Laman

#UsiaCantik : Kala Usia Biologis Tak Lagi Merepresentasikan Usia Kronologismu

Usiacantik, umur biologis, umur kronologis

Lihatlah pada perempuan itu.
Langkah kakinya tak lagi sama dengan langkah kakinya yang dulu.
Sepasang sepatu high heels telah menggantikan flat shoes dalam kesehariannya.
Pada kaki yang sama itu, beribu cerita perjalanan hidup telah ditempuhnya.

Lihatlah pada perempuan itu.
Tatapan matanya tak lagi sama dengan tatapan matanya yang dulu.
Yang senantiasa menatap tajam mahasiswanya di kala ujian.
Kemana matanya yang dulu penuh malu dan takut menghadapi kerumunan mahasiswa senior di tahun awal perkuliahan?
Dua puluh tahun telah meubah semuanya.

Lihatlah pada perempuan itu.
Tubuhnya tak lagi sama dengan tubuhnya yang dulu
Jiwanya tak lagi sama dengan jiwanya dua puluh tahun lalu.
"Kenapa kamu tidak mau masuk organisasi?" tanya keprihatinan dari kedua orangtuanya yang aktivis kampus.
Waktu telah menjawab, bahwa 'kebutuhan' tidak akan sanggup diredam.

***

Hidupnya sebagai wanita dewasa biasa-biasa saja, sebagaimana layaknya wanita lain pada umumnya. Tak lama setelah menamatkan pendidikan pasca sarjana tahun 2005, dia memutuskan untuk menikah. Tidak menunggu lama, tiga bulan setelah menikah, status PNS sebagai dosen di almamater akhirnya berhasil dia raih. Lalu hidupnya dihabiskan dengan bolak balik Padang-Pekanbaru, karena suaminya masih bekerja di lain kota. 

Tiga tahun setelah pernikahan mereka, lahirnya puteri pertama. Tiga tahun berikut lahir lagi anak kedua yang juga kembar. Suaminya juga sudah pindah bekerja di kota yang sama dengan dia. Karirnya sebagai seorang fungsional dosen, walaupun tidak terlalu cemerlang, tapi sudah cukup membanggakan. 

Rasanya tidak ada yang meragukan bahwa dia telah mencapai posisi establish dalam kehidupannya. Karir yang baik dan kehidupan pernikahan yang harmonis dengan anak-anak yang tumbuh sehat.

“Tapi saya tetap merasa ada yang kurang dalam hidup. Terkadang saya malah jenuh dengan kehidupan yang begitu-begitu saja,” akunya.

Lalu, apa yang membuat hidupnya gelisah? 

Fakta menunjukkan bahwa menjalani   “profesi” sebagai ibu bukanlah hal yang mudah. Seperti juga yang diutarakan penulis Rena Puspa sebagai kalimat pembuka bukunya Bahagia Ketika Ikhlas, bahwa banyaknya buku dan artikel yang menulis tema seputar menjadi ibu bahagia, menunjukkan untuk menjadi ibu yang bahagia ternyata tidaklah mudah, sehingga konsep ibu bahagia selalu menjadi tema menarik untuk dibahas.

 “Saya selalu menanyakan, am I happy with my job? Sayangnya saya belum bisa bilang, Yes. Hidup yang terlalu biasa-biasa saja, cenderung monoton.  Saya belum menemukan hakiki kebahagiaan saya yang sebenarnya,” demikian keluh kesahnya

Mari kita lihat teori kebutuhan dasar manusia versi Maslow, dimana berdasarkan teori tersebut, kebutuhan tertinggi manusia adalah aktualisasi diri yang berakar pada konsep diri. Ini dia jawabannya. 

Mungkin dia merasa belum mengaktualisasikan diri sepenuhnya. Mungkin dia merasa belum bermanfaat buat lingkungan sekitarnya. Hidupnya yang dipandang ‘establish’dari persepsi orang lain, ternyata menyimpan kegelisahan yang mendalam.

“Saya mencoba hal-hal baru. Dengan begitu hidup saya lebih terasa berwarna,” katanya. 

Jadilah dia menjadi relawan Kelas Inspirasi. Mengajar mahasiswa dan mengajar pelajar SD ternyata sangat berbeda baik dari segi ritme mengajar, effort yang dikeluarkan dan atmosfer di dalam kelas.  Perbedaan suasana ini, bagus untuk menjaga mood, menurutnya.
Jadi Relawan Kelas Inspirasi
Tahun berikutnya dia mencoba untuk menekuni hobi lama yang sudah lama ditinggalkan. Ya, menulis. Dengan menggunakan media blog, menulis dijadkannya sebagai katarsis untuk tetap bisa merasa ‘waras’ dengan tuntutan kehidupan. Sejalan dengan itu dia lalu mencoba kegiatan berkomunitas. Bersama-sama dengan rekan-rekan Komunitas Sumbar Peduli ASI, akhirnya dia juga ikut membidani kelahiran AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Cabang Sumatera Barat. 

