Laman

#UsiaCantik : Kala Usia Biologis Tak Lagi Merepresentasikan Usia Kronologismu

Usiacantik, umur biologis, umur kronologis

Lihatlah pada perempuan itu.
Langkah kakinya tak lagi sama dengan langkah kakinya yang dulu.
Sepasang sepatu high heels telah menggantikan flat shoes dalam kesehariannya.
Pada kaki yang sama itu, beribu cerita perjalanan hidup telah ditempuhnya.

Lihatlah pada perempuan itu.
Tatapan matanya tak lagi sama dengan tatapan matanya yang dulu.
Yang senantiasa menatap tajam mahasiswanya di kala ujian.
Kemana matanya yang dulu penuh malu dan takut menghadapi kerumunan mahasiswa senior di tahun awal perkuliahan?
Dua puluh tahun telah meubah semuanya.

Lihatlah pada perempuan itu.
Tubuhnya tak lagi sama dengan tubuhnya yang dulu
Jiwanya tak lagi sama dengan jiwanya dua puluh tahun lalu.
"Kenapa kamu tidak mau masuk organisasi?" tanya keprihatinan dari kedua orangtuanya yang aktivis kampus.
Waktu telah menjawab, bahwa 'kebutuhan' tidak akan sanggup diredam.

***

Hidupnya sebagai wanita dewasa biasa-biasa saja, sebagaimana layaknya wanita lain pada umumnya. Tak lama setelah menamatkan pendidikan pasca sarjana tahun 2005, dia memutuskan untuk menikah. Tidak menunggu lama, tiga bulan setelah menikah, status PNS sebagai dosen di almamater akhirnya berhasil dia raih. Lalu hidupnya dihabiskan dengan bolak balik Padang-Pekanbaru, karena suaminya masih bekerja di lain kota. 

Tiga tahun setelah pernikahan mereka, lahirnya puteri pertama. Tiga tahun berikut lahir lagi anak kedua yang juga kembar. Suaminya juga sudah pindah bekerja di kota yang sama dengan dia. Karirnya sebagai seorang fungsional dosen, walaupun tidak terlalu cemerlang, tapi sudah cukup membanggakan. 

Rasanya tidak ada yang meragukan bahwa dia telah mencapai posisi establish dalam kehidupannya. Karir yang baik dan kehidupan pernikahan yang harmonis dengan anak-anak yang tumbuh sehat.

“Tapi saya tetap merasa ada yang kurang dalam hidup. Terkadang saya malah jenuh dengan kehidupan yang begitu-begitu saja,” akunya.

Lalu, apa yang membuat hidupnya gelisah? 

Fakta menunjukkan bahwa menjalani   “profesi” sebagai ibu bukanlah hal yang mudah. Seperti juga yang diutarakan penulis Rena Puspa sebagai kalimat pembuka bukunya Bahagia Ketika Ikhlas, bahwa banyaknya buku dan artikel yang menulis tema seputar menjadi ibu bahagia, menunjukkan untuk menjadi ibu yang bahagia ternyata tidaklah mudah, sehingga konsep ibu bahagia selalu menjadi tema menarik untuk dibahas.

 “Saya selalu menanyakan, am I happy with my job? Sayangnya saya belum bisa bilang, Yes. Hidup yang terlalu biasa-biasa saja, cenderung monoton.  Saya belum menemukan hakiki kebahagiaan saya yang sebenarnya,” demikian keluh kesahnya

Mari kita lihat teori kebutuhan dasar manusia versi Maslow, dimana berdasarkan teori tersebut, kebutuhan tertinggi manusia adalah aktualisasi diri yang berakar pada konsep diri. Ini dia jawabannya. 

Mungkin dia merasa belum mengaktualisasikan diri sepenuhnya. Mungkin dia merasa belum bermanfaat buat lingkungan sekitarnya. Hidupnya yang dipandang ‘establish’dari persepsi orang lain, ternyata menyimpan kegelisahan yang mendalam.

“Saya mencoba hal-hal baru. Dengan begitu hidup saya lebih terasa berwarna,” katanya. 

Jadilah dia menjadi relawan Kelas Inspirasi. Mengajar mahasiswa dan mengajar pelajar SD ternyata sangat berbeda baik dari segi ritme mengajar, effort yang dikeluarkan dan atmosfer di dalam kelas.  Perbedaan suasana ini, bagus untuk menjaga mood, menurutnya.
Jadi Relawan Kelas Inspirasi
Tahun berikutnya dia mencoba untuk menekuni hobi lama yang sudah lama ditinggalkan. Ya, menulis. Dengan menggunakan media blog, menulis dijadkannya sebagai katarsis untuk tetap bisa merasa ‘waras’ dengan tuntutan kehidupan. Sejalan dengan itu dia lalu mencoba kegiatan berkomunitas. Bersama-sama dengan rekan-rekan Komunitas Sumbar Peduli ASI, akhirnya dia juga ikut membidani kelahiran AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Cabang Sumatera Barat. 

