Laman

Menyoal Boleh Tidaknya Anak-anak Menyaksikan Penyembelihan Hewan Kurban

Anak-anak, Menyaksikan, Hewan, Kurban

Lafadz Laa Ilaha Illallah dan Allahu Akbar bergema seiring dengan pisau petugas penyembelih bergerak cepat memotong urat nafas sapi-sapi kurban. Begitulah Islam memuliakan hewan kurban. Bahkan saat menjemput mautnya pun, hewan dilepas dengan pekikan takbir dan tahlil.

Kemarin adalah kali pertama saya melihat prosesi penyembelihan hewan kurban di Masjid dekat rumah setelah hampir 22 tahun tidak pernah menyaksikannya lagi. Anak-anak yang merengek meminta melihat penyembelihan. “ Mi, mau lihat sapi disembelih,” pinta mereka. Saya tak kuasa menolak.

Apakah anda mengira saya takut?

Oh bukan. Saya sama sekali tidak mengalam ketakutan melihatnya. Tapi 22 tahun lalu, setelah sapi-sapi itu disembelih dan harum daging yang telah dimasak menjadi rendang tersaji, tiba-tiba saya teringat dengan darah segar yang keluar, persis ketika suapan pertama makan rendang akan dimulai. Tiba-tiba saja saya mual. Entah kenapa.

Semua daging hewan kurban yang ada di rumah waktu itu, sama sekali tidak saya sentuh. Tapi syukurnya itu hanya sementara. Ketika ada masakan danging sapi lagi di rumah, yang berasal dari daging sapi yan dibeli di pasar, ternyata tidak ada reaksi apa pun yang muncul di perut saya.

Apakah Saya Trauma?

Lalu kemarin sekilas, saya membaca judul di berita online imbauan seorang pemuka agama di Jakarta agar anak-anak tidak melihat proses penyembelihan. Beliau mengemukakan imbauan tersebut dimaksudkan untuk menjauhi anak-anak dari pengaruh buruk terhadap psikologis mereka.

Entah kenapa, saya cukup terenung membaca berita tersebut. Apa iya proses penyembelihan hewan kurban akan berdampak buruk bagi kesehatan mental anak-anak di masa yang akan datang.

Kemudian kejadian tiba-tiba saya merasa mual melihat masakan daging hewan kurban, apakah dapat dikatakan saya juga mengalami trauma? Hingga akhirnya setelah 22 tahun baru mau menyaksikannya lagi.

Saya sendiri, yang memang tidak berasal dari latar belakang pendidikan psikologi, meyakini bahwa trauma dapat dipandang dari dua sisi. Sisi negative dan sisi positifnya. Contohnya begini. Suatu hari saat saya berkendara menuju ke kampus, saya melihat kejadian ada mahasiswa yang berlinangan darah dengan tubuh yang menggelepar-gelepar di jalan. Mahasiswa tersebut membawa motor dengan kecepatan tinggi dan  baru saja menabrak bis kampus. Itu adalah kali pertama saya melihat korban kecelakaan.
Nah kalau seandainya, sejak kejadian tabrakan tersebut saya tidak mau lagi berkendara karena alasan takut tabrakan, maka sesungguhnya saya sudah mengalami ‘trauma’ dari sisi impak negatifnya. Namun yang terjadi adalah sejak saat itu saya lebih meningkatkan kewaspadaan berkendara dan tidak mau menyetir ngebut seumpama di kejar waktu.

Mengapa prosesi Penyembelihan dianggap Bisa Berdampak Negatif Kepada Anak-anak?



Courtesy semedan.com

Saya berusaha menganalisis sendiri kenapa penyembelihan tidak disarankan untuk dilihat anak-anak.  Sepertinya jawabannya adalah karena proses penyembelihan terkesan sama dengan pencabutan nyawa makhluk hidup.

“Kasihan lihat sapinya, Ma.” Di status facebooknya, uni saya yang cantik dr. Iid Burhan juga menyampaikan perasaan anaknya yang berumur 14 tahun setelah melihat hewan kurban. Sedangkan anak-anak saya yang memang masih kecil, 8 tahun dan 5 tahun, mereka asyik-asyik saja menonton. Itu terlihat saat mereka melihat dan setelah sampai di rumah yang bercerita dengan gembiranya kepada papanya tentang apa yang sudah mereka saksikan.

“Ya, mungkin aja efeknya gak sekarang, tapi nanti di kemudian hari,” begitu ya kira-kira pertanyaannya.

Untuk menjawabnya, mungkin kita berangkat dari dua perbedaan reaksi yang terjadi pada anak-anak saya yang masih kecil dan anak teman saya yang sudah berumur remaja. Menurut saya, anak umur 14 tahun sudah bisa melakukan proses analisis dalam otaknya terhadap konsekuensi dari kejadian penyembelihan tersebut.