Empowering herself and people around her. Saat – saat itulah dia sudah merasa bahwa hidupnya sudah seimbang. Kehidupan domestik sebagai seorang isteri dan ibu, telah dengan baik  berjalan beriringan dengan kehidupan sosialnya sebagai seorang Lactivist. Memperluas pergaulan, menambah jaringan dan peningkatan kapabilitas diri, adalah manfaat yang telah dia rasakan dengan berkomunitas.

“Saya sudah menemukan life path yang ingin saya isi sebagai cara kebermanfaatan saya bagi masyarakat. The more you give on … the more you get in,” jelasnya 







Tapi kebahagiannya tak lama. Setelah menemukan benjolan di payudara kanan, dan vonis kanker payudara akhirnya membuatnya jatuh menjadi seorang pesakitan. Dia ternganga akan kenyataan baru kehidupan ini.

"Apa yang salah dari diriku? Kenapa harus aku yang mengalaminya? Kenapa tidak perempuan lain?" Itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering dia ajukan pada dirinya. Yang hingga kini pun dia tidak pernah mendapatkan jawabannya.

Seorang sahabatnya mengingatkan. "Mungkin Tuhan sedang menguji. Mungkin Tuhan sedang menegurmu. Maka adukanlah semuanya pada-Nya,"

Tapi dia malu. Dia hanya datang pada saat dia butuh. Dia tidak pernah benar-benar menginginkan-Nya selama ini.

Lalu dia terjatuh dalam tafakur yang panjang.

Ya Allah Ya Tuhan, maafkan aku yang selama ini telah melalaikanMu
Aku terlalu sibuk dengan duniaku, Tuhan

Jangankan puasa sunat, kewajiban mengganti puasa wajib baru habis kutunaikan ketika Ramadhan hampir datang
Jangankan mengerti arti dari KalamMu, membaca Al-Quran satu-dua halaman tidak tiap hari kutunaikan.
Bahkan hafalan surat-surat pendekku tak pernah kutambah sejak kecil dulu.”
Ya Allah, Ya Tuhan
Bahkan dalam kesibukanku aku lupa berniat bahwa sesungguhnya segala kehidupan sebagai khilafah di dunia ini semata-mata sebagai jalan untuk mengabdi kepadaMu
Tak pernah sekalipun aku berniat karena-Mu ketika aku mengajar mahasiswaku
Tak pernah sekalipun aku berniat karena-Mu ketika aku melakukan penelitian
Tak pernah sekalipun aku berniat karena-Mu ketika aku mengabdi kepada masyarakat
Bahkan tak pernah sekalipun aku berniat karena-Mu ketika aku mendidik anak-anakku, Ya Tuhan.
Ya Allah, Ya Tuhan tolong luruskan niatku.

 Ya Allah, Ya Tuhan
Aku terima segala ujian-Mu
Aku terima segala teguran-Mu
Berikanlah aku kesabaran, Ya Tuhan
Dampingi aku dalam menjalankan segala ikhtiarku, Ya Tuhan.
Ya Tuhanku, Maafkanlah aku yang dulu masih terlalu sibuk dengan duniaku.”
 Merekalah, sumber kekuatan!
 





Operasi Mastektomi (pengangkatan jaringan payudara) sudah membuatnya berbeda dengan perempuan-perempuan lain. Tapi dia tidak pernah merasa malu dengan keadaannya. Bahkan untuk bepergianpun, dia tetap membiarkan satu sisi bra-nya kosong.

"Saya memilih tidak memakai busa pengisi. Biarkan saja dada ini tidak rata. Biar dijadikan sebagai perwujudan breast cancer awareness buat perempuan lain," ujarnya.

Tapi memang operasi Mastektomi dan treatment kanker yang dia jalani, telah membuat umur biologisnya melampaui umur kronologisnya.

Bermacam efek samping operasi dan pengobatan telah nyata-nyata membuatnya bukan lagi pada usia kronologis 38 tahun. Kemunduran short term memory, yang kemungkinan karena bius operasi, tidak serta merta membuatnya down.