Empowering herself and people around her. Saat – saat itulah dia sudah merasa bahwa hidupnya sudah seimbang. Kehidupan domestik sebagai seorang isteri dan ibu, telah dengan baik  berjalan beriringan dengan kehidupan sosialnya sebagai seorang Lactivist. Memperluas pergaulan, menambah jaringan dan peningkatan kapabilitas diri, adalah manfaat yang telah dia rasakan dengan berkomunitas.

“Saya sudah menemukan life path yang ingin saya isi sebagai cara kebermanfaatan saya bagi masyarakat. The more you give on … the more you get in,” jelasnya 







Tapi kebahagiannya tak lama. Setelah menemukan benjolan di payudara kanan, dan vonis kanker payudara akhirnya membuatnya jatuh menjadi seorang pesakitan. Dia ternganga akan kenyataan baru kehidupan ini.

"Apa yang salah dari diriku? Kenapa harus aku yang mengalaminya? Kenapa tidak perempuan lain?" Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering dia ajukan pada dirinya. Yang hingga kini pun dia tidak pernah mendapatkan jawabannya.

Seorang sahabatnya mengingatkan. "Mungkin Tuhan sedang menguji. Mungkin Tuhan sedang menegurmu. Maka adukanlah semuanya pada-Nya,"

Tapi dia malu. Dia hanya datang pada saat dia butuh. Dia tidak pernah benar-benar menginginkan-Nya selama ini.

Lalu dia terjatuh dalam tafakur yang panjang.

Ya Allah Ya Tuhan, maafkan aku yang selama ini telah melalaikanMu
Aku terlalu sibuk dengan duniaku, Tuhan

Jangankan puasa sunat, kewajiban mengganti puasa wajib baru habis kutunaikan ketika Ramadhan hampir datang
Jangankan mengerti arti dari KalamMu, membaca Al-Quran satu-dua halaman tidak tiap hari kutunaikan.
Bahkan hafalan surat-surat pendekku tak pernah kutambah sejak kecil dulu.”
Ya Allah, Ya Tuhan
Bahkan dalam kesibukanku aku lupa berniat bahwa sesungguhnya segala kehidupan sebagai khilafah di dunia ini semata-mata sebagai jalan untuk mengabdi kepadaMu
Tak pernah sekalipun aku berniat karena-Mu ketika aku mengajar mahasiswaku
Tak pernah sekalipun aku berniat karena-Mu ketika aku melakukan penelitian
Tak pernah sekalipun aku berniat karena-Mu ketika aku mengabdi kepada masyarakat
Bahkan tak pernah sekalipun aku berniat karena-Mu ketika aku mendidik anak-anakku, Ya Tuhan.
Ya Allah, Ya Tuhan tolong luruskan niatku.

 Ya Allah, Ya Tuhan
Aku terima segala ujian-Mu
Aku terima segala teguran-Mu
Berikanlah aku kesabaran, Ya Tuhan
Dampingi aku dalam menjalankan segala ikhtiarku, Ya Tuhan.
Ya Tuhanku, Maafkanlah aku yang dulu masih terlalu sibuk dengan duniaku.”
 Merekalah, sumber kekuatan!
 





Operasi Mastektomi (pengangkatan jaringan payudara) sudah membuatnya berbeda dengan perempuan-perempuan lain. Tapi dia tidak pernah merasa malu dengan keadaannya. Bahkan untuk bepergianpun, dia tetap membiarkan satu sisi bra-nya kosong.

"Saya memilih tidak memakai busa pengisi. Biarkan saja dada ini tidak rata. Biar dijadikan sebagai perwujudan breast cancer awareness buat perempuan lain," ujarnya.

Tapi memang operasi Mastektomi dan treatment kanker yang dia jalani, telah membuat umur biologisnya melampaui umur kronologisnya.

Bermacam efek samping operasi dan pengobatan telah nyata-nyata membuatnya bukan lagi pada usia kronologis 38 tahun. Kemunduran short term memory, yang kemungkinan karena bius operasi, tidak serta merta membuatnya down.

Dia hanya tertawa, saat bercerita kalau kuah gulai yang dia panaskan, habis dan hangus di wajan karena saat yang bersamaan sedang menemani anaknya belajar. Dia hanya tersenyum simpul saat bercerita, bertemu mantan mahasiswanya di suatu toko, lalu tiba-tiba dia lupa namanya. Padahal mereka dulu akrab sekali. Sayangnya dia ingat nama mahasiswa tersebut di rumah, yang membuat percakapan pertemuan tersebut tidak berkembang baik dan jauh dari kata akrab.

