Laman

Agar Tidak Jadi Mama Galau Ketika Anak Berkegiatan Di Alam, Ini Solusi Dari Ety Abdoel

anak, kegiatan, alam, mama, galau

26 tahun yang lalu (ketahuan deh umurnya :)), saat akhir masa studi saya di sekolah dasar, para guru sekolah merencanakan tour perpisahan di suatu objek wisata yang jaraknya hampir empat jam perjalanan dari kota saya tinggal.

Semua murid kelas enam antusias karena ini kali pertama kali kami jalan-jalan berombongan. Banyak juga yang sudah menyusun rencana apa yang akan dilakukan di objek wisata tersebut.  Ada yang pengen berenang, pengen begini…pengen begitu.

Tapi jujur, saat itu saya sendiri harap-harap cemas. Diizinkan gak ya sama orangtua kalau saya pergi. Secara saya anak tungal, biasanya izin susah keluar kalau saya pergi-pergi jauh tanpa orangtua saya mengiringi. 

Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya saya diizinkan untuk ikut serta….tapi dengan syarat mama pun ikut pergi. Jadinya saat itu hanya saya anak SD yang pergi tour perpisahan dengan didampingi orangtua. Lainnya tidak walaupun pada anak kelas bawah.

Tahu tidak, apa yang saya rasakan saat pergi jalan-jalan sekolah dengan ditemani orangtua?

 Hhmm…sebenarnya saya malu lho. Waktu itu saya merasa teman-teman pasti berpikir saya anak yang manja, maunya selalu didampingi orangtua.

Masa berlalu…akhirnya sekarang status berganti. Saya yang menjadi orangtua dengan anak pertama umur delapan tahun. Kebetulan anak saya bersekolah di sekolah alam. Biasanya sekolah tersebut memang mengagendakan kegiatan outing pada setiap semesternya. Nah semester ini direncanakan outing ke objek wisata Lubuk Tempurung, beberapa kilometer lokasinya dari pusat kota.

“Boleh ya, Mi. Nessa pergi outing,”pinta Nessa.

Saya balik bertanya,”apa semua teman-teman sekelas pergi?”.

Saya sebenarnya berat melepas Nessa pergi. Pertama karena saya belum pernah mendatangi lokasi objek wisata tersebut. Jadi tidak bisa membayangkan seperti apa dan bagaimana medan yang akan ditempuh. Karena lokasi objek wisata tersebut sudah di daerah perbukitan. Faktor kedua, saya khawatir dengan keselamatannya. Nessa masih kecil, saya khawatir dia tidak bisa melihat potensi bahaya ketika berada di alam bebas. Walaupun dalam pengawasan guru dan staf di sekolahnya, sebagai Ibu tentunya saya tetap tidak merasa secure.

Sebagai jawaban sementara saya bilang saja supaya minta izin sama papanya dulu. Sementara itu, saya masih tetap memikirkan opsi-opsi yang akan diambil. Kalau dizinkan, ada kekhawatiran. Tidak diizinkan, tapi harusnya dengan alasan yang logis dalam pemahaman anak-anak.

Akhirnya saya dapat ilham. Kebetulan cuaca di Padang tengah pancaroba. Kadang-kadang hujan, kadang-kadang panas. Tidak bisa ditebak.

“Gimana Nessa boleh pergi, Mi?”

“Nessa, kan sekarang cuaca gak bisa diprediksi. Kadang panas, kadang hujan. Kalau hujan, biasanya di hulu di daerah perbukitan kayak Lubuk Tempurung itu, airnya deras. Jadi gini aja ya, kalau malam sebelum berangkat outing, hujan berarti Nessa gak usah pergi. Tapi kalau gak hujan, Nessa boleh pergi,” demikian penjelasan saya. Walaupun sedikit kecewa, Nessa memahami apa yang saya katakan.

Ternyata saya tidak sendiri, jadi mama galau ketika anak harus berkegiatan di alam bebas. Teman dunmay saya, mbak Ety Abdoel, seorang Blogger dari kota Solo juga merasakan hal yang sama dengan saya. Jadi mama galau saat anaknya, Nisrina akan berangkat kemping.

Kalau Nessa yang hanya pergi outing setengah hari, bayangkan galaunya mbak Ety ketika Nisrina harus menginap di alam bebas. “Saya tuh merasa gimana gitu ketika anak kemping. Perasaan kemarin baru ngelahirinnya, gantiin popoknya, mengajarinya berjalan, rasanya dia tuh masih kecil. Eh tiba-tiba Nisrina harus kemping, melakukan sesuatu tanpa bantuan saya,”curhat mbak Ety.

Ternyata mbak Ety malah lebih melankolis dari saya ya. Ha..ha…

Tapi itulah perasaan sejujurnya dari seorang ibu, walaupun sudah besar anaknya tapi tetap masih dianggap masih kecil. Jangan-jangan perasaan seorang ibu, gak rela anaknya jadi besar, karena gak bisa diemong lagi. Saya curiga begitu sih. Berarti ngemong anak adalah kebutuhan psikis seorang Ibu yang akan tidak didapat ketika anak sudah besar.

Kembali ke mbak Ety.

