Laman

#WeTalkAboutCancer : Haruskah Anak-anak Tahu Tentang Sakit Ibunya?

#wetalkaboutcancer, #breastcancerawareness, anak, memberi tahu, kanker

"Bu Dhila, silahan masuk.”

“Sakit apa, Bu? Bisa saya bantu?”

“Saya mau di kemo, Bu.”

“Oh gitu. Baik saya periksa dulu sel darah putih dan sel darah hitamnya ya, Bu.”

Gubrak. Saya langsung tertawa mendengarnya. Obrolan di atas bukan main-main lho ya. Itu percakapan antara Dhila dan Thiya, putri kembar saya, saat mereka main dokter-dokteran. Diumur yang masih empat tahun,  mereka sudah dipaksa keadaan untuk akrab dengan istilah-istilah medis dunia kedokteran yang berhubungan dengan penyakit saya. Sel sarah putih, kemo, radiasi dan sebagainya telah familiar bagi mereka.

Hal tersebut timbul secara alami saja. Misalnya istilah kemo mereka dapatkan ketika saya menyampaikan akan bepergian ke luar negeri untuk kemoterapi. Biasanya saya selalu berkoresponden dengan anak saya yang pertama mengenai pengobatan saya, jika saya akan menjalani proses kemoterapi. Setiap tahapan menjelang proses kemo dilakukan, mereka selalu akan bertanya-tanya apakah saya diperbolehkan untuk kemo atau tidak. Dari sana lahirlah kosa kata baru buat mereka yakni sel darah putih, sebagai indicator saya boleh atau tidaknya kemo. Itulah ‘berkah’ sebagai anak pasien kanker ya. Nah mengenai sel darah hitam, itu cuma imajinasi si kembar aja. He..he,,

Apakah anak-anak tahu ibunya menderita penyakit kanker?

Lamunan saya teringat hari saat vonis kanker disampaikan kepada saya. Ketika itu anak-anak sengaja saya suruh menunggu diluar saja dengan papanya. Hanya saya sendiri yang berhadapan dengan dokter. Saya saat itu memang mengkhawatirkan kalau-kalau hasil medis saya buruk dan dokter secara gamblang menyampaikannya di depan anak-anak saya yang masih kecil.

Sekuat tenaga saya berusaha menahan tangis di depan dokter. Alhamdulillah sukses. Namun tembok pertahanan saya akhirnya jebol juga. Di dalam mobil, dihadapan anak-anak dalam perjalanan kembali ke rumah.

Si kakak yang sudah berumur tujuh tahun saat itu, diam saja dengan wajah tegang. Firasatnya mungkin mengatakan sesuatu telah terjadi pada ibunya. Dan itu buruk. Namun si kembar, empat tahun, malah sibuk bertanya-tanya.

“Kok mami nangis?”

“Mami di suntik ya?. Sakit, Mi?”

Saya hanya bisa mengangguk. Semuanya hening kecuali si kembar.

***

It's hard to say that i'm sick


Seperti yang pernah saya bilang, memberi tahu orang-orang terkasih akan penyakit berat, sama sakitnya dengan penyakit tersebut. Orang-orang terkasih menjadi sedih dengan keadaan kita itu rasanya menusuk. Apalagi bagi yang masih mempunyai anak yang masih kecil. Harus benar-benar dipertimbangkan apakah memberi tahu anak ataupun tidak merupakan keputusan terbaik.

Pertama yang perlu dipertimbangkan adalah kesiapan mental anak. Sebagai anak, pada umur berapa pun dia, akan merasa sedih begitu mengetahui ibunya sakit. Tetapi spectrum kesedihan yang dirasakan akan berbeda berdasar umur karena adanya perbedaan kemampuan analisis anak.

Yang kedua adalah faktor kepentingan. Apakah perlu untuk memberi tahu anak tentang ibunya yang sakit kanker? Apa konsekuensinya jika anak-anak tahu kalau mamanya sakit? Mungkin anak akan lebih berempati, dapat meringankan beban orangtua misalkan membantu menyapu, mengemong adik dan sebagainya. Lalu apa konsekuensinya jika orangtua memutuskan untuk tidak jujur terhadap anaknya?  Seberapa banyak informasi yang musti diberitahukan? Keseluruhan atau parsial?   Hal-hal tersebut harus dipertimbangkan dengan matang, sebelum orangtua berbicara juru tentang penyakitnya dengan anak.

Jadi apakah anak-anak saya tahu tentang ibunya yang menderita kanker?

Saya sedari awal sebenarnya tidak ada niatan untuk memberi tahu ketiga anak saya. Setelah di vonis kanker payudara, dalam upaya memantapkan hati untuk menjalani operasi mastektomi, tentunya saya dan suami sering-sering searching hal-hal yang berhubungan dengan kanker payudara guna untuk menambah pengetahuan dan pemahaman. Awalnya berusaha untuk menjauhi anak-anak ketika mencari informasi tentang kanker. Namun lama-lama menjadi susah dan Nessa anak pertama, lalu ikut-ikutan membaca.

Namun, saya tetap melakukan proteksi terhadap bacaan-bacaan, pembicaraan maupun televisi yang menayangkan berita-berita kematian akibat kanker. Terus terang saya cukup kuatir kalau secara tidak sengaja anak-anak mendengar berita di televisi.

Kapan saya memberi tahu mereka?

