Laman

#WeTalkAboutCancer : JanganTakut Melakukan Mastektomi!

Mata ini tiba-tiba membuka dengan sendirinya. Sepintas cahaya dari bola lampu yang terletak tepat beberapa meter diatas, terasa sedikit menyilaukan. Sadar akan keberadaan saya dimana hati ini langsung berucap, “Alhamdulillah Ya Allah, Engkau masih memberiku kesempatan untuk meneruskan hidup ini.

Baca Juga Indah Nuria Savitri : Apa Itu Mastektomi

Panggilan itu Akhirnya Datang

“Kak, kita ke ruang OK (baca : oka) ya. Kakak sudah dipanggil. Silahkan mengganti baju dengan baju operasi dan semua perhiasan juga dilepas.”


Akhirnya tepat jam 12.00 malam, panggilan menuju ruang operasi itu akhirnya datang juga. Di satu sisi lega, karena menunggu sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan itu tidaklah enak. Namun saya juga tidak bisa membohongi diri, bahwa ada perasaan lega begitu kepastian  itu diberikan. Dada saya bergemuruh karena ini merupakan kali pertama menuju meja operasi.

Saya memakai baju operasi dengan cepat. Menoleh sekilas ke arah payudara, saat-saat akan berpisah dengan payudara kanan akan segera tiba. Saya tidak ingin berlama-lama karena ini hanya membuat mental cengeng.

“Ya Allah, kuatkan saya. Jadikanlah ini sebagai jalan awal menuju keterbebasan saya. Ridhailah Ya Allah.”
Saya berpamitan dengan papa dan beberapa saudara yang datang menunggu. Suami dan anak-anak memang tidak saya izinkan datang karena saya takut tidak kuat untuk meninggalkan mereka.Ternyata satpam sudah menunggu dengan membawa kursi dorong. Karena sudah disediakan saya gunakan saja kursi dorong tersebut. Bisa aja ditolak, tapi bukan saat yang tepat untuk menunjukkan jumawa pribadi.
Saya menunduk dalam selama perjalanan menuju ruang OK. Dengan khidmat saya ‘menikmati’ sekali saat-saat itu. Saat-saat dimana bahwa jiwa mengakui akan ketidakberdayaan raga.

Kepala saya baru terangkat ketika pintu ruang operasi sudah di depan mata. “Bismillah, mudah dan lancarkanlah Ya Allah.”
Ruang Operasi
Ruang Operasi


Pemandangan dari ruang yang lapang menyambut saya. Dr. Daan Khamri, Sp.B(Onk) yang akan mengoperasi saya terlihat sedang duduk mempelajari rekam medis saya. Ternyata ruang operasi tidak melulu berisi sebuah kamar tempat operasi dilakukan, namun juga terdapat ruangan lain yang memiliki fungsi yang berbeda.

Saya diarahkan menuju ruang transisi yang berfungsi untuk menunggu giliran. Hanya terdapat berapa buah tempat tidur single dan satu buah televisi untuk membunuh waktu menunggu. Karena tidak ada aktivitas lain yang bisa dikerjakan, pastinya gak boleh bawa gadget, saya tiduran sambil nonton tv. Lalu Dr Daan menghampiri saya,” Kita menunggu sebentar ya, Bu. Masih ada pasien lain yang sedang dioperasi. Ibu sudah siap untuk dioperasikan?”

“Insya Allah siap, Dok.”

Sepuluh menit, lima belas menit berlalu. Dan saya masih menunggu. Beruntung selimut tebal disediakan untuk melawan rasa dinginnya ruang operasi. Saya bosan menonton karena rasanya otak juga sudah tidak bisa lagi menangkap tontonan yang disungguhkan. Untuk menenangkan diri, saya memejamkan mata sambil berzikir, melafalkan doa doa yang masih teringat.

Kadang-kadang saya terjatuh dalam tidur yang tidak nyenyak. Terbangun tiba-tiba dan saya masih di ruangan yang sama dengan televisi yang masih menyala. Sesekala perawat lalu lalang di depan saya. Jam sudah menunjukkan pukul 01:00 dinihari. Dan saya masih menunggu giliran.

Seperti saya bilang di atas, menunggu sesuatu yang tidak diinginkan sangat tidak enak. Kadang-kadang muncul pikiran aneh di kepala. “ Gimana kalau saya kabur ya? Bagaimana reaksi dokter disini? Tapi saya mau lari kemana?”

Tapi itu tidak pernah terjadi. Dan mendekati pukul 01:30 dinihari, seorang perawat mendatangi saya dan mengucapkan sesuatu yang sudah saya tunggu-tunggu lama.

“ Mari masuk, Bu. Kita pindah ke kamar operasi sekarang.”

Saya sudah tidak ingat kata-kata persisnya. Tapi demi Allah saya lega sekali. Memperpanjang waktu tunggu,  pada prinsipnya memperpanjang waktu resah dan pasti memperpanjang waktu saya puasa juga. Sudah tahu ya, untuk operasi kita harus puasa makan dan minum 6 jam sebelum operasi. Dan ini sudah diperpanjang hampir 3 jam lebih dari jam 22 waktu operasi yang direncanakan untuk saya.