Dia sangat bersyukur memiliki suami yang tidak mempedulikan kulit wajahnya yang tak lagi kencang. Dia cukup terhibur saat mendapati gurat-gurat ketuaan di bawah matanya, suaminya menegaskan," Apapun kondisi Mami, Mami tetap yang tercantik buat Abang."

Ya, semua itu dikarenakan obat Tamoxifen yang akan dikonsumsinya hingga sepuluh tahun ke depan, sebagai salah satu cara agar sel kanker tidak tumbuh kembali. Obat tersebut sudah memblokir produksi hormon estrogen dan progesteron, hingga membuatnya sudah menopouse dini di usia yang masih relatif muda.

"Fokus dengan kelebihan kita," ceritanya.  "Masih banyak sisi-sisi lain yang perlu di eksplore untuk mengisi kehidupan sebagai umat manusia. Letting go does not mean you lose. Jangan pernah menangisi apa yang telah hilang dalam hidup. Tapi temukanlah arti hidupmu dengan cara yang kamu bisa raih."








Dia bersyukur telah mengalami ini semua. Kedewasaan dan kematangannya sebagai seorang perempuan bukanlah suatu keniscayaan. Kedewasaan dan kematangan hidup tidak datang dengan sendirinya. Ada banyak airmata, pengorbanan, keringat lelah di pipi yang mengiringi perjuangan diri.

"Tapi begitu kita survive, kita akan naik tingkat. Kita yang sekarang jauh lebih tangguh dari kita yang dulu. Kita yang sekarang, jauh lebih bijak dari kita yang dulu." pungkasnya.

Lalu dengan cara apa dia meningkatkan kualitas hidupnya?

"Optimize your strength and minimize your weaknesses,"akunya. "Foto dibawah sangat mewakili hidup saya saat ini."


Inilah sepuluh cara menciptakan masa depan yang bahagia versinya. Bahwa apa yang telah terjadi dalam hidup haruslah senantiasa disyukuri. Meyakini bahwa setiap kisah memendam hikmah yang akan muncul kemudian. Jadi perbanyak sabar, usaha dan doa.

Sambil tetap aktif berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar dan masyarakat dengan edukasi kanker melalui media blog, sosoknya telah dipilih sebagai salah satu perempuan inspiratif oleh media lokal. Telah nyata-nyata dia rasakan, bahwa dengan memberi sesungguhnya dia juga menolong dirinya sendiri. Karena di dalam fitrah manusia, memberi adalah sebuah kebutuhan yang melahirkan rasa syukur dengan hilirisasi sebuah kebahagian.

Disamping itu, menurutnya traveling adalah obat mujarab pembunuh kejenuhan. Dia merasakan, traveling ampuh untuk menjaga mood dan me-refresh kembali pikiran dan semangat yang mulai mengendor. Tak perlu untuk bepergian jauh menurutnya. Sesekali menyempatkan pergi ke tempat-tempat baru, ke event-event baru akan memperkaya khazanah kebatinan jelasnya.

Baginya, traveling bukanlah melulu mengenai masalah destinasi, melainkan sebuah journey atau perjalanan yang cerita/kisahnya akan selalu baru. Perkenalan dengan orang-orang baru, tempat-tempat baru, telah nyata-nyata menghilangkan hormon stress. Karena menurutnya, manusia selalu membutuhkan hal-hal baru untuk membuat hidupnya tidak stagnan.

Traveling itu candu!
Dia menyadari, ketiadaan produksi hormon estrogen dan progesteran dalam tubuhnya, membutuhkan sebuah penyiasatan agar usia biologisnya tidak terlalu jauh meninggalkan usia kronologisnya. Untuk itu dia berusaha untuk selalu memperbaiki pola hidup agar menuju hidup yang lebih sehat. Olahraga yang teratur, merupakan sebuah tantangan yang mesti dia taklukkan ditengah kesibukan domestik dan sosialnya. Menjaga asupan makanan agar selalu memaksimalkan konsumsi buah dan sayuran segar, dengan harapan suplai kolagen untuk tubuh dan wajahnyanya senantiasa terjaga.

Karena bagaimanapun dia adalah seorang perempuan. Kecantikan badaniah dan batiniah merupakan idaman setiap perempuan dari dulu hingga akhir zaman. Kulit wajah yang mulai kendor. Kantong mata yang mulai turun. Garis-garis ketuaan sudah mulai terlihat, seakan-akan membatasi seorang perempuan untuk terus mengapresiasi pencapaian dirinya. Dia menyadari bahwa ketuaan tidak bisa dilawan. Menua itu pasti, tapi perawatan diri bisa memitigasi. Dia mempercayakan L'OREAL Revitalift untuk perawatan diri pada #usiacantiknya.