Mereka saya beritahu ketika saya akan menjalani mastektomi. Tapi dengan pemahaman yang berbeda karena sikembar masih balita. Sikembar hanya mengetahui bahwa mimik maminya ada sakit, sehingga butuh dioperasi. Sedangkan kakaknya Nessa, walaupun mengetahui saya sakit kanker payudara, tetapi tidak dalam pemahaman yang sebenarnya. Artinya dia cuma tahu tentang nama penyakit tetapi tidak mengetahui terhadap sifat dan bahaya penyakit tersebut. Saya memang memutuskan bahwa anak-anak hanya mengetahui secara parsial tentang penyakit ibunya. Sedari awal saya memang menginginkan bahwa kehidupan kami, paling tidak kehidupan anak-anak tidak berpengaruh apa-apa dengan sakitnya saya. Untuk itu saya memang mendisain jenis treatment yang saya lakukan nantinya, dengan mempertimbangkan kondisi psikis anak-anak. Artinya saya tidak ingin treatment kanker, membuat saya terlihat sebagai pesakitan di depan anak-anak.

Bagaimana kehidupan sehari-hari kami berlanjut setelah vonis kanker?

Salah satu ‘keajaiban’ setelah menyusui anak secara langsung, adalah mereka akan selalu terpesona melihat payudara ibunya. Bahkan saat mereka sudah tidak batita lagi. Seakan-akan payudara merupakan hal yang terindah yang pernah mereka lihat. Dan saya memang mempergunakan itu, kadang-kadang sebagai ‘instrumen’ untuk menenangkan kalau anak-anak khususnya sikembar saat mereka sedang emosional:)

Setelah mastektomi, saya awalnya sedikit menutup diri terhadap anak-anak. Tidak memperbolehkan mereka lagi masuk ke kamar mandi saat saya lagi mandi. Tidak memperbolehkan mereka melihat saya berganti pakaian. Saya tidak ingin mereka melihat rupa payudara ibunya sekarang. Saya khawatir mereka takut.

"Kok mimik mami dipotong?" itu adalah pertanyaan yang sering ditanyakan sikembar. Saya pun menjawab sesuai konteks keumuran mereka.

Namun lama-lama akhirnya lelah juga, harus selalu 'mengumpet' dari kejaran anak-anak. Jadi suatu hari saya putuskan untuk memperlihatkan bekas operasi tersebut.

Awal-awalnya mereka takjub. Kok bisa gak ada...kok cuma satu dan sebagainya.Ternyata dugaan saya salah. Mereka sama sekali tidak khawatir setelah tahu rahasia saya. Seakan-akan apa yang telah pergi...ya pergi saja...yuk kita cari yang lain. Mungkin kita perlu belajar dari anak-anak dari cara mereka memandang hidup. Bahwa hidup bukanlah untuk meratapi yang telah pergi. Karena sejatinya hidup untuk memperjuangkan apa-apa yang diinginkan di masa depan. 

Dan hingga sekarang, satu payudara itu masih tetap mempesona mereka. Dan saya tak pernah menyesal bahwa telah memberi tahu mereka tentang penyakit saya.

One breast tried to kill me...but the other still keeps my children calm!



Read More

Agar Tidak Jadi Mama Galau Ketika Anak Berkegiatan Di Alam, Ini Solusi Dari Ety Abdoel

anak, kegiatan, alam, mama, galau

26 tahun yang lalu (ketahuan deh umurnya :)), saat akhir masa studi saya di sekolah dasar, para guru sekolah merencanakan tour perpisahan di suatu objek wisata yang jaraknya hampir empat jam perjalanan dari kota saya tinggal.

Semua murid kelas enam antusias karena ini kali pertama kali kami jalan-jalan berombongan. Banyak juga yang sudah menyusun rencana apa yang akan dilakukan di objek wisata tersebut.  Ada yang pengen berenang, pengen begini…pengen begitu.

Tapi jujur, saat itu saya sendiri harap-harap cemas. Diizinkan gak ya sama orangtua kalau saya pergi. Secara saya anak tungal, biasanya izin susah keluar kalau saya pergi-pergi jauh tanpa orangtua saya mengiringi. 

Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya saya diizinkan untuk ikut serta….tapi dengan syarat mama pun ikut pergi. Jadinya saat itu hanya saya anak SD yang pergi tour perpisahan dengan didampingi orangtua. Lainnya tidak walaupun pada anak kelas bawah.

Tahu tidak, apa yang saya rasakan saat pergi jalan-jalan sekolah dengan ditemani orangtua?

 Hhmm…sebenarnya saya malu lho. Waktu itu saya merasa teman-teman pasti berpikir saya anak yang manja, maunya selalu didampingi orangtua.

Masa berlalu…akhirnya sekarang status berganti. Saya yang menjadi orangtua dengan anak pertama umur delapan tahun. Kebetulan anak saya bersekolah di sekolah alam. Biasanya sekolah tersebut memang mengagendakan kegiatan outing pada setiap semesternya. Nah semester ini direncanakan outing ke objek wisata Lubuk Tempurung, beberapa kilometer lokasinya dari pusat kota.

“Boleh ya, Mi. Nessa pergi outing,”pinta Nessa.

Saya balik bertanya,”apa semua teman-teman sekelas pergi?”.

Saya sebenarnya berat melepas Nessa pergi. Pertama karena saya belum pernah mendatangi lokasi objek wisata tersebut. Jadi tidak bisa membayangkan seperti apa dan bagaimana medan yang akan ditempuh. Karena lokasi objek wisata tersebut sudah di daerah perbukitan. Faktor kedua, saya khawatir dengan keselamatannya. Nessa masih kecil, saya khawatir dia tidak bisa melihat potensi bahaya ketika berada di alam bebas. Walaupun dalam pengawasan guru dan staf di sekolahnya, sebagai Ibu tentunya saya tetap tidak merasa secure.

Sebagai jawaban sementara saya bilang saja supaya minta izin sama papanya dulu. Sementara itu, saya masih tetap memikirkan opsi-opsi yang akan diambil. Kalau dizinkan, ada kekhawatiran. Tidak diizinkan, tapi harusnya dengan alasan yang logis dalam pemahaman anak-anak.

