Laman

Pada Sebuah Kapal : Sekelumit Kisah Kehidupan Nelayan Tradisional


Kapal, nelayan, tradisional,kehidupan,

Pada Sebuah Kapal : Sekelumit Kisah Kehidupan Nelayan Tradisional - Minggu kemarin saya sekeluarga 'jalan-jalan' ke Pasir Jambak - Padang. Niatan awalnya adalah untuk membeli ikan segar. Di Pasir Jambak ini terdapat pantai yang juga sekaligus berfungsi sebagai tempat penampungan ikan dari kapal-kapal nelayan sehingga ikan-ikannya dijamin segar dan baru, apalagi harganya relatif lebih murah dibanding dengan harga ikan di pasar-pasar tradisional.

Namun hari itu saya belum beruntung. Sama sekali tidak ada cumi dan udang, sedangkan ikan jenis lain suami kurang sreg karena sering mengalami alergi kalau memakannya. Akhirnya kami balik kanan gerak. Karena hari sudah lumayan siang, dan juga perut sudah minta diisi, akhirnya kami meluncur ke Rumah Makan MakPuk, yang tempatnya tidak jauh dari pasar ikan Pasir Jambak.

View Ke laut Lepas dari Dalam Saung
View Ke laut Lepas dari Dalam Saung
Yang enak dari rumah makan Mak Puk ini, selain rasa masakannya tentunya, adalah pemandangan ke laut lepas yang mengasyikkan. Jajaran pulau-pulau kecil di Samudera Hindia dan sekelompok kapal-kapal penangkap ikan yang melego jangkarnya di tengah laut di sisi yang bersebelahan. Deburan ombak yang tidak begitu kencang ditambah dengan semilir hembusan angin laut, sungguh makan siang yang sempurna kenikmatannya.

Nun jauh di laut lepas, terlihat setitik bayangan, sesuatu benda yang tengah bergerak cepat. Semakin lama semakin tampak wujudnya, semakin lama semakin dekat menghampiri pantai. Adalah sebuah kapal nelayan yang baru pulang sehabis dari tugasnya.
Kapal baru saja 'Landing'

 Anak-anak heboh sekali. Jarang-jarang melihat kapal nelayan secara dekat. Tapi kegebohan anak-anak tidak berhenti dengan berhentinya mesin kapal di tepian laut. Ternyata masih ada aktivitas berikutnya dari para nelayan yang datang, yakni membawa kapal ke darat.

Beberapa nelayan yang tidak melaut datang mendekat dan segera meletakkan beberapa balok kayo sebagai landasan kapal dibawa naik ke darat.

"Ciek, duo, tigo."

Dengan satu kali aba-aba tersebut, dorongan dari sekitar sepuluh nelayan pada balok keseimbangan kapal, sukses membawa kapal bergeser beberapa meter ke arah darat.

Sekalia lagi, "ciek, duo, tigo."

Dalam sepuluh menit, akhirnya kapal berhasil di bawa ke darat.

Sepenuhnya 'Landing' di Atas Tiga Bilah Balok Tumpuan

  Kok di bawa naik, Mi?" tanya salah satu si kembar. Anak kecil memang belum mengerti kalau kapal bisa hanyut terbawa ombak kalau dibiarkan berada di pinggir laut tanpa ada tambatannya.

"Berangkat jam berapa tadi, Pak?" tanya saya.

"Jam enam." jawab salah satu nelayan.

Sungguh saya sangat antusias melihat perjuangan para nelayan tersebut. Jam enam sudah berangkat melaut, selama hampir lima jam melaut untuk mencari nafkah menghidupi keluarga. Dan kira-kira berapa hasil yang didapatkan selama lima jam tersebut? Coba kita lihat bersama-sama melalui gambar di bawah.


 Hari itu, cuma tiga bakul/ketengan yang menjadi rejeki para nelayan itu dalam sebuah perjuangan di laut selama lima jam.

"Sedang ga musimnya, dik." penjelasan bapak nelayan. Ikannya pun kecil-kecil, alias bada kalau orang minang bilang.

