menjadi tidak mau lagi menyusu langsung pada ibunya. Karena dot sudah memberikannya 'kemanjaan'.

Resiko-resiko Lain Dari Penggunaan Dot 

Oh ya, bingung putting bukan satu-satunya resiko dari penggunaan dot lho, Ibu-ibu. Lebih jauh lagi kita perlu mengetahui kehigienisan dari dot yang dipakai. Salah salah nanti bayi bisa menderita muntah dan diare akibat dot yang tidak bersih.

Bayangkan dalam sehari berapa kali bayi menggunakan dot. Apakah jumlah botol dot yang tersedia cukup banyak di rumah ibu? Sehingga begitu di pakai, botol tersebut harus langsung dicuci. Belum lagi sisa lemak-lemak Asi yang menempel di sela-sela dot, terkadang susah untuk dibersihkan. Satu lagi apakah pembersihan dot dengan menggunakan spons pembersih yang berbeda dengan spons yang dipergunakan untuk mencuci piring?  Jadi higienitas dot merupakan hal yang mutlak bagi bayi karena sistem imunnya belum sempurna.

Menyusu langsung pada payudara bukan hanya untuk membuat bayi kenyang saja, lho Ibu. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang kompleks. Melibatkan seluruh otot yang berada di sekitar mulut dan rahang. Sebaliknya pemberian ASI dan pengganti ASI melalui dot tidak merangsang bayi untuk belajar dan bekerja. Akibatnya, kekuatan otot-otot mulat dan rahang tersebut melemah, dan bisa menyebabkan kemampuan bicara menjadi terhambat.


Ibu-ibu pasti tersenyum geli lihat foto diatas ya. Itu foto salah seorang
putri kembar saya yang tengah meminum susu dengan dot. Walau umurnya sudah hampir lima tahun, januari tahun depan, mereka masih menggunakan dot untuk minum susu.

Permasalahan menyusui akan selalu ada jika tidak dilandasi dengan ilmu dan tekad yang kuat. Begitu pun dengan saya dulu. Ilmu per-asi-an masih sedikit. Walaupun tidak mempunyai kendala menyusui, tapi kegiatan perah-memerah asi untuk menjamin stok terkadang membuat ‘kelelahan’ jasmani dan rohani juga.

Nah, suatu hari saat masih ngajar di kampus, pengasuh bayi di TPA menelepon bahwa stok asi tinggal sedikit. Jangan tanya rasanya ibu-ibu. Saya takut banget sikembar marah karena mereka belum kenyang saat stok habis. Saya pun buru-buru mengakhiri kuliah dan langsung pulang. Padahal jarak antara kampus dengan TPA sikembar hampir 45 menit. Sungguh saat itu hanya bagaimana supaya cepat sampai yang ada dipikiran.

Belum lagi, pengasuh yang memberi tahu bahwa sikembar kadang-kadang marah karena pemberian Asi dengan pipet sudah tidak mencukupi kebutuhan mereka. Bayi saya harus menunggu karena pemberian dengan pipet cukup membutuhkan waktu karena harus bolak balik antara gelas yang berisi Asi dengan mulut bayi. Apalagi kecepatan tangan pemberi sangat menentukan.

Akhirnya di usia 4,5 bulan sikembar sudah saya beri tambahan susu formula dengan media dot. Awalnya saya takut-takut juga karena dulu si kakak tidak suka sufor. Tapi ternyata sikembar ok-ok saja dikasih sufor dan mereka juga tidak mengalami bingung putting. Dan pemakaian dot berlanjut hingga sekarang.

Kadang-kadang saya malu juga kalau ketahuan orang lain. “Ee…sudah besar kok masih ngedot,” celutukan orang-orang. Tapi apa boleh buat mereka tidak mau diganti dengan pemakaian gelas untuk minum susu. Menyapih anak dari dot bisa jadi lebih sulit dibanding menyapih dari payudara. Mau tidur minum susu pake dot demikian juga saat bangun tidur. Moga-moga dengan bersekolah nanti, mereka jadi malu dan akhirnya tidak mau lagi ngedot.

Dot dan Kaitannya dengan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Cukup menarik tema yang diambil dalam pelaksanaan Pekan Asi Sedunia tahun ini yang mengaitkan pemberian Asi dengan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Perintah pemberian Air Susu Ibu (ASI) oleh seorang ibu kepada anaknya sudah terdapat dengan jelas baik melalui ayat-ayat Al Quran dan Hadits Nabi. Bukan hanya itu saja, terhadap Ibu-ibu yang sedang menyusui, diperbolehlan untuk tidak berpuasa jika dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan anak apabila Ibu berpuasa. Sedemikian keutamaan ASI sehingga agama Islam memberikan keringanan dalam beribadah bagi Ibu-ibu yang sedang menyusui.