Kandungan bahan alami dalam Revitalift Dermalift dari L'oreal Paris diyakini mampu membuat perempuan tampil lebih segar dan memperbaharui struktur kulit wajah. Kandungan tanaman Centella Asiatica, Pro-Retinol A dan Dermalift Technology dapat mengurangi kerutan sebanyak 27% dan meningkatkan kekencangan sebanyak 35% di 8 (delapan) zona utama wajah yaitu meliputi: dahi, diantara alis, kontur mata, kerutan ujung luar mata, pipi, garis senyum, rahang serta leher. Sebuah upaya untuk memaksimalkan perawatan tubuh dan wajah. 

Ada banyak peluang untuk membuat hidup bahagia. Ada banyak cara untuk membuat hidup lebih bahagia. Semakin dewasa pertambahan usia, semakin panjang jalan hidup yang telah ditempuh, semakin banyak suka duka yang dirasakan, seiring berjalannya waktu hidup akan terasa semakin indah dan cantik.

Dia berpendapat itulah jalan menuju hidup yang berkualitas. Hidup yang berkualitas tidak selalu diartikan dengan sebuah kemapanan. Namun hidup berkualitas pasti dibentuk dari suatu totalitas yang berujung pencapaian. Kedewasaan dan kematangan adalah pilar untuk membuat perjalanan kehidupan semakin indah.

Dan dia menilai hidup akan lebih bermakna jika dia sudah bermanfaat bagi lingkungan terdekat dan masyarakat luas.

Dia itu....Aku.

***
 Blog competition ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L'OREAL Paris
Read More

#WeTalkAboutCancer : JanganTakut Melakukan Mastektomi!

Mata ini tiba-tiba membuka dengan sendirinya. Sepintas cahaya dari bola lampu yang terletak tepat beberapa meter diatas, terasa sedikit menyilaukan. Sadar akan keberadaan saya dimana hati ini langsung berucap, “Alhamdulillah Ya Allah, Engkau masih memberiku kesempatan untuk meneruskan hidup ini.

Baca Juga Indah Nuria Savitri : Apa Itu Mastektomi

Panggilan itu Akhirnya Datang

“Kak, kita ke ruang OK (baca : oka) ya. Kakak sudah dipanggil. Silahkan mengganti baju dengan baju operasi dan semua perhiasan juga dilepas.”


Akhirnya tepat jam 12.00 malam, panggilan menuju ruang operasi itu akhirnya datang juga. Di satu sisi lega, karena menunggu sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan itu tidaklah enak. Namun saya juga tidak bisa membohongi diri, bahwa ada perasaan lega begitu kepastian  itu diberikan. Dada saya bergemuruh karena ini merupakan kali pertama menuju meja operasi.

Saya memakai baju operasi dengan cepat. Menoleh sekilas ke arah payudara, saat-saat akan berpisah dengan payudara kanan akan segera tiba. Saya tidak ingin berlama-lama karena ini hanya membuat mental cengeng.

“Ya Allah, kuatkan saya. Jadikanlah ini sebagai jalan awal menuju keterbebasan saya. Ridhailah Ya Allah.”
Saya berpamitan dengan papa dan beberapa saudara yang datang menunggu. Suami dan anak-anak memang tidak saya izinkan datang karena saya takut tidak kuat untuk meninggalkan mereka.Ternyata satpam sudah menunggu dengan membawa kursi dorong. Karena sudah disediakan saya gunakan saja kursi dorong tersebut. Bisa aja ditolak, tapi bukan saat yang tepat untuk menunjukkan jumawa pribadi.
Saya menunduk dalam selama perjalanan menuju ruang OK. Dengan khidmat saya ‘menikmati’ sekali saat-saat itu. Saat-saat dimana bahwa jiwa mengakui akan ketidakberdayaan raga.

Kepala saya baru terangkat ketika pintu ruang operasi sudah di depan mata. “Bismillah, mudah dan lancarkanlah Ya Allah.”
Ruang Operasi
Ruang Operasi


Pemandangan dari ruang yang lapang menyambut saya. Dr. Daan Khamri, Sp.B(Onk) yang akan mengoperasi saya terlihat sedang duduk mempelajari rekam medis saya. Ternyata ruang operasi tidak melulu berisi sebuah kamar tempat operasi dilakukan, namun juga terdapat ruangan lain yang memiliki fungsi yang berbeda.