Begitu masuk ke kamar operasi, saya langsung disuruh berbaring. Ranjang operasi ternyata beralas dari terbal dan tanpa bantal. “Bajunya tolong dibuka ya, Bu.” Ujar perawat tersebut. Ya Tuhan, operasi ini benar-benar membuat jiwa dan raga bukan milik kita lagi. Bahkan untuk urusan memakai baju saja, sudah diatur sedemikian rupa.

Tapi memang kamar operasi ini dinginnya teramat dingin. Baju yang sudah dibuka untuk menutupi aurat sekedarnya pun tak bisa melawan. Saya meringkuk dalam posisi tidur. Gemetaran sekali. Tim operasi masih mempersiapkan segala sesuatunya di belakang saya. Hebat ya mereka, masih fit di waktu yang sudah menginjak dua per tiga malam dan dalam bulan puasa. “Wah sahur disini lagi kita.” Begitu terdengar percakapan dari mereka.

Saya hanya bisa menatap besarnya lampu sorot operasi yang nanti sinarnya akan tertuju ke dada saya. Sesekali para perawat berusaha untuk bercakap-cakap menanyakan mengenai penyakit saya.

“Sudah tahu dari kapan, Bu adanya kanker di payudara?”

“Sudah punya anak berapa? Ibu ada menyusui dulu bayinya?”

Catat ya, pertanyaan ini selalu ditanyakan ketika kita terdiagnosis carcinoma mamae.

“Kita pasang peralatan monitor lagi ya, Bu.”

Dua alat menancap di punggung belakang saya. Kemudian dua lagi di pasang di dada kiri dan kanan. Sepertinya alat EKG untuk memonitor jantung. Kemudian terasa satu alat mencengkam pergelangan kaki kiri saya. Saya tidak berani melihat.
Elektroda monitor
Elektroda Monitor


Lalu jarum infus dipasang di pergelangan tangan kiri dan sebuah alat menancap di jari telunjuk kiri. Saya tidak tahu untuk apa fungsinya. Kemudian tak lama perawat tersebut pergi ke arah belakang saya.

Saya menunggu detik demi detik. Ingin tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Saya tahu bahwa infus yang dipasang merupakan anestesi untuk menidurkan saya. Tapi saya ingin tahu bagaimana reaksinya. Lamakah? Apakah saya akan menguap dulu tanda mengantuk? Atau jatuh tertidur tiba-tiba. Otak saya masih berpikir apa yang akan terjadi.

Lama kelamaan akhirnya terasa ada sesuatu, seperti aliran panas, yang mengalir menuju batang otak belakang saya.

“Ya Allah, inikah saatnya? Lindungi saya Ya Allah. Bismillah” saya masih sempat bermunajat.

Dan sesuatu yang ‘menyerang’ otak belakang tersebut, membuat mata saya menjadi berat. Kelopak mata saya intens membuka-menutup. Saya tidak bisa melawannya, sekuat apapun saya mencoba.Rupanya tak jauh di belakang saya, seorang perawat anggota tim operasi, masih tetap berdiri memonitor reaksi yang terjadi. Dia masih memonitor kapan saat yang tepat.

Dan dalam satu gerakan yang cepat yang tertangkap disudut mata kanan saya, hidung saya dibekap oleh sesuatu.

Lalu gelap…saya terjatuh di tidur yang panjang.


*** 

Beberapa hari lalu, beberapa teman di grup FB Komunitas Survivor Kanker Payudara, meng-inbox saya untuk menanyakan pengalaman saya terkait mastektomi. Umumnya menyampaikan bahwa dokter sudah menvonis harus operasi, tapi masih takut untuk melakukannya. Bahkan ada sampai yang bertanya, minum atau makan herbal apa, biar gak perlu operasi.

Nah, disitu poinnya, perlu atau tidak operasi. Pasti dokter punya pertimbangan. Biasanya kalau diameter kecil tumor/kanker tidak perlu sampai mastektomi. Tapi cukup dengan membuang massa tumor/kankernya saja. biasana disebut Lumpektomi. Dan walaupun kalau harus mastektomi, beberapa rumah sakit di luar negeri, sudah ada klinik rekonstruksi payudara. Seperti yang dilakukan mbak Indah Nuria. Tapi mungkin mahal banget biayanya.

Kalau jawabannya sudah harus operasi, lalu, kenapa musti takut? 

Coba kita lakukan analisis kecil-kecilan sebelum anda mengambil kesimpulan. Alternatif pertama, anda tidak bersedia operasi karena takut. Lalu ikhtiar apa yang anda pilih? Minum herbal? Pake metode jaket elektrik? Pertimbangkan bagaimana evidence based-nya. Apakah itu sudah teruji? Telusuri secara mendalam.

Alternatif kedua, anda bersedia operasi. Dokter di seluruh dunia, sudah menerapkan mastektomi dan lumpektomi. Karena ini didasari oleh ilmiah, pasti berdasarkan evidence based tindakan yang diambil. 

