Laman

Jurus Jitu Resensi Tembus Media Ala Kania Ningsih

Jurus, jitu, resensi, tembus, media, kanianingsih

Jurus Jitu Resensi Tembus Media Ala Kania Ningsih - Teman, setelah selesai baca buku/novel, setelah itu kebiasaan apa yang teman lakukan? Taruh buku di lemari dan bergegas menuju buku/novel berikutnya? Atau langsung bikin resensi?

Saya dulu juga gitu. Gak punya kebiasaan untuk bikin resensi. Nah setelah punya blog dan bergaul di dunia maya dengan banyak blogger/penulis, ternyata membuat resensi juga memiliki banyak manfaat. Diantaranya adalah menjadi sumber mata pencaharian kita. Coba deh kepoin akun facebook Untung Wahyudi. Seorang resensiator (eh, emang gitu ya maafkeun kalau salah) dari  Madura. Seabrek resensinya sudah menggempur media cetak yang melahirkan reward berupa fresh money dan gift dari penerbit.

Nah, sekitar dua tahun lalu saya iseng-iseng bikin resensi Bulan Terbelah Di Langit Amerika di blog. Eh ternyata kemudian dihubungi manajemen Hanum Rais supaya resensi tersebut diikutkan lomba resensi BTdLA. Alhamdulillah masuk 10 besar. Abis itu keasyikan. Setiap ada event lomba resensi dari Tere liye saya juga ikutan. Alhamdulillah menang juga di posisi juara harapan.

Walaupun di blog ini disediakan rubric Resensi, tapi hingga sekarang ternyata masih kosong tuh. Saya kayaknya semangat bikin resensi kalau ada lomba aja kayaknya. Kadang terkendala waktu sih. Begitu sselesai di baca, buku gak segera dibikin resensinya. Kalau nunggu waktu luang, malah feelnya udah hilang.

Nah ngomong-ngomong tentang resensi, teman arisan saya ini jawara dalam hal resensi. Bahkan bikin blog sendiri yang berisikan resensi dari buku-buku yang telah dibaca. Yuk kenalan, namanya Kania Ningsia, seorang blogger buku dari Tangerang.
Kania and the kids


Tapi kan lomba resensi gak setiap waktu ada kan ya. Peluang terbuka itu sebenarnya ada di Koran cetak dan online. Hampir setiap minggu koran-koran nasional maupun lokal menyediakan rubrik resensi. Malah satu halaman bisa diisi oleh tiga judul resensi. Peluang yang sangat baik bagi anda yang suka bikin resensi.

Sebelum resensi dikirim ke media, mbak Kania terlebih dahulu menuliskan resensi dari buku yang sudah dibaca. Teman-teman bisa kepoin blog bukunya kaniadanbuku.blogspot.com.

+ Mbak Kania, ceritain dong background lahirnya blog buku
Karena saya suka baca buku terus suka lupa apa isi buku yg udah saya baca tersebut. Kalau ditulis kan di blog sesekali saya bisa baca lagi dan ingat buku apa yang pernah saya baca. Juga sebagai sarana latihan membuat resensi juga biar bisa dikirim ke media
+ Kapan blog tsb lahir
- Desember 2013
+ Buku2 yg diresensi dr mn? beli, endorse atau dikasih penerbit?
Buku yg diresensi ada yg milik sendiri, endorse dan dikasih penerbit. Tapi kebanyakan buku sendiri baik hadiah lomba atau beli.

+ Dari ketiga sumber tsb, beda ga arah penulisan resensinya?
Beda tentunya, kalo endorse atau dari penerbit biasanya di akhir pembaca diajak untuk memiliki buku tersebut dengan mencantumkan identitas penerbit
+ Saya lihat banyak jg resensi mb kania yg diterima media (korjak,singgalang, ada yg lain?)
Nggak ada mba, baru itu aja :D belum kirim ke media lain lagi karena kalau ke media lain penulisannya harus mengikuti ketentuan mereka. Kalau di blog sendiri kan terserah saya saja menulisnya mau seperti apa, di blog juga lebih cepat publish kalau di media harus menunggu keputusan mereka publish atau tidak.
Psst...mbak Kania. Ini dulu saya lho yg motoin. Trus di tag penulis bukunya

