Laman

Around Solo City in 180 Minutes

solo

Around Solo City in 180 Minutes - Sebenarnya datang ke Solo untuk menghadiri suatu konferensi keilmuan yang saya tekuni. Saya hanya punya waktu 3 malam 2 hari di Solo. Namun ini merupakan kunjungan kali pertama saya ke Solo, pastinya sangat sayang untuk dilewati dengan hanya duduk serius di acara konferensi tersebut. Jadilah saya mencuri-curi waktu di saat tidak ada jadwal persentasi untuk saya. Setelah sesi pertama selesai (sesi keynote speakers) di hari pertama, saya langsung melesat kembali ke penginapan untuk bergabung dengan keluarga, kebetulan keluarga juga saya bawa karena saya masih punya batita yang belum disapih, sekalian ceritanya liburan bersama. Jadinya saya bisa maklum, kalau anggota-anggota DPR dengan dalih kunjungan kerja atau studi banding, juga menyempatkan untuk pelesiran bersama keluarga. Ya fifty-fifty lah….:) Kerjanya dapat, senang-senangnya juga.
 
Solo atau Surakarta?

Disepanjang perjalanan orangtua saya, khususnya mama, selalu bertanya apa beda antara Solo dengan Surakarta. Maklum di setiap perkantoran maupun sekolah selalu terpampang :

“Pemerintah Kota Surakarta”
“SMPN 1 Surakarta”

Surakarta.go.id website resmi pemerintahannya juga tidak menggunakan kata Solo. Menurut mas sopir taksinya (saya lupa namanya), Solo itu bahasa jawanya Sala (dibaca Solo dengan O lemah), merupakan nama akrab kota Surakarta. Sedangkan Surakarta, seperti yang kita tahu, adalah suatu Kasunanan pecahan dari kerajaan Mataram yang meliputi daerah Solo, Kertasura, Karanganyar dll. Surakarta sendiri dipakai sebagai nama resmi kota itu. Namun menurut si mas sopir taksinya, orang tidak menyebut Surakarta sebagai daerah/asal tempat tinggalnya, namun mereka mengatakan ” Saya berasal dari Solo”. Ribet juga. he…he…

Keraton Kasunanan Surakarata

Keraton Kasunanan Surakarta merupakan tujuan pertama dari jalan-jalan ini. Buat saya wisata sejarah merupakan hal yang sangat menyenangkan. Saya seakan-akan bisa merasakan atmosfer kejayaan masa lampau dari objek sejarah tersebut.

Namun sayangnya saya dan rombongan sampai di Kompeks Keraton ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, padahal di hari biasa kompleks keraton dibuka untuk umum dari jam 08 WIB hingga jam 14 WIB. Sehingga kami pun ditolak untuk memasuki kompleks keraton.

Tapi, di kedatangan di kali yang kedua, akhirnya saya dan rombongan diizinkan memasuki sebagian kompleks keraton kasunanan Surakarta. Saya akan menceritakan bagaimana proses sampai kami diizinkan pada postingan berikutnya. Pastinya ini masih dalam rangkaian Around Solo City in 180 minutes. Untuk memuaskan anda sekalian berikut saya sajikan foto gerbang masuk keraton kasunan surakarta.


Alun-Alun Kota Solo

Setelah di tolak memasuki kompleks keraton, saya dan rombongan kemudian menuju ke Alun-alun Kota Solo. Layaknya gaya khas tata kota kota tua, maka Keraton dan Masjid Agung lokasinya bersisian dengan Alun-alun. Banyak hal-hal menarik dapat kita saksikan di Alun-alun Kota Solo.
  • Kereta Sri SusuhunanPaku Buwono X
Terdapat dua kereta (baca : gerbong) yang terparkir di Alun-alun Selatan kota Solo, padahal di sana bukan stasiun kereta dan tidak terdapat rel kereta api di lokasi tersebut.  Menurut Mas Sopir kedua kereta tersebut mempunyai ‘kisah yang aneh’. Dulu keduanya pernah hilang, gak tau rimbanya,  lalu tiba-tiba muncul lagi gak tau siapa yang mengembalikan. Ada kekuatan magis yang membuatnya begitu. Ternyata kedua kereta itu adalah kereta yang dulunya digunakan oleh Paku Buwono X, disebut-sebut sebagai raja terbesar dari Kasunan Surakarta Hadiningrat, yang berkuasa dari 1893 – 1939. Satu kereta adalah kereta pesiar, yang digunakan oleh PB X untuk pelesiran, satunya lagi merupakan kereta jenazah untuk mengarak jenazah ke pemakaman Imogiri.

Disebutkan bahwa kereta tersebut merupakan kereta paling modern pada waktu itu. Meman kalau dilihat sepintas, tidak adanya bedanya antara kereta PB X tersebut dengan kereta-kereta yang digunakan dalam rangkaian Kereta api sekarang. Padahal dibuat pada awal abad 18. Bahkan kereta pesiar sudah mempunyai sistem pendingin udara dalam pengoperasiannya, cuma teknologinya berasal dari kumpulan balok-balok es yang ditaruh.
  • Kebo Bule Kyai Slamet
Di sisi lain Alun-alun terdapat beberapa kerbau yang tengah merumput. Tapi ini bukan kerbau biasa, merupakan kerbau albino yan sangat dihormati oleh masyarakat Solo. Sore itu banyak sekali warga yang tengah memberikan makanan buat si kerbau, suatu jenis rerumputan khusus yang hanya diberikan untuk si kerbau.

Namanya Kebo Bule Kyai Slamet. Cerita Mas Sopir kebo bule ini merupakan hadiah dari Belanda untuk Kasunan Surakarta. Namun dari beberapa sumber yang saya baca, banyak versi cerita asal muasal kerbau albino ini. Kerbau ini bertugas untuk menjaga pusaka Kyai Slamet, suatu pusaka berupa tombak. Lama-kelamaan akhirnya orang menyebutnya sebagai Kebo Bule Kyai Slamet. Ini dia jepretan si kebo lagi merumput. Kelihatan kan bulenya?


Di setiap acara Kirab Ritual malam 1 Suro (1 Muharram) kebo bule ini akan diarak mengelili komplek keraton. Acara kirab ini selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat Solo. Pada acara tersebut kawanan kerbau ini dijadikan pembuka jalan (cucuk lampah) bagi kirab barisan pusaka keraton yang dibawa oleh para abdi dalem.masyarakat sudah terlanjur percaya bahwa kebo bule ini keramat, sehingga disepanjang kirab masyarakat selalu berdesak-desakan untuk memegangnya. Bahkan ada yang mengambil kotoran kerbau tersebut karena dipercaya bisa mendatangkan berkah. Keunikan dari kerbau ini, si kebo selalu minum kopi dan makan telur mentah sebelum kirab 1 Suro di mulai. Kalau ada kerbau yang mati, diperlakukan layaknya manusia yang meninggal. Kerban tersebut akan dimandikan, lalu dikafani sebelum dikuuburkan

Sayangnya pada acara kirab Ritual 1 Suro tahun ini hanya si kebo bule yang terlibat, sedangkan barisan pusaka dilarang ikut kirab karena Paku Buwono XIII, penguasa Surakarta sekarang melarang acara kirab tersebut.

Ada Sate Cobra dan Sate Babi Lho

Selama mengelili kota Solo ini, ada juga lho tempat makan yang bikin kita jajy bajaj. Yaitu warung tenda sate cobra dan sate babi. Tidak terlalu banyak siy sepertinya warung sate yang menyediakan menu ini, namun lokasinya selalu berada di pinggir jalan besar dengan gambar yang mencolok. Bahkan saudara saya menyebutkan ada juga sate anjing di Solo, namun saya tidak pernah melihatnya. sayangnya saya hanya punya kamera saku, sehingga hasil foto saya tentang menu sate ini kabur karena foto diambil ketika taksi masih berjalan.

Menurut Mas Sopir sate cobra itu enak katanya, dan terdapat peternakan cobra untuk menyuplai bahan baku sate cobra Solo ini.

Wanna try? Oh…no thanks

Kampung Batik Laweyan

Rasanya belum ke Solo kalau tidak memebeli Batik Solo. Si Mas Sopir menyarankan ke Kampung Batik Laweyan saja, karena kalau ke Pasar Klewer tidak kondusif untuk anak-anak karena situasinya berdesakan, selain juga banyak copetnya. Akhirnya saya dan rombongan sampai di kampung batik Laweyan. Saya pikir itu memang kampung, seperti bayangan kita akan suatu desa. Ternyata masih di kota Solo, namun merupakan daerah Laweyan yang menjadi salah satu sentra industi batik. Harganya kondusif, alias masih ada yang berharga di bawah 100 rb.

Benteng Vastenburg

Tujuan  pelesiran terakhir adalah benteng Vastenburg, yang terletak di kawasan Gladak. Menurut Wikipedia.com benteng ini dibangun tahun 1745 atas perintah Gubernur Jendral Baron Van Imhoff sebagai bagian pengawasan Belanda terhadap penguasa Surakarta.