Pembangunan yang berkelanjutan dalam pengetian yang sederhana merupakan pembangunan yang dalam pelaksanaannya dilandasi oleh semangat untuk tetap memperhatikan aspek ekonomi, lingkungan dan komunitas. Sekarang mari kita bahas kenapa dot bertabrakan aspek ekonomi dan lingkungan.

Dalam satu bulan, kira-kira berapa buah dot yang diperlukan oleh bayi supaya kehigienisan masih tetap tercapai? Misalkan ada empat buah dengan asumsi dua dot dipakai selama dua minggu secara bergantian. Jika satu dot berharga lima ribu rupiah berarti kita menghabiskan dua puluh ribu setiap bulan. Belum lagi kalau dimasukkan biaya pembelian botol. Walaupun nominalnya tidak besar, tapi sesungguhnya kita bisa mengalokasikan ke pos lain bila tidak memakai dot. Belum lagi dari aspek lingkungan, dot yang sudah tidak terpakai biasanya langsung dibuang. Terbuat dari material plastik, tentunya dot bukan merupakan benda yang mudah terurai oleh tanah. Gimana Ibu-ibu, masih mau menggunakan media dot dalam memberikan Asi perah?

Penanganan Bayi Bingung Puting

Bagaimana cara penanganan terhadap bayi yag mengalami bingung putting? Apakah hanya dibiarkan saja dengan berharap nantinya akan membaik seiring waktu? Jangan salah Ibu-ibu, bingung puting bisa memicu penyapihan dini lho. Pastinya ibu tidak mau kondisi ini terjadi. Jadi langkah yang diambil oleh ibu Desi sudah tepat, segera menghubungi konselor menyusui begitu terjadi permasalahan menyusui.

Begitu terjadi bingung puting, Ibu harus tetap tenang ya. Yakinkan diri bahwa permasalahan akan bisa diatasi. Langkah berikutnya ibu harus menghentikan pemakaian dot karena itulah sumber permasalahannya. Tidak menggunakan dot merupakan salah satu dari 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui sebagaimana dinyatakan dalam PP No 33 Tahun 2012 tentang Asi. Kemudian luangkan waktu berdua dengan bayi anda. Ajak bayi untuk mengenal kembali anatomi payudara ibu. Untuk itu lakukan kontak kulit dengan bayi. Lalu ajak bayi untuk belajar menyusu kembali untuk membuat bayi ingat kembali reflek menghisap (suckling reflex) yang dipunyainya dan ini disarankan ketika bayi sedang rileks. Jangan lupa untuk tetap memerah Asi selama bayi masih bingung puting. Ini untuk menjaga supaya Asi tetap diproduksi.

Kembali ke cerita Danish diatas. Pada pertemuan sore harinya dengan konselor menyusui, Novi mengupayakan agar Danish mau menyusu kembali kepada ibunya. Tetapi satu jam pertama Danish masih menolak. Beberapa cara dicoba dan berhasil ketika Danish diberikan Asi dengan media sendok. Dua jam berikutnya, akhirnya Danish mau menyusu kembali kepada Desi Ibunya. Walaupun begitu, Danish masih sensitif terhadap adanya gangguan. Bahkan terhadap bunyi pintu, Danish akan menghentikan menyusunya. Setelah lebih kurang menyusu selama satu jam, akhirnya Danish baru tertidur karena kenyang.

Alhamdulilah Desi berhasil melewati masa sulitnya. Bukan pekerjaan yang mudah lho Ibu, untuk membuat bayi mau kembali menyusu setelah mengalami bingung puting. Walaupun AAP (American Academy of Pediatrics) merekomendasikan penggunaan dot sebaiknya tidak dilakukan sampai umur bayi satu bulan, tetapi tidak ada jaminan bahwa bayi pada umur-umur di atasnya tidak akan mengalami bingung puting.

Belum lagi bayi yang sudah terbiasa ngedot, hisapan terhadap puting ibunya menjadi tidak maksimal sehingga setiap menyusu tidak membuat payudara ibu menjadi kosong. Padahal kelancaran produksi Asi dipengaruhi oleh mekanisme pengosongan payudara ini.

