Laman

Rahasia Nyi Penengah Dewanti, Si Ratu Antologi!


Rahasia Nyi Penengah Dewanti Si ratu Antologi - Saat masih di 17 tahun, Nyi sudah memutuskan untuk mencari rejeki di luar negeri sebagai buruh migran. Di usia belia, usia yang penuh hura-hura bagi remaja seusianya, Nyi sudah dihadapkan akan kerasnya hidup yang harus dijalaninya.

Tapi Nyi, bukanlah seorang perempuan biasa. Jauh dari orangtua, menghadapi tekanan pekerjaan dari majikan, tidak membuatnya menyerah. Selama sembilan tahun merantau, puluhan buku antologi telah dihasilkannya.

Ya, Nyi Penengah Dewanti, memang seorang penulis yang kebetulan pernah mencicipi hidup sebagai BMI di Hongkong selama sembilan tahun. Berapa banyak buku antologi yang diterbitkannya? Amat banyak. Lebih dari 100 buku antologi. Dan sebagian besar dari buku-buku antologi tersebut ditulis saat Nyi masih berstatus BMI.

***
 
Saya tertipu. Saya pikir Nyi Penengah Dewanti itu nama pena. "Nama aslinya siapa, Nyi?"

"Lha, itu memang nama aseli, mbak. Saya gak punya nama pena," jawab Nyi.

" Saya manggil apa nih, Nyi atau Dewanti?"

" Sedari kecil saya dipanggil Nyi oleh teman-teman. Tapi kalau keluarga manggilnya Dewi. Kalau di Bali dipanggil Kadek?"

Ternyata Nyi ini blasteran juga, Ibu dari Bali Bapak dari Jawa. Udah tahu kan, kalau orang bali, termasuk rumit juga dalam hal ngasi-ngasi nama. Ada yang dipengaruhi oleh kasta atau kebangsawanan, urutan kelahiran dan jenis kelamin.

NYI itu dipengaruhi oleh nama ibunya yang berawal NI. Karena Nyi anak kedua, maka dinamakan juga sebagai NENGAH. Gak tau nih, kenapa muncul 'imbuhan' PE. Sedangkan Dewanti menurut Nyi sesuatu yang masih berhubungan dengan dewa-dewi.

1. Sejak kapan nyi menyukai dunia kepenulisan
    Sejak 2011, heheheh
2. Bagaimana awalnya dl memulai menulis antologi
    Ngeliat info lomba yang bersliweran di beranda, kemudian tertantang buat ikutan
 
3. Sudah brp banyak buku antologinya
    Ada sekitar 107an, lupa-lupa ingat lebih dari itu
Antologi ke-83. Penerbit 27 Aksara
 
4. Secara materil bagaimana menulis antologi? pembagian royalti mksdnya
    Pembagian royalti antologi, ga tak pikir mba, buatku antologi semacam sedekah tulisan. Kalau ada pun dan dapet biasanya kita bikin kesepakatan buat dibeliin buku kita kemudian di wakafin ke perpus yang memang butuh bacaan.
5. Apa kepuasan menulis antologi
    Lebih ke seneng sih mba, bukan puas
6. Tema-tema apa sj yg pernah nyi tulis di antologi
    Buanyak banget mba, beberapa kisah hidup di LN, Kematian, cinta-cintaan, motivasi hidup dan lain-lain.
7. Marketing buku antologi apa jadi tugas penulis juga? bagaimana membaginya?
    Marketingnya ya, asal shared aja gitu, nggak pernah nyuruh2 atau maksa temen buat beli.
8. Apa enak dan gak enaknya nulis antologi
    Enaknya tambah kawan, tambah relasi dan rejeki. Nggak enaknya nggak ada
9. Lalu sejak kapan nyi mlaui terjun nulis buku solo
    Sejak 2011 juga. Dari otodidak cari materi di mbah google cara nulis, puisi, cernak, cerpen, artikel kemudian merambah ke novel 
Buku-buku Nyi (Diambil darii akun FB)
  10. Faktor apa yg bikin beralih dari antologi ke solo?
     Semacam tantangan dan proses belajar banyak hal.
11. Ada kemudahan gak dari acc penerbit klo kita sdh punya banyak antologi
     Menurut saya bukan jaminan, kalau memang belum bejo/rejeki dan tidak sesuai kriteria penerbit tulisan sebagus apa pun prosentase ketolaknya tetap ada.