Akhirnya saya dapat ilham. Kebetulan cuaca di Padang tengah pancaroba. Kadang-kadang hujan, kadang-kadang panas. Tidak bisa ditebak.

“Gimana Nessa boleh pergi, Mi?”

“Nessa, kan sekarang cuaca gak bisa diprediksi. Kadang panas, kadang hujan. Kalau hujan, biasanya di hulu di daerah perbukitan kayak Lubuk Tempurung itu, airnya deras. Jadi gini aja ya, kalau malam sebelum berangkat outing, hujan berarti Nessa gak usah pergi. Tapi kalau gak hujan, Nessa boleh pergi,” demikian penjelasan saya. Walaupun sedikit kecewa, Nessa memahami apa yang saya katakan.

Ternyata saya tidak sendiri, jadi mama galau ketika anak harus berkegiatan di alam bebas. Teman dunmay saya, mbak Ety Abdoel, seorang Blogger dari kota Solo juga merasakan hal yang sama dengan saya. Jadi mama galau saat anaknya, Nisrina akan berangkat kemping.

Kalau Nessa yang hanya pergi outing setengah hari, bayangkan galaunya mbak Ety ketika Nisrina harus menginap di alam bebas. “Saya tuh merasa gimana gitu ketika anak kemping. Perasaan kemarin baru ngelahirinnya, gantiin popoknya, mengajarinya berjalan, rasanya dia tuh masih kecil. Eh tiba-tiba Nisrina harus kemping, melakukan sesuatu tanpa bantuan saya,”curhat mbak Ety.

Ternyata mbak Ety malah lebih melankolis dari saya ya. Ha..ha…

Tapi itulah perasaan sejujurnya dari seorang ibu, walaupun sudah besar anaknya tapi tetap masih dianggap masih kecil. Jangan-jangan perasaan seorang ibu, gak rela anaknya jadi besar, karena gak bisa diemong lagi. Saya curiga begitu sih. Berarti ngemong anak adalah kebutuhan psikis seorang Ibu yang akan tidak didapat ketika anak sudah besar.

Kembali ke mbak Ety.

Ternyata Nisrina sebelum berangkat kemping, dalam keadaan kurang sehat. Disamping itu mbak Ety juga khawatir karena Nisrina ada riwayat pernah dioperasi. Dan beragam kekhawatiran lainnya. Tapi untungnya suami mbak Ety mendukung penuh kegiatan Nisrina sehingga membantu mengusir kekhawatiran mbak Ety tadi.

Nah, gimana caranya supaya kita tidak jadi mama galau saat anak berkegiatan di alam bebas? Yuk simak tips berikut dari mbak Ety.

1.    Buat suami mohon pengertiannya ya, bahwa perasan galau tersebut akan melanda ibu-ibu yang masih dan akan tetap menganggap anaknya masih kecil. Jadi berikanlah pengertian dan dukungan bahwa istrimu bukanlah makhluk yang lebay.
2.    Pastikan anak dalam keadan fisik yang sehat guna menghindari kemungkinan buruk di lokasi.
3.    Persiapkan secara matang barang bawaan yang akan dibawa oleh anak-anak saat mereka berkegiatan di alam.
4.    Penuhi semua kebutuhan pribadi anak-anak di alam. Bisa obat-obatan guna antisipasi keadaan, bisa perlengkapan pribadi seperti baju ganti dan peralatan mandi. Juga makanan minuman serta kebutuhan lainnya.
5.    Dan tak kalah penting lengkapi anak dengan pengetahuan singkat tentang kemampuan menjadi diri sendiri dari niat jahat serta pemahaman singkat untuk bisa survival di alam bebas.

Saya juga selalu menguji hapalan Nessa tentang nomor hp saya dan papanya serta alamat rumah. Di sekolah memang tidak mengizinkan anak-anak membawa HP. Kalau ada kondisi darurat, semoga saja tidak pernah terjadi, Nessa masih ingat bagaimana menghubungi orangtuanya.

Jadi mama, sekarang gak perlu jadi mama galau lagi ya. Tips dari mbak Ety akan membantu mama untuk mempersiapkan mental mama agar yakin bahwa anak mama akan baik-baik saja di alam bebas. 

**AV**
Read More

Mau Harga Kamera Digital Berkualitas Harga di Bawah 1 Juta? Yuk Intip!

Kamera, harga, satu juta

 Kamu punya hobi jalan-jalan? Atau suka ngumpul-gumpul bareng keluarga dan teman? Pastinya aktifitas kamu tersebut selalu terkait dengan kamera. Iyess banget….karena kamera adalah alat elektronik yang mempunyai fungsi untuk mengabadikan momen spesial tersebut.

Akan tetapi seiring dengan berkembangnya jaman, kamera ini bukan hanya untuk memotret melainkan untuk merekam video. Makanya kalau dulu cuma Handycam yang bisa membuat video secara pro, sekarang fungsi-fungsi untuk merekam momen juga telah dipunyai oleh kamera digital.



Kamera digital juga banyak modelnya. Ada yang pocket kamera dan ada juga yang model DSLR. Belum lagi kalau dimasukkan ke jenis mirrorless. Bakal pusing kan kamu? Nah, jadi apa dong kriteria bagi kamu buat milih kamera terbaik buatmu?



Pertama, kegunaan. Kalau kamu cuma foto-foto sesi dan panorama biasa, masih bisa kok dihandle sama kamera saku biasa. Kecuali kamu lebih bergerak kearah foto pro memang butuh kamera yang bisa di-set secara manual.



Kedua, kamu ngerti teknik foto atau gak. Buat kita-kita yang awam yang gak tahu apa itu komposisi, pencahayaan, shutter speed dan beragam istilah fotografi lainnya, ngapain harus pusing-pusing. Kalau cuma mau terlihat keren pake DSLR, ya buat apa kalau hasil bidikan kamu gak jauh beda dengan kamera saku. Ya...pilih kamera saku lah secara harganya lebih sesuai dengan ukuran dompet.