Sapinya akan mati. Melihatnya tidak tega karena harus diikat dan digulingkan dahulu sebelum disembelih. Sapinya kesakitan.a

Sedangkan pada anak-anak kecil, mereka baru melihat peristiwa penyembelihan  dalam bingkai anak-anak pula. Sapinya mati …lalu dagingnya dibagi-bagikan dan dimasak.

Cover Both Side dan Dampingi Mereka

Jadi Cover Both Side tidak hanya prinsip yang harus dipunyai wartawan saja. Sebagai orangtua kita juga harus memberikan pandangan terhadap satu hal yang bisa dikatakan mempunyai dua sisi berlawanan.

1.    Ceritakan latar belakang sejarahnya. Anak-anak harus tahu cerita yang melandasi peristiwa penyembelihan hewan kurban. Orangtua bisa mulai dari cerita bahwa Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya Ismail. Lalu Ismail rela karena itu merupakan bagian dari kepatuhannya kepada Allah SWT Sang Maha Pencipta. Hingga akhirnya Allah menggantikan Ismail dengan seekor hewan. Peristiwa tersebut hingga sekarang ‘diperingati’ sebagai bentuk kepatuhan dan ketakwaan.

Tanpa ada latar belakang nilai historis, anak-anak hanya melihat peristiwa penyembelihan dalam kerangka pencabutan nyawa makhluk hidup. Makanya bisa jadi ada ungkapan ketakutan, kesedihan dan kehibaan setelah melihat peristiwa penyembelihan. Padahal kurban merupakan ibadah yang banyak mengandung nilai-nilai Hablum Minallah dan Hahlum Minannas.


2. Sampaikan Hikmah dan Keutamaan berkurban

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada amalan anak cucu Adam pada hari raya qurban yang lebih disukai Allah melebihi dari mengucurkan darah (menyembelih hewan qurban), sesungguhnya pada hari kiamat nanti hewan-hewan tersebut akan datang lengkap dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu- bulunya. Sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah –sebagai qurban– di manapun hewan itu disembelih sebelum darahnya sampai ke tanah, maka ikhlaskanlah menyembelihnya.” [HR. Ibn Majah dan Tirmidzi. Tirmidzi menyatakan: Hadits ini adalah hasan gharib]

Berkurban adalah ibadah paling mulia yang membawa misi kemanusiaan. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” [Qur’an Surat Al Kautsar : 2]

3.   Apakah menyembelih sapi perbuatan kejam?
Anak-anak harus diberi pengertian bahwa menyembelih tidak sama dengan membunuh walaupun konteksnya adalah penghilangan nyawa. Penyembelihan hewan memiliki syarat dan tata-cara yang diatur baik terhadap hewan yang disembelih, orang yang menyelenggarakan dan prosesinya. Dimulai dari pisau yang digunakan harus tajam, tidak boleh mengasah di depan hewan kurban, melaksanakan penyembelihan dengan cepat, bahkan hingga posisi penyembelihan yang menghadap ke kiblat.

Saya sendiri benar-benar merinding, tatkala takbir tahlil dikumandangkan mengiringi proses penyembelihan. Begitu Islam memuliakan hewan kurban.

3. Sapi adalah makanan yang halal bagi manusia. Orangtua bisa menyampaikan bahwa dalam Alquran Allah sudah berfirman bahwa makanan yang diharamkan adalah bangkai, darah dan babi dan binatang yang ketika disembelih tidak atas nama Allah. Sapi merupakan ciptaan Allah yang memang diciptakan untuk menjadi sumber makanan bagi manusia. Menyembelih sapi merupakan awal menjadikannya bermanfaat untuk manusia.  

Jadi kuncinya adalah beri pengertian dengan bahasa yang mudah untuk dimengerti anak-anak sesuai dengan umurnya. Dengan pendampingan dan pengertian yang dilakukan oleh orangtua, diharapkan anak-anak tidak mempunyai persepsi yang salah terhadap penyembelihan hewan kurban. Tentunya sebagai orangtua kita juga harus peka terhadap kondisi anak. Kalau anak menunjukkan ketakutan terhadap hewan, maka memang lebih baik tidak usah untuk mengizinkannya.

Tidak memperkenankan anak-anak menyaksikan penyembelihan hewan kurban, jangan-jangan malah menjauhkan anak-anak dari ajaran Islam dan mengaburkan esensinya. Semoga kita terjauh dari itu semua.

**AV**












18 komentar:

  1. saya juga termasuk yang setuju agar penyembelihan hewan itu tidak disaksikan oleh anak-anak Mba, bukan apa-apa, saya saja yang sudah setua ini masih ngeri melihat hewan yang disembelih, gimana anak-anak? saya takutnya mereka akan terbayang-bayang atau dampak bburuk lainnya mereka merasa membunuh hewan itu adalah hal yang biasa :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap mbak Ira .. tentunya sebagai orangtua mba punya pandangan dan perspektif berbeda terkait anak dan penyembelihan

      Hapus
  2. Well said mba Yervi, penulisannya bagus banget. Sy pun setuju mengenai yg disampaikan. Anak2 yg masih kecil mgkin belum melihat hal tsb dg perasaan iba dll. Smentara jk sudah mulai abg perasaannya akan semakin terasah. Menyaksikan hewan kurban di sembelih mmg dianjurkan, tetapi kalau gak kuat ya gpp gak lihat.