Bentuk tembok benteng berupa bujursangkar yang ujung-ujungnya terdapat penonjolan ruang yang disebut bastion. Di sekeliling tembok benteng terdapat parit yang berfungsi sebagai perlindungan. Bangunan terdiri dari beberapa barak yang terpisah. Di tengahnya terdapat lahan terbuka untuk persiapan pasukan.

Sayangnya saya tiba di lokasi benteng saat Magrib datang menjelang, sehingga wujud benteng tidak terlihat jelas. Tidak terdapat penerangan baik di dalam maupun di luar benteng. Maklum di Solo jam 5.30 sudah seperti jam 6.30 di Padang. Namun menurut Mas Sopir kondisi benteng saat ini tidak terawat dan dipenuhi semak belukar. Padahal terdapat taman di gerbang depan benteng yang bisa digunakan untuk duduk-duduk dan olah raga. Menurut situs Tempo.co.id saat ini masih terjadi sengketa kepemilikan, karena saat ini kepemilikan benteng telah berpindah tangan ke pihak swsta melalui proses tukar guling. Saat ini pemerintah kota sedang berupaya untuk memperjuangkan kembali mengambil alih kepemilikan lahan benteng tersebut. Sungguh disayangkan untuk sebuah bangunan yang menyimpan sejarah perjuangan kota Solo. Saya berikan foto terkini benteng yang saya ambil dari blog jejak-bocahilang.com


Sayang pada kunjungan ke Solo kali ini gak sempat ke Puro Mangkunegaran (kasunannya Buk Tien Soeharto) dan naik mobil Werkudara. Dari panitia konferensi sudah mengagendakan tour keliling kota Solo dengan mobil Werkudara pada hari ketiga, namun saya harus kembali ke Jakarta pada saat yang bersamaan.


  Tahu nggak berapa total argo taksi Avanza untuk 180 menit mengelilingi kota Solo? Rp. 150.000,- Cukup Ekonomis kan?
Read More

Kangen Dari Alam Kubur

hari ibu, piatu, kangen, kubur

Tahukah kamu teman, hal apa yang paling menyedihkan hati ketika baru kehilangan seorang Ibu?

Sini, kuberitahu.

Sesuatu yang disebut Kenangan!

Aku masih ingat, ngilunya hati ini setiap mendengar lengkingan mobil ambulance. Terbayang sudah perjalanan panjang membawa jenazah mama dari Bengkulu hingga ke makam beliau di Bukittinggi. Aku juga pernah terkaget, ketika suatu hari mendengar klakson mobil Toyota Vios – mobil kantor mama -  berbunyi tepat di depan rumah. Dan dulu aku masih menangis, apabila berpapasan dengan mobil itu di jalan.

Dan sejak setahun ini, aku tak lagi menempati rumah yang dulu ditempati bersama mama semasa hidup. Awalnya berat sekali untuk memutuskan pindah. Tapi rumah baru ini, merupakan tanda cinta Mama untuk tiga cucu perempuannya. Tapi untuk itu, maka aku tak dapat lagi menikmati kenangan kesibukan mama di pagi hari. Hal-hal yang dikerjakannya di rumah, dimana dia istirahat di sore hari selepas pulang kerja dan juga situasi saat 'pembicaraan serius' kami saat mama pulang terakhir ke Padang.

Kenangan, adalah pengikat kamu dengan ibumu jika beliau telah tiada. Dimensinya banyak, tidak hanya waktu. Tapi juga tempat. Dan ini kuat. Jika kamu lihat ranjang tidur ibumu, maka indera penglihatanmu seolah-oleh melakukan kamuflase, bahwa disana ada Ibumu yang tengah tertidur lelap. Jika kamu melihat koleksi baju ibumu, tanganmu tak sadar untuk memeluk dan menyentuhkan, seakan-akan tubuhnya masih dibungkus oleh baju itu.

Kenangan itu terkadang menyakitkan.


Tahukah kamu, teman. Seperti apa perihnya kehilangan Ibu?

Kamu tidak punya lagi, seorang wanita yang senantiasa membelai kepalamu mesra. Yang karena sentuhan tangannya mampu membuat ragamu jatuh tertidur di pangkuannya.

Kamu tidak punya lagi, bahu wanita itu, tempatmu menangis mengadukan kegundahanmu. Kamu menangis disana, seakan-akan bahu itulah penyelamatmu.

Kamu tidak mendengar lagi, segala kebawelannya, segala kenyinyirannya, yang dulunya semasa hidup terasa amat membelenggumu.

Begitu Ibu berpulang, kamu akan merasakan kehilangan yang dalam seperti anak kecil yang dilepaskan pegangan tangan ketika belajar berjalan. Kamu tergagap, kamu gamang, kamu ketakutan akan hari depanmu tanpa Ibu.

Dan aku sudah merasakan itu semua.


Lalu, ketika rasa kangen ibu menghampirimi, apa yang akan kamu lakukan? 

Ketika kamu berjauhan dengan orang terkasihmu, kamu masih bisa meneleponnya, dan beritahu akan perasaanmu. Dan sampai saat itu tiba, kamu masih bisa bersua dengannya untuk melepaskan rasa kangenmu.

Tapi terhadap Ibu yang sudah meninggal, kamu tahu bahwa tak kan ada lagi perjumpaan. Maka dari itu, apa yang akan kau perbuat untuk mengobati kangenmu?

Buka-buka album foto? Menonton video layaknya dalam novel Sabtu Bersama Bapak? Atau menyempatkan Ziarah kubur.

Kuberitahu satu hal, teman. Meminta mimpi bertemu mama, adalah salah satu pinta setiap piatu dalam doanya. Aku tak ingat lagi kapan pertama kali aku bertemu Mama di dalam mimpi. Tapi yang kuingat adalah dalam mimpi itu mama mengajak menginap di hotel pada kami semua, syukuran karena diberi amanah baru.

Tahukah kamu teman, itu adalah satu-satunya janji yang tidak sempat ditunaikan mama semasa hidup dulu. Tapi mama membayarnya di alam mimpi.

Di kesempatan mimpi yang lain, kadang-kadang jalan ceritanya tidak jelas. Tidak jelas dimana settingnya, tidak jelas sosok mama seperti apa. Kadang malah sosoknya tampak nyata, namun tanpa suara. Tapi di saat lain, suaralah yang dominan mengalahkan sosok. Tapi satu hal yang pasti, ada mama disitu. Dan itu sudah cukup mengobati kangenku.

Bermimpi sejenak cukup menghapus kerinduan akan sosok seorang Mama. Cukup menghadirkan sejenak bahwa momen kebersamaan ibu dan anak masih tetap ada, walaupun berbeda alam. Kamu tak kan bisa merasakan betapa gembiranya, betapa bahagianya, bertemu Mama di dalam mimpi, sampai kamu menjadi piatu.

Karena mimpi itu tidak pasti. Kapan datangnya, berapa lama mimpinya. Kadang bisa sering namun kadang lama tidak datang. Doalah yang bisa kamu panjatkan memohon kepada yang kuasa agar dipertemukan di dalam mimpi.

Dan mimpi terbaruku dengan mama, adalah mimpi yang kupinta pada-Nya beberapa hari sebelumnya.
Kuceritakan padamu, mimpi ini tidaklah sama dengan mimpi-mimpi sebelumnya. Yang terkadang aku hanya melihat dan mendengar Mama. Tapi kali ini tidak. Kami benar-benar berdekatan. Kami duduk bersisian. Tangan kami saling menggenggam. “Ma, evi rindu,” kataku pada Mama. Mama juga membalas menggangguk. Lalu aku menangis di bahunya.

Mimpi ini benar-benar spesial. Aku benar-benar merasa bersama mama, tidak sekedar merasakan kehadirannya. Tapi itu tak lama. Begitu terjaga, aku langsung menangis. Untuk pertama kalinya aku menangis sesegukan, setelah sekian lama tak pernah. Menangisi kehilangan mama. menangisi kehampaan hatiku tanpa mama.

Orang yang meninggal itu, tidak benar putus komunikasi dengan orang- yang masih hidup. Dia bisa berkunjung ke alam mimpi keluarga di dunianya. Mimpi ketemu orang yg sudah meninggal itu biasanya memang ruh mereka yang berkunjung ke kita - muktiberbagi.blogspot.com
Lamunanku teringat pada masa lebih dari sebelas tahun yang lalu. Di sebuah perjalanan Bandung – Jakarta, di atas kereta api Parahiyangan demi mengejar impian bekerja di High Rise Building Jakarta.

“Sudah sampai dimana, Evi?” tanya Mama. “Stasiun Karawang, Ma."jawabku.

Bunyi telepon di HP akan selalu bordering karena mama bertanya tentang keberadaan ku. Dan itu nyaris terjadi di sepanjang perjalanan selama dua setengah jam itu. Parahnya, tidak beberapa lama, papa juga bertanya akan hal yang sama. Saat itu, jujur ada perasaan terganggu akan keseringan tersebut.