2 Resensi Yang Dimuat Di Media

+ Biasanya tiap media punya ketentuan tdk tertulis untuk resensi agar bs dimuat. Bagi2 tipsnya mb Kania untuk bs tembus Korjak, singgalang dsb.
- Setiap media punya gaya penulisan yang berbeda-beda. Kalau resensi kita ingin dimuat kita musti membuat resensi dengan gaya penulisan yang sama dengan pakem media tersebut. Caranya baca selalu resensi-resensi yang pernah dimuat, insyaAllah nanti kita bisa 'melihat' alur, gaya dan polanya.

+ Bagaimana cara mb Kania bikin resensi buku. a. baca buku keseluruhan br bikin ringkasan b. baca per bab lalu bikin ringkasan c. cukup tandain di buku bagian yg penting2 atau ada yg lain
-  Saya meresensi biasanya dengan baca keseluruhan buku sambil menandai bagian yg ingin dimasukkan ke dlm resensi buku. Bikin ringkasan atau sinopsis kalau fiksi. Beri pendapat kita tentang buku dari segi cover, bahasa, tokoh, setting, atau maknanya. Sampe pernah ada penulis yg tahuu bukunya saya resensi lalu dia kirimi saya buku lagi. Namanya Guskar suryatmojo, penulis buku "kita sangat akrab dg Tuhan" resensinya pernah sy tulis disini http://kaniadanbuku.blogspot.co.id/2014/12/kita-sangat-akrab-dengan-tuhan.html?m=1 Kalo meresensi buku terbitan sixmidad trus dimuat di media cetak, biasanya kita dpt paket buku lg dari sixmidas. Jadi colek aja penerbit dan penulisnya kalau resensi dimuat media.

Nah, jika teman-teman berminat mengirimkan resensi ke media nasional dan lokal, sila kontak mbak Kania melalui akun media sosialnya. Mbak Kania punya list alamat lengkap media yang menerima resensi.  

**AV**




Read More

Menumbuhkan Budaya Literasi Pada Anak

menumbuhkan, budaya, literasi, anak

Menumbuhkan Budaya Literasi Pada Anak - Literasi atau membaca dan menulis merupakan salah satu aktivitas penting dalam kehidupan kita. Saya kutip dari website Sekolah Inspirasi, Farr (1984) menyebutkan bahwa “Reading is the heart of education.” Jadi memang inti dari suatu pendidikan dicapai melalui membaca. Membaca apapun medianya, cetak maupun online sama-sama berfungsi menyediakan berita, informasi yang berguna bagi pembacanya.

Disamping itu yang tak kalah penting adalah menulis. Dibandingkan dengan membaca, kemampuan menulis membutuhkan latihan sehingga tidak semua orang BISA menulis dengan baik. Namun saya berpendapat bahwa semua orang DAPAT menulis dengan baik asalkan terus mennerus latihan. Dengan membaca, proses menulis akan lebih mudah karena membaca akan memperkaya wawasan  dan dengan wawasan yang luas menimbulkan gagasan yang tiada henti.

Masih dari website Sekolah Inspirasi saya kutip pendapat Hernowo (2005) dalam buku Mengikat Makna, menyatakan bahwa ada banyak manfaat dari menulis. Satu yang amat saya rasakan adalah dengan menulis membuat pikiran akan lebih tertata, mempermudah dalam merumuskan dan mengkonstruksi gagasan. Disamping itu dengan menulis pasti bisa merekam momen mengesankan dan menyebar pengetahuan.

Terkait dengan anak, budaya literasi dewasa ini menghadapi pelbagai persoalan. Keberadaan perpustakaan sekolah yang tidak memadai, masih rendahnya budaya mengunjungi perpustakaan membuat aktivitas di perpustakaan berbanding terbalik dengan aktivitas di mall atau pusat perbelanjaan. Ketika anak-anak di rumah,waktunya pun lebih banyak dihabiskan dengan menonton TV dan bermain gadget.  Sungguh miris kan. Padahal TV dan Gadget kita tahu bahwa lebih banyak mudharatnya bagi anak-anak ketimbang manfaatnya.