Bagaimana kalau diagnosis dokter salah? Makanya sebelum operasi, sebelum diambil keputusan 'radikal' terhadp diri anda terkait dengan penyakit, selalu lakukan Second Opinion kepada dokter dan rumah sakit lain. InsyaAllah keputusan anda semakin bulat dan menambah keyakinan anda terhadap langkah yang akan dipilih.

Apa konsekuensi dari operasi? Payudara anda hilang! 

Gak usah sedih, itu kan cuma aksesoris. Kepercayaan diri anda tidak terletak dari lengkap atau tidak lengkapnya payudara anda.

Tapi, yakinilah, dengan operasi adalah ikhtiar anda untuk membuang pohon penyakit yang ada dalam tubuh anda. Sisa akar-akarnya nanti dokter yang akan menentukan treatment lanjutannya. Ingat lho, sel abnormal kanker membelah diri LIMA KALI LEBIH CEPAT dari sel normal. Jadi anda gak boleh bermain-main dengan waktu.

Supaya anda, yakin dan siap menjalani mastektomi/limpektomi, boleh juga saya share tips singkat dari saya. Pertama, mendekati masa operasi rilekskan pikiran anda. yakinilah ini jalan kesembuhan anda. Tidak perlu membaca sesuatu yang malah membuat anda takut dan ragu.

Kedua, persiapkan kesehetan anda supaya fit. Biasanya akan dilakukan beberapa pengujian seperti HB, tekanan darah sebelum operasi dilakukan.

Ketiga, berserahdirilah kepad Allah SWT. Mohon beri kelancaran dan kesuksesan terhadap operasi yang akan dijalankan.

Yang keempat, karena yang namanya operasi, walaupun keciiiil tapi selalu ada resiko. Resiko paling fatal, adalah anda meninggal karena/tatkala operasi. Jadi anda perlu mempersiapkan diri. Mohon ampunlah atas segala dosa yang pernah dilakukan, kepada orangtua, kepada suami dll. 

Rasanya itu aja tips dari saya. 

Gimana setelah membaca ini, moga anda jangan takut lagi ya untuk melakukan mastektomi. Kan anda dibius, jadi gak akan terasa sakitnya. Semangat !

***



12 komentar:

  1. mbak Yervi sungguh luar biasa.. sehat trs ya mbak..
    Dulu aku sempat mengalami hal itu waktu SMA tapi hanya lingkaran kecil saja mbak, katanya sih itu hanya tumor.. aku baru tau itu namanya Lumpektomi, kirain namanya biopsi

    BalasHapus
  2. Semangat mba..ini pengalaman mba Yervi sendiri ya? Aku punya ibu angkat yg juga diangkat, beliau bilang sambil tersenyum, sudah 50 tahun diberi kepercayaan amanah itu sekarang sudah waktunya ia mengambil miliknya kembali, ahh meleleh bacanya..

    BalasHapus
  3. Haturnuhun mba...sudah berbagi kisah berhikmah.

    Saya kemarin mengalami hal serupa. Bapak operasi.
    Rasanya sediih luar biasa. Karena ikhtiar menggunakan herbal dan lain-lain sudah dilakukan, namun tidak bs mencegah tumbuhnya polip tersebut.

    Semoga Allah memberi kemudahan di setiap kesulitan yaa, mba.
    Aamiin.

    BalasHapus
  4. Mba, terima kasih telah berbagi. Jujur ya, kadnag takut kalau berada si posisi itu dan berharap tak terjadi. Sehat sehat ya mba

    BalasHapus
  5. Subhanallah.... Luar biasa mbak... Menulis dengan runtut dan baik membuat aku ikutan seolah olah jd mbak....


    Thanks for sharing mba

    BalasHapus
  6. Terima kasih sudah berbagi pengalaman. Almh ibu saya kena kanker payudara. Saya dan adik baru dikabari ketika ibu sudah berada di stadium 3 akhir, dan dokter menyerah.
    Memang harus cepat membuat keputusan ya. Karena kanker ini perkembangannya cepat.

    BalasHapus
  7. Subhanallah... Luar biasa sekali kesabaran dan ketegaran hatimu, jdi sedikit terisak baca kisahnya

    BalasHapus
  8. Sehat2 selalu ya, mba. Terima kasih sudah berbagi. Saya jadi tau kalau ada 2 jenis operasinya. Semoga Allah makin sayang sama mba dan keluarga ☺

    BalasHapus
  9. Ga kebayang kalo di posisi itu :( . Tp semoga bisa jd penyemangat utk pasien2 kanker payudara lain ya mbaa...

    BalasHapus
  10. Masyaa allah mbak, kok saya malah kepikiran sami dan anak mbak gimana ya waktu itu. Bringing mbak kuat dan pasti mereka jg selalu menguatkan. Sehat ya mbak.

    BalasHapus
  11. Huhuuu ... kisah yang merinding. Naluri sebagai perempuan memang ada sedikit kekhawatiran akan hal2 yg dimilikinya hilang.
    Makasih Mba Yervi, semoga bisa saling menguatkan ya! Semangat!
    Dan aku pun akan pasrah jika dalam posisi yang sama

    BalasHapus
  12. TFS mba, dari saya yg takut ke dokter..

    BalasHapus