Empat bulan lagi, tepat dua tahun Mama telah berpulang. Begitu cepat waktu berlalu, rasanya baru kemarin. Dan hari ini adalah hari Ibu. Aku tidak ingat kapan terakhir aku mengucapkan selamat hari Ibu pada Mama. Pun demikian aku tidak ingat kapan terakhir kali aku berfoto hanya berdua dengan Mama.

Satu hal yang pasti, yang bisa aku bagi denganmu adalah jikalau Ibumu masih ada, ucapkanlah bahwa kamu sangat menyayanginya. Kamu butuh ia hingga kapanpun. Karena tak ada yang tahu, siapa tahu ini Hari Ibu terakhir kamu dengannya. Walaupun sekarang kamu sudah jadi Ibu, tapi kamu akan selalu rindu menjadi seorang anak dari seorang yang kau panggil Ibu.

Tak ada yang bisa menggantikan sosok ibu. Namun jika Ibumu telah tiada, sesungguhnya kamu tidak benar-benar kehilangan dia. Ajaran-ajaran dari Ibumu masih kamu teruskan pada anakmu. Resep masakan dari dia, masih senantiasa terhidang di meja makanmu. Petuah dan nasihatnya masih tersimpan rapat di dasar hatimu. Anak-anakmu, senantiasa kamu ajak untuk selalu mendoakan neneknya.

Raganya memang sudah tidak bisa lagi kamu peluk. Sosoknya tidak bisa lagi kamu lihat. Alam-mu sudah berbeda dengannya. Tapi kuberitahu satu hal, Ibumu tidak benar-benar pergi darimu. Dia akan selalu ada untukmu. Dia akan selalu menemani perjalanan kehidupanmu. Karena dia ada dalam hatimu.

" Kau tak akan pernah kehilangan ibumu. Energinya akan selalu besertamu sepanjang hidup - Alberthiene Endah, dalam Athirah ".
Selamat Hari Ibu, Ma

Read More

Romantisme Dari Rumah Pengasingan Soekarno Di Bengkulu

Mengapa Harus Ke Bengkulu?

Bung Karno diasingkan Belanda di Bengkulu dalam kurun tahun 1938 hingga 1942 setelah sebelumnya diasingkan ke Ende, Flores. Semangat pergerakan kemerdekaan yang tak jua surut walaupun telah diasingkan, membuat Belanda kewalahan dan mengeluarkan maklumat Vergader Verbod yang mengharuskan Bung karno dan keluarga pindah ke Bengkulu. Saat itu menurut sejarah, daerah Bengkulu masih dianggap daerah rawan penyakit Malaria sehingga Belanda berkeyakinan Bengkulu dapat membungkam Bung Karno.

Belanda menyewa sebuah rumah yang cukup asri dari seorang pengusaha Tionghoa. Dari literatur pengusaha tersebut bernama Lion Bwe Seng, seorang pedagang sembako. Rumah pengasingan ini terletak di jalan Soekarno Hatta kelurahan Angkut Atas Kota Bengkulu.

Tampak Depan Rumah Pengasingan Soekarno di Bengkulu


Menelisik Aktifitas Bung Karno Dari Dalam Rumah

Ukuran aslinya adalah 162 m² dengan bangunan 9 x 18 m dengan halaman yang cukup luas. Bentuk bangunannya empat persegi panjang dan memiliki atap berbentuk limas. Pintu utamanya berdaun ganda berbentuk persegi panjang dengan jendela persegi panjang dengan model kisi-kisi. Belum diketahui kapan rumah ini pertama kali didirikan namun diperkirakan dibangun awal abad ke-20.. Terdapat sumur tua dan beberapa ruangan/kamar di halaman belakangnya. Walaupun sudah mengalami pemugaran pada tahun 1985, namun keaslian bangunan berikut isinya masih tetap terjaga.

Arsitektur Pintu

 Uniknya, ruangan kerja Bung Karno terletak di ruangan yang berbentuk oval, mirip dengan oval office Presiden AS. Terdapat sebuah meja kerja dan beberapa pajangan gambar sketsa denah dari beberapa bangunan. Sebagai seorang pecinta buku, tak lupa Bung Karno juga banyak meninggalkan ratusan buku yang sekarang hampir tidak terawat. Buku tersebut hanya ditaruh dalam dua lemari tertutup. Kebanyakan dari buku tersebut sudah terlihat kusam dan telah terjadi deteorasi pada wujud fisiknya. Menurut petugas disana, harusnya buku-buku tersebut ditempatkan dalam suatu lemari khusus yang bisa mengatur hawa didalamnya sehingga buku bisa tetap awet.

Ruang Kerja dan Koleksi Buku

Selama di Bengkulu, sebagai seorang arsitek Bung Karno juga telah menyelesaikan pembangunan Masjid Jamik yang sekarang beralamat di Jalan Soedirman Bengkulu serta sebuah rumah tinggal di Jalan K.H Ahmad Dahlan, Kebun Ros Bengkulu yang sekarang ditempati oleh keluarga Alfian.

Beberapa Proyek Yang Ditangani Bung Karno Di Pengasingan


Bergeser ke arah dalam, terdapat dua buah kamar yang saling berhadap-hadapan. Yang satu merupakan kamar Bung Karno bersama Inggit Ganarsih, sedang yang satunya merupakan kamar anak angkat Bung Karno. Bung Karno memang membawa keseluruhan anggota keluarga selamanya diasingkan di Bengkulu.

Tempat Tidur Bung Karno dan Ibu Inggit

Dalam kamar Bung Karno terdapat sebuah meja rias yang didesain sendiri oleh Bung Karno. Ternyata selama di Bengkulu, Bung Karno juga mendirikan perusahaan meubel yang bernama Meubel Sukamerindu, yang diambil dari nama sebuah kampung di Bengkulu. Perusahaan tersebut didirikan berpatungan dengan pengusaha Oei Tjeng Hien. Namun sedikit heran, di kedua kamar tersebut tidak terdapat meubel lemari pakaian.
Sepeda Bung Karno dan Ruang Tamu

 Posisi dari ruang tamu tepat dihadapan dari beranda. Disini terdapat sepeda yang pernah digunakan oleh Bung Karno semasa pengasingan. Empat buah kursi dipergunakan oleh Bung Karno untuk menerima tamu dan berdiskusi. Dari ruang tamu inilah Bung Karno juga membidani kelahiran grup sandiwara atau tonil Monte Carlo yang dipergunakan oleh beliau sebagai alat pergerakan kemerdekaan. Bung Karno mengajak pemuda-pemudi Bengkulu untuk berlatih sandiwara dan beberapa kali grup tersebut melakukan pementasan seni dalam rangka untuk membuka wacana pemuda-pemudi Bengkulu tentang arti kemerdekaan. Bung Karno juga membuat perkumpulan Bulutangkis untuk pemuda pemudi Bengkulu yang biasa beraktifitas di halaman depan rumah tersebut. Dari foto di bawah yang diambil dari rumah Fatmawati, tampak Ibu Fatmawati juga terlibat dalam perkumpulan Bulutangkis tersebut. Baca juga Menyingkap Sejarah Fatmawati Di Bengkulu.

Perkumpulan Bulutangkis Pemuda Bengkulu
Bagi anda yang tertarik untuk mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno, anda tidak terlalu pusing karena hanya akan dipungut bayaran Rp. 2500 per orang dan dapat ditemani oleh beberapa petugas yang berdinas disana. Dan jangan lupa untuk mengambil foto bersama keluarga.


Apa Pentingnya Jalan-jalan Sejarah

Dan pertanyaannya adalah apa urgensinya kita melaksanakan napak tilas terhadap beberapa objek sejarah, terutama yang berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia. Ada beragam cara untuk menunjukkan nasionalisme. Tidak sekedar hanya mengikuti upacara di setiap senin pagi. Tidak juga sekedar ikut menaikkan Sang Saka Merah Putih setiap tanggal 17 Agustus. Lalu bisakah jalan-jalan ke tempat bersejarah khususnya yang berhubungan dengan kemerdekaan RI berdampak terhadap nasionalisme?

Satu konsep yang mewujudkan identitas bersama dalam mewujudkan kepentingan nasional yang biasanya disebut sebagai nasionalisme hanya dapat dipunyai apabila kita terkoneksi dengan identitas bersama tersebut. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah akan membuat kita berhubungan langsung dengan pelaku sejarah, akan merasakan atmosfer masa dahulu dan melihat apa yang telah dilaksanakan pada masa dahulu. Hal ini akan membuat romantisme nasionalisme akan selalu dibangkitkan. Coba lihat, dengan mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu kita bisa melihat bagaimana kehebatan Bung Karno dalam menggerakkan pemuda pemudi Bengkulu dalam pergerakan menuju kemerdekaan. Apa saja yang dilakukan Bung Karno selama di pengasingan dapat secara langsung terjawab dari dalam ruang kerja beliau. Sejarah tanpa simbolisme hanya akan menimbulkan kehampaan dan pada gilirannya akan memupus nasionalisme itu sendiri. Sudah sepatutnya kita jaga dengan baik tempat-tempat bersejarah seperti Rumah Pengasingan Bung Karno di atas untuk sejarah di masa depan.