Untuk itu, bagi ibu bekerja, maka gunakanlah media lain selain dot. Bisa dengan pipet di bulan-bulan awal kelahiran bayi. Kemudian begitu kebutuhan Asi makin banyak, maka sendok bisa digunakan. Begitu kebutuhan akan Asi semakin meningkat lagi, Ibu bisa menggunakan cup feeder, seperti gelas namun dalam ukuran yang lebih kecil. Jika ibu menggunakan cup feeder, maka ibu tidak perlu melakukan penyapihan penggunaan nantinya. Bukankah kita akan terus menggunakan gelas untuk minum selama hidup? Melalui video berikut, Ibu bisa melihat bahwa bayi yang baru lahir pun sudah bisa menggunakan cup feeder.



So, dari sekarang ibu jangan ragu lagi ya untuk menggunakan media pemberian Asi perah selain Dot. Dot itu tidak sustainable dan banyak dampak buruknya. Yuk, Ibu Indonesia, katakan dari sekarang untuk tidak pada DOT!!!


**AV**

16 komentar:

  1. Masalah dot ini memang kompleks ya mba. Selain ketika bayi juga maslaah untuk melepas kebiasaan ngedot. Bintang udah mau 3 tahun tapi belum mau minum susu pakai gelas. Semoga nanti pas azizah ga mengikuti jejak Bintang.

    BalasHapus
  2. Asi memang masih selalu is the best yaa sampai kapa pun.
    yuk buat buibu, dan perwmpuan.calon ibu, yuk yul siapkan asi terbaiknya

    BalasHapus
  3. bingung puting memang kerap terjadi karena bayi diberi dot. Memang lebih baik, jika sedang menyusu, jgn diberi dot

    BalasHapus
  4. syukurnya anak saya doyan banget ma asi, yang paling gede masih nenen sampai 5 tahun, berbagi dengan adiknya sejak adek baru lahir...sekarangpun sudah merdeka dari dot, eh yang kedua masih ding...

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah anakku fine aja gak sempat bingung puting.

    BalasHapus
  6. Saya juga nggak pernah ngasih dot ke anak-anak saya. Semua pakai ASI, dan setelah agak besar, pemberian sufor menggunakan gelas khusus. Memang sedih banget, kalo anak bingung puting ya...

    BalasHapus
  7. Kemudian teringat dua ponakan saya, yang satu terbiasa menggunakan dot. Yang satu sejak bayi terbiasa disapih, kalau ibunya nggak ada di rumah.
    Terlihat sekali emang perbedaannya, yang terbiasa menggunakan dot sampai usia hampir 5 tahun masih suka merengek hihihi.

    Ilmu ini bekal untuk saya nantinya, tfs mba :)

    BalasHapus
  8. Anak pertamaku sempet pakai dot tapi gak bingung puting, sebab pd akhirnya dia lbh suka nenen ketimbang dot. AKhirnya emang jd gak kebiasa minum dot. Gelas sippy cup juga gak suka. Lbh suka minum lngsung dr gelas kyk org dewasa :))

    BalasHapus
  9. Wah ternyata kompleks banget ya akibat penggunaan dot. Jadi terbuka matanya nih dan dapat pelajaran baru kalau punya anak nanti.

    BalasHapus
  10. Eh iya, saya jg nemu anak yg udah gedhe msh ngedot. Lbh susah nyapih dot drpd payudara

    Catetan nih buat saya yg blm punya bayi

    BalasHapus
  11. alhamdulillh, soal bingung putingnya danish teratasi ya mbk, jd solusinya klau bingung puting, diawali ngasih pakai sendok gt ya mbk, sip, tengkiu bgd infonya

    BalasHapus
  12. Wah, 5 tahun masih pake dot mbak? Kalau saudara saya waktu itu masih ngepeng. Memang harus membiasakan asi langsung ya mbak :)

    BalasHapus
  13. Inspiratif mba, saya dapat ilmu banyak tentang pemberian ASI dan masalah DOT, terimakasih sharingnya mba... Semoga menang

    BalasHapus
  14. bingung puting tidak terjadi pada setiap anak ya bu, soalnya bayi saya sekarang 6 bulan masih tetap pakai dot hehehe, dan dia tetap mau menyusu pada ibunya. banyak dari aktivis ibu menyusui yang memperingatkan bahwa bingung puting laten artinya bayi tetap mau menyusu pada ibunya namun daya hisap berkurang, akan tetapi bagi saya itu tidak terjadi. asi tetap lancar dan nenennya tetep lahap... terimakasih mbak infonya

    BalasHapus
  15. dulu terpaksa pake botol dan dot untuk mimikin ASIp karena yg dititipin gak telaten klo pake cup atau sendok. so far alhamdulillah mrk gak bingung putih

    BalasHapus
  16. Anak pertama nih yg sempat ngedot dan susah lepasnya. Anak kedua justru ga mau dot dan lepas ASI langsung bisa minum susu pakesendok atau gelas kecil:)

    BalasHapus