Dia hanya tertawa, saat bercerita kalau kuah gulai yang dia panaskan, habis dan hangus di wajan karena saat yang bersamaan sedang menemani anaknya belajar. Dia hanya tersenyum simpul saat bercerita, bertemu mantan mahasiswanya di suatu toko, lalu tiba-tiba dia lupa namanya. Padahal mereka dulu akrab sekali. Sayangnya dia ingat nama mahasiswa tersebut di rumah, yang membuat percakapan pertemuan tersebut tidak berkembang baik dan jauh dari kata akrab.

Dia sangat bersyukur memiliki suami yang tidak mempedulikan kulit wajahnya yang tak lagi kencang. Dia cukup terhibur saat mendapati gurat-gurat ketuaan di bawah matanya, suaminya menegaskan," Apapun kondisi Mami, Mami tetap yang tercantik buat Abang."

Ya, semua itu dikarenakan obat Tamoxifen yang akan dikonsumsinya hingga sepuluh tahun ke depan, sebagai salah satu cara agar sel kanker tidak tumbuh kembali. Obat tersebut sudah memblokir produksi hormon estrogen dan progesteron, hingga membuatnya sudah menopouse dini di usia yang masih relatif muda.

"Fokus dengan kelebihan kita," ceritanya.  "Masih banyak sisi-sisi lain yang perlu di eksplore untuk mengisi kehidupan sebagai umat manusia. Letting go does not mean you lose. Jangan pernah menangisi apa yang telah hilang dalam hidup. Tapi temukanlah arti hidupmu dengan cara yang kamu bisa raih."








Dia bersyukur telah mengalami ini semua. Kedewasaan dan kematangannya sebagai seorang perempuan bukanlah suatu keniscayaan. Kedewasaan dan kematangan hidup tidak datang dengan sendirinya. Ada banyak airmata, pengorbanan, keringat lelah di pipi yang mengiringi perjuangan diri.

"Tapi begitu kita survive, kita akan naik tingkat. Kita yang sekarang jauh lebih tangguh dari kita yang dulu. Kita yang sekarang, jauh lebih bijak dari kita yang dulu." pungkasnya.

Lalu dengan cara apa dia meningkatkan kualitas hidupnya?

"Optimize your strength and minimize your weaknesses,"akunya. "Foto dibawah sangat mewakili hidup saya saat ini."


Inilah sepuluh cara menciptakan masa depan yang bahagia versinya. Bahwa apa yang telah terjadi dalam hidup haruslah senantiasa disyukuri. Meyakini bahwa setiap kisah memendam hikmah yang akan muncul kemudian. Jadi perbanyak sabar, usaha dan doa.

Sambil tetap aktif berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar dan masyarakat dengan edukasi kanker melalui media blog, sosoknya telah dipilih sebagai salah satu perempuan inspiratif oleh media lokal. Telah nyata-nyata dia rasakan, bahwa dengan memberi sesungguhnya dia juga menolong dirinya sendiri. Karena di dalam fitrah manusia, memberi adalah sebuah kebutuhan yang melahirkan rasa syukur dengan hilirisasi sebuah kebahagian.

Disamping itu, menurutnya traveling adalah obat mujarab pembunuh kejenuhan. Dia merasakan, traveling ampuh untuk menjaga mood dan me-refresh kembali pikiran dan semangat yang mulai mengendor. Tak perlu untuk bepergian jauh menurutnya. Sesekali menyempatkan pergi ke tempat-tempat baru, ke event-event baru akan memperkaya khazanah kebatinan jelasnya.

Baginya, traveling bukanlah melulu mengenai masalah destinasi, melainkan sebuah journey atau perjalanan yang cerita/kisahnya akan selalu baru. Perkenalan dengan orang-orang baru, tempat-tempat baru, telah nyata-nyata menghilangkan hormon stress. Karena menurutnya, manusia selalu membutuhkan hal-hal baru untuk membuat hidupnya tidak stagnan.

Traveling itu candu!
Dia menyadari, ketiadaan produksi hormon estrogen dan progesteran dalam tubuhnya, membutuhkan sebuah penyiasatan agar usia biologisnya tidak terlalu jauh meninggalkan usia kronologisnya. Untuk itu dia berusaha untuk selalu memperbaiki pola hidup agar menuju hidup yang lebih sehat. Olahraga yang teratur, merupakan sebuah tantangan yang mesti dia taklukkan ditengah kesibukan domestik dan sosialnya. Menjaga asupan makanan agar selalu memaksimalkan konsumsi buah dan sayuran segar, dengan harapan suplai kolagen untuk tubuh dan wajahnyanya senantiasa terjaga.