Saya diarahkan menuju ruang transisi yang berfungsi untuk menunggu giliran. Hanya terdapat berapa buah tempat tidur single dan satu buah televisi untuk membunuh waktu menunggu. Karena tidak ada aktivitas lain yang bisa dikerjakan, pastinya gak boleh bawa gadget, saya tiduran sambil nonton tv. Lalu Dr Daan menghampiri saya,” Kita menunggu sebentar ya, Bu. Masih ada pasien lain yang sedang dioperasi. Ibu sudah siap untuk dioperasikan?”

“Insya Allah siap, Dok.”

Sepuluh menit, lima belas menit berlalu. Dan saya masih menunggu. Beruntung selimut tebal disediakan untuk melawan rasa dinginnya ruang operasi. Saya bosan menonton karena rasanya otak juga sudah tidak bisa lagi menangkap tontonan yang disungguhkan. Untuk menenangkan diri, saya memejamkan mata sambil berzikir, melafalkan doa doa yang masih teringat.

Kadang-kadang saya terjatuh dalam tidur yang tidak nyenyak. Terbangun tiba-tiba dan saya masih di ruangan yang sama dengan televisi yang masih menyala. Sesekala perawat lalu lalang di depan saya. Jam sudah menunjukkan pukul 01:00 dinihari. Dan saya masih menunggu giliran.

Seperti saya bilang di atas, menunggu sesuatu yang tidak diinginkan sangat tidak enak. Kadang-kadang muncul pikiran aneh di kepala. “ Gimana kalau saya kabur ya? Bagaimana reaksi dokter disini? Tapi saya mau lari kemana?”

Tapi itu tidak pernah terjadi. Dan mendekati pukul 01:30 dinihari, seorang perawat mendatangi saya dan mengucapkan sesuatu yang sudah saya tunggu-tunggu lama.

“ Mari masuk, Bu. Kita pindah ke kamar operasi sekarang.”

Saya sudah tidak ingat kata-kata persisnya. Tapi demi Allah saya lega sekali. Memperpanjang waktu tunggu,  pada prinsipnya memperpanjang waktu resah dan pasti memperpanjang waktu saya puasa juga. Sudah tahu ya, untuk operasi kita harus puasa makan dan minum 6 jam sebelum operasi. Dan ini sudah diperpanjang hampir 3 jam lebih dari jam 22 waktu operasi yang direncanakan untuk saya.

Begitu masuk ke kamar operasi, saya langsung disuruh berbaring. Ranjang operasi ternyata beralas dari terbal dan tanpa bantal. “Bajunya tolong dibuka ya, Bu.” Ujar perawat tersebut. Ya Tuhan, operasi ini benar-benar membuat jiwa dan raga bukan milik kita lagi. Bahkan untuk urusan memakai baju saja, sudah diatur sedemikian rupa.

Tapi memang kamar operasi ini dinginnya teramat dingin. Baju yang sudah dibuka untuk menutupi aurat sekedarnya pun tak bisa melawan. Saya meringkuk dalam posisi tidur. Gemetaran sekali. Tim operasi masih mempersiapkan segala sesuatunya di belakang saya. Hebat ya mereka, masih fit di waktu yang sudah menginjak dua per tiga malam dan dalam bulan puasa. “Wah sahur disini lagi kita.” Begitu terdengar percakapan dari mereka.

Saya hanya bisa menatap besarnya lampu sorot operasi yang nanti sinarnya akan tertuju ke dada saya. Sesekali para perawat berusaha untuk bercakap-cakap menanyakan mengenai penyakit saya.

“Sudah tahu dari kapan, Bu adanya kanker di payudara?”

“Sudah punya anak berapa? Ibu ada menyusui dulu bayinya?”

Catat ya, pertanyaan ini selalu ditanyakan ketika kita terdiagnosis carcinoma mamae.

“Kita pasang peralatan monitor lagi ya, Bu.”

Dua alat menancap di punggung belakang saya. Kemudian dua lagi di pasang di dada kiri dan kanan. Sepertinya alat EKG untuk memonitor jantung. Kemudian terasa satu alat mencengkam pergelangan kaki kiri saya. Saya tidak berani melihat.
Elektroda monitor
Elektroda Monitor


Lalu jarum infus dipasang di pergelangan tangan kiri dan sebuah alat menancap di jari telunjuk kiri. Saya tidak tahu untuk apa fungsinya. Kemudian tak lama perawat tersebut pergi ke arah belakang saya.

Saya menunggu detik demi detik. Ingin tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Saya tahu bahwa infus yang dipasang merupakan anestesi untuk menidurkan saya. Tapi saya ingin tahu bagaimana reaksinya. Lamakah? Apakah saya akan menguap dulu tanda mengantuk? Atau jatuh tertidur tiba-tiba. Otak saya masih berpikir apa yang akan terjadi.

Lama kelamaan akhirnya terasa ada sesuatu, seperti aliran panas, yang mengalir menuju batang otak belakang saya.