Lalu bagaimana menumbuhkan budaya literasi dari rumah? Bisakah itu dilakukan?

Caranya sederhana saja Parent. Pertama kenalkan buku pada anak sedari dini. Di awal-awal anak-anak akan lebih tertarik kepada buku-buku yang banyak gambar dan berwarna. Ketertarikan akan lebih tinggi terhadap buku-buku bergambar hewan. Lambat laun seiring dengan pertambahan usia, anak-anak akan mencari buku-buku yang isinya sepadan dengan usianya.

Kedua, ciptakan perpustakaan mini di rumah. Tempat anak-anak menaruh dan menyusun buku-buku yang dipunyainya. Disamping bangga karena mempunyai perpustakaan sendiri, ini bisa melatih anak untuk bertanggung jawab dengan buku yang dipunyainya.

Ketiga, ingatkan anak bahwa buku yang sudah dibeli di toko buku bukan hanya untuk dijadkan pajangan namun harus dibaca hingga selesai. Saya mengalami sendiri ini, Parent. Anak-anak senang membeli buku tapi gak punya waktu cukup untuk membaca sehingga buku yang dibeli tidak selesai di baca. Ya, itu gara-gara si TV dan Gadget. Addicted, susah banget untuk mengendalikannya. Jadi optimalkan saja waktu-waktu libur dan sore hari setelah istirahat pulang sekolah, sebagai waktu untuk membaca.

Keempat, untuk bisa menumbuhkan minat menulis pada anak, saya membelikan satu buku diary sebagai media anak untuk menulis apapun.
Jadi apapun kegiatannya di sekolah hari itu, kesannya terhadap suatu kegiatan/perjalanan yang baru dilakukan, semua ditulis di buku Diary. Tak lupa terkadang saya juga ‘mewajibkan’ untuk menulis kembali buku cerita yang baru selesai baca.

Mungkin di awal-awal anak hanya bisa menulis narasi. Namun lama kelamaan, tentunya dengan bimbingan Ayah Bunda, anak-anak juga dapat menulis deskripsi terhadap suatu hal. Kemudian tak lupa beri koreksi dan masukan terhadap apa yang telah mereka tulis.

Tapi ini butuh konsistensi untuk melaksanakannya. Terkadang kondisi anak, juga perlu diperhatikan.

Keenam, adalah bekerjasama dengan sekolah. Beri masukan kepada guru kelas agar senantiasa memasukkan unsur mengarang dalam pelajarannya. Beruntung sekolahalam minangkabau, tempat anak saya bersekolah, memang melaksanakan kegiatan mengarang dalam pembelajarannya.


Terakhir, masukkan anak pada kelompok kegiatan menulis. Di daerah saya, Perpustakaan Daerah menyelenggarakan Kelas Menulis Kreatif Anak setiap hari minggu siang, di bawah asuhan bunda Maya Lestari GF.

Saya cukup surprised dengan metoda yang diajarkan Maya untuk merangsang anak-anak menulis. Kalau di rumah, saya kan cuma memerintah, " Nessa, tulis ya cerita pas kita naik pesawat kemarin." Nah, di Perpusda, anak-anak dirangsang untuk menulis cerita dari gambar-gambar dan stiker lucu yang dibagikan oleh Maya untuk direkatkan dan dibikin ceritanya. Simpel tapi sangat menarik minat dan perhatian anak-anak.

Maka setiap selesai kelas menulis kreatif, maka Nessa selalu keluar dengan tersenyum. "Enak Mi, belajar dengan Bunda Maya," demikian katanya.

Setiap orangtua hanya bertugas mengarahkan busur kehidupan anak-anaknya. Di posisi dan titik mana nantinya kehidupan mereka akan berpijak, mereka sendiri yang memilihnya.