Sukakah kita, memori atas perjuangan kemerdekaan dulu hanya tinggal kenangan?

**AV**
Read More

Menyingkap Sejarah Fatmawati Di Bengkulu

Mata saya terpana memandang sebuah rumah panggung khas melayu yang terbuat dari kayu. Pondasi slof dari beton yang di cat putih menopang massa dari rumah tersebut. Terdapat satu pintu model kisi-kisi di tengah yang diapit oleh dua jendela di kanan kirinya. Sebuah papan pengumuman bertuliskan Rumah Ibu Fatmawati Soekarno tertulis di sudut kiri rumah tersebut. Rasanya ingin langsung masuk ke dalam untuk menyingkap tirai sejarah yang tersimpan di dalamnya. Namun tak  ada siapa-siapa di situ.

Tak lama menunggu  akhirnya datang seorang bapak. Saya sekeluarga langsung mengenalkan diri dan kami langsung di antar untuk menengok isi rumah bersejarah tersebut.

Rumah Ibu Fat tidaklah besar. Di rumah yang berukuran sekitar 10 x 10 m itu hanya terdapat dua kamar dan satu dapur, disamping ruang depan yang cukup luas. Menurut Pak Dilan, masa kecil Bu Fat memang di rumah tersebut.

Bersama Pak Dilan
Pajangan foto-foto dan jajaran empat buah kursi tamu dari kayu jati memenuhi ruang depan seluas  10 x 4 m tersebut. Terdapat replika lukisan Bung Karno dan Bung Hatta yang mengapit lorong ke ruangan dalam. Tak lama datanglah serombongan bule dari Australia yang fasih berbahasa Indonesia. Bule tersebut sepertinya akan membuat liputan tentang rumah Bu Fat. Karena Pak Dilan cukup sibuk, saya lupa bertanya tentang sepasang manikin yang menggunakan baju kurung Melayu.

Masuk ke ruangan dalam, terdapat dua kamar yang saling berhadap-hadapan. Yang di kiri merupakan ruang tidur bu Fat yang ornamennya masih terjaga keasliannya menurut Pak Dilan. Terdapat sepasang tempat tidur berkelambu, selain lemari dan meja rias.

Lemari dan Meja Rias Bu Fat
Lalu apakah isi dari kamar yang disebelahnya? Terdapat sebuah mesit jahit kuno yang menggunakan penggerah tangan untuk menggerakkan jarum jahitnya. Dengan mesin jahit yang dicat merah inilah menurut keteranan Pak Dilan Bu Fat menjahit bendera merah putih yang pertama kali dikibarkan pada saat proklamasi kemerdekaan. Sayangnya tidak terdapat satu keterangan yang menjelaskan kapan dan kenapa mesin jahit ini akhirnya di bawa pindah ke Bengkulu dari Jakarta.

Mesin Jahit Bersejarah

Di lihat dari konstruksi rumah panggung tersebut yang masih dapat dikatakan bagus, baik dari segi arsitektur maupun strukturnya, saya berpendapat bahwa konstruksi rumah panggung tersebut bukanlah rumah asli Bu Fat. Tidak diketahui tahun berapa rumah asli dipugar.

Rumah Bu Fat ini tidaklah jauh dari rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu. Ayah Bu Fat, Haji Hasan Din, seorang tokoh Muhammadyah Bengkulu mengenalkan anaknya kepada Bung Karno. Karena ingin anaknya dididik oleh Bung Karno, akhirnya mengantar Bu Fat menjadi jodoh untuk Bung Karno pada tahun 1943.

Sayangnya seperti peninggalan sejarah lainnya di Indonesia, rumah Bu fat ini bisa dikatakan minim informasi. Selain benda-benda peninggalan dan foto-foto, tak banyak informasi lain yang bisa digali. Ketiadaan pemandu sejarah bisa jadi penyebabnya. Namun dapat dimaklumi karena menurut Pak Dilan rumah Bu Fat ini tidak mendapat bantuan dana dari pemerintah daerah. Biaya perawatan hannya mengandalkan sumbangan pengunjung dan dana dari keluarga Bung karno. "Sukmawati Sukarnoputri merupakan putri Bu Fat yang paling rajin berkunjung kerumah ini," cerita pak Dilan.



Read More

Aku, Kamu dan Kita :Unity in Diversity


Dulu aku tidak kenal kamu
Kamu pun tidak kenal aku
Lalu takdir mempertemukan kita di depan penghulu

Kamu anak chemist
Aku dengan latar belakang teknis
Tapi itu semua InsyaAllah tidak menghalangi kita untuk harmonis

Shopping membuatmu heppi
Too many shopping buatku bikin tabungan merugi
Namun denga segala diversity tetap membuat kita unity

Hari ini, sebelas tahun lalu Sabtu 3 Desember 2005 jam 15.00, kita sepakat mengikat janji.

***
" Sebagian orang berharap dapat menikah dengan laki-laki yang mereka cintai. Do’aku sedikit berbeda, Aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhan agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi"

Pertengahan tahun 2005

Jantung saya berdegub kencang. Untaian kata-kata indah di atas begitu menusuk ke relung kalbu. Orang bilang tiada ada suatu kebetulan tanpa pemaknaan dari-Nya. Iseng-iseng cari buku murah di toko buku seputaran Masjid Salman, mempertemukan saya dengan sebuah novel indah karya sastrawan Pakistan. Dan melalui novel inilah, saya belajar banyak hal, bukanlah suatu ketidakmungkinan bahwa cinta dalam sebuah pernikahan dapat ditumbuhkan dari ketiadaannya.
  ***
Tak terasa, sudah sebelas tahun pernikahan kami terjalani. Ah, rasanya baru kemarin saja. Tiba-tiba, sudah ada tiga gadis kecil yang menemani di keseharian kami. Kehadiran mereka turut merekatkan rasa di antara kami.

Kami berbeda dalam banyak hal

Saya anak Teknik, dia cowok Mipa. Saya terbiasa melihat cowok ‘kumal’, gondrong dan cuma memakai jepit waktu ke kampus. Dan setelah berkenalan dengan teman suami sesama anak Mipa, saya dapatkan kesimpulan bahwa tipikal mahasiswa cowok Mipa itu adalah kulitnya putih-putih, rapih, bersih, anak rumahan, pokoknya bukan Teknik banget deh.

Suatu hari, di minggu-minggu pertama pernikahan, setelah saya diboyong ke Kerinci, Pelalawan Prop. Riau. Hari pertama suami ngantor setelah cuti nikah. Habis sarapan, saya memandangi suami yang tengah bersiap ganti baju kerja. Rapiin baju celana yang dikenakan dan tak lupa memakai parfum. Pikir saya aktifitas di depan cermin selesai, tapi ternyata belum. Masih ada yang diambil suami dari rak kosmetik.

Itu dia…

Dan sukses membuat saya terperangah. Oh my god, who’s the guy that I have been married for!
Hey, laki-laki memakai body lotion! Surprised saya.

“Ya iyalah, saya kan quality controller perusahaan bubur kertas. Yang tiap harinya selalu berurusan dengan bahan-bahan chemical. Ini salah satu proteksi kulit yang bisa dilakukan dari rumah,”demikian jawab suami ketika itu.

Okay. But it cannot eliminate my shock. Ada ya ternyata lelaki yang pake body lotion. Begitu pemikiran si anak teknik. He..he…

Kami berdua ibarat rem dan gas. Suami yang menjadi ‘gas’ dan saya adalah ‘remnya’. Saat si kembar belum ada dalam artian Nessa belum punya adik, merupakan puncak dari ‘obsesi’ belanja suami saya. Tiap pulang kampung ke Bukittinggi, ada aja  bawaan belanja buat Nessa. Sampai-sampai mama saya sedikit protes.
“Membelikan anak sesuatu memang wujud kasih sayang, tapi ingat terlalu sering secara tak langsung mengajari anak suka royal,” demikian nasihat mama.

Jangan tanya jumlah sepatu, tas dan baju. Punya siapa yang lebih banyak. Kalau saya, cukup punya dua sepatu untuk pergi kerja. Kalau sudah rusak baru beli lagi. Sedangkan si Abang, jumlah sepatunya hampir menyamai jumlah hari dalam seminggu. Kalau Senin, warna hitam. Besoknya beda lagi. Mr Matching deh.
Nah, saya nih yang harus sering ngerem nafsu belanjanya. Rekan-rekan, ada yang ‘bernasib’ sama dengan saya gak? He..he..

Kami berdua juga bukan pasangan yang romantis. Mungkin bisa disebut pasangan yang cuek, tapi bukan pasangan yang saling nge-cuekin lho ya. Semisal, di waktu pagi hari jarang sekali saya melepas kepergiannya ke kantor.

” Hati-hati di jalan ya Bang, jangan lupa pake sabuk.”

Paling saya hanya melepasnya demikian, sambil meneruskan kesibukan memandikan si kembar dan sarapan pagi si Kakak yang akan berangkat ke sekolah.