“Ya Allah, inikah saatnya? Lindungi saya Ya Allah. Bismillah” saya masih sempat bermunajat.

Dan sesuatu yang ‘menyerang’ otak belakang tersebut, membuat mata saya menjadi berat. Kelopak mata saya intens membuka-menutup. Saya tidak bisa melawannya, sekuat apapun saya mencoba.Rupanya tak jauh di belakang saya, seorang perawat anggota tim operasi, masih tetap berdiri memonitor reaksi yang terjadi. Dia masih memonitor kapan saat yang tepat.

Dan dalam satu gerakan yang cepat yang tertangkap disudut mata kanan saya, hidung saya dibekap oleh sesuatu.

Lalu gelap…saya terjatuh di tidur yang panjang.


*** 

Beberapa hari lalu, beberapa teman di grup FB Komunitas Survivor Kanker Payudara, meng-inbox saya untuk menanyakan pengalaman saya terkait mastektomi. Umumnya menyampaikan bahwa dokter sudah menvonis harus operasi, tapi masih takut untuk melakukannya. Bahkan ada sampai yang bertanya, minum atau makan herbal apa, biar gak perlu operasi.

Nah, disitu poinnya, perlu atau tidak operasi. Pasti dokter punya pertimbangan. Biasanya kalau diameter kecil tumor/kanker tidak perlu sampai mastektomi. Tapi cukup dengan membuang massa tumor/kankernya saja. biasana disebut Lumpektomi. Dan walaupun kalau harus mastektomi, beberapa rumah sakit di luar negeri, sudah ada klinik rekonstruksi payudara. Seperti yang dilakukan mbak Indah Nuria. Tapi mungkin mahal banget biayanya.

Kalau jawabannya sudah harus operasi, lalu, kenapa musti takut? 

Coba kita lakukan analisis kecil-kecilan sebelum anda mengambil kesimpulan. Alternatif pertama, anda tidak bersedia operasi karena takut. Lalu ikhtiar apa yang anda pilih? Minum herbal? Pake metode jaket elektrik? Pertimbangkan bagaimana evidence based-nya. Apakah itu sudah teruji? Telusuri secara mendalam.

Alternatif kedua, anda bersedia operasi. Dokter di seluruh dunia, sudah menerapkan mastektomi dan lumpektomi. Karena ini didasari oleh ilmiah, pasti berdasarkan evidence based tindakan yang diambil. 

Bagaimana kalau diagnosis dokter salah? Makanya sebelum operasi, sebelum diambil keputusan 'radikal' terhadp diri anda terkait dengan penyakit, selalu lakukan Second Opinion kepada dokter dan rumah sakit lain. InsyaAllah keputusan anda semakin bulat dan menambah keyakinan anda terhadap langkah yang akan dipilih.

Apa konsekuensi dari operasi? Payudara anda hilang! 

Gak usah sedih, itu kan cuma aksesoris. Kepercayaan diri anda tidak terletak dari lengkap atau tidak lengkapnya payudara anda.

Tapi, yakinilah, dengan operasi adalah ikhtiar anda untuk membuang pohon penyakit yang ada dalam tubuh anda. Sisa akar-akarnya nanti dokter yang akan menentukan treatment lanjutannya. Ingat lho, sel abnormal kanker membelah diri LIMA KALI LEBIH CEPAT dari sel normal. Jadi anda gak boleh bermain-main dengan waktu.

Supaya anda, yakin dan siap menjalani mastektomi/limpektomi, boleh juga saya share tips singkat dari saya. Pertama, mendekati masa operasi rilekskan pikiran anda. yakinilah ini jalan kesembuhan anda. Tidak perlu membaca sesuatu yang malah membuat anda takut dan ragu.

Kedua, persiapkan kesehetan anda supaya fit. Biasanya akan dilakukan beberapa pengujian seperti HB, tekanan darah sebelum operasi dilakukan.

Ketiga, berserahdirilah kepad Allah SWT. Mohon beri kelancaran dan kesuksesan terhadap operasi yang akan dijalankan.

Yang keempat, karena yang namanya operasi, walaupun keciiiil tapi selalu ada resiko. Resiko paling fatal, adalah anda meninggal karena/tatkala operasi. Jadi anda perlu mempersiapkan diri. Mohon ampunlah atas segala dosa yang pernah dilakukan, kepada orangtua, kepada suami dll. 

Rasanya itu aja tips dari saya. 

Gimana setelah membaca ini, moga anda jangan takut lagi ya untuk melakukan mastektomi. Kan anda dibius, jadi gak akan terasa sakitnya. Semangat !

***



Read More

Mau Belanja Online Sesuai Syariah? Ke Muslimarket Aja

(pixabay.com)

Online Market Sudah Sesuai Syariah?