Read More

Menyoal Boleh Tidaknya Anak-anak Menyaksikan Penyembelihan Hewan Kurban

Anak-anak, Menyaksikan, Hewan, Kurban

Lafadz Laa Ilaha Illallah dan Allahu Akbar bergema seiring dengan pisau petugas penyembelih bergerak cepat memotong urat nafas sapi-sapi kurban. Begitulah Islam memuliakan hewan kurban. Bahkan saat menjemput mautnya pun, hewan dilepas dengan pekikan takbir dan tahlil.

Kemarin adalah kali pertama saya melihat prosesi penyembelihan hewan kurban di Masjid dekat rumah setelah hampir 22 tahun tidak pernah menyaksikannya lagi. Anak-anak yang merengek meminta melihat penyembelihan. “ Mi, mau lihat sapi disembelih,” pinta mereka. Saya tak kuasa menolak.

Apakah anda mengira saya takut?

Oh bukan. Saya sama sekali tidak mengalam ketakutan melihatnya. Tapi 22 tahun lalu, setelah sapi-sapi itu disembelih dan harum daging yang telah dimasak menjadi rendang tersaji, tiba-tiba saya teringat dengan darah segar yang keluar, persis ketika suapan pertama makan rendang akan dimulai. Tiba-tiba saja saya mual. Entah kenapa.

Semua daging hewan kurban yang ada di rumah waktu itu, sama sekali tidak saya sentuh. Tapi syukurnya itu hanya sementara. Ketika ada masakan danging sapi lagi di rumah, yang berasal dari daging sapi yan dibeli di pasar, ternyata tidak ada reaksi apa pun yang muncul di perut saya.

Apakah Saya Trauma?

Lalu kemarin sekilas, saya membaca judul di berita online imbauan seorang pemuka agama di Jakarta agar anak-anak tidak melihat proses penyembelihan. Beliau mengemukakan imbauan tersebut dimaksudkan untuk menjauhi anak-anak dari pengaruh buruk terhadap psikologis mereka.

Entah kenapa, saya cukup terenung membaca berita tersebut. Apa iya proses penyembelihan hewan kurban akan berdampak buruk bagi kesehatan mental anak-anak di masa yang akan datang.

Kemudian kejadian tiba-tiba saya merasa mual melihat masakan daging hewan kurban, apakah dapat dikatakan saya juga mengalami trauma? Hingga akhirnya setelah 22 tahun baru mau menyaksikannya lagi.

Saya sendiri, yang memang tidak berasal dari latar belakang pendidikan psikologi, meyakini bahwa trauma dapat dipandang dari dua sisi. Sisi negative dan sisi positifnya. Contohnya begini. Suatu hari saat saya berkendara menuju ke kampus, saya melihat kejadian ada mahasiswa yang berlinangan darah dengan tubuh yang menggelepar-gelepar di jalan. Mahasiswa tersebut membawa motor dengan kecepatan tinggi dan  baru saja menabrak bis kampus. Itu adalah kali pertama saya melihat korban kecelakaan.
Nah kalau seandainya, sejak kejadian tabrakan tersebut saya tidak mau lagi berkendara karena alasan takut tabrakan, maka sesungguhnya saya sudah mengalami ‘trauma’ dari sisi impak negatifnya. Namun yang terjadi adalah sejak saat itu saya lebih meningkatkan kewaspadaan berkendara dan tidak mau menyetir ngebut seumpama di kejar waktu.

Mengapa prosesi Penyembelihan dianggap Bisa Berdampak Negatif Kepada Anak-anak?



Courtesy semedan.com

Saya berusaha menganalisis sendiri kenapa penyembelihan tidak disarankan untuk dilihat anak-anak.  Sepertinya jawabannya adalah karena proses penyembelihan terkesan sama dengan pencabutan nyawa makhluk hidup.

“Kasihan lihat sapinya, Ma.” Di status facebooknya, uni saya yang cantik dr. Iid Burhan juga menyampaikan perasaan anaknya yang berumur 14 tahun setelah melihat hewan kurban. Sedangkan anak-anak saya yang memang masih kecil, 8 tahun dan 5 tahun, mereka asyik-asyik saja menonton. Itu terlihat saat mereka melihat dan setelah sampai di rumah yang bercerita dengan gembiranya kepada papanya tentang apa yang sudah mereka saksikan.

“Ya, mungkin aja efeknya gak sekarang, tapi nanti di kemudian hari,” begitu ya kira-kira pertanyaannya.

Untuk menjawabnya, mungkin kita berangkat dari dua perbedaan reaksi yang terjadi pada anak-anak saya yang masih kecil dan anak teman saya yang sudah berumur remaja. Menurut saya, anak umur 14 tahun sudah bisa melakukan proses analisis dalam otaknya terhadap konsekuensi dari kejadian penyembelihan tersebut.

Sapinya akan mati. Melihatnya tidak tega karena harus diikat dan digulingkan dahulu sebelum disembelih. Sapinya kesakitan.a

Sedangkan pada anak-anak kecil, mereka baru melihat peristiwa penyembelihan  dalam bingkai anak-anak pula. Sapinya mati …lalu dagingnya dibagi-bagikan dan dimasak.

Cover Both Side dan Dampingi Mereka

Jadi Cover Both Side tidak hanya prinsip yang harus dipunyai wartawan saja. Sebagai orangtua kita juga harus memberikan pandangan terhadap satu hal yang bisa dikatakan mempunyai dua sisi berlawanan.

1.    Ceritakan latar belakang sejarahnya. Anak-anak harus tahu cerita yang melandasi peristiwa penyembelihan hewan kurban. Orangtua bisa mulai dari cerita bahwa Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya Ismail. Lalu Ismail rela karena itu merupakan bagian dari kepatuhannya kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta. Hingga akhirnya Allah menggantikan Ismail dengan seekor hewan. Peristiwa tersebut hingga sekarang ‘diperingati’ sebagai bentuk kepatuhan dan ketakwaan.

Tanpa ada latar belakang nilai historis, anak-anak hanya melihat peristiwa penyembelihan dalam kerangka pencabutan nyawa makhluk hidup. Makanya bisa jadi ada ungkapan ketakutan, kesedihan dan kehibaan setelah melihat peristiwa penyembelihan. Padahal kurban merupakan ibadah yang banyak mengandung nilai-nilai Hablum Minallah dan Hahlum Minannas.


2. Sampaikan Hikmah dan Keutamaan berkurban

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban– di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” [HR. Ibn Majah dan Tirmidzi. Tirmidzi menyatakan: Hadits ini adalah hasan gharib]

Berkurban adalah ibadah paling mulia yang membawa misi kemanusiaan. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” [Qur’an Surat Al Kautsar : 2]

3.   Apakah menyembelih sapi perbuatan kejam?
Anak-anak harus diberi pengertian bahwa menyembelih tidak sama dengan membunuh walaupun konteksnya adalah penghilangan nyawa. Penyembelihan hewan memiliki syarat dan tata-cara yang diatur baik terhadap hewan yang disembelih, orang yang menyelenggarakan dan prosesinya. Dimulai dari pisau yang digunakan harus tajam, tidak boleh mengasah di depan hewan kurban, melaksanakan penyembelihan dengan cepat, bahkan hingga posisi penyembelihan yang menghadap ke kiblat.

Saya sendiri benar-benar merinding, tatkala takbir tahlil dikumandangkan mengiringi proses penyembelihan. Begitu Islam memuliakan hewan kurban.

3. Sapi adalah makanan yang halal bagi manusia. Orangtua bisa menyampaikan bahwa dalam Alquran Allah sudah berfirman bahwa makanan yang diharamkan adalah bangkai, darah dan babi dan binatang yang ketika disembelih tidak atas nama Allah. Sapi merupakan ciptaan Allah yang memang diciptakan untuk menjadi sumber makanan bagi manusia. Menyembelih sapi merupakan awal menjadikannya bermanfaat untuk manusia.  

Jadi kuncinya adalah beri pengertian dengan bahasa yang mudah untuk dimengerti anak-anak sesuai dengan umurnya. Dengan pendampingan dan pengertian yang dilakukan oleh orangtua, diharapkan anak-anak tidak mempunyai persepsi yang salah terhadap penyembelihan hewan kurban. Tentunya sebagai orangtua kita juga harus peka terhadap kondisi anak. Kalau anak menunjukkan ketakutan terhadap hewan, maka memang lebih baik tidak usah untuk mengizinkannya.

Tidak memperkenankan anak-anak menyaksikan penyembelihan hewan kurban, jangan-jangan malah menjauhkan anak-anak dari ajaran Islam dan mengaburkan esensinya. Semoga kita terjauh dari itu semua.

**AV**












Read More

Agar Sukses Menembus Imigrasi Singapura


imigrasi, singapura, sukses

Dan tiba-tiba saja virus Zika mewabah di Singapura. Beberapa negara telah menetapkan status Travel Warning ke negara Singa tersebut. Indonesia baru sebatas Travel Advisory. Tentunya keadaan ini sangat tidak mengenakkan bagi Singapura. Bayangkan, ini kan sudah bulan September. Dalam tiga bulan ke depan sudah Desember, peak seasonnya liburan. Kaum-kaum pesuka belanja pasti sudah menantikan nih end of year great sale Singapura. Mungkin mereka sudah komat-kamit berdoa semoga badai virus zika cepat berlalu.

Nah berbicara negara pulau ini, mungkin gak ada habisnya ya. Bagaimana suatu negara yang tidak memiliki sumber daya alam, mampu menjadi salah satu negara yang diperhitungkan. Bayangkan, sumber utama pendapatan negara berasal dari sektor jasa. Singapura menjadi hub bagi kapal-kapal dagang yang melintasi selat Melaka. Ribuan pekerja dari Johor memasuki Singapura tiap hari. Bahkan antara Johor  dan Singapura juga terhubung melalui pipa penyaluran air kotor untuk disuling menjadi air bersih lagi di Singapura. Dan singapura mendapat ‘upah’ berupa sekian persen dari air bersih suling yang dikirimkan Malaysia. Aduuh…kalau ingat ini jangan-jangan air yang dipakai di hotel juga air suling.  Kisah Singapura memang membuktikan bahwa keterbatasan memang menjadi lecutan untuk kreatif.

Salah satu yang keren sekaligus serem di Singapura adalah imigrasinya. Kalau kita melihat petugas imigrasi yang dingin, cuek, gak ramah dan sedikit galak, mungkin itu sudah tipikalnya mereka ya. Tapi memasuki imigrasi Singapura mempunyai kesan yang berbeda daripada imigrasi lainnya.

Mau tau kenapa bisa berbeza, kalau lidah Malay bilang.

Semenanjung Malaysia dan Singapura hanya terpisah oleh selat sepanjang 4 mil. Dalam waktu 30 menit sebenarnya sudah bisa ditempuh. Tapi malam itu, di penghujung bulan Mei, macet mendera kendaraan yang akan memasuki Singapura.
Kemacetan Menuju Singapura

Dari dalam bis, rombongan sudah diwanti-wanti oleh tour guide kalau nanti sampai ada yang ‘tertahan’ di imigrasi, kita musti tetap tenang. Tour Guide juga menyampaikan pertanyaan-pertanyaan ‘interogasi’ yang sering disampaikan.

Lho memang kenapa? Kok segitunya sih, pake sampai-sampai diinterogasi segala? Kan kita orang baik-baik. Datang bukan untuk makar tapi urusan akademik. Nah, bagi yang baru pertama kali memasuki Singapura via Johor, tentunya akan memiliki pertanyaan yang sama. WNI memang menjadi manusia kasta kedua ketika masuk Singapura.

Begitu turun dari bus, suasana sudah semakin gak mengenakkan. Melihat orang-orang berlarian menuju ke suatu arah yang sama, bikin tambah panik. Entah mengejar apa atau dikejar apa. Maka psikologi massa pun berlaku. Kami terbawa arus, ikutan berlari walaupun tidak tahu apa yang sebenarnya dituju.
Yang pasti ikuti saja arah pergerakan massa. Ternyata pergerakan kepanikan tadi bermuara di ruangan pemeriksaan custom. Antrian sudah menggular. Inilah penyebab orang-orang tadi berlarian. Ingin memasuki Singapura.

Dag Dig Dug Di Meja Imigrasi

Terus terang, saya juga dag-dig dug saat antrian. Bolak-balik meyakinkan kalau KTP, Passport dan isian yang harus diserahkan sudah ada disaku depan tas. Ternyata saya sama sekali tidak ditanya apa tujuan datang dan untuk berapa lama, sebagaimana biasanya kalau memasuki Malaysia.

Alhamdulilah saya lancar di meja imigrasi. Namun ada satu yang mengundang tanda tanya ketika di meja imigrasi. Layout-nya amat berbeda dari meja-meja imigrasi yang pernah saya lihat. Kalau biasanya kita berhadap-hadapan dengan petugas, sehingga layar monitor membelakangi kita, nah untuk di Singapura posisinya cukup unik.

Layar monitor computer berada pada posisi menyamping dan kita bisa melihat layar tersebut dengan mudah. Tapi jangan senang dulu, yang dilihat hanya layar buram kehitaman tanpa ada tulisan-tulisan dan foto. Tapi kok petugasnya tetap nge-klik klik ya, berarti ada sesuatu yang terpampang pada layar, tapi kita tidak bisa melihatnya. Disitu kecanggihan Singapura.

Tips Aman Memasuki Imigrasi Singapura Via Johor

1.    Bawa barang bawaan sedikit mungkin. Karena mobil/bus harus dikosongkan dari bawaan termasuk makanan, minuman apalagi travel bag. Di imigrasi Malaysia, masih enak karena semua bawaan masih dibolehkan di dalam mobil. Jika membawa anak kecil pastikan ada orang dewasa yang jumlahnya sama dengan anak.

2.    Pastikan anda membawa KTP yang memiliki kesamaan data dengan data di passport. Jadi ceritanya saya ketemu seorang ibu dalam perjalanan kapal fery dari Singapura ke Batam. Beliau cerita kalau ditolak masuk Singapura karena tanggal lahir di KTP berbeda dengan tanggal lahir di Passport. Setelah dibiarkan di ruang interogasi selama hampir dua jam dan sambil nangis2, keputusannya tetap si Ibu itu harus kembali ke Indonesia.

3.    Kalau nama anda merupakan nama-nama pasaran, maka siapkan diri untuk masuk ruangan interogasi ya. Kolega saya yang bernama Hendra Gunawan, tiga kali masuk Singapura lewat Johor, tiga-tiganya harus melalui ruangan interogasi terlebih dahulu. Coba aja serach yang bernama Hendra Gunawan ada berapa di Internet. Jadi ucapkan syukur Alhamdulillah anda yang punya nama unik, seperti saya Yervi Hesna yang tidak mudah ditebak laki atau perempuan.

Baca : Yervi Hesna Satu Nama Berjuta Cerita

4.    Bagi anda yang mempunyai nama-nama yang berbau Islam, juga dari track recordnya sering kesandung di imigrasi Singapura. Nama-nama yang diawali dengan Muhammad, atau terlau ke arab-araban seperti Miftahul Qolbi.

5.    Pastikan juga bagi anda yang mempunyai nama yang terdiri dari satu kata, dibuatkan menjadi dua suku kata atau lebih pada Passportnya. Misalkan teman saya yang bernama Andriani maka di passportnya ditulis Andriani binti ….

6.    Satu lagi, the last but not the least, usahakan jambang jenggotnya dicukur buat bapak2.

7. Kalau anda sampai masuk ke ruangan interogasi, usahakan tetap tenang dan menjawab diplomatis pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Petugas imigrasi tidak akan pilih-pilih kasih, anak-anak pun kalau ada yang tidak lengkap, maka akan digelinding masuk kesini. Durasi 'ditahan' biasanya sekitar satu jam. Pada beberapa kasus malah pintu dikunci dari luar. Kemungkinan besar ada kamera pengintai, jadi usahakan duduk tenang sambil menunggu dan berdoa.

Sebagai informasi, sepertiga dari rombongan saya ke Singapura tertahan di ruang pemeriksaan. Semuanya ter'diagnosis' memiliki salah satu dari ciri-ciri di atas. Okay, selamat berliburan ke Singapura bagi yang merencanakan.



                                                                             **AV**


Read More