Laman

Menikmati Jari-jari Berkecepatan Mesin Di House of Sampoerna


Kalau museum-museum di Indonesia umumnya menampilkan benda-benda ‘purbakala’ yang sudah tidak dipakai, maka uniknya museum House of Sampoerna (HoS) juga terdapat aktifitas manusia untuk. Saat ini hanya terdapat tiga pabrik rokok yang masih menggunakan tenaga manusia. Dan ini dikhususkan untuk produk rokok kretek atau biasa diistilahkan sigaret kretek tangan (SKT). Sedangkan lainnya full dengan memggunakan mesin. Alasan terbesarnya adalah untuk menjaga cita rasa rokok kretek tersebut. Selain pabrik Sampoerna Surabaya ini, lainnya terdapat di Pandaan dan Lumajang.

Dilarang mengambil gambar

Sayangnya aktivitas buruh pabrik dalam membuat rokok terlarang untuk diambil gambarnya. Hal ini mungkin berkaitan dengan privasi buruh. Ini sangat menjadi concern dari manajemen HoS sehingga tour guide terlihat cukup mengawasi para pengunjung.

Kebetulan saat saya kesana, ada satu pengunjung yang ketahuan mengambil gambar dan oleh tour gouide langsung diminta untuk menghapusnya. Tapi ini cukup dimaklumi. Museum Baba Nyonya Melaka, Museum Ulen Sentalu Yogyakarta juga menerapkan kebijakan yang sama. Apalagi masuk HoS gratis. Udah gratis, masa minta bonus juga….

Tapi kira-kira aktivitas persis seperti gambar dibawah. Kita menyaksikan buruh bekerja dari balik kaca lantai dua museum HoS.


Berapa jumlah buruhnya?

Jumlah buruh yang bekerja di pabrik Sampoerna Surabaya ini sekitar 400 orang. Dan tahukah anda bahwa semuanya adalah perempuan. Mengapa laki-laki tidak diperbolehkan menjadi buruh rokok? Karena pekerjaan mengemas rokok dari awal hingga akhir merupakan pekerjaan yang membutuhkan kerapian, ketelatenan dan ketekunan. Dan itu hanya bisa dan dipunyai perempuan. Uhuk!

Mereka bekerja selama 5 jam tanpa henti dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 13 siang. Bekerja terus-menerus selama 5 jam tentu buka perkara mudah untuk dilakukan. Terkadang kelelahan dan jenuh melanda. Dan untuk mengatasi hal tersebut manajemen pabrik membuat kebijakan pemutaran musik untuk menemani buruh bekerja. Saya teringat salah satu penelitian dosen Teknik Industri FT Unand yang menyelidiki pengaruh musik terhadap produktifitas kerja. Ternyata memang musik memang dapat menjaga produktivitas manusia. Jadilah lagu dangdut mengalun merdu kala itu.

“…sakitnya tuh disini
Di dalam hatiku
….”

Jari-jari Berkecepatan Mesin

Mungkin anda bertanya apa sih enaknya menyaksikan buruh bekerja? Apa bedanya dengan melihat chef bekerja di restoran atau ibu-ibu masak di dapur? Toh yang dilihat sama-sama manusia yang bekerja.
Nah, disitulah asyiknya menyaksikan buruh bekerja. Melihat mereka bekerja terus-menerus pekerjaan yang sama tanpa henti. Duduk di depan meja panjang, menekuni pekerjaan tapi masih bisa sesekali  tertawa menimpali guyonan dari rekan lainnya. Beberapa supervisor berjalan mengawasi dan mengumpulkan hasil pekerjaan yang sudah dilakukan setiap jamnya.

Dan yang menakjubkan adalah mereka mengerjakan dengan kecepatan yang luar biasa. Rasanya mustahil tangan manusia dapat mengerjakannya secepat itu. Anda pasti akan terperangah kalau anda menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Benar-benar jari-jari berkecepatan mesin. Bayangkan dalam satu jam, rata-rata buruh tersebut dapat menghasilkan 500 lintingan rokok. Itu artinya satu lintingan rokok dikerjakan dalam durasi 7,2 detik. Wow.

Mereka memang dibayar harian berdasarkan jumlah pekerjaan yang bisa dihasilkan. Sehingga semakin banyak rokok yang bisa diselesaikan, mereka juga akan menerima upah yang lebih banyak. Namun sayangnya tour guide tidak mengetahui berapa persis upah dari burh-buruh tersebut.

Disamping menyaksikan aktifitas buruh pabrik, di lantai dua museum juga ada display tentang proses pembuatan rokok dari awal. Dalam ruangan yang juga tertutup oleh kaca transparan tersebut, kita dapat melihat empat buruh wanita yang mengerjakan empat jenis pekerjaan yang berbeda-beda. Keempat pekerjaan tersebut merupakan item-item dalam pembuatan rokok.

Yang pertama, adalah proses pelintingan rokok. Proses ini merupakan proses yang terdiri dari pengambilan campuran tembakau-cengkeh, kemudian ditaruh diatas kertas rokok dan lalu dimasukkan ke dalam alat lintingnya. Kira-kira gambarnya seperti di bawah ini.