Oh ya, dalam keseharian kami jarang menggunakan kata-kata romantis. Jadi misalnya, pagi ini kami tandem masak di dapur untuk persiapan bekal makan anak-anak dan bekal siang kami, dan si Abang bilang,” Tolong ambilkan daging di kulkas, Sayang.”

Bukannya trenyuh, malah saya tertawa-tawa geli. Gak biasa siy dipanggil sayang-sayanganJ Mungkin sudah platform hubungan kami seperti itu. Toh kami berdua enjoy-enjoy saja sepanjang ini.

Tapi suatu kali, sehabis baca buku Rembulan Terbelah di Langit Eropa, saya kepo juga dengan keromantisan Rangga kepada istrinya, Hanum Rais.

“Bang, abang romantic kayak Rangga ini dong. Kan cewek senang di kasih-kasih kejutan.”

“Aduuh, gak usah macam-macam mami. Ngomong aja kalau mami ingin sesuatu. Pusing mikirin sesuatu yang gak berwujud,” ujarnya.

Saya pundung dong. Tapi kalau di pikir-pikir memang sebenarnya si Abang sering kali ngasi kejutan kepada saya. Cuma mungkin bentuk dan caranya yang ga heboh. Pastinya gak ada ucapan :  “ surprised!!!”

Suatu hari, saya menyadari ternyata saya belum memiliki baju atau gamis yang berwarna hitam. Maksudnya kalau ada even pergi melayat, masa baju yang dipakai cerah semua. Tapi dasar saya orangnya malas pergi belanja, saya pending keinginan beli baju hitam. Gak tau telepati atau gimana, pas si abang pulkam, akhirnya gamis hitam berhasil mendarat di Siteba dari hanggarnya di Aur Kuning Bukittinggi.

Kemudian di hari lainnya, tiba-tiba dia membelikan saya sebuah payung.

“ Nih, buat mami kalau ke kampus,” demkian katanya.

“Gua kan bawa mobil, Bang. Jadi gak perlu payung.”

“Trus kalau hari hujan lebat gimana, pake apa dari parkiran?” tanyanya.

“Terobos aja bang, lari-lari dikitlah. Kan dekat,” jawab saya.

“Dasar anak teknik!”

Sehingga akhirnya payung tersebut cuma memenuhi lemari di rumah.  Namun beberapa waktu kemudian, untuk suatu urusan di Rektorat Unand, saya terpaksa parkir di parkiran sebelah gedung Auditorium karena parkiran rektorat penuh. Awal datang ke parkir tersebut, saya sudah was was, karena ternyata motor juga parkir disana padahal jelas-jelas tertulis daerah tersebut untuk parkir mobil. Apalagi kondisi parkiran motor yang nyikngsek mendekati mulut jalan masuk , tapi berhubung ada satpan yang mengawasi hati saya sedikit lega.

Ternyata beberapa saat kemudian ketika urusan sudah selesai, hari hujan lebat. Karena tidak mau terlambat menjemput Nessa di sekolah, saya nekat menuju parkiran tanpa memakai payung. Langsung masuk mobil, dan berangkat. Oh la la…!! Ternyata mulut jalan keluar telah tertutup dengan motor yang parkir sembarang. Pak satpam sudah menghilang karena hujan lebat, dan saya tidak punya jalan lain untuk keluar.

Terpaksa saya keluar mobil lagi, berlari diguyur hujan lebat menuju Pos Satpam Rektorat yang lumayan jauhnya. Setelah melapor kondisi jalan keluar parkiran, akhirnya Pak Satpam mau membantu untuk menyingkirkan motor yang menghalangi mobil saya keluar. Setelah sampai di rumah, saya cerita ke suami kisah saya hujan-hujanan di parkiran tadi.

“Makanya, dengar apa kata suami,” katanya. Setelah kejadian itu, payung selalu nongkrong manis di mobil saya.

Bicara persamaan, kami berdua sama-sama suka jalan jalan. Sama-sama doyan makan. Dan sama-sama gak pencemburu. Catat.

Si abang kalau lagi usil suka ‘ngintip-ngintip’ sms di inbox. Nah suami yang pertama menyadari bahwa si X, sesorang dari masa lalu, gak pernah say HBD lagi.

“ Hubungi dia dong, nanya apa dia sehat-sehat aja,” usul si Abang.

But, We are a good team at home

Dan kami berdua merupakan tim kompak di rumah. Saya tidak akan sukses menyusui ketiga anak kami selama dua tahun tanpa dukungan dari suami. Dua kali sehari suami membuatkan segelas susu buat saya minum. Suami juga yang memberikan ASI perah ke salah satu bayi kembar kami, jika mereka terbangun atau pingin menyusu pada saat yang bersamaan. Apalagi di waktu masa pemberian ASI ekslusif, suami mengkondisikan saya di rumah bertugas hanya untuk bolak-balik menyusui bayi kembar kami. Ayah ASI banget kan?

Dalam urusan pekerjaan rumah tangga juga. Kebetulan orangtua saya barusan pindah ke provinsi sebelah, ada tetangga yang sedikit prihatin dengan saya akibat ketiadaan asisten rumah tangga untuk bantu-bantu di rumah. Dalam hati sebenarnya  saya ingin bilang,”Tenang Buk, ada Chef Yasri.”

Ya, buat suami saya, memasak dan shopping adalah passion dia. Dia selalu bilang kalau memasak itu harus dengan cinta, makanya enak terasa walaupun gak masak pake takaran. Dan memang semua masakan dan cemilan yang dibikinnya terasa enak. Sedangkan buat saya, memasak hanya merupakan kewajiban, jadi terasa beban kalau kerjaan lagi menumpuk.

Kalau lagi masak berdua, saya kebagian urusan bersih-bersih dan nyiapin porsi bahan masakan. Begitu beres, urusan di atas kompor dilanjutkan sama Chef Yasri.

Tapi gak enaknya, beberapa minggu yang lalu suami tiba-tiba membelikan belut sawah kesukaan saya. Saya memang selalu suka belut goreng balado hiijau. Menu ini selalu hadir kalau pulang ke rumah mertua.

“Mami, nih ada belut sawah. Kebetulan tadi ada teman yang lagi ke pasar, jadi nitip. Kan mami suka makan belut.”

“Banyak sekali, Bang. Berapa kilo nih?”

“Dua kilo.”

Gubrak. Dua kilo belut harus saya bersihkan. Iiih jijay bajaj. Secara saya kan seumur umur belum pernah bersih-bersih belut. Dua kilo lagi, mana licin.

Oh Tuhan. Selama saya bersihin belut tersebut, saya gak berani lihat belutnya. Natap ke depan terus. Geli sekaligus takut. “Jangan-jangan jadi anak ular,” ucap saya dalam hatiL. Ya udah pakai perasaan aja, ini udah bersih apa belum. Sama sekali gak dilihat.

“Bang, besok-besok jangan beli lagi ya,”pinta saya.
***
Sesungguhnya di awal pernikahan saya tidak pernah membayangkan dan tidak pernah memikirkan, pun tidak pernah menanyakan akan seperti apa pernikahan yang saya jalani. Walaupun sudah beberapa kali bertemu, sesungguhnya kami belum mengenal satu sama lain.

Menikah dengan pujaan hati, mungkin impian semua perempuan di dunia. Tapi saya berbeda, saya tidak berhasil membawa seseorang ke tangga pernikahan. Sesorang yang saya pikir awalnya dialah jodoh saya, tetapi ternyata melalui 'jalanNya' Allah Swt telah 'menunjukkan' bahwa dia bukanlah orang yang tepat. Dan seorang yang bernama Yasri Alfajri telah ditakdirkan menjadi pasangan saya.

Biduk rumah tangga kami pun tak luput dari hantaman badai di awal-awal pelayarannya. Ibarat nahkoda yang baru belajar berlayar, haluan kapal 'mencong-mencong' ke kanan ke kiri. Tapi kami berdua tetap bertahan. Kami berkeyakinan bahwa haluan kapal musti diarahkan lurus menuju dermaga yang sama. Jangan tanya seperti apa rasanya, karena cuma airmata yang bisa menjawabnya.

Dua tahun pertama adalah masa-masa kami memadukan perbedaan. Saya berkeyakinan bahwa pernikahan pada hakekatnya berfungsi untuk memadukan segala perbedaan yang ada, tetapi bukan untuk menyatukan. Sejauh kita masih berjalan beriringan di garis yang sama, sejauh kita masih bisa berkompromi dengan perbedaan yang ada, yakinlah bahwa pernikahan itu akan selalu ada.

Tak sedikit pun saya menyesalinya. Setelah Allah Swt menilai bahwa kami sudah berpadu sebagai pasangan, Dia menitipkan amanah di rahim saya. Begitu indahnya skenario Allah. Sekarang, kalau berantem dikit-dikit, paling saya tenang aja.

"Easy, itu cuma riak-riak kecil. Tomorrow, everything it’s gonna be alright."