Mungkin kita bertanya, bagaimana mungkin Nyi bisa seproduktif itu, sedangkan kita tahu bekerja sebagai BMI tentunya tidak mempunyai waktu senggang yang cukup. Ternyata Nyi punya jurus ampuh yang mungkin gak akan semua kita bisa seperti Nyi.

"Jangan menunggu lo punya waktu baru nulis, tapi menulislah selalu dalam keadaaan kepepet sekali pun. Mau percaya mau nggak, gue nulis saat majikan gue belum bangun. Jam tujuh gue udah ke basement nyuci dua mobil bos gue (BMW + M.benz). After that, gue bawa anjing piaraan gue jalan pagi, than nyiram bunga. Nyiapin breakfast, beberes meja makan, ruang nonton tivi, ngepel, nyapu, ngelapin kaca, nyuci toilet. Ini kerjaan pagi gue sebelum mereka bangun, dan lo tau gue nulis di sela-sela gue ngerjain itu."

Hebat ya Nyi. Semangat pantang menyerah dan memanfaatkan sebesar-besarnya kesempatan, patut untuk di tiru. Kini, Nyi yang juga seorang Blogger Kendal, bekerja sebagai content creator di industri digital di kotanya.

**AV**

Nyi, di depan pekerjaannya. Sumber: Facebook Nyi Selalu ada perasaan sayang bila mengingat kawan satu ini: Nyi Penengah Dewanti yang akrab disapa Nyi atau Dewi. Saya mengenal perempuan kelahiran Kendal 6 November 1986 ini sudah cukup lama, kira-kira sejak 4 tahun yang lalu. Waktu itu ia masih tinggal di Hong Kong dan dijuluki Ratu Antologi oleh kawan-kawan penulis lainnya. Bagaimana tidak disebut Ratu Antologi, Nyi sudah berkontribusi pada 100-an judul buku! Saya memang hanya mengenalnya di dunia maya tapi saya merasa cukup akrab dengannya. Sesekali kami bertegur sapa dan mendiskusikan beberapa hal via inbox Facebook. Sesekali, ketika deritanya di perantauan tak tertahankan, ia curhat kepada kami – kawan-kawannya di komunitas Be a Writer. Waktu itu sifat grup Be a Writer masih “rahasia” dan kebanyakan dari kami ibu rumah tangga jadi kami paham perasaan dan jerih payah Nyi yang buruh migran itu. Usianya belum lagi 17 tahun ketika dengan beraninya ia mencoba tantangan merantau ke Hong Kong, pada tahun 2003. Selama 9 tahun Nyi berjuang sebagai pahlawan devisa bagi keluarga dan negara. Ia balik ke Indonesia tahun 2012. Sembari mencari penghidupan yang lebih baik, Nyi menulis buku solo pertamanya. Pada tahun 2013, buku solo pertama – sebuah novel berjudul Promise, Love & Life diterbitkan oleh penerbit Quanta. Novel itu ditulis berdasarkan kisah nyata dirinya. Sinopsis novel itu sedikit memberikan gambaran bagaimana kehidupan Nyi: Selain umur yang tidak memenuhi syarat, aku tidak memiliki KTP, dan KK. Oleh sebab itu bioadataku dirombak habis-habisan oleh PT yang akan memberangkatkanku. Aku bukan lagi warga Jawa Tengah, tapi berpindah menjadi warga Jawa Barat. Nama juga diubah dan beberapa surat lain. Ketika adikku beberapa bulan lahir, Bapak meninggalkan kami. Aku dan kakak banting setir untuk menghandel keuangan rumah demi bisa memberi sebotol susu dan bubur bayi untuk adik. Kalau Kakak menjadi kuli panggul bambu atau kenek angkot sepulang sekolah. Aku bekerja di warung makan, tetangga. Rezeki seumpama teka-teki, kerap berlindung di sarang misteri. Aku dan keluarga kecilku tidak menyerah. Kami terus berlayar ke negeri impian yang penuh perjuangan, tangisan, dan pengorbanan demi mewujudkan masa depan. Majikan pertamaku suka memukul dan cerewet, majikan keduaku sering menikam dibalik punggungku, majikan ketigaku -anaknya pernah mau membunuhku, sanggupkah aku melewati hidup di negeri orang dengan segudang ujian, dari yang Esa? Inilah kisahku, Promise, Love and Life. 14316150721973298464 14316150721973298464 Nyi di Bali Mungkin kalian mengira Nyi harus menjadi BMI karena bapaknya meninggal, ya? Tidak. Bapaknya meninggalkan keluarganya dalam arti