"Memang apa tandanya Pak, kalau sedang musim ikan."

"Ikannya nanti muncul sendiri bergerombol di dekat permukaan laut." jelas si Bapak.

Walaupun sedikit, tak terlihat wajah wajah letih dan mengeluh dari mereka. Lima jam perjuangan di laut, dimulai dari menabur jaring, lalu menunggunya beberapa saat berharap akan ikan banyak didapat, kemudian jaring ditarik bersama-sama. Kegiatan tidak berhenti disitu. Kemudian ikan yang di dapat, diambil dari jaring dan di kelompokkan menurut jenisnya hingga kemudian jaring ditebar lagi.

Tapi seperti yang saya sebutkan di atas, cuma tiga bakul yang menjadi rejeki mereka kala itu, dan hasil penjualan tersebut nantinya akan dibagi sepuluh jumlah nelayan yang berangkat melaut. Tentunya setelah dikeluarkan uang sewa kapal kepada pemilik kapal dan biaya bensin sebanyak 25 liter konsumsi mesin untuk perjalanan kapal hari itu. Dan alhamdulillah tak menunggu lama, akhirnya datang pembeli yang langsung memborong semua hasil tangkapan mereka hari itu.

Sungguh bagi mereka, para nelayan, adalah suatu nikmat ketika peluh masih berada di badan, ketika nafas masih berembus kencang akibat jantung yang memompa cepat, di bayar dengan seonggok uang yang berada di tangan.

**AV**

16 komentar:

  1. haruuu....

    Cerita ini sarat makna. Perjuangan seorang ayah, suami. Kebayang susah payahnya mereka menjemput rizki hingga ke tengah lautan sana

    BalasHapus
  2. jadi ingat lagu nenek moyangku seorang pelaut..
    menerjang ombak tiada takut
    menempuh badai sudah biasa

    BalasHapus
  3. pemandangannya sri banget.. alami..., ikannya banyak ya... seger kalo langsung dimasak..

    BalasHapus
  4. Saya sering berfikir, bahwa pahala para nelayan ini besar sekali. Karena dari merekalah kita bisa menikmati hidangan ikan yang nikmat dan lezat.
    Sayangnya, kehidupan mereka yang tidak menentu tidak mendapat perhatian pemerintah. Padahal merekalah yang membuat kita bisa terus makan ikan dengan segudang manfaatnya. Anak2 jadi pintar2 karena ikan2 hasil tangkapan para nelayan ini :(

    BalasHapus
  5. Tetap Semangat Buat Bapak Nelayan Semuanya!! Perjuangan mereka mengarungi lautan belum lagi terkadang hasil yang kurang sesuai membuat saya semangat lagi, agar tidak mudah menyerah dan tetap bersyukur. Subhanallah

    BalasHapus
  6. Terharu...
    Semoga musim ikan segera tiba. Cuaca buruk juga berhenti. Agar para nelayan bisa dapat banyak ikan lagi

    BalasHapus
  7. Paling senang melihat ikan hasil tangkapan nelayan dan kita bebas milih untuk dibawa pulang. Setelah bayar pastinya 😊

    BalasHapus
  8. Nelayan kalau musim angin kuat, susah dapat pemasukan ya mba :(

    BalasHapus
  9. Penghasilan seharian berjuang melawan dingin ombak dan badai untuk anak istri, semoga mereka pak nelayan diberi keberkahan

    BalasHapus
  10. Aku punya saudara jauh nelayan tinggal di pesisir Pacitan. Emang kadang sepi kadang rame. Senengnya kalau rame yang namanya ikan dibagi2 ke saudara2 pas kita ke sana.

    BalasHapus
  11. MasyaAllah perjuangannya yaa mba, semoga rezeki nya barokah dan bertambah kedepannya. Aamiin

    BalasHapus
  12. sungguh indah ya pantai nusantara, tapi jauh banget sampe ke padang hahaha. salut buat para nelayan yang mencari rezekinya sampai di laut sana!

    BalasHapus
  13. Perjuangan banget ya memperoleh uang untuj sesuap nasi

    BalasHapus