Ternyata Nisrina sebelum berangkat kemping, dalam keadaan kurang sehat. Disamping itu mbak Ety juga khawatir karena Nisrina ada riwayat pernah dioperasi. Dan beragam kekhawatiran lainnya. Tapi untungnya suami mbak Ety mendukung penuh kegiatan Nisrina sehingga membantu mengusir kekhawatiran mbak Ety tadi.

Nah, gimana caranya supaya kita tidak jadi mama galau saat anak berkegiatan di alam bebas? Yuk simak tips berikut dari mbak Ety.

1.    Buat suami mohon pengertiannya ya, bahwa perasan galau tersebut akan melanda ibu-ibu yang masih dan akan tetap menganggap anaknya masih kecil. Jadi berikanlah pengertian dan dukungan bahwa istrimu bukanlah makhluk yang lebay.
2.    Pastikan anak dalam keadan fisik yang sehat guna menghindari kemungkinan buruk di lokasi.
3.    Persiapkan secara matang barang bawaan yang akan dibawa oleh anak-anak saat mereka berkegiatan di alam.
4.    Penuhi semua kebutuhan pribadi anak-anak di alam. Bisa obat-obatan guna antisipasi keadaan, bisa perlengkapan pribadi seperti baju ganti dan peralatan mandi. Juga makanan minuman serta kebutuhan lainnya.
5.    Dan tak kalah penting lengkapi anak dengan pengetahuan singkat tentang kemampuan menjadi diri sendiri dari niat jahat serta pemahaman singkat untuk bisa survival di alam bebas.

Saya juga selalu menguji hapalan Nessa tentang nomor hp saya dan papanya serta alamat rumah. Di sekolah memang tidak mengizinkan anak-anak membawa HP. Kalau ada kondisi darurat, semoga saja tidak pernah terjadi, Nessa masih ingat bagaimana menghubungi orangtuanya.

Jadi mama, sekarang gak perlu jadi mama galau lagi ya. Tips dari mbak Ety akan membantu mama untuk mempersiapkan mental mama agar yakin bahwa anak mama akan baik-baik saja di alam bebas. 

**AV**

13 komentar:

  1. saya dulu ngajar di ekolah alam. disna sellu ada keiatan camping atau jalan2 ke alam . banyak ortu yg melarang anaknya ikut kegiatan ini karena khawatir anaknya kenapa-napa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sifat protektif susah dihilangkan buat emak2 ya mbak

      Hapus
  2. Saya dulu termasuk anak yg dilarang orang tua berkegiatan diluar kegiatan sekolah...

    Nah.. besok kalao anak udah gede.. ini jadi catatan aku..

    BalasHapus
  3. Kalau saya sih tergantung dengan siapa anak-anak pergi. Tapi guru-gurunya bisa dipercaya ya kenapa tidak. Banyak sekali manfaat yang bisa anak-anak dapatkan dengan kegiatan tersebut. Maklum, waktu sekolah dulu saya paling suka acara outdoor. Jadi gak adil dong kalau sekarang melarang2 anak.

    BalasHapus
  4. Aku tidak pernah bertanya ke orangtuaku, gimana ya perasaan mereka waktu dulu aku 'lepas' ke alam bebas hehehehe .. Tapi mungkin karena kedua orang tuaku mantan pecinta alam, jadi tidak terlalu khawatir dan malah disuruh-suruh kalau ada acara beginian. Tapi memang gak bisa dipaksa sih ya Mbak, mungkin kegalauannya karena, "Duh, anakku udah gede, udah mandiri, jangan-jangan nanti gamau dianter2 papa-mamanya lagi" :))

    BalasHapus
  5. pantesan tiap maen ke gunung atau tempat yang kurang terjamah lainnya emak saya banyak bener pesannya.
    hahaha.
    oh iya mbak kalau lagi cari tips fotografi mampir dong ke blog saya
    gariswarnafoto[dot]com

    BalasHapus
  6. Saya dulu jg dilarang mbak kalo pergi kemping, naik gunung dsb..

    Tapi saya nekat :D

    BalasHapus
  7. Kalau ibu ku juga dulu begitu, kalau ikutan acara sekolah selalu menitipkan banyak pesan ��

    BalasHapus
  8. Waaa... gimana besok anak2 saya ya.. skrg masih usia 3.5 n 2.5th. bentar lg bakal ngerasain juga nih. Pasti ikutan galau, hoho. Bookmark, tfs mba

    BalasHapus
  9. Aku dulu suka sebel karena ke pantai gak boleh, kemah gak boleh.. sekarang udah jadi ortu baru deh mikir kalo anakku ijin pergi-pergi pasti bakal khawatir juga, :D

    BalasHapus
  10. ya ampun saya hanyut bacanya, gimana ya yg dulunya kecil trus tiba-tiba padahal nggak tiba2 dia pergi hangout bareng teman atau kemping gitu. JAdi ingat saya waktu dulu

    BalasHapus
  11. Aku juga selalu jadi mama galau kalo anak-anak harus bepergian menginap ke suatu tempat, apalagi di alam bebas seperti outing atau kegiatan pramuka. Baru lega kalo mereka sudah pulang rumah :)

    BalasHapus
  12. tipsnya ampuh banget nih,
    seringkali Ayahnya ikut-ikutan 'galau' saat ibunya telp. dalam kondisi galau :)
    thank dan salam kenal Mbak

    BalasHapus