Sekarang ini harga kamera digital  memang relatif mahal hingga jutaan rupiah. Namun untuk vendor-vendor yang besar, mereka malah mengeluarkan produk yang berkualitas tinggi dengan pasaran harga yang terjangkau. Ada berbagai macam kamera dengan harga di bawah 1 jutaan yang dapat kamu jadikan sebagai pilihan.

Berikut berbagai macam kamera yang dapat kamu jadikan sebagai pilihan.

Pertama, Canon Ixus 145.
Tersedia Dalam 3 Warna

Canon Ixus 145 dibanderol dengan harga 900 ribuan. Kamera ini merupakan sebuah produk kamera digital yang cukup baik dengan harga yang murah. Canon Ixus 145 sudah dibekali dengan processor DIGIC 4+ yang dapat menghasilkan gambar foto berkualitas. Untuk merekam video Canon Ixus 145 juga menghasilkan gambar yang bagus. Kamera ini mempunyai resolusi sebesar 16 MP yang memberikan kualitas HD 720p selain itu fitur lain yang disediakan seperti 8X optical zoom, macro 1 cm hingga HD movie. Dengan diberikannya fitur tersebut, dapat dipastikan bila nantinya hasil jepretan akan semakin berkualitas.

Kedua, Fuji JX680.

Harga kamera digital Fuji JX680 bisa dikatakan murah, namun jangan salah karena spesifikasi yang diberikan begitu tangguh dan dapat menghasilkan kualitas gambar yang bening dan jernih. Fuji JX680 dilengkapi dengan lensa kamera yang berukuran 16 MP dan 5X optical zoom. Adanya ukuran lensa ini akan memberi kamu kemudahan untuk mengambil gambar benda yang ada di sekitar kamu. Selain itu gambar juga akan lebih sempurna dengan layar LCD yang berukuran 3 inch. Fuji JX680 memiliki berat hanya 0,1 kilogram saja. harga dari Fuji JX680 ini berada di angkat Rp 900 ribuan.

Ketiga, Brica LS-5.

Brica LS-5 adalah produk baru dari vendor Brica, didalam produknya ini Brica memberi inovasinya yang terbaru dengan adanya berbagai macam fitur baru sehingga menyempurnakan hasil gambar yang kamu ambil. Berat Brica LS-5 ini mencapai 0,8 kilogram. Brica LS-5 dibanderol dengan harga Rp 400 ribuan saja. Brica LS-5 juga menjadi sebuah produk kamera yang terbaik. Resolusi dari Brica LS-5 ini sebesar 15 MP, dengan fitur 8x optical zoom, dan layar LCD sebesar 2,4 inch.

Keempat, Olympus VG180.
Hitamnya gagah....Merahnya cantik. Pilih yang sesuai dengan karakter kamu.

 Olympus VG180 sekarang ini menghadirkan inovasi yang terbaru dengan sensor kamera sebesar 16 MP yang dapat menghasilkan gambar dengan kualitas sangat bagus. Dengan sensor sebesar 16 MP ini, kamu dapat mencetak gambar dengan tajam dan rinci. Olympus VG180 juga dibekali dengan sistem optical zoom hingga 5X yang dapat membuat kamu jauh lebih fokus untuk memotret benda yang berada di sekeliling kamu. Untuk jangkauan lensanya berada di angka 26-130 mm yang memungkinkan memperoleh obyek bidikan yang lebih banyak dengan area yang luas. Harga Olympus VG180 sangat terjangkau di angka 900 ribuan saja.

Terakhir, Nikon Coolpix L3I.

Warna ungu-nya keren!
Harga kamera digital ini di angka Rp 950 ribuan. Namun kualitas hasil fotonya tidak bisa kamu ragukan lagi karena Nikon Coolpix L3I telah dilengkapi dengan resolusi sebesar 16 MP dan 5X optical zoom. Nikon Coolpix L3I ini memang memiliki kualitas gambar yang sangat bagus entah untuk memotret atau pun untuk merekam video. Sementara itu untuk jangkauan lensanya sebesar 26-130 mm.

So, jangan ragu lagi ya untuk menetapkan pilihan. Karena semuanya priceless, guys.
Read More

Kamu Pilih Mana, Menjadi Mahasiswa 'Backpacker' Atau menggunakan 'Biro Perjalanan'?

Pernah baca kisah Mada dalam buku Haji Backpacker? Seorang pemuda yang mengembara secara backpacker di enam Negara hingga akhirnya bermuara di Mekkah, Arab Saudi.  Walaupun istilah backpacker lebih sering dikaitkan dengan perjalanan wisata, namun sesungguhnya penggunaannya tidak selalu terkait dengan hal kepariwisataan.  Bahkan perjalanan haji pun bisa dilakukan secara backpacker. Perjalanan seorang job seeker yang mengikuti tes/seleksi kerja dan selalu berpindah-pindah juga bisa disebut backpacker. Backpacker adalah istilah yang secara historis telah digunakan untuk menunjukkan suatu bentuk perjalanan independen yang murah. Faktor-faktor yang secara tradisional membedakan Backpacker dari bentuk perjalanan lain adalah penggunaan angkutan umum sebagai sarana perjalanan, preferensi penginapan sampai hotel tradisional, dan penggunaan ransel sebagai wadah muat dalam perjalanan.
Nah, kalo mahasiswa selama di kehidupan kampusnya pernah gak menjadi seorang backpacker? Pastinya kalo mahasiswa cowok dan bawa ransel ke kampus, kemudian turun naik angkot persis seorang backpacker kan?