Karena bagaimanapun dia adalah seorang perempuan. Kecantikan badaniah dan batiniah merupakan idaman setiap perempuan dari dulu hingga akhir zaman. Kulit wajah yang mulai kendor. Kantong mata yang mulai turun. Garis-garis ketuaan sudah mulai terlihat, seakan-akan membatasi seorang perempuan untuk terus mengapresiasi pencapaian dirinya. Dia menyadari bahwa ketuaan tidak bisa dilawan. Menua itu pasti, tapi perawatan diri bisa memitigasi. Dia mempercayakan L'OREAL Revitalift untuk perawatan diri pada #usiacantiknya.


Kandungan bahan alami dalam Revitalift Dermalift dari L'oreal Paris diyakini mampu membuat perempuan tampil lebih segar dan memperbaharui struktur kulit wajah. Kandungan tanaman Centella Asiatica, Pro-Retinol A dan Dermalift Technology dapat mengurangi kerutan sebanyak 27% dan meningkatkan kekencangan sebanyak 35% di 8 (delapan) zona utama wajah yaitu meliputi: dahi, diantara alis, kontur mata, kerutan ujung luar mata, pipi, garis senyum, rahang serta leher. Sebuah upaya untuk memaksimalkan perawatan tubuh dan wajah. 

Ada banyak peluang untuk membuat hidup bahagia. Ada banyak cara untuk membuat hidup lebih bahagia. Semakin dewasa pertambahan usia, semakin panjang jalan hidup yang telah ditempuh, semakin banyak suka duka yang dirasakan, seiring berjalannya waktu hidup akan terasa semakin indah dan cantik.

Dia berpendapat itulah jalan menuju hidup yang berkualitas. Hidup yang berkualitas tidak selalu diartikan dengan sebuah kemapanan. Namun hidup berkualitas pasti dibentuk dari suatu totalitas yang berujung pencapaian. Kedewasaan dan kematangan adalah pilar untuk membuat perjalanan kehidupan semakin indah.

Dan dia menilai hidup akan lebih bermakna jika dia sudah bermanfaat bagi lingkungan terdekat dan masyarakat luas.

Dia itu....Aku.

***
 Blog competition ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L'OREAL Paris

30 komentar:

  1. Bunda Yervi tersayang, jujur saja saya menangis haru. Seakan diingatkan kembali tentang 'makna' kehidupan melalui perjalanan panjang yang Bunda lalui.

    Tentang orang-orang yang senantiasa menerima diri kita apa adanya. Tentang kehidupan yang terkadang tak sesuai dengan rencana dan keinginan kita sebagai manusia.

    Betapa saya juga teramat lalai, teramat sering lupa untuk bersyukur. Tapi, saat ini, detik ini juga, saya bersyukur mengenal Bunda.

    Bunda...semoga Allah melimpahkan kasih sayangNya untukmu dan keluargamu. Aamiin allahumma aamiin


    From deep in my heart

    BalasHapus
  2. mbaaa, membaca tentang kewajiban membayar puasa...saya jadi ingat belum bayar semua puasa Ramadhan...makasih yaaa jd diingatkan..sukses lombanya :)

    BalasHapus
  3. Mbak Yervi,
    Saya tersentuh dengan tulisan ini. Begitu enaknya mbak Yervi bercerita, mengalir begitu saja, padahal banyak sekali makna yang tersampaikan di sini. Iya, bahwa menjadi wanita memang harus kiat, tegar, berkemauan keras dan tidak midah menyerah. Terima kasih sudah diingatkan, mbak.

    BalasHapus
  4. mbak, tulisanmu mengalir.. tadinya saya nggak ngira dituliskan dengan cara begini.
    Mbak mengeluarkan semua poin2 tulisan ini yg bikin saya pasti ngangguk terus. Ada juga bagian malunya, karena merasa menegus diri sendiri. Nggak perlu menangisi yg hilang fokus pada kelebihan kita. Ya,ya. Makasih mbak dengan izin Allah jadi pengingat saya

    BalasHapus
  5. Survivor sejati banget.. bisa menerima dg ikhlas dan ga malu dg kondisinya sekarang. Masya Allah.,

    BalasHapus
  6. Mba Yervi T_T
    Baca ini emosiku teraduk-aduk. Semangat terus ya Mba. Tetap menulis dan menginspirasi.

    BalasHapus
  7. Huft..mataku berkaca-kaca baca ini padahal sedang berada ditengah-temgah keriuhan Anniversary.
    Baca ini membuat saya jadi berevaluasi, sudahkah tepat cara saya utk bahagia?
    Sudah cukupkah syukur saya pada Alloh, terhadap nikmat yg sudah saya terima.
    Semoga senantiasa dikuatkan ya Mba Yervi. Makasih sudah jadi pengingat buatku. Peluk jauuh

    BalasHapus
  8. Mba Yervi, semoga kesehatan dan keberkahan di usianya ya. Baca tulisan ini jadi diingatkan kembali tentang makna usia dan syukur. Terima kasih 10 tips bahagianya. Sukses selalu ya mba.