Hei…Harbolnas datang lagi. Tahu tidak Harbolnas pertama kali diselenggarakan pada tahun 2012 oleh tujuh e-commerce yaitu Lazada, Zalora, BerryBenka, PinkEmma, Bilna, Traveloka dan Luxola. Harbolnas tahun 2013 diikuti oleh 22 e-commerce, kemudian 78 e-commerce di tahun 2014 dan 140 e-commerce di tahun 2015. Dan tahun ini tema yang diusung Harbolnas adalah meningkatkan pengalaman konsumen.
Nah, berbicara pengalaman belanja melalui momen Harbolnas, saya teringat tahun kemarin. Memang Harbolnas menjanjikan harga miring. Siapa yang tidak akan tergoda?

Termasuk saya. Jadi tahun lalu itu ada dua item yang saya beli. Yakni kamera digital dan baju muslim. Nah begitu nyampai di rumah, ternyata bajunya buntung dan kainnya tipis-terawang. Terpaksalah beli baju manset dan menambah pooring.
Ini Penampakan Bajunya

Mungkin kamu bertanya, “kok bisa gitu ya.” Yak arena memang tidak ada informasi yang jelas. Kalau baju/dress biasanya informasi yang disajikan adalah ukuran baju, jenis kain dan sebagainya. Nah dalam kasus saya, tidak disebutkan bahwa baju yang dijual terdiri dari dua bagian, luaran dan dalamnya. Karena fotonya nyaris tidak memperlihatkan.

Menurut kamu, kasus saya termasuk menipu atau tidak? Padahal Islam jelas-jelas mengatur tentang perniagaan yang sesuai dengan syariah. Seluruh aktivitas atau praktek bisnis (ekonomi) di pasar yang berpeluang munculnya ketidakadilan, persaingan tidak sehat, kecurangan dan ketidakseimbangan informasi (asimetric information) dilarang.

Muslimarket.com, Pasar Halal Terlengkap 

 Nah berbicara asimetric information, ini banyak sekali dilakukan di gerai-gerai toko serba ada. Terkadang informasi yang dibuat disusun secara sistematis, sehingga membuat konsumen terjebak opini masing-masing.
Ini contohnya.


Tapi, jangan khawatir, sekarang di Indonesia telah ada pasar online halal terbesar. Jadi disana kamu bisa beli apa aja kebutuhanmu sebagai seorang muslim dan muslimah. Dan perlu dicatat Muslimarket.com amat jauh dari praktek bisnis yang curang, dan tidak menerapkan asimetric information.

Disini kamu bisa belanja fashion, perabotan rumah tangga, kebutuhan anak dan bayi dan pastinya kebutuhan kamu untuk beribadah. Misalnya, kamu lagi butuh sajadah unik yang motifnya tidak pasaran. Ini dia saya kasih contoh. Motifnya cocok buat kamu yang berjiwa muda. Bagi yang ingin lihat-lihat motif lain, sila di-klik.

Disamping itu kalau kita belanja di Muslimarket.com, kamu akan merasakan hal yang berbeda dengan situs-situs belanja online lainnya. Apa itu?
1. Kamu bisa langsung chat dengan adminnya. Tanya-tanya terkait item yang kamu beli. Mbak Rachma adminnya akan langsung merespon setiap pertanyaanmu.

2. Belanja di Muslimmarket.com jangan khawatir dengan ongkos kirim. Karena terkadang belanja online mahal di ongkir. Muslimarket.com menawarkan free ongkos kirim ke seluruh Indonesia, dengan syarat minimal pembelian Rp. 100.000,- Murah banget kan?

3. Nah biar kamu gak salah asumsi dengan produk yang dijual, di Muslimarket.com menyediakan fasilitas Zoom pada foto produknya. Jadi bisa menambah keyakinan kamu.

Foto produk yang sedang di-zoom


So, ayo buruan nikmati kesempatan berbelanja hemat dalam event Harbolnas.

**AV**



Read More

Pada Sebuah Kapal : Sekelumit Kisah Kehidupan Nelayan Tradisional


Kapal, nelayan, tradisional,kehidupan,

Pada Sebuah Kapal : Sekelumit Kisah Kehidupan Nelayan Tradisional - Minggu kemarin saya sekeluarga 'jalan-jalan' ke Pasir Jambak - Padang. Niatan awalnya adalah untuk membeli ikan segar. Di Pasir Jambak ini terdapat pantai yang juga sekaligus berfungsi sebagai tempat penampungan ikan dari kapal-kapal nelayan sehingga ikan-ikannya dijamin segar dan baru, apalagi harganya relatif lebih murah dibanding dengan harga ikan di pasar-pasar tradisional.