Namun kali ini saya bukan membahas bagaimana dan seperti apa mahasiswa datang ke kampus atau pun perjalanan wisatanya. Yang ingin saya bahas adalah perjalanan mahasiswa dalam menuntaskan karya akademiknya yaitu skripsi.
Diajukan sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada program ……
Ini adalah kata-kata yang biasa menghiasi halaman depan skripsi mahasiswa. Walaupun adanya di semester terakhir, pengerjaan skripsi terkadang menjadi momok tersendiri bagi mahasiswa. Tidak tahu apa yang harus diteliti adalah problem umum mahasiswa. Sama sekali tidak ada ide. Syukur buat yang punya ide karena lumayan rajin membaca dan nyimak internet, dosen pembimbing tinggal mengarahkan biar lebih gress. Jadi membaca adalah kunci awal pembuatan skripsi.

Biasanya dalam menghasilkan skripsi ada tiga tipe/kondisi yang terjadi dalam relasi mahasiswa-dosen. Pertama mahasiswa konsultasi dengan dosen dan berikutnya judul/topik skripsi diberikan oleh dosen. Tipe yang kedua adalah mahasiswa tersebut mempunyai kepercayaan diri yang tinggi sehingga dia mampu untuk mencari topik penelitian sendiri, tentunya dengan bantuan konsultasi dengan dosen pembimbing. Yang terakhir skripsi yang akan dikerjakan merupakan bagian dari penelitian dosen pembimbing.

Ada plus minus dari tiga pendekatan tersebut. Kalau judul/topik skripsi merupakan bagian dari penelitian dosen, alamat pengerjaan skripsi akan lancar. Karena pada hakikatnya mahasiswa hanya melaksanakan apa yang diinginkan dari penelitian tersebut, tetapi dituangkan sendiri dalam bentuk tulisan oleh mahasiswa yang bersangkutan. Kelebihan lain, kalau dengan cara ini untuk skripsi yang membutuhkan pengujian atau praktikum di laboratorium pastinya tidak akan mengeluarkan dana sepeserpun.

Untuk judul skripsi yang diberikan oleh dosen, bisanya mahasiswa sudah bisa langsung tahu kemana tujuan dan jalan yang akan ditempuh, berdasarkan ‘instruksi’ dari dosen tersebut. Mahasiswa yang kreatif terkadang akan memberikan ide-ide tambahan sebatas boundary yang sudah ditetapkan dosen. Tapi kalau ia pasif, biasanya akan manut saja terhadap arahan dosennya.

Tipe ketiga, adalah tipe yang sangat menuntut kreatifitas, kesabaran dan idealisme dari mahasiswa. Untuk tipe ini jarang-jarang mahasiswa yang mau mengambil resiko. Karena judul dari mahasiswa sendiri, pastinya ia akan terlebih dahulu mencari apa permasalahan yang terjadi, kemudian dituangkan solusi dalam bentuk tujuan penelitian dan bagaimana proses pencarian solusi/metodologinya. Tipe ini mengharuskan mahasiswa untuk peka dengan ‘lingkungan’nya dan kreatif dalam mencari permasalahan dan solusi. Terkadang, proses penemuan ini membutuhkan waktu yang tidak singkat karena harus bolak-balik literatur, gonta ganti arah penelitian bahkan sampai gonta ganti topik sehingga mahasiswa pragmatisme atau yang ingin cepat tamat akan menolak tipe ketiga ini.

Saya sendiri berdasarkan pengalaman membimbing, sudah membuat hipotesis :
mahasiswa yang mengerjakan sendiri skripsinya, di awali dengan pencarian topik penelitian sendiri, merancang metodologi sendiri hingga akhir akan sukses pada pelaksanan sidang akhir
Kenapa bisa begitu? Karena mahasiswa yang memilih tipe ketiga dalam pengerjaan skripsi, akan paham secara penuh khasanah ilmu apa yang ditelitinya. Biasanya yang memilih tipe ini akan lebih berkembang improvivasi dalam pengerjaannya sehingga secara penulisan, skripsi yang dihasilkan akan mendekati sempurna.

Tapi dari sekian lama menjadi dosen, mahasiswa yang memilih tipe ketiga inilah yang paling sedikit jumlahnya. Saya sendiri juga tidak ingin mengatakan bahwa skripsi yang judulnya dari dosen tidak bagus. Tidak sama sekali. Tapi disini saya ingin mengatakan buat semua mahasiswa, bahwa jadikanlah skripsi anda sebagai salah satu mahakarya yang pernah anda buat selama hidup.

Jangan jadikan skripsi sebagai barang murahan, yang tak terkenali karena terlalu seragam, yang hanya copy paste metodologi dengan objek yang berbeda. Yang nantinya, beberapa tahun kemudian, letak buku skripsi itu pun anda sudah tidak bisa melacaknya. Jadikanlah skripsi tersebut sebagai kebanggaan diri anda. Tidak ada yang lebih membahagiakan dalam hidup, ketika anda bangga akan diri sendiri bangga akan karya diri sendiri. Saya jamin akan beda kepuasan yang didapat.

Sekarang, tinggal anda yang membuat keputusan. Apakah anda berkeyakinan untuk menjadi mahasiswa ‘backpacker’ atau tetap membutuhkan pertolongan ‘biro perjalanan’.

*AV*
Read More

#WeTalkAboutCancer : First Time I Found Cancer In My Breast

wetalkaboutcancer, breast cancer

Hai...hai.... Senang sekali #wetalkaboutcancer akhirnya launching hari ini. Sebuah program kolaborasi dengan mbak Indah, survivor kanker payudara yang kesehariannya bertugas sebagai diplomat Indonesia di PBB.

Selamat menikmati #wetalkaboutcancer ya. Semoga makin menambah #breastcancerawareness kita.