yang sebenarnya. Ia punya rumah kedua, punya keluarga baru. Lelaki itu meninggalkan keluarga lamanya dalam keadaan kesusahan dan tak pernah menafkahi mereka lagi. Betapa bahagianya Nyi ketika buku solo pertamanya terbit. Kami – kawan-kawannya di grup Be a Writer pun tak kalah bahagia untuk dirinya. Seorang kawan – Riawani Elyta pernah merensi novel tersebut dan menuliskan sepenggal kisah ini: Setiap aku melakukan kesalahan, dia akan berkata seperti itu dan kata-kata kotor lainnya. Puncak kemarahannya, waktu itu aku didorongnya menghantam tembok. Esok harinya, kali ketiga memasak kailan aku masih juga salah. Sumpit yang dibawanya buat mencicipi masakan dipukulkan ke pundakku dengan kasarnya (hal. 69-70). Tidak mudah bertahan menghadapi majikan yang cerewet, memperlakukanku seperti anjing, memukulkan benda apa saja ketika dia marah (hal.100). Namun itu semua tidak menyurutkan semangat dan kesabaran Dewi. Semua ia lakukan demi menghidupi keluarga yang ia cintai. Demi menyekolahkan adikku. Demi bisa memiliki rumah. Demi bisa membayar utang-utang peninggalan Bapak. Demi itu semua aku berusaha kuat dan tegar dengan cobaan yang ditimpakan. Demi bisa makan dan asap dapur yang terus mengepul. Demi mempertahankan nasib dan masa depan. Tidak ada alasan menyerah pada keadaan. (hal. 26). Berbagai pengalaman pahit yang dialami Dewi sempat membuatnya gamang. Salah satu pilihan tersulit adalah memutuskan menyerah atau berjuang lebih keras lagi. Aku memilih opsi aman kedua. (hal. 107). Meski untuk pilihan itu, Dewi harus menghadapi majikan yang lebih kejam dan beban pekerjaan yang jauh lebih berat. 143161515451294988 143161515451294988 4 novel pertama karya Nyi Setelah novel memoar itu terbit, berturut-turut Nyi menerbitkan 4 novel berikut yang telah beredar di toko-toko buku besar di seluruh Indonesia: Waktu (Zettu, Juli 2013), Pendamping Hatiku (Rumah Oranye, Oktober 2013), Yang Tercinta (Zettu, Februari 2014), dan Ingin Bercinta (Zettu, September 2014). Saya tahu, seorang penulis senior pernah menyindirnya, mengapa ia tak menulis buku solo, hanya antologi demi antologi saja yang diupayakannya. Saya menduga, Nyi terpicu oleh sindiran itu. Nyi luar biasa. Ia sudah terbiasa jatuh-bangun dalam kehidupan sejak masa remaja. Sejak masa, di mana kebanyakan orang melaluinya dengan bersenang-senang, Nyi sudah bekerja keras. Tahun 2012 lalu, dia pernah menulis di blognya tentang bagaimana cara dia produktif menulis: Jangan menunggu lo punya waktu baru nulis, tapi menulislah selalu dalam keadaaan kepepet sekali pun. Mau percaya mau nggak, gue nulis saat majikan gue belum bangun. Jam tujuh gue udah ke basement nyuci dua mobil bos gue (BMW + M.benz). After that, gue bawa anjing piaraan gue jalan pagi, than nyiram bunga. Nyiapin breakfast, beberes meja makan, ruang nonton tivi, ngepel, nyapu, ngelapin kaca, nyuci toilet. Ini kerjaan pagi gue sebelum mereka bangun, dan lo tau gue nulis di sela-sela gue ngerjain itu.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mugniar/nyi-penengah-dewanti-antara-hong-kong-indonesia-demi-sececah-harapan_5554b8f46523bda41d4aefae
Nyi, di depan pekerjaannya. Sumber: Facebook Nyi Selalu ada perasaan sayang bila mengingat kawan satu ini: Nyi Penengah Dewanti yang akrab disapa Nyi atau Dewi. Saya mengenal perempuan kelahiran Kendal 6 November 1986 ini sudah cukup lama, kira-kira sejak 4 tahun yang lalu. Waktu itu ia masih tinggal di Hong Kong dan dijuluki Ratu Antologi oleh kawan-kawan penulis lainnya. Bagaimana tidak disebut Ratu Antologi, Nyi sudah berkontribusi pada 100-an judul buku! Saya memang hanya mengenalnya di dunia maya tapi saya merasa cukup akrab dengannya. Sesekali kami bertegur