Proses kedua, merupakan pengguntingan lintingan rokok untuk merapikannya. Bayangkan mereka menggunting tanpa ada pattern yang menjaga supaya hasil guntingan sama panjang. Semua dikerjakan manual sebagaimana kita menggunting kertas. Namun hasil kerapian dan kesamaan panjang hasilnya, dapat anda cek sendiri dari bungkusan rokok yang dijual di pasaran.









Proses ketiga adalah pemasukan rokok kedalam bungkusannya. Anda akan menyaksikan jari-jari yang bekerja cepat mengambil beberapa rokok, kemudian ditaruh dan disusun di atas kertas bungkusan dan lalu di lem. Rata-rata satu bungkus rokok dihasilkan dalam waktu 10 detik. Bayangkan kecepatannya. Bahkan jari-jari tersebut mengambil jumlah lintingan rokok dari tumpukannya dengan jumlah yang pas untuk kapasitas setiap bungkusannya. Tidak berlebih dan juga tidak kurang.

Yang terakhir adalah proses pembungkusan rokok dengan plastik dan pemberian pita cukai. Ternyata dalam industri rokok bisa memperlihatkan bahwa manusia melalui proses latihan yang berulang-ulang dapat mempunyai kecepatan yang hampir setara dengan kecepatan mesin. Perpaduan dengan dedikasi yang tinggi yang dipunyai. Ingin sekali saya bertanya, apakah jari-jari tersebut tidak mengenal rasa capek? Berapa lama istirahat yang dibutuhkan untuk membuatnya kembali segar? Namun sayang kita tidak dapat berkomunikasi dengan mereka karena dihalangi oleh kaca yang kedap suara.

**AV**





16 komentar:

  1. Luar biasa ya. Kecepatan tangan setara dengan mesin... padahal pekerjaan itu berulang-ulang, setiap hari..ah..gak bisa kebayang rasanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia...sy g bs jg ngebayangin rasanya. Soalnya g bs interaksi

      Hapus
  2. Bisa cepet gitu karena udah terbiasa kali yaa? Mengingat setiap hari mereka melakukan pekerjaan yang sama. Tapi salut, keren dah :D :D

    BalasHapus
  3. Wah, luar biasa emang, secara rapi2 gitu susah ya, apalagi kalao konsisten gitu :) Lalu, di lantai 2 itu bisa motret dari balik kaca ya mbak?

    BalasHapus
  4. Beberpa kali ke HOS pabriknya tutup, mungkin krn pas wiken.
    Malah kukira udah gak difungsikan lg ternyata msih ya :D

    BalasHapus
  5. aku belum pernah masuk ke museumnya house sampoerna gara2nya dulu ada saran sebaiknya anak dibawah 17th ga diajak masuk, jadinya ya nggak masuk...

    BalasHapus
  6. Wuiih...! baru pernan lihat di TV, tentang pembuatan rokok.. kalau melihat langsung pasti lebih takjub ya dengan kecepatan tangan buruhnya (y)

    BalasHapus
  7. Dulu sempat ngantor persis di depannya HoS ini, kadang jam istirahat mampir. Dan karna duluuu, tahun 2007an deh masih. Orang berfoto2 belum seramai sekarang ya, tour guide pun belum ada. Sehingga pengunjung leluasa memotret apa aja di dalam sana, kecuali untuk sesi foto prewed harus ijin terlebkh dahulu.

    Sekarang beda udah ya, tfs infonya mba :)

    BalasHapus
  8. Pernah ke sana..lumayan ngambil banyak gambar di museummya plus ikutan city tour mrk eh kameramya ilang di bandara...hiksss

    BalasHapus
  9. Wow, dikerjain sendiri secara manual ya, mba. Kirain pake mesin, soalnya produksinya kan banyak ya. Aku pas ke Surabaya belum sempet main ke sini, lain waktu semoga ada rezeki bisa main ke surabaya lagi.

    BalasHapus
  10. Aku pernah sekali ke House of Samoperna mba. Tapi udah lama banget pas masih liputan di Surabaya.

    BalasHapus
  11. Wow...cepet sekali kerja mereka ya.. Pemberian upah berdasarkan hasil kerja, memang jadi motivasi tersendiri ya... Biar dapat upah yang banyak, kerja harus cepat.

    BalasHapus
  12. Kok liat ini aku jadi inget buruh kupas kulit melinjo ya Mba? Takjub ngeliat kecepatan mereka. Kaya udah otomatis. Tapi mudah-mudahan buruh rokok ini dibayar setimpal, nggak kaya buruh kupas kulit melinjo yang dibayar sangat murah :(

    BalasHapus
  13. bisa karena terbiasa ya mbak :)

    BalasHapus
  14. Pernah lihat videonya yang bikin rokok gitu. Udah terlatih tangannya ya. Dan pabrik rokok ini menyerap banyak tenaga kerja karena masih dikerjakan dengan tangan. Itulah yang bikin dilematis...

    BalasHapus