    BalasHapus
  3. Semua perlu proses agar kita, termasuk anak-anak tidak merasa ngeri dan trauma ketika melihat binatang kurban disembelih.
    Padahal salah satu sunah (saya lupa dapat info dari siapa) bagi shahibul qurban adalah menghadiri prosesi penyembelihan hewab kurban. Jika sejak kecil dibiasakan tidak melihat prosesi penyembelihan, bagaimana nanti mengajarkan mereka untuk berkurban? mereka hanya akan terbiasa membayar sejumlah uang lalu berdiam diri di rumah tahu-tahu diberi diantarkan daging kurban oleh petugas. *kan ga seru, hehe*.
    sekali lagi semua perlu proses. :)

    BalasHapus
  4. Saya setuju banget dengan poin cover both side, Mba.
    Dulu, jaman masih ngajar TK, sebelum menyaksikan penyembelihan hewan kurban, saya akan mendongeng untuk anak-anak bahwa hewan yang disembelih adalah hewan terpilih. Mereka bahagia karena menjadi pembuktian iman dan cinta manusia kepada Rabbnya.
    Tapi di sisi lain, kalau ada anak2 yang takut saat melihat, ya nggak dipaksa juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah baru tahu kalau dulu mbak Rotun dulu guru TK. Awet muda terus kata org mah

      Hapus
  5. Seharusnya memang begitu, tapi hari ini anak-anak diwajibkan untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurban, :( gak bisa melarang karena bocah pada semangat pengen ikut. Semoga aja mereka gak trauma, karena saya sendiri juga gak pernah tega menyaksikan pemotongan hewan kurban.

    BalasHapus
  6. Iya juga sih, kalau anak-anak kan masih belum mengerti sepenuhnya tentang berkurban. Meskipun mungkin sudah diberi penjelasan.
    Anak-anak saya juga gak mau lihat walaupun rumah dekat dg masjid.
    Jangankan anak-anak, saya juga enggan menyaksikannya. Biasanya mendekat kalau sudah disembelih semua.

    BalasHapus
  7. Saya sepakat sama komen yang diatas menyaksikan proses menyembelih itu sunah. Jadi kemarin siy saya ajak anak saya yang usianya 3 tahun buat liat kambing yang sebelumnya dikasi makan sama dia trus dipotong. Dan memang setelahnya saya tanya tadi gimana takut ga?dia bilang ga cuman kasian y bun lalu saya ceritakan kembali tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. CMIIW beda kepala beda perspektif itu saja :)

    BalasHapus
  8. Kalo aku nggak berani liat mbak, lha mengolah ikan yg masih hidup aja juga nggak berani *Emak2 penakut :)

    BalasHapus
  9. Anak-anak saya, kadang penasaran dengan hewan yang akan di sembelih.Tapi waktu pelaksanaan penyembelihan, mereka tidak berani melihat. Kasihan, katanya. Agar anak tidak merasa trauma atau takut, saya jelaskan apa yang melatarbelakangi adanya proses qurban. Jadi mereka yakin, jika itu sudah jadi perintah Allah SWT.

    BalasHapus
  10. Cover both sides *noted
    Belajar ilmu parenting nih pas mampir ke rumahnya mba Lianny.
    Makasih ya, Mbak.

    BalasHapus
  11. Anak-anak kecil itu seusia SD kali ya, teringat zaman SD dulu saya ikutan menyaksikan proses penyembelihan, pengulitan sampai ikutan masukkin daging ke kresek hahaha.

    Ya geli juga sih, nggak tega. Dan mungkin karena memori anak-anak, nggak semuanya saya ingat. Kabur...jadi ya dijelasin apa itu lupa lupa ingat :D

    BalasHapus
  12. saya waktu kecil pernah juga lihat hewan kurban disembelih, mba...alhamdulillah memang peran orang tua di sini sangat dibutuhkan. Sehingga saya tidak merasa takut sampai trauma.
    Malah doyan banget sama yang namnya daging sapi.
    Umm....

    BalasHapus
  13. Suka sqma benang merahnya, mba, soal mengenalkan ajaran islam. Anakku setiap ada prosesi penyembelihan hewan kurban malah nonton n bawa kamera. Sayangnya aku ngga mendampingi selama ini. Makasih tips nya

    BalasHapus
  14. Saya belum pernah ajak anak ke sana Mbak. Saya sendiri tidak tega, mereka juga tdk meminta.pernah gdk doyan makan sih

    BalasHapus