sapa dan mendiskusikan beberapa hal via inbox Facebook. Sesekali, ketika deritanya di perantauan tak tertahankan, ia curhat kepada kami – kawan-kawannya di komunitas Be a Writer. Waktu itu sifat grup Be a Writer masih “rahasia” dan kebanyakan dari kami ibu rumah tangga jadi kami paham perasaan dan jerih payah Nyi yang buruh migran itu. Usianya belum lagi 17 tahun ketika dengan beraninya ia mencoba tantangan merantau ke Hong Kong, pada tahun 2003. Selama 9 tahun Nyi berjuang sebagai pahlawan devisa bagi keluarga dan negara. Ia balik ke Indonesia tahun 2012. Sembari mencari penghidupan yang lebih baik, Nyi menulis buku solo pertamanya. Pada tahun 2013, buku solo pertama – sebuah novel berjudul Promise, Love & Life diterbitkan oleh penerbit Quanta. Novel itu ditulis berdasarkan kisah nyata dirinya. Sinopsis novel itu sedikit memberikan gambaran bagaimana kehidupan Nyi: Selain umur yang tidak memenuhi syarat, aku tidak memiliki KTP, dan KK. Oleh sebab itu bioadataku dirombak habis-habisan oleh PT yang akan memberangkatkanku. Aku bukan lagi warga Jawa Tengah, tapi berpindah menjadi warga Jawa Barat. Nama juga diubah dan beberapa surat lain. Ketika adikku beberapa bulan lahir, Bapak meninggalkan kami. Aku dan kakak banting setir untuk menghandel keuangan rumah demi bisa memberi sebotol susu dan bubur bayi untuk adik. Kalau Kakak menjadi kuli panggul bambu atau kenek angkot sepulang sekolah. Aku bekerja di warung makan, tetangga. Rezeki seumpama teka-teki, kerap berlindung di sarang misteri. Aku dan keluarga kecilku tidak menyerah. Kami terus berlayar ke negeri impian yang penuh perjuangan, tangisan, dan pengorbanan demi mewujudkan masa depan. Majikan pertamaku suka memukul dan cerewet, majikan keduaku sering menikam dibalik punggungku, majikan ketigaku -anaknya pernah mau membunuhku, sanggupkah aku melewati hidup di negeri orang dengan segudang ujian, dari yang Esa? Inilah kisahku, Promise, Love and Life. 14316150721973298464 14316150721973298464 Nyi di Bali Mungkin kalian mengira Nyi harus menjadi BMI karena bapaknya meninggal, ya? Tidak. Bapaknya meninggalkan keluarganya dalam arti yang sebenarnya. Ia punya rumah kedua, punya keluarga baru. Lelaki itu meninggalkan keluarga lamanya dalam keadaan kesusahan dan tak pernah menafkahi mereka lagi. Betapa bahagianya Nyi ketika buku solo pertamanya terbit. Kami – kawan-kawannya di grup Be a Writer pun tak kalah bahagia untuk dirinya. Seorang kawan – Riawani Elyta pernah merensi novel tersebut dan menuliskan sepenggal kisah ini: Setiap aku melakukan kesalahan, dia akan berkata seperti itu dan kata-kata kotor lainnya. Puncak kemarahannya, waktu itu aku didorongnya menghantam tembok. Esok harinya, kali ketiga memasak kailan aku masih juga salah. Sumpit yang dibawanya buat mencicipi masakan dipukulkan ke pundakku dengan kasarnya (hal. 69-70). Tidak mudah bertahan menghadapi majikan yang cerewet, memperlakukanku seperti anjing, memukulkan benda apa saja ketika dia marah (hal.100). Namun itu semua tidak menyurutkan semangat dan kesabaran Dewi. Semua ia lakukan demi menghidupi keluarga yang ia cintai. Demi menyekolahkan adikku. Demi bisa memiliki rumah. Demi bisa membayar utang-utang peninggalan Bapak. Demi itu semua aku berusaha kuat dan tegar dengan cobaan yang ditimpakan. Demi bisa makan dan asap dapur yang terus mengepul. Demi mempertahankan nasib dan masa depan. Tidak ada alasan menyerah pada keadaan. (hal. 26). Berbagai pengalaman pahit yang dialami Dewi sempat membuatnya gamang. Salah satu pilihan tersulit adalah memutuskan menyerah atau berjuang lebih keras lagi. Aku memilih opsi aman kedua. (hal. 107). Meski untuk pilihan itu, Dewi harus menghadapi majikan yang lebih kejam dan beban pekerjaan yang jauh lebih berat. 