Fakus pada kelebihan masing-masing pasangan, jangan pada kekurangannya. Karena sesungguhnya kita merupakan 'pakaian' buat pasangan masing-masing, untuk melengkapi dan menutupi kekurangan yang ada.
Ada masanya ketika kita tidak bisa mengikuti apa yg kita pikirkan, ikuti saja kata hatimu. Tapi bukankah kebahagiaan terasa adanya di akhir? Jadi percaya saja pada garis nasib. Jangan disesali. Yakinlah bahwa ini yang terbaik yang disediakan Allah SWt buat kita.

Marriage is not a noun; it’s a verb. It isn’t something you get. It’s something you do. It’s the way you love your partner every day.” - Barbara De Angelis -

PS : Happy Our Anniversary, ya Bang
Read More

Rahasia Nyi Penengah Dewanti, Si Ratu Antologi!


Rahasia Nyi Penengah Dewanti Si ratu Antologi - Saat masih di 17 tahun, Nyi sudah memutuskan untuk mencari rejeki di luar negeri sebagai buruh migran. Di usia belia, usia yang penuh hura-hura bagi remaja seusianya, Nyi sudah dihadapkan akan kerasnya hidup yang harus dijalaninya.

Tapi Nyi, bukanlah seorang perempuan biasa. Jauh dari orangtua, menghadapi tekanan pekerjaan dari majikan, tidak membuatnya menyerah. Selama sembilan tahun merantau, puluhan buku antologi telah dihasilkannya.

Ya, Nyi Penengah Dewanti, memang seorang penulis yang kebetulan pernah mencicipi hidup sebagai BMI di Hongkong selama sembilan tahun. Berapa banyak buku antologi yang diterbitkannya? Amat banyak. Lebih dari 100 buku antologi. Dan sebagian besar dari buku-buku antologi tersebut ditulis saat Nyi masih berstatus BMI.

***
 
Saya tertipu. Saya pikir Nyi Penengah Dewanti itu nama pena. "Nama aslinya siapa, Nyi?"

"Lha, itu memang nama aseli, mbak. Saya gak punya nama pena," jawab Nyi.

" Saya manggil apa nih, Nyi atau Dewanti?"

" Sedari kecil saya dipanggil Nyi oleh teman-teman. Tapi kalau keluarga manggilnya Dewi. Kalau di Bali dipanggil Kadek?"

Ternyata Nyi ini blasteran juga, Ibu dari Bali Bapak dari Jawa. Udah tahu kan, kalau orang bali, termasuk rumit juga dalam hal ngasi-ngasi nama. Ada yang dipengaruhi oleh kasta atau kebangsawanan, urutan kelahiran dan jenis kelamin.

NYI itu dipengaruhi oleh nama ibunya yang berawal NI. Karena Nyi anak kedua, maka dinamakan juga sebagai NENGAH. Gak tau nih, kenapa muncul 'imbuhan' PE. Sedangkan Dewanti menurut Nyi sesuatu yang masih berhubungan dengan dewa-dewi.

1. Sejak kapan nyi menyukai dunia kepenulisan
    Sejak 2011, heheheh
2. Bagaimana awalnya dl memulai menulis antologi
    Ngeliat info lomba yang bersliweran di beranda, kemudian tertantang buat ikutan
 
3. Sudah brp banyak buku antologinya
    Ada sekitar 107an, lupa-lupa ingat lebih dari itu
Antologi ke-83. Penerbit 27 Aksara
 
4. Secara materil bagaimana menulis antologi? pembagian royalti mksdnya
    Pembagian royalti antologi, ga tak pikir mba, buatku antologi semacam sedekah tulisan. Kalau ada pun dan dapet biasanya kita bikin kesepakatan buat dibeliin buku kita kemudian di wakafin ke perpus yang memang butuh bacaan.
5. Apa kepuasan menulis antologi
    Lebih ke seneng sih mba, bukan puas
6. Tema-tema apa sj yg pernah nyi tulis di antologi
    Buanyak banget mba, beberapa kisah hidup di LN, Kematian, cinta-cintaan, motivasi hidup dan lain-lain.
7. Marketing buku antologi apa jadi tugas penulis juga? bagaimana membaginya?
    Marketingnya ya, asal shared aja gitu, nggak pernah nyuruh2 atau maksa temen buat beli.
8. Apa enak dan gak enaknya nulis antologi
    Enaknya tambah kawan, tambah relasi dan rejeki. Nggak enaknya nggak ada
9. Lalu sejak kapan nyi mlaui terjun nulis buku solo
    Sejak 2011 juga. Dari otodidak cari materi di mbah google cara nulis, puisi, cernak, cerpen, artikel kemudian merambah ke novel 
Buku-buku Nyi (Diambil darii akun FB)
  10. Faktor apa yg bikin beralih dari antologi ke solo?
     Semacam tantangan dan proses belajar banyak hal.
11. Ada kemudahan gak dari acc penerbit klo kita sdh punya banyak antologi
     Menurut saya bukan jaminan, kalau memang belum bejo/rejeki dan tidak sesuai kriteria penerbit tulisan sebagus apa pun prosentase ketolaknya tetap ada.


Mungkin kita bertanya, bagaimana mungkin Nyi bisa seproduktif itu, sedangkan kita tahu bekerja sebagai BMI tentunya tidak mempunyai waktu senggang yang cukup. Ternyata Nyi punya jurus ampuh yang mungkin gak akan semua kita bisa seperti Nyi.

"Jangan menunggu lo punya waktu baru nulis, tapi menulislah selalu dalam keadaaan kepepet sekali pun. Mau percaya mau nggak, gue nulis saat majikan gue belum bangun. Jam tujuh gue udah ke basement nyuci dua mobil bos gue (BMW + M.benz). After that, gue bawa anjing piaraan gue jalan pagi, than nyiram bunga. Nyiapin breakfast, beberes meja makan, ruang nonton tivi, ngepel, nyapu, ngelapin kaca, nyuci toilet. Ini kerjaan pagi gue sebelum mereka bangun, dan lo tau gue nulis di sela-sela gue ngerjain itu."

Hebat ya Nyi. Semangat pantang menyerah dan memanfaatkan sebesar-besarnya kesempatan, patut untuk di tiru. Kini, Nyi yang juga seorang Blogger Kendal, bekerja sebagai content creator di industri digital di kotanya.