Namun hari itu saya belum beruntung. Sama sekali tidak ada cumi dan udang, sedangkan ikan jenis lain suami kurang sreg karena sering mengalami alergi kalau memakannya. Akhirnya kami balik kanan gerak. Karena hari sudah lumayan siang, dan juga perut sudah minta diisi, akhirnya kami meluncur ke Rumah Makan MakPuk, yang tempatnya tidak jauh dari pasar ikan Pasir Jambak.

View Ke laut Lepas dari Dalam Saung
View Ke laut Lepas dari Dalam Saung
Yang enak dari rumah makan Mak Puk ini, selain rasa masakannya tentunya, adalah pemandangan ke laut lepas yang mengasyikkan. Jajaran pulau-pulau kecil di Samudera Hindia dan sekelompok kapal-kapal penangkap ikan yang melego jangkarnya di tengah laut di sisi yang bersebelahan. Deburan ombak yang tidak begitu kencang ditambah dengan semilir hembusan angin laut, sungguh makan siang yang sempurna kenikmatannya.

Nun jauh di laut lepas, terlihat setitik bayangan, sesuatu benda yang tengah bergerak cepat. Semakin lama semakin tampak wujudnya, semakin lama semakin dekat menghampiri pantai. Adalah sebuah kapal nelayan yang baru pulang sehabis dari tugasnya.
Kapal baru saja 'Landing'

 Anak-anak heboh sekali. Jarang-jarang melihat kapal nelayan secara dekat. Tapi kegebohan anak-anak tidak berhenti dengan berhentinya mesin kapal di tepian laut. Ternyata masih ada aktivitas berikutnya dari para nelayan yang datang, yakni membawa kapal ke darat.

Beberapa nelayan yang tidak melaut datang mendekat dan segera meletakkan beberapa balok kayo sebagai landasan kapal dibawa naik ke darat.

"Ciek, duo, tigo."

Dengan satu kali aba-aba tersebut, dorongan dari sekitar sepuluh nelayan pada balok keseimbangan kapal, sukses membawa kapal bergeser beberapa meter ke arah darat.

Sekalia lagi, "ciek, duo, tigo."

Dalam sepuluh menit, akhirnya kapal berhasil di bawa ke darat.

Sepenuhnya 'Landing' di Atas Tiga Bilah Balok Tumpuan

  Kok di bawa naik, Mi?" tanya salah satu si kembar. Anak kecil memang belum mengerti kalau kapal bisa hanyut terbawa ombak kalau dibiarkan berada di pinggir laut tanpa ada tambatannya.

"Berangkat jam berapa tadi, Pak?" tanya saya.

"Jam enam." jawab salah satu nelayan.

Sungguh saya sangat antusias melihat perjuangan para nelayan tersebut. Jam enam sudah berangkat melaut, selama hampir lima jam melaut untuk mencari nafkah menghidupi keluarga. Dan kira-kira berapa hasil yang didapatkan selama lima jam tersebut? Coba kita lihat bersama-sama melalui gambar di bawah.


 Hari itu, cuma tiga bakul/ketengan yang menjadi rejeki para nelayan itu dalam sebuah perjuangan di laut selama lima jam.

"Sedang ga musimnya, dik." penjelasan bapak nelayan. Ikannya pun kecil-kecil, alias bada kalau orang minang bilang.

"Memang apa tandanya Pak, kalau sedang musim ikan."

"Ikannya nanti muncul sendiri bergerombol di dekat permukaan laut." jelas si Bapak.

Walaupun sedikit, tak terlihat wajah wajah letih dan mengeluh dari mereka. Lima jam perjuangan di laut, dimulai dari menabur jaring, lalu menunggunya beberapa saat berharap akan ikan banyak didapat, kemudian jaring ditarik bersama-sama. Kegiatan tidak berhenti disitu. Kemudian ikan yang di dapat, diambil dari jaring dan di kelompokkan menurut jenisnya hingga kemudian jaring ditebar lagi.

Tapi seperti yang saya sebutkan di atas, cuma tiga bakul yang menjadi rejeki mereka kala itu, dan hasil penjualan tersebut nantinya akan dibagi sepuluh jumlah nelayan yang berangkat melaut. Tentunya setelah dikeluarkan uang sewa kapal kepada pemilik kapal dan biaya bensin sebanyak 25 liter konsumsi mesin untuk perjalanan kapal hari itu. Dan alhamdulillah tak menunggu lama, akhirnya datang pembeli yang langsung memborong semua hasil tangkapan mereka hari itu.

Sungguh bagi mereka, para nelayan, adalah suatu nikmat ketika peluh masih berada di badan, ketika nafas masih berembus kencang akibat jantung yang memompa cepat, di bayar dengan seonggok uang yang berada di tangan.

**AV**
Read More