Baca juga ==> Indah Nuria Savitri : Berkenalan dengan kanker.

***


Saya tak kan pernah lupa hari itu. Hari yang teramat mengguncang kehidupan saya. Yang selanjutnya membawa perubahan besar dalam hidup saya, hingga kini dan nanti.

Apakah Itu Pertanda?

Awal Mei 2015 sebelum saya terdiagnosis kanker payudara, saya mengontak mbak Tri Wahyuni Zuhri untuk memiliki bukunya. Tidak ada niatan khusus untuk memiliki buku itu. Saya Cuma ingin memiliki buku-buku yang bersifat memoir. Siapa tahu saya bisa belajar menulis dari sana. Tak disangka, buku ini akan menemani hari-hari saya yang akan datang dalam menyembuhkan penyakit ini.

The Time When The Happiness and The Sadness Comes Together

Jumat pagi di pertengahan Juni 2015, seperti biasa adalah jadwal saya mengajar di kampus. Seperti biasanya, setelah mengantar anak-anak ke sekolah dan penitipan, saya bersiap-siap untuk berangkat. Saat baru saja membuka bra untuk bersiap mandi, ada sesuatu yang gatal di payudara kanan dan saya menggaruknya agak keras. Tanpa sengaja saya menemukan ada ‘sesuatu’ di sana, sebuah benda padat. Jantung otomatis berdegup kencang. Ada kekhawatiran disana. Saya langsung melakukan pengecekan dengan memberikan penekanan di kedua payudara. Ternyata benda itu hanya ada di payudara kanan. Ya Tuhan, berarti memang ada ‘sesuatu’ disana.

Tak ingin berlama-lama dengan perasaan takut, khawatir akan sesuatu yang belum jelas, hari senin saya langsung meminta surat rujukan ke dokter bedah onkologi.  Setelah pemeriksaan dan konsultasi, dokter bedah onkologi memastikan bahwa memang ada keganjilan pada payudara kanan saya dan beliau merujuk untuk dilakukan USG Mamae.

Bertepatan dengan pemeriksaan tersebut, pengumuman kelulusan tes program doktor di Fakultas Ekonomi Unand diumumkan. Dan saya menempati urutan pertama kelulusan. Papa sangat gembira menyambut berita tersebut. Saya memang belum memberitahu tahu beliau akan adanya benjolan di dalam payudara saya. Namun itulah yang terjadi. Berita sedih dan gembira datang bersamaan dan bergumul menjadi satu. Sungguh aneh rasanya, sedih sekali tidak, gembira sekali juga tidak. Sangat datar, biasa saja.
Dan vonis kepastiannya, baru saya terima dua hari kemudian. Memberitahukan orang-orang terdekat adalah sesuatu yang sama sakitnya dengan penyakit yang diderita.
Vonis itu....


How A Breast Cancer Classified?

Berbagai penelitian ilmiah menyebutkan bahwa penyebab spesifik  untuk kanker payudara hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi banyak faktor diperkirakan bisa meningkatkan resiko terkena kanker payudara. faktor resiko merupakan sesuatu yang meningkatkan probabilitas untuk menderita kanker payudara. beberapa resiko bisa dihindari seperti akibat gaya hidup tetap resiko yang berasal dari faktor keturunan tidak bisa dihindari. Namun kita harus selalu optimis karena mempunyai faktor resiko tidak selalu diartikan bahwa kita akan menderita kanker payudara, juga sebaliknya.  Untuk itulah kita selalu senantiasa waspada.
Sumber National Breast Cancer Foundation
Untuk mengenal tipe kanker payudara, dapat dibedakan berdasarkan letak/posisi massa kanker di payudara dan berdasarkan respon sel kanker terhadap tes histokimianya. Kita bahas satu-satu dulu ya. Yang pertama tipe kanker payudara berdasarkan letaknya di payudara.
1.    Ductal Carsinoma in Situ (DCIS). Tipe kanker payudara ini, massa kankernya terdapat di pipa (duct) jaringan susu
2.    Invasive Ductal Carsinoma (ICS). Tipe kanker payudara ini mirip dengan DCIS namun massa kankernya sudah menginvasi daerah sekitar pipa/jaringan susu.

Sel Kanker dan Jaringan Susu (courtesy National Breast Cancer Organisation)
3. Inflammatory Breast Cancer. Tipe kanker payudara imflammatory adalah tipe yang jarang ditemukan. Khasnya tipe ini tidak terdapat benjolan/massa kanker namun terjadi perubahan pada bentuk dan warna kulit payudara.
4.    Metastase Breast Cancer. Kanker payudara yang telah bermetastase artinya sel kanker telah berkembang dan tersebar baik di di dalam payudara maupun menyebar ke organ-organ lain.

Inflammatory dan Metastase kanker payudara
Penggolongan kanker payudara yang kedua juga dapat dibedakan respon sel kanker terhadap tes histokimia.
1.    Luminal A, Dari hasil tes didapatkan sel kanker responsif terhadap hormon estrigen (Er +) dan hormon progesteron (Pr +) sedangkan Her2 negatif. Ki-67 < 20% menandakan tingkat proliferasi yang rendah.
2.    Luminal B. Hampir sama dengan Luminal A tetapi hasil tes mempunyai Ki-67 > 20%
3.    Her2 positif. Tipe kanker inilah yang merupakan tipe kanker payudara yang disebabkan oleh mutasi gen. Tipe kanker Her2 positif, akan menyebabkan faktor resiko akan mengidap kanker akan lbih tinggi pada anggota keluarga lainnya. Angelina jolie melakukan mastektomi dan reproduksi payudara karena mempunyai faktor resiko akibar ibunya yang menderita her2 positif.
4.    Tripel Negatif, Tes histokimia menghasilkan bahwa sel kanker tidak responsive terhadap estrogen, progesterone maupun terhadap Her2. Sepintas tipe ini kelihatan aman karena tidak respon terhadap semua tes, tetapi sesungguhnya tipe ini menyulitkan untuk menentukan treatment yang akan dilakukan. Tipe ini merupakan tipe kanker payudara yang jarang ditemukan.

