Laman

Mutia : Blog Sebagai Medium Metamorfosis Diri



Mutia : Blog Sebagai Medium Metamorfosis Diri - Ketemu lagi di rubric Sosok.  Kamu masih  sering buka-buka album foto lama gak? Album  yang berisi kenangan foto-foto yang merekam jejak kita semenjak bayi hingga dewasa. Atau kamu malah tidak punya? Kacian…deh

Soalnya kan sekarang kita rada malas yah cetak-cetak foto. Lihat foto ya buka gadget atau laptop dulu. Dunia digital kadang-kadang memang bikin malas kita berusaha.  Padahal kalau hardisk rusak/hilang, baru deh nangis darah.

Anyway, foto mungkin satu-satunya medium yang menyimpan sejarah perjalan hidup kita Dimulai lahir, foto pas SD, foto wisuda, pernkahan, dan sebagainya. Dari sana kita bisa menyimpan informasi apa-apa yang pernah dilalui dan kita capai dimasa lalu, bagaimana kita hidup di masa lalu dan satu penanda perkembangan fisik.
 
Namun ya itu, foto hanya mampu menampung informasi yang berupa fisik.  Tapi tidak bisa secara eksplisit menandakan informasi perubahan seseorang berdasarkan waktu dari faktor sifat emosional dan kejiwaan juga mungkin.

Nah kira-kira kalau kamu mau menelisik masa lalu seseorang, sifat-sifatnya kayak gimana, gak perlu datangin dukun ya.  Ntar diminta ngelakun yang aneg-aneh lo.

Jadi apa dong?

Ubek-ubek saja blog-nya. Lho kok blog? Iya…memang blogger memang dapat menyimpan informasi sebagaimana fungsi dari sebuah buku Diary.

Dari Diary Pindah Ke Blog

Mau tau cara dan bagaimananya?  Yuk kenalan dengan Mutia Nurul Rahmah, blogger Pekanbaru yang ngetop. Mutia ini jadi blogger sudah lama lho, persisnya sudah sembilan tahun. Dimulai saat Mutia masih berusia sangat muda, 15 tahun.  Saya kaget banget ketika tahu umur 15 tahun sudah nge-blog.

“Memangnya Mutia lahir tahun berapa? “ tanya saya. Ternyata tahun  1994.

Awalnya memang Mutia rajin menulis Diary selama menempuh pendidikan di Pesantren. Kemudian melanjutkan SMA di dekat rumah,  Saat SMA itu, orangtua Mutia  membuka usaha jual alat tulis dan jasa print. Tak lama kemudian dipasangi jaringan internet hingga Mutia pun sering diminta menjaga ‘warung’.  Dari niat awal hanya bikin email, akhirnya mengantar Mutia berkenalan dengan blog. Akhirnya mutmuthea.blogspot.com terlahir.

Mau tau isinya apa? Ya alay banget kalau istilah anak muda jaman sekarang. Isinya memang diary banget. Curcol yang dipindahin ke media blog. Kadang cerita sehari-hari Mutia. Maka beragam perasan Mutia saat itu akan terekam melalui blognya. Ada yang sedih, marah ataupun bahagia. Tapi dengan menuliskan beragam perasaan tersebut, paling tidak Mutia telah berbagi perasaan.
Galau Menjelang Perpisahan Sekolah


Nah kira-kira dulu siapa ya pembaca blognya Mutia? Teman-teman SMA-nya kah? Menurut Mutia dulu pas awal ngeblog dia tidak peduli dengan siapa pembacanya. Yang penting blog dijadikan sebagai wadah menulis. Soalnya kalau mau nulis di Facebook Mutia kurang merasa luas jangkauannya.

Aih jadi malu nih. Saya aja punya akun Facebook tahun 2009 dan itu sama sekali gak mikirin reach tulisan karena FB masih dijadikan tempat untuk kangen-kangenan dan memantau pergerakan orang-orang di masa lalu. Ha..ha…

Kapan Turning Point-nya?

Cerita dari Mutia kalau tahun 2012 adalah tahun perubahan dari style-nya dalam blogging. Saat itu doski sudah masuk kuliah. Udah dewasa. "Mulai cerita-cerita yang rada bener," cerita Mutia. Dalam berinternet sudah tahu etika. Gak hajar bleh lagi.

Postingan pun sudah mulai diatur walaupun target siapa pembaca belum ditentukan. Makin lama makin tertarik menulis pengalaman, perjalanan ataupun pikiran. Jadi gak sekedar curcol. Konsistensi penulisan dipertahankan minimal empat kali posting sebulan.

Ini Di Post Sept 2009. Masih ada hawa-hawa alaynya


Ke Depan Mau Seperti Apa?

Lanjut dengan cerita Mutia ya. Awalnya Mutia biasa-biasa aja dalam ngeblog. Artinya tidak terlalu diseriusin. Lama-kelamaan ternyata mendapat apresiasi yang tidak hanya sekedar memberikan komentar di setiap postingan. Makin banyak phak yan menawarkan kerjasama. Ngajak makan gratis....ngajak ngobrol2 (ini gratis juga mut?). Ngajak meliput tentang suatu produk.

Tak dinyata Mutia sudah melakukan monetisasi pada blog-nya sendiri, walaupun awalnya tidak mempunyai niatan sama sekali. Makanya di history blognya kita bisa banyak lihat kerjasama-kerjasama yang sudah Mutia lakukan sebagai Blogger.

Jadi mau serius jadi blogger bayaran, Mut? Eh...blogger yang dibayar lebih sesuai konteks. " Inginnya sih gitu. Blog jadi salah satu pintu rejeki entah itu sampingan atau tetap," ujar Mutia.

"Tapi ortu tetap ingin saya kerja yang beneran seperti kantoran," Mutia melanjutkan. Ya iya lah Mut...itu mah perilaku mainstream ortu sedunia.

Cukup sekian yah pemirsa...obrolan kita dengan Mutia seorang lifestyle blogger dari Kota Bertuah. Semoga bisa diambil manfaatnya. Salam


         **AV**

1 komentar:

  1. untungnya kalo ortu ku udh ngebebasin aku untuk kerja sesuai passion, mau usaha boleh, mau kerja kantoran boleh

    memang mengubah mindset itu butuh waktu dan perjuangan heheh

    BalasHapus