Laman

Kamu Pilih Mana, Menjadi Mahasiswa 'Backpacker' Atau menggunakan 'Biro Perjalanan'?

Pernah baca kisah Mada dalam buku Haji Backpacker? Seorang pemuda yang mengembara secara backpacker di enam Negara hingga akhirnya bermuara di Mekkah, Arab Saudi.  Walaupun istilah backpacker lebih sering dikaitkan dengan perjalanan wisata, namun sesungguhnya penggunaannya tidak selalu terkait dengan hal kepariwisataan.  Bahkan perjalanan haji pun bisa dilakukan secara backpacker. Perjalanan seorang job seeker yang mengikuti tes/seleksi kerja dan selalu berpindah-pindah juga bisa disebut backpacker. Backpacker adalah istilah yang secara historis telah digunakan untuk menunjukkan suatu bentuk perjalanan independen yang murah. Faktor-faktor yang secara tradisional membedakan Backpacker dari bentuk perjalanan lain adalah penggunaan angkutan umum sebagai sarana perjalanan, preferensi penginapan sampai hotel tradisional, dan penggunaan ransel sebagai wadah muat dalam perjalanan.
Nah, kalo mahasiswa selama di kehidupan kampusnya pernah gak menjadi seorang backpacker? Pastinya kalo mahasiswa cowok dan bawa ransel ke kampus, kemudian turun naik angkot persis seorang backpacker kan?

Namun kali ini saya bukan membahas bagaimana dan seperti apa mahasiswa datang ke kampus atau pun perjalanan wisatanya. Yang ingin saya bahas adalah perjalanan mahasiswa dalam menuntaskan karya akademiknya yaitu skripsi.
Diajukan sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada program ……
Ini adalah kata-kata yang biasa menghiasi halaman depan skripsi mahasiswa. Walaupun adanya di semester terakhir, pengerjaan skripsi terkadang menjadi momok tersendiri bagi mahasiswa. Tidak tahu apa yang harus diteliti adalah problem umum mahasiswa. Sama sekali tidak ada ide. Syukur buat yang punya ide karena lumayan rajin membaca dan nyimak internet, dosen pembimbing tinggal mengarahkan biar lebih gress. Jadi membaca adalah kunci awal pembuatan skripsi.

Biasanya dalam menghasilkan skripsi ada tiga tipe/kondisi yang terjadi dalam relasi mahasiswa-dosen. Pertama mahasiswa konsultasi dengan dosen dan berikutnya judul/topik skripsi diberikan oleh dosen. Tipe yang kedua adalah mahasiswa tersebut mempunyai kepercayaan diri yang tinggi sehingga dia mampu untuk mencari topik penelitian sendiri, tentunya dengan bantuan konsultasi dengan dosen pembimbing. Yang terakhir skripsi yang akan dikerjakan merupakan bagian dari penelitian dosen pembimbing.

Ada plus minus dari tiga pendekatan tersebut. Kalau judul/topik skripsi merupakan bagian dari penelitian dosen, alamat pengerjaan skripsi akan lancar. Karena pada hakikatnya mahasiswa hanya melaksanakan apa yang diinginkan dari penelitian tersebut, tetapi dituangkan sendiri dalam bentuk tulisan oleh mahasiswa yang bersangkutan. Kelebihan lain, kalau dengan cara ini untuk skripsi yang membutuhkan pengujian atau praktikum di laboratorium pastinya tidak akan mengeluarkan dana sepeserpun.

Untuk judul skripsi yang diberikan oleh dosen, bisanya mahasiswa sudah bisa langsung tahu kemana tujuan dan jalan yang akan ditempuh, berdasarkan ‘instruksi’ dari dosen tersebut. Mahasiswa yang kreatif terkadang akan memberikan ide-ide tambahan sebatas boundary yang sudah ditetapkan dosen. Tapi kalau ia pasif, biasanya akan manut saja terhadap arahan dosennya.

Tipe ketiga, adalah tipe yang sangat menuntut kreatifitas, kesabaran dan idealisme dari mahasiswa. Untuk tipe ini jarang-jarang mahasiswa yang mau mengambil resiko. Karena judul dari mahasiswa sendiri, pastinya ia akan terlebih dahulu mencari apa permasalahan yang terjadi, kemudian dituangkan solusi dalam bentuk tujuan penelitian dan bagaimana proses pencarian solusi/metodologinya. Tipe ini mengharuskan mahasiswa untuk peka dengan ‘lingkungan’nya dan kreatif dalam mencari permasalahan dan solusi. Terkadang, proses penemuan ini membutuhkan waktu yang tidak singkat karena harus bolak-balik literatur, gonta ganti arah penelitian bahkan sampai gonta ganti topik sehingga mahasiswa pragmatisme atau yang ingin cepat tamat akan menolak tipe ketiga ini.

Saya sendiri berdasarkan pengalaman membimbing, sudah membuat hipotesis :
mahasiswa yang mengerjakan sendiri skripsinya, di awali dengan pencarian topik penelitian sendiri, merancang metodologi sendiri hingga akhir akan sukses pada pelaksanan sidang akhir
Kenapa bisa begitu? Karena mahasiswa yang memilih tipe ketiga dalam pengerjaan skripsi, akan paham secara penuh khasanah ilmu apa yang ditelitinya. Biasanya yang memilih tipe ini akan lebih berkembang improvivasi dalam pengerjaannya sehingga secara penulisan, skripsi yang dihasilkan akan mendekati sempurna.

Tapi dari sekian lama menjadi dosen, mahasiswa yang memilih tipe ketiga inilah yang paling sedikit jumlahnya. Saya sendiri juga tidak ingin mengatakan bahwa skripsi yang judulnya dari dosen tidak bagus. Tidak sama sekali. Tapi disini saya ingin mengatakan buat semua mahasiswa, bahwa jadikanlah skripsi anda sebagai salah satu mahakarya yang pernah anda buat selama hidup.

Jangan jadikan skripsi sebagai barang murahan, yang tak terkenali karena terlalu seragam, yang hanya copy paste metodologi dengan objek yang berbeda. Yang nantinya, beberapa tahun kemudian, letak buku skripsi itu pun anda sudah tidak bisa melacaknya. Jadikanlah skripsi tersebut sebagai kebanggaan diri anda. Tidak ada yang lebih membahagiakan dalam hidup, ketika anda bangga akan diri sendiri bangga akan karya diri sendiri. Saya jamin akan beda kepuasan yang didapat.

Sekarang, tinggal anda yang membuat keputusan. Apakah anda berkeyakinan untuk menjadi mahasiswa ‘backpacker’ atau tetap membutuhkan pertolongan ‘biro perjalanan’.

*AV*

2 komentar:

  1. Saya backpaker dong. Dulu pakai biro skripsi cuman cari tempat buat sharing dan pengolah data doang
    Segala macam ngerjakan sendiri

    BalasHapus