Faktor Keturunan?

Nenek saya memang menderita kanker payudara pada tahun 1991 dan beliau wafat pada Januari 1994. Medio Sembilan puluhan memang edukasi kanker payudara amat minim apalagi media internet belum ada. Sehingga memang nenek memberitahukan penyakitnya ketika sudah stadium lanjut.

Walaupun saya sendiri tahu bahwa pada kanker payudara, semakin besar resiko terjangkiti dengan adanya faktor keturunan, namun sesungguhnya saya sendiri tidak menyangka akan  menderita juga. Pertama mama dan maktuo (panggilan kakak perempuan Ibu di Minang) keduanya tidak menderita kanker payudara. Mama bergolongan darah B. Berarti nenek kemungkinannya kalau tidak bergolongan darah B juga atau golongan darah O. Sedangkan saya bergolongan darah AB. Jadi saya pikir saya akan aman kalau menelisik golongan darah.

Faktor kedua, saya menyusui ketiga anak saya hingga dua tahun lebih. Sikembar Dhila Thiya saya sapih menyusu pada Maret 2014. Saya berpikir dengan menyusui ketiga anak saya, saya benar-benar sudah aman.  Setelah itu saya memang lalai. Jarang sekali saya melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).  Semuanya terlupakan begitu saja. Tak pernah lagi memikirkan tentang kesehatan payudara. Tak pernah lagi timbul kesadaran akan bahaya kanker. Seperti saya bilang tadi, saya benar-benar sudah aman. Seperti prediksi dokter, bahwa kanker ini sudah ada dalam payudara selama setahun ini. Tidak lama berselang sejak payudara sudah tidak lagi berfungsi. Sungguh saya tidak menduga.

Namun dari buku yang saya baca, bahwa faktor keturunan hanya berpengaruh 5 – 10% terhadap peningkatan resiko terjangkiti kanker. Tapi apa boleh buat gen BRAC1 dan BRAC2 mungkin telah diturunkan kepada saya, bahkan disaat itu kanker belum ada di tubuh nenek saya. Dan seperti  dokter spesialis radiologi bilang, bahwa penyakit kanker sekarang banyak diakibatkan atas faktor-faktor yang tidak bisa kita hindari. Boleh jadi kita sudah menghindari makanan-makanan pabrikan. Boleh jadi kita sudah menghindari lingkungan yang terpapar kimia. Tapi kita tidak pernah bisa menghilangkan sepenuhnya factor dari luar yang mungkin saja berefek tidak baik bagi kehidupan kita. Jadi kuncinya memang harus ikhlas dan tawakal terhadap sesuatu yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT kepada kita.

*AV*
Read More

Pastikan Kamu Tahu 5 Alasan Mengapa Lembar Jawaban Ujian Harus Ditulis Dengan Rapi dan Bersih

Alasan, mahasiswa, menulis, ujian, rapi, bersih

Pastikan Kamu Tahu 5 Alasan Mengapa Lembar Jawaban Ujian Harus Ditulis Dengan Rapi dan Bersih - Hai, ketemu lagi di rubrik Dunia Kampus. Menyambut masa ujian tengah semester yang sudah di depan mata, kali ini kita akan membahas tentang salah satu upaya mahasiswa dalam ‘mencuri’ nilai. Udah tahu kan ya salah satu strategi supaya mendapat nilai ujian bagus, disamping dapat menjawab dengan benar soal yang ditanyakan dosen, juga memaksimalkan probabilitas dalam mendapatkan subjective point dari dosen.

Memangnya dosen tidak menilai jawaban mahasiswa dengan objektif?

Eitss..tunggu dulu. Secara teoritis, pastilah lembar jawaban ujian mahasiswa dinilai secara objektif. Tapi selagi dosen itu masih mahasiswa, maka faktor subjektifitas tetap akan selalu ada.

Subjektifitas dosen disebabkan karena apa ya? Monggo di scroll terus ya.

Sejalan dengan perkembangan IT, kegiatan tulis menulis dengan pena dan kertas sudah semakin jarang dilakukan. Mahasiswa semakin jarang terlihat membawa buku tulis ke dalam kelas. Sebagian mungkin berpandangan bahan ajar dari power point dosen, sudah cukup untuk dipelajari. Sehingga malas untuk mencatat poin-poin penting dari penjelasan dosen di kelas. Kalau pun ada, itu pun gak banyak. Paling banter cuma satu halaman terisi untuk satu kali pertemuan. Belum lagi ada juga sebagian mahasiswa yang memang malas mencatat, hanya mengandalkan kopian dari catatan mahasiswa yang paling rapi dan pintar. Mahasiswa yang hobi IT mungkin mencatat dengan menggunakan gadget sehingga catatan bisa ditelusuri per semester.

Baca juga 10 Hal Yang Bikin Dosen Jengkel Di Kelas

Coba bandingkan mana yang paling banyak buku tulis saat SMA atau saat kuliah? Bikin peer pun sekarang sudah banyak diketik di komputer lalu di print. Alasannya biar rapi dan cantik karena banyak ilustrasi dan imaji. Saya teringat ketika praktikum  Fisika Dasar dulu, laporan praktikum harus diketik dengan mesin tik atau menggunakan tulisan tangan. Salah satu alasannya memang untuk menghindari dari copy and paste.