    BalasHapus
  9. Masya Allah perjuangan Uni Yervi, membuat haru biru dan berkaca, masih jauh perjuanganku. Aku harus banyak belajar bersyukur dan semangat menghadapi ujian hidup ini. Uni Yervi sosok perempuan inspiratif.

    BalasHapus
  10. Mbak Yervi, aku tersentuh dengan tulisannya. Semangat Mbak Yervi menjalani segala ujian hidup bikin aku jadi berkaca ke diri sendiri. Makasih ya Mbak udah berbagi kisah inspiratif nya

    BalasHapus
  11. sepakat mb, fokus ama kelebihan diri, dan maksimalkan ya mba, supaya bisa menebarkan manfaat

    BalasHapus
  12. Terharu mbak...semoga Allah memberikan yang terbaik dan terindah dalam hidup mbak Yervi

    BalasHapus
  13. Saya sempat berkaca-kaca membaca kisahmu, Mba. Disekelilingku, orang-orang dekatku banyak yang tengah berjuang sepertimu. Tetaplah tegar, Mba. Tetap bersemangat dan menebarkan semangatmu kepada yang lain. Karena ketegaranmu akan menginspirasi banyak orang. Salah satunya saya. I love you, Mba....

    BalasHapus
  14. Strong woman!

    Tetaplah menyebarkan kekuatan utk perempuan lain, mbak.
    Terharu dgn kisah nyata mbak Yervi nih.

    Semangat!!!

    BalasHapus
  15. Membaca tulisam ini membuat saya malu. Saya yang sehat ini ada kala masih suka mengeluh dan juga lalai. Saya kadang abai menjaga kesehatan, malas berolahraga, dan kurang memerhatikan pola makan. Kisah Mbak ini menyadarkan saya untuk aware akan kesehatan dan mulai menjaganya dari sekarang. Semoga Allah memberi kesehatan kepada Mbak Yervi, agar dapat terus menginspirasi para wanita.

    BalasHapus
  16. Kisahnya menginspirasi banget mba, saya jadi makin semangat untuk terus bangkit.salam kenal ya

    BalasHapus
  17. I Love You Ibu Dosen Pembimbing KP ku...
    You are my inspiration..
    Thank you much and more ibu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai senang sekali ketemu dg mahasiswa saya yg pintar. Sukses ya Mia

      Hapus
  18. mba yervi..saya sangat tersentuh dengan tulisan ini. Terus menulis dan memberi pemahaman pada masy indonesia mengenai kanker ya mba...

    BalasHapus
  19. Ya Allah, aku sedih. Salah satu hal yang belum kukerjakan juga olah raga,

    BalasHapus
  20. Semangat terus ya Mbak... salam kenal dari saya

    BalasHapus
  21. Terima kasih buat sharingnya mbak, perjalanan hidup terutama yang tak mudah dilalui justru bikin main kuat ya mbak, inspiratif bngt ceritanya :)

    BalasHapus
  22. Terima kasih semua buat teman-teman Blogger atas respond terhadap tulisan ini. Semoga bermanfaat. Keep shining ya...

    BalasHapus
  23. saya suka sama judul tulisan ini mba :)
    saya saat ini masih 28th tak tahu bagamana nanti kalau saya sudah usia 30 atau 40an smoga sayapun bs spti mb

    BalasHapus
  24. Setuju banget ka;au hidup berkualitas pasti dibentuk dari suatu totalitas yang berujung pencapaian.

    BalasHapus
  25. mbak kenapa aku jadi melow ya bacanya...trs jadi inget sama kewajiban bayar utang puasa...semoga diri ini masih diberi usia panjang untuk memperbaiki segala amal ibadah :'(

    BalasHapus
  26. suka banget dengan kata-kata ini The more you give on … the more you get in. Sukses selalu ya mbak :)

    BalasHapus
  27. speechless... mbak, aku terharu sekaligus kagum dengan perjuangannya.
    semoga Allah selalu melimpahkan sukses, kebahagiaan dan kesehatan buat mbak yervi di usia cantik ini.
    salam kenal dari bogor

    BalasHapus
  28. Mba Yervi, semangatmu luar biasa mba. Terharu sekali baca artikel ini, plus kagum dengan perjuanganmu. Sehat sehat selalu ya mbaaaa...

    BalasHapus
  29. Terharu baca ini mbak...awalnya saya kira cerita orang lain ternyata kisah mbak sendiri

    BalasHapus