**AV**

Nyi, di depan pekerjaannya. Sumber: Facebook Nyi Selalu ada perasaan sayang bila mengingat kawan satu ini: Nyi Penengah Dewanti yang akrab disapa Nyi atau Dewi. Saya mengenal perempuan kelahiran Kendal 6 November 1986 ini sudah cukup lama, kira-kira sejak 4 tahun yang lalu. Waktu itu ia masih tinggal di Hong Kong dan dijuluki Ratu Antologi oleh kawan-kawan penulis lainnya. Bagaimana tidak disebut Ratu Antologi, Nyi sudah berkontribusi pada 100-an judul buku! Saya memang hanya mengenalnya di dunia maya tapi saya merasa cukup akrab dengannya. Sesekali kami bertegur sapa dan mendiskusikan beberapa hal via inbox Facebook. Sesekali, ketika deritanya di perantauan tak tertahankan, ia curhat kepada kami – kawan-kawannya di komunitas Be a Writer. Waktu itu sifat grup Be a Writer masih “rahasia” dan kebanyakan dari kami ibu rumah tangga jadi kami paham perasaan dan jerih payah Nyi yang buruh migran itu. Usianya belum lagi 17 tahun ketika dengan beraninya ia mencoba tantangan merantau ke Hong Kong, pada tahun 2003. Selama 9 tahun Nyi berjuang sebagai pahlawan devisa bagi keluarga dan negara. Ia balik ke Indonesia tahun 2012. Sembari mencari penghidupan yang lebih baik, Nyi menulis buku solo pertamanya. Pada tahun 2013, buku solo pertama – sebuah novel berjudul Promise, Love & Life diterbitkan oleh penerbit Quanta. Novel itu ditulis berdasarkan kisah nyata dirinya. Sinopsis novel itu sedikit memberikan gambaran bagaimana kehidupan Nyi: Selain umur yang tidak memenuhi syarat, aku tidak memiliki KTP, dan KK. Oleh sebab itu bioadataku dirombak habis-habisan oleh PT yang akan memberangkatkanku. Aku bukan lagi warga Jawa Tengah, tapi berpindah menjadi warga Jawa Barat. Nama juga diubah dan beberapa surat lain. Ketika adikku beberapa bulan lahir, Bapak meninggalkan kami. Aku dan kakak banting setir untuk menghandel keuangan rumah demi bisa memberi sebotol susu dan bubur bayi untuk adik. Kalau Kakak menjadi kuli panggul bambu atau kenek angkot sepulang sekolah. Aku bekerja di warung makan, tetangga. Rezeki seumpama teka-teki, kerap berlindung di sarang misteri. Aku dan keluarga kecilku tidak menyerah. Kami terus berlayar ke negeri impian yang penuh perjuangan, tangisan, dan pengorbanan demi mewujudkan masa depan. Majikan pertamaku suka memukul dan cerewet, majikan keduaku sering menikam dibalik punggungku, majikan ketigaku -anaknya pernah mau membunuhku, sanggupkah aku melewati hidup di negeri orang dengan segudang ujian, dari yang Esa? Inilah kisahku, Promise, Love and Life. 14316150721973298464 14316150721973298464 Nyi di Bali Mungkin kalian mengira Nyi harus menjadi BMI karena bapaknya meninggal, ya? Tidak. Bapaknya meninggalkan keluarganya dalam arti yang sebenarnya. Ia punya rumah kedua, punya keluarga baru. Lelaki itu meninggalkan keluarga lamanya dalam keadaan kesusahan dan tak pernah menafkahi mereka lagi. Betapa bahagianya Nyi ketika buku solo pertamanya terbit. Kami – kawan-kawannya di grup Be a Writer pun tak kalah bahagia untuk dirinya. Seorang kawan – Riawani Elyta pernah merensi novel tersebut dan menuliskan sepenggal kisah ini: Setiap aku melakukan kesalahan, dia akan berkata seperti itu dan kata-kata kotor lainnya. Puncak kemarahannya, waktu itu aku didorongnya menghantam tembok. Esok harinya, kali ketiga memasak kailan aku masih juga salah. Sumpit yang dibawanya buat mencicipi masakan dipukulkan ke pundakku dengan kasarnya (hal. 69-70). Tidak mudah bertahan menghadapi majikan yang cerewet, memperlakukanku seperti anjing, memukulkan benda apa saja ketika dia marah (hal.100). Namun itu semua tidak menyurutkan semangat dan kesabaran Dewi. Semua ia lakukan demi menghidupi keluarga yang ia cintai. Demi menyekolahkan adikku. Demi bisa memiliki rumah. Demi bisa membayar utang-utang peninggalan Bapak. Demi itu semua aku berusaha kuat dan tegar dengan cobaan yang ditimpakan. Demi bisa makan dan asap dapur yang terus mengepul. Demi mempertahankan nasib dan masa depan. Tidak ada alasan menyerah pada keadaan. (hal. 26). Berbagai pengalaman pahit yang dialami Dewi sempat membuatnya gamang. Salah satu pilihan tersulit adalah memutuskan menyerah atau berjuang lebih keras lagi. Aku memilih opsi aman kedua. (hal. 107). Meski untuk pilihan itu, Dewi harus menghadapi majikan yang lebih kejam dan beban pekerjaan yang jauh lebih berat. 143161515451294988 143161515451294988 4 novel pertama karya Nyi Setelah novel memoar itu terbit, berturut-turut Nyi menerbitkan 4 novel berikut yang telah beredar di toko-toko buku besar di seluruh Indonesia: Waktu (Zettu, Juli 2013), Pendamping Hatiku (Rumah Oranye, Oktober 2013), Yang Tercinta (Zettu, Februari 2014), dan Ingin Bercinta (Zettu, September 2014). Saya tahu, seorang penulis senior pernah menyindirnya, mengapa ia tak menulis buku solo, hanya antologi demi antologi saja yang diupayakannya. Saya menduga, Nyi terpicu oleh sindiran itu. Nyi luar biasa. Ia sudah terbiasa jatuh-bangun dalam kehidupan sejak masa remaja. Sejak masa, di mana kebanyakan orang melaluinya dengan bersenang-senang, Nyi sudah bekerja keras. Tahun 2012 lalu, dia pernah menulis di blognya tentang bagaimana cara dia produktif menulis: Jangan menunggu lo punya waktu baru nulis, tapi menulislah selalu dalam keadaaan kepepet sekali pun. Mau percaya mau nggak, gue nulis saat majikan gue belum bangun. Jam tujuh gue udah ke basement nyuci dua mobil bos gue (BMW + M.benz). After that, gue bawa anjing piaraan gue jalan pagi, than nyiram bunga. Nyiapin breakfast, beberes meja makan, ruang nonton tivi, ngepel, nyapu, ngelapin kaca, nyuci toilet. Ini kerjaan pagi gue sebelum mereka bangun, dan lo tau gue nulis di sela-sela gue ngerjain itu.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mugniar/nyi-penengah-dewanti-antara-hong-kong-indonesia-demi-sececah-harapan_5554b8f46523bda41d4aefae
Nyi, di depan pekerjaannya. Sumber: Facebook Nyi Selalu ada perasaan sayang bila mengingat kawan satu ini: Nyi Penengah Dewanti yang akrab disapa Nyi atau Dewi. Saya mengenal perempuan kelahiran Kendal 6 November 1986 ini sudah cukup lama, kira-kira sejak 4 tahun yang lalu. Waktu itu ia masih tinggal di Hong Kong dan dijuluki Ratu Antologi oleh kawan-kawan penulis lainnya. Bagaimana tidak disebut Ratu Antologi, Nyi sudah berkontribusi pada 100-an judul buku! Saya memang hanya mengenalnya di dunia maya tapi saya merasa cukup akrab dengannya. Sesekali kami bertegur sapa dan mendiskusikan beberapa hal via inbox Facebook. Sesekali, ketika deritanya di perantauan tak tertahankan, ia curhat kepada kami – kawan-kawannya di komunitas Be a Writer. Waktu itu sifat grup Be a Writer masih “rahasia” dan kebanyakan dari kami ibu rumah tangga jadi kami paham perasaan dan jerih payah Nyi yang buruh migran itu. Usianya belum lagi 17 tahun ketika dengan beraninya ia mencoba tantangan merantau ke Hong Kong, pada tahun 2003. Selama 9 tahun Nyi berjuang sebagai pahlawan devisa bagi keluarga dan negara. Ia balik ke Indonesia tahun 2012. Sembari mencari penghidupan yang lebih baik, Nyi menulis buku solo pertamanya. Pada tahun 2013, buku solo pertama – sebuah novel berjudul Promise, Love & Life diterbitkan oleh penerbit Quanta. Novel itu ditulis berdasarkan kisah nyata dirinya. Sinopsis novel itu sedikit memberikan gambaran bagaimana kehidupan Nyi: Selain umur yang tidak memenuhi syarat, aku tidak memiliki KTP, dan KK. Oleh sebab itu bioadataku dirombak habis-habisan oleh PT yang akan memberangkatkanku. Aku bukan lagi warga Jawa Tengah, tapi berpindah menjadi warga Jawa Barat. Nama juga diubah dan beberapa surat lain. Ketika adikku beberapa bulan lahir, Bapak meninggalkan kami. Aku dan kakak banting setir untuk menghandel keuangan rumah demi bisa memberi sebotol susu dan bubur bayi untuk adik. Kalau Kakak menjadi kuli panggul bambu atau kenek angkot sepulang sekolah. Aku bekerja di warung makan, tetangga. Rezeki seumpama teka-teki, kerap berlindung di sarang misteri. Aku dan keluarga kecilku tidak menyerah. Kami terus berlayar ke negeri impian yang penuh perjuangan, tangisan, dan pengorbanan demi mewujudkan masa depan. Majikan pertamaku suka memukul dan cerewet, majikan keduaku sering menikam dibalik punggungku, majikan ketigaku -anaknya pernah mau membunuhku, sanggupkah aku melewati hidup di negeri orang dengan segudang ujian, dari yang Esa? Inilah kisahku, Promise, Love and Life. 14316150721973298464 14316150721973298464 Nyi di Bali Mungkin kalian mengira Nyi harus menjadi BMI karena bapaknya meninggal, ya? Tidak. Bapaknya meninggalkan keluarganya dalam arti yang sebenarnya. Ia punya rumah kedua, punya keluarga baru. Lelaki itu meninggalkan keluarga lamanya dalam keadaan kesusahan dan tak pernah menafkahi mereka lagi. Betapa bahagianya Nyi ketika buku solo