143161515451294988 143161515451294988 4 novel pertama karya Nyi Setelah novel memoar itu terbit, berturut-turut Nyi menerbitkan 4 novel berikut yang telah beredar di toko-toko buku besar di seluruh Indonesia: Waktu (Zettu, Juli 2013), Pendamping Hatiku (Rumah Oranye, Oktober 2013), Yang Tercinta (Zettu, Februari 2014), dan Ingin Bercinta (Zettu, September 2014). Saya tahu, seorang penulis senior pernah menyindirnya, mengapa ia tak menulis buku solo, hanya antologi demi antologi saja yang diupayakannya. Saya menduga, Nyi terpicu oleh sindiran itu. Nyi luar biasa. Ia sudah terbiasa jatuh-bangun dalam kehidupan sejak masa remaja. Sejak masa, di mana kebanyakan orang melaluinya dengan bersenang-senang, Nyi sudah bekerja keras. Tahun 2012 lalu, dia pernah menulis di blognya tentang bagaimana cara dia produktif menulis: Jangan menunggu lo punya waktu baru nulis, tapi menulislah selalu dalam keadaaan kepepet sekali pun. Mau percaya mau nggak, gue nulis saat majikan gue belum bangun. Jam tujuh gue udah ke basement nyuci dua mobil bos gue (BMW + M.benz). After that, gue bawa anjing piaraan gue jalan pagi, than nyiram bunga. Nyiapin breakfast, beberes meja makan, ruang nonton tivi, ngepel, nyapu, ngelapin kaca, nyuci toilet. Ini kerjaan pagi gue sebelum mereka bangun, dan lo tau gue nulis di sela-sela gue ngerjain itu.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mugniar/nyi-penengah-dewanti-antara-hong-kong-indonesia-demi-sececah-harapan_5554b8f46523bda41d4aefae
Nyi, di depan pekerjaannya. Sumber: Facebook Nyi Selalu ada perasaan sayang bila mengingat kawan satu ini: Nyi Penengah Dewanti yang akrab disapa Nyi atau Dewi. Saya mengenal perempuan kelahiran Kendal 6 November 1986 ini sudah cukup lama, kira-kira sejak 4 tahun yang lalu. Waktu itu ia masih tinggal di Hong Kong dan dijuluki Ratu Antologi oleh kawan-kawan penulis lainnya. Bagaimana tidak disebut Ratu Antologi, Nyi sudah berkontribusi pada 100-an judul buku! Saya memang hanya mengenalnya di dunia maya tapi saya merasa cukup akrab dengannya. Sesekali kami bertegur sapa dan mendiskusikan beberapa hal via inbox Facebook. Sesekali, ketika deritanya di perantauan tak tertahankan, ia curhat kepada kami – kawan-kawannya di komunitas Be a Writer. Waktu itu sifat grup Be a Writer masih “rahasia” dan kebanyakan dari kami ibu rumah tangga jadi kami paham perasaan dan jerih payah Nyi yang buruh migran itu. Usianya belum lagi 17 tahun ketika dengan beraninya ia mencoba tantangan merantau ke Hong Kong, pada tahun 2003. Selama 9 tahun Nyi berjuang sebagai pahlawan devisa bagi keluarga dan negara. Ia balik ke Indonesia tahun 2012. Sembari mencari penghidupan yang lebih baik, Nyi menulis buku solo pertamanya. Pada tahun 2013, buku solo pertama – sebuah novel berjudul Promise, Love & Life diterbitkan oleh penerbit Quanta. Novel itu ditulis berdasarkan kisah nyata dirinya. Sinopsis novel itu sedikit memberikan gambaran bagaimana kehidupan Nyi: Selain umur yang tidak memenuhi syarat, aku tidak memiliki KTP, dan KK. Oleh sebab itu bioadataku dirombak habis-habisan oleh PT yang akan memberangkatkanku. Aku bukan lagi warga Jawa Tengah, tapi berpindah menjadi warga Jawa Barat. Nama juga diubah dan beberapa surat lain. Ketika adikku beberapa bulan lahir, Bapak meninggalkan kami. Aku dan kakak banting setir untuk menghandel keuangan rumah demi bisa memberi sebotol susu dan bubur bayi untuk adik. Kalau Kakak menjadi kuli panggul bambu atau kenek angkot sepulang sekolah. Aku bekerja di warung makan, tetangga. Rezeki seumpama teka-teki, kerap berlindung di sarang misteri. Aku dan keluarga kecilku tidak menