Laman

Menumbuhkan Budaya Literasi Pada Anak

menumbuhkan, budaya, literasi, anak

Menumbuhkan Budaya Literasi Pada Anak - Literasi atau membaca dan menulis merupakan salah satu aktivitas penting dalam kehidupan kita. Saya kutip dari website Sekolah Inspirasi, Farr (1984) menyebutkan bahwa “Reading is the heart of education.” Jadi memang inti dari suatu pendidikan dicapai melalui membaca. Membaca apapun medianya, cetak maupun online sama-sama berfungsi menyediakan berita, informasi yang berguna bagi pembacanya.

Disamping itu yang tak kalah penting adalah menulis. Dibandingkan dengan membaca, kemampuan menulis membutuhkan latihan sehingga tidak semua orang BISA menulis dengan baik. Namun saya berpendapat bahwa semua orang DAPAT menulis dengan baik asalkan terus mennerus latihan. Dengan membaca, proses menulis akan lebih mudah karena membaca akan memperkaya wawasan  dan dengan wawasan yang luas menimbulkan gagasan yang tiada henti.

Masih dari website Sekolah Inspirasi saya kutip pendapat Hernowo (2005) dalam buku Mengikat Makna, menyatakan bahwa ada banyak manfaat dari menulis. Satu yang amat saya rasakan adalah dengan menulis membuat pikiran akan lebih tertata, mempermudah dalam merumuskan dan mengkonstruksi gagasan. Disamping itu dengan menulis pasti bisa merekam momen mengesankan dan menyebar pengetahuan.

Terkait dengan anak, budaya literasi dewasa ini menghadapi pelbagai persoalan. Keberadaan perpustakaan sekolah yang tidak memadai, masih rendahnya budaya mengunjungi perpustakaan membuat aktivitas di perpustakaan berbanding terbalik dengan aktivitas di mall atau pusat perbelanjaan. Ketika anak-anak di rumah,waktunya pun lebih banyak dihabiskan dengan menonton TV dan bermain gadget.  Sungguh miris kan. Padahal TV dan Gadget kita tahu bahwa lebih banyak mudharatnya bagi anak-anak ketimbang manfaatnya.

Lalu bagaimana menumbuhkan budaya literasi dari rumah? Bisakah itu dilakukan?

Caranya sederhana saja Parent. Pertama kenalkan buku pada anak sedari dini. Di awal-awal anak-anak akan lebih tertarik kepada buku-buku yang banyak gambar dan berwarna. Ketertarikan akan lebih tinggi terhadap buku-buku bergambar hewan. Lambat laun seiring dengan pertambahan usia, anak-anak akan mencari buku-buku yang isinya sepadan dengan usianya.

Kedua, ciptakan perpustakaan mini di rumah. Tempat anak-anak menaruh dan menyusun buku-buku yang dipunyainya. Disamping bangga karena mempunyai perpustakaan sendiri, ini bisa melatih anak untuk bertanggung jawab dengan buku yang dipunyainya.

Ketiga, ingatkan anak bahwa buku yang sudah dibeli di toko buku bukan hanya untuk dijadkan pajangan namun harus dibaca hingga selesai. Saya mengalami sendiri ini, Parent. Anak-anak senang membeli buku tapi gak punya waktu cukup untuk membaca sehingga buku yang dibeli tidak selesai di baca. Ya, itu gara-gara si TV dan Gadget. Addicted, susah banget untuk mengendalikannya. Jadi optimalkan saja waktu-waktu libur dan sore hari setelah istirahat pulang sekolah, sebagai waktu untuk membaca.

Keempat, untuk bisa menumbuhkan minat menulis pada anak, saya membelikan satu buku diary sebagai media anak untuk menulis apapun.
Jadi apapun kegiatannya di sekolah hari itu, kesannya terhadap suatu kegiatan/perjalanan yang baru dilakukan, semua ditulis di buku Diary. Tak lupa terkadang saya juga ‘mewajibkan’ untuk menulis kembali buku cerita yang baru selesai baca.

Mungkin di awal-awal anak hanya bisa menulis narasi. Namun lama kelamaan, tentunya dengan bimbingan Ayah Bunda, anak-anak juga dapat menulis deskripsi terhadap suatu hal. Kemudian tak lupa beri koreksi dan masukan terhadap apa yang telah mereka tulis.

Tapi ini butuh konsistensi untuk melaksanakannya. Terkadang kondisi anak, juga perlu diperhatikan.

Keenam, adalah bekerjasama dengan sekolah. Beri masukan kepada guru kelas agar senantiasa memasukkan unsur mengarang dalam pelajarannya. Beruntung sekolahalam minangkabau, tempat anak saya bersekolah, memang melaksanakan kegiatan mengarang dalam pembelajarannya.


Terakhir, masukkan anak pada kelompok kegiatan menulis. Di daerah saya, Perpustakaan Daerah menyelenggarakan Kelas Menulis Kreatif Anak setiap hari minggu siang, di bawah asuhan bunda Maya Lestari GF.

Saya cukup surprised dengan metoda yang diajarkan Maya untuk merangsang anak-anak menulis. Kalau di rumah, saya kan cuma memerintah, " Nessa, tulis ya cerita pas kita naik pesawat kemarin." Nah, di Perpusda, anak-anak dirangsang untuk menulis cerita dari gambar-gambar dan stiker lucu yang dibagikan oleh Maya untuk direkatkan dan dibikin ceritanya. Simpel tapi sangat menarik minat dan perhatian anak-anak.

Maka setiap selesai kelas menulis kreatif, maka Nessa selalu keluar dengan tersenyum. "Enak Mi, belajar dengan Bunda Maya," demikian katanya.

Setiap orangtua hanya bertugas mengarahkan busur kehidupan anak-anaknya. Di posisi dan titik mana nantinya kehidupan mereka akan berpijak, mereka sendiri yang memilihnya.


35 komentar:

  1. Saya pun demikian pengen belikan anak saya buku kalau dia sudah bisa nulis, atau ngetik di leptop aja sekalian kali ya bun, eh ntar dia malah onlen trus lagi -_-, salam kenal ya bun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sya lbh milih ana2 menulis dengan buku drpd ngetik krn berefek jg ke motorik halusnya

      Hapus
  2. Setuju mba, balik lg ke anak2. Tapi selalu yakin ngga sia2, menanam kebaikan, berujung kebaikan lainnya.
    Salam knal yah mba. Aku jadi keinget, banyak buku yg belum di baca

    BalasHapus
  3. Aku udah beliin anak aku buku pas dia masih bayi. Jadi skarang suka baca buku. Pengenalannya harus secara perlahan dan sejak dini ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap mbak mengenalkan buku sejak dr bayi. Banyak lho mbak manfaatnya gak hanya terkait literasi anak

      Hapus
  4. Anak-anak saya suka baca tapi utk menulis baru anak pertama yg suka ketak-ketik di lappy blm pede dipublish di blog katanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah cukup besar anaknya mbak? Coba aja kirim tulisannya ke media.siapa tau dimuat dan memberi semangat untk anak

      Hapus
  5. wah inspiratif.

    kalau orang tua juga ikut memberi contoh bisa lebih mudah lagi ya mbak.

    masalah saya tuh anak2 saya malas menulis. tiap ada tugas/pr yang harus pake nulis, mereka mengeluh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dicoba pelan pelan mbak.klo udah besar nanti udh susah

      Hapus
  6. Penting banget ya menumbhkan budaya ini :)

    TFS Mba, baru beberapa yang sudah saya lakukan

    BalasHapus
  7. Jaman sekarang emang jarang2 ya anak2 diterapkan budaya baca buku. Salut banget masih ada yg menumbuhkan budaya tsb.
    Ah Nessa pinter, semangat belajaar ya Nak,

    BalasHapus
  8. Yang terakhir itu tuh sulit.. Anak ogah lagi ikut kegiatan tambahan krn dah cape sekolah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mb beban anak sekolah skrg kok berat bgt ya.makanya pas SD anak sy masuk sekolah alam.lbh byk senag2nya

      Hapus
  9. Sering ajak anak ke toko buku dan perpus, jangan ke mol melulu. Hehehe

    BalasHapus
  10. Kel saya juga antusias mengenalkan budaya cinta literasi salah satunya dengan memberikan reward buku bacaan sesuai kebutuhan n usia anak2😊

    (@cputriarty) IG& twitter

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ide yg menarik jg mba. Hadiah dlm bentuk buku

      Hapus
  11. Aku jg mba, berusaha supaya anakku gemar baca buku dan bisa menulis. Makasih tips nya ya mba, aku mau coba

    BalasHapus
  12. Tips yang terakhir itu... luar biasa Mbak. Harus ditiru nih.

    BalasHapus
  13. Maraknya gadget memang sedikit banyak mengikis budaya literasi di masyarakat ya. Aku dulu ngajarin adik aku buat suka membaca diawali dengan ngasih komik trus dia jadi senang baca buku deh.

    BalasHapus
  14. Makasi banyak share nya mbaa.. InsyaAllah bisa aku terapkan untuk anak aku.

    www.hai-ariani.com

    BalasHapus
  15. Membelikan diary, ide kece uni ^_^ ntr kalo anak2 udh bs nulis sy jg mau nyiapin, tfs uni.. salam kenal

    BalasHapus
  16. Sedikit banyak belajar dari tulisan ini.
    Makasih sharingnya yah mbak :)

    BalasHapus
  17. Membelikan diary yang cakep2 memang biasanya awal dari anak jadi suka menulis ya. Semoga si dede tambah pintar ya, mba :)

    BalasHapus
  18. Buku diary, jd keinget jaman sekolah dulu sua cret2 di situ :D

    BalasHapus
  19. wah, aku inget lagi anak2 kecil , maunay baca sedangkan duit gak cukup banyak buat beli buku, akhirnay cari buku di tukang loak

    BalasHapus
  20. " tidak semua orang BISA menulis dengan baik"
    Saya merasakan ini, dan butuh beberapa tahun untuk pe-de pamer tulisan.

    BalasHapus
  21. Aku belum punya anak, tapi punya adek. Hihihi Alhamdulillah bisa menularkan minat bacaku ke dia sih :D

    BalasHapus
  22. iya anak saya belum bisa nulis, klo sdh bisa nulis saya kasih buku diary juga ah, noted bun

    BalasHapus
  23. Beruntung sudah mengenalkan buku sejak bayi, jadi kalo sekarang ditawarin baca buku sebelum tidur nggak mau diganti aplikasi children story yang di gadget :)

    BalasHapus
  24. Satu lagi, Mbak: teladan dari orangtua. Tidak sekadar menyediakan buku bacaan untuk anak, tetap orangtua juga membaca buku. Tidak akan efektif kalau anak disuruh membaca buku tapi orangtua malah asyik chit-chat di medsos atau nonton sinetron melulu.

    Semoga makin banyak orangtua yang memberi teladan suka membaca ya :)

    BalasHapus
  25. anak itu mencontoh orang tuanya, jika ortu suka membaca anak biasanya akan suka baca...

    BalasHapus