Tak sadar, kebiasaan menulis bagi mahasiswa menjadi terbatas di seputar bikin peer dan ujian. Seperti orang bilang lancar kaji karena diulang, minimnya penggunaan kertas dan pena dalam kegiatan mahasiswa, secara pasti membuat kemampuan dan hasil tulisan mahasiswa menjadi jelek.

75% tulisan mahasiswa di lembar jawaban adalah tulisan yang jelek.   

Kenapa saya sebut jelek? Tulisan yang baik adalah tulisan dengan menggunakan huruf-huruf relatif besar atau cukup proporsional (besarnya huruf yang digunakan pas. Tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan tinggi baris.) Huruf-huruf yang digunakan dalam membentuk kata dan kalimat, dengan mudah bisa dilihat dengan jelas. Yang pasti membaa tulisan tersebut tidak membuat mata cepat lelah.

Nah, bagaimana bentuk tulisan yang jelek?

1.    Versi pertama dari contoh tulisan yang jelek adalah tulisan dengan huruf-huruf yang ditulis terlalu kecil. Seperti contoh diatas walaupun tulisan dengan cukup rapi, tapi huruf-hurufnya terlalu kecil, hingga mata dosen harus mengerinyit membacanya.
Kamu bisa baca gak? Ini imuut banget soalnya


2.    Tulisannya cukup besar dari segi huruf yang digunakan, tapi tidak rapi.
Kalau saya bilang, ini penulisan aneh.

3.    Tinggi rendah huruf tidak sama. Sehingga tulisan tidak indah dipandang
Tulisan slengek'an

4.    Huruf-huruf ditulis terlalu langsing. Tulisan yang ditulis dengan huruf tinggi langsing  membuat perih mata dalam memandang.

5.    Tulisan yang cenderung miring ke kanan.
Tulisan yang baik adalah tulisan yang tegak lurus ke atas. Namun tidak banyak orang yang mempunyai tulisan seperti itu. Kebanyakan orang mempunyai kecenderungan tulisan yang miring. Secara ergonomis, tulisan yang miring kekiri lebih baik dari tulisan yang miring ke kanan.
Awas, kepala bakal pegel!

Sekarang sudah tahu kan tulisan jelek itu kayak apa? Kira-kira tulisan kamu masuk kriteria diatas gak. Semoga tidak.

Kalaupun iya, nah sekarang saatnya kamu harus meubahnya saat ujian nanti. Kamu harus bisa dan mampu menulis jawaban ujian dengan rapi, bersih dan dengan ukuran huruf yang proporsional. Untuk itu sebelum ujian kamu harus sering-sering latihan menulis hingga tulisanmu masih bisa bagus kalau ditulis dalam keadaan cepat dan tergesa-gesa karena limitasi waktu ujian.
Harusnya tulisan di kertas ujian kayak gini, bersih dan indah dipandang. Mood booster bagi dosen

Kamu mau tahu kenapa kamu harus menulis jawaban ujian dengan rapi dan bersih? Ini dia….cekidot.


1.    Memeriksa kertas ujian yang tinggi bertumbuk itu, bagi dosen butuh energi yang besar juga lho. Terkadang butuh mood booster tersendiri untuk memulainya. Beberapa dosen memilih mood booster tertentu untuk memulai memeriksa lembar ujian mahasiswa. Ada yang mungkin akan mengambil kertas ujian dari mahasiswa terpintar. Dan tidak menutup kemungkinan dia juga akan meilih memulai memeriksa lembar jawaban dari mahasiswa yang paling bersih, rapi dan huruf-hurufnya gak bikin sakit mata.

2.    Diatas saya sudah bilang ya, bahwa akan selalu ada unsur subjektifitas dosen dalam memeriksa lembar ujian mahasiswa. Dari pengalaman maka tulisan mahasiswa yang jelek akan mempunyai kecenderungan dinilai dengan nilai yang jelek pula.
Maksudnya gini, misalnya dari jawaban kamu harusnya dapat poin 5. Tapi karena tulisan kamu jelek, bisa saja kamu dapat poin 4.

“Udah jawaban gak jelas, tulisannya jelek lagi,” ujar sang dosen. Tulisan jelek bikin dosen bĂȘte.

3.    Oh ya, dosen dalam hal memeriksa lembar ujian mahasiswa, cenderung untuk prokrastinasi juga lho. Tapi ini bisa dimengerti, dosen kan sibuk. Kesibukannya gak cuma ngajar. Biasanya lembar jawaban UTS dan UAS akan diperiksa dalam waktu yang berdekatan. Jadi kalau misalnya dosen itu mengajar satu mata kuliah ada tiga kelas berarti aka nada 6 tumpukan kertas jawaban yang akan diperiksa. Seperti saya bilang tadi, meriksa lembar jawaban ujian itu, walaupun Cuma duduk dan diam saja, capeknya mungkin lebih capek daripada ngajar di depan kelas. Konsentrasinya harus tinggi dan ini memakan energy. Terkadang kepala sudah panas karena lelah dan kesal melihat jawaban ujian mahasiswa.

So, kamu bayangkan, dosennya udah keluar tanduk di kepala, tulisan kamu jelek juga, ancur deh.

4.    Sekarang tulisan kamu jeleknya sama kayak tulisan dokter di slip resep obat. Nah ada kemungkinan dosen kamu tidak mampu membaca tulisan kamu dengan baik. Itu berarti dosen tidak mampu menangkap jawaban yang kamu tulis. Berarti kamu kehilangan kesempatan untuk dapat nilai lebihnya.

5.    Yang kelima apa ya. Pokoknya tullisan kamu harus bersih dan rapi deh. Biar inner kamu kelihatan.

Ya udah gitu aja. Selamat ujian ya..semoga ujiannya sukses dan sukses juga nilainya. Jangan lupa pastikan lembar jawaban ujian kamu ditulis dengan rapi dan bersih.:)


**AV**
Read More