pertamanya terbit. Kami – kawan-kawannya di grup Be a Writer pun tak kalah bahagia untuk dirinya. Seorang kawan – Riawani Elyta pernah merensi novel tersebut dan menuliskan sepenggal kisah ini: Setiap aku melakukan kesalahan, dia akan berkata seperti itu dan kata-kata kotor lainnya. Puncak kemarahannya, waktu itu aku didorongnya menghantam tembok. Esok harinya, kali ketiga memasak kailan aku masih juga salah. Sumpit yang dibawanya buat mencicipi masakan dipukulkan ke pundakku dengan kasarnya (hal. 69-70). Tidak mudah bertahan menghadapi majikan yang cerewet, memperlakukanku seperti anjing, memukulkan benda apa saja ketika dia marah (hal.100). Namun itu semua tidak menyurutkan semangat dan kesabaran Dewi. Semua ia lakukan demi menghidupi keluarga yang ia cintai. Demi menyekolahkan adikku. Demi bisa memiliki rumah. Demi bisa membayar utang-utang peninggalan Bapak. Demi itu semua aku berusaha kuat dan tegar dengan cobaan yang ditimpakan. Demi bisa makan dan asap dapur yang terus mengepul. Demi mempertahankan nasib dan masa depan. Tidak ada alasan menyerah pada keadaan. (hal. 26). Berbagai pengalaman pahit yang dialami Dewi sempat membuatnya gamang. Salah satu pilihan tersulit adalah memutuskan menyerah atau berjuang lebih keras lagi. Aku memilih opsi aman kedua. (hal. 107). Meski untuk pilihan itu, Dewi harus menghadapi majikan yang lebih kejam dan beban pekerjaan yang jauh lebih berat. 143161515451294988 143161515451294988 4 novel pertama karya Nyi Setelah novel memoar itu terbit, berturut-turut Nyi menerbitkan 4 novel berikut yang telah beredar di toko-toko buku besar di seluruh Indonesia: Waktu (Zettu, Juli 2013), Pendamping Hatiku (Rumah Oranye, Oktober 2013), Yang Tercinta (Zettu, Februari 2014), dan Ingin Bercinta (Zettu, September 2014). Saya tahu, seorang penulis senior pernah menyindirnya, mengapa ia tak menulis buku solo, hanya antologi demi antologi saja yang diupayakannya. Saya menduga, Nyi terpicu oleh sindiran itu. Nyi luar biasa. Ia sudah terbiasa jatuh-bangun dalam kehidupan sejak masa remaja. Sejak masa, di mana kebanyakan orang melaluinya dengan bersenang-senang, Nyi sudah bekerja keras. Tahun 2012 lalu, dia pernah menulis di blognya tentang bagaimana cara dia produktif menulis: Jangan menunggu lo punya waktu baru nulis, tapi menulislah selalu dalam keadaaan kepepet sekali pun. Mau percaya mau nggak, gue nulis saat majikan gue belum bangun. Jam tujuh gue udah ke basement nyuci dua mobil bos gue (BMW + M.benz). After that, gue bawa anjing piaraan gue jalan pagi, than nyiram bunga. Nyiapin breakfast, beberes meja makan, ruang nonton tivi, ngepel, nyapu, ngelapin kaca, nyuci toilet. Ini kerjaan pagi gue sebelum mereka bangun, dan lo tau gue nulis di sela-sela gue ngerjain itu.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mugniar/nyi-penengah-dewanti-antara-hong-kong-indonesia-demi-sececah-harapan_5554b8f46523bda41d4aefae
Nyi, di depan pekerjaannya. Sumber: Facebook Nyi Selalu ada perasaan sayang bila mengingat kawan satu ini: Nyi Penengah Dewanti yang akrab disapa Nyi atau Dewi. Saya mengenal perempuan kelahiran Kendal 6 November 1986 ini sudah cukup lama, kira-kira sejak 4 tahun yang lalu. Waktu itu ia masih tinggal di Hong Kong dan dijuluki Ratu Antologi oleh kawan-kawan penulis lainnya. Bagaimana tidak disebut Ratu Antologi, Nyi sudah berkontribusi pada 100-an judul buku! Saya memang hanya mengenalnya di dunia maya tapi saya merasa cukup akrab dengannya. Sesekali kami bertegur sapa dan mendiskusikan beberapa hal via inbox Facebook. Sesekali, ketika deritanya di perantauan tak tertahankan, ia curhat kepada kami – kawan-kawannya di komunitas Be a Writer. Waktu itu sifat grup Be a Writer masih “rahasia” dan kebanyakan dari kami ibu rumah tangga jadi kami paham perasaan dan jerih payah Nyi yang buruh migran itu. Usianya belum lagi 17 tahun ketika dengan beraninya ia mencoba tantangan merantau ke Hong Kong, pada tahun 2003. Selama 9 tahun Nyi berjuang sebagai pahlawan devisa bagi keluarga dan negara. Ia balik ke Indonesia tahun 2012. Sembari mencari penghidupan yang lebih baik, Nyi menulis buku solo pertamanya. Pada tahun 2013, buku solo pertama – sebuah novel berjudul Promise, Love & Life diterbitkan oleh penerbit Quanta. Novel itu ditulis berdasarkan kisah nyata dirinya. Sinopsis novel itu sedikit memberikan gambaran bagaimana kehidupan Nyi: Selain umur yang tidak memenuhi syarat, aku tidak memiliki KTP, dan KK. Oleh sebab itu bioadataku dirombak habis-habisan oleh PT yang akan memberangkatkanku. Aku bukan lagi warga Jawa Tengah, tapi berpindah menjadi warga Jawa Barat. Nama juga diubah dan beberapa surat lain. Ketika adikku beberapa bulan lahir, Bapak meninggalkan kami. Aku dan kakak banting setir untuk menghandel keuangan rumah demi bisa memberi sebotol susu dan bubur bayi untuk adik. Kalau Kakak menjadi kuli panggul bambu atau kenek angkot sepulang sekolah. Aku bekerja di warung makan, tetangga. Rezeki seumpama teka-teki, kerap berlindung di sarang misteri. Aku dan keluarga kecilku tidak menyerah. Kami terus berlayar ke negeri impian yang penuh perjuangan, tangisan, dan pengorbanan demi mewujudkan masa depan. Majikan pertamaku suka memukul dan cerewet, majikan keduaku sering menikam dibalik punggungku, majikan ketigaku -anaknya pernah mau membunuhku, sanggupkah aku melewati hidup di negeri orang dengan segudang ujian, dari yang Esa? Inilah kisahku, Promise, Love and Life. 14316150721973298464 14316150721973298464 Nyi di Bali Mungkin kalian mengira Nyi harus menjadi BMI karena bapaknya meninggal, ya? Tidak. Bapaknya meninggalkan keluarganya dalam arti yang sebenarnya. Ia punya rumah kedua, punya keluarga baru. Lelaki itu meninggalkan keluarga lamanya dalam keadaan kesusahan dan tak pernah menafkahi mereka lagi. Betapa bahagianya Nyi ketika buku solo pertamanya terbit. Kami – kawan-kawannya di grup Be a Writer pun tak kalah bahagia untuk dirinya. Seorang kawan – Riawani Elyta pernah merensi novel tersebut dan menuliskan sepenggal kisah ini: Setiap aku melakukan kesalahan, dia akan berkata seperti itu dan kata-kata kotor lainnya. Puncak kemarahannya, waktu itu aku didorongnya menghantam tembok. Esok harinya, kali ketiga memasak kailan aku masih juga salah. Sumpit yang dibawanya buat mencicipi masakan dipukulkan ke pundakku dengan kasarnya (hal. 69-70). Tidak mudah bertahan menghadapi majikan yang cerewet, memperlakukanku seperti anjing, memukulkan benda apa saja ketika dia marah (hal.100). Namun itu semua tidak menyurutkan semangat dan kesabaran Dewi. Semua ia lakukan demi menghidupi keluarga yang ia cintai. Demi menyekolahkan adikku. Demi bisa memiliki rumah. Demi bisa membayar utang-utang peninggalan Bapak. Demi itu semua aku berusaha kuat dan tegar dengan cobaan yang ditimpakan. Demi bisa makan dan asap dapur yang terus mengepul. Demi mempertahankan nasib dan masa depan. Tidak ada alasan menyerah pada keadaan. (hal. 26). Berbagai pengalaman pahit yang dialami Dewi sempat membuatnya gamang. Salah satu pilihan tersulit adalah memutuskan menyerah atau berjuang lebih keras lagi. Aku memilih opsi aman kedua. (hal. 107). Meski untuk pilihan itu, Dewi harus menghadapi majikan yang lebih kejam dan beban pekerjaan yang jauh lebih berat. 143161515451294988 143161515451294988 4 novel pertama karya Nyi Setelah novel memoar itu terbit, berturut-turut Nyi menerbitkan 4 novel berikut yang telah beredar di toko-toko buku besar di seluruh Indonesia: Waktu (Zettu, Juli 2013), Pendamping Hatiku (Rumah Oranye, Oktober 2013), Yang Tercinta (Zettu, Februari 2014), dan Ingin Bercinta (Zettu, September 2014). Saya tahu, seorang penulis senior pernah menyindirnya, mengapa ia tak menulis buku solo, hanya antologi demi antologi saja yang diupayakannya. Saya menduga, Nyi terpicu oleh sindiran itu. Nyi luar biasa. Ia sudah terbiasa jatuh-bangun dalam kehidupan sejak masa remaja. Sejak masa, di mana kebanyakan orang melaluinya dengan bersenang-senang, Nyi sudah bekerja keras. Tahun 2012 lalu, dia pernah menulis di blognya tentang bagaimana cara dia produktif menulis: Jangan menunggu lo punya waktu baru nulis, tapi menulislah selalu dalam keadaaan kepepet sekali pun. Mau percaya mau nggak, gue nulis saat majikan gue belum bangun. Jam tujuh gue udah ke basement nyuci dua mobil bos gue (BMW + M.benz). After that, gue bawa anjing piaraan gue jalan pagi, than nyiram bunga. Nyiapin breakfast, beberes meja makan, ruang nonton tivi, ngepel, nyapu, ngelapin kaca, nyuci toilet. Ini kerjaan pagi gue sebelum mereka bangun, dan lo tau gue nulis di sela-sela gue ngerjain itu.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mugniar/nyi-penengah-dewanti-antara-hong-kong-indonesia-demi-sececah-harapan_5554b8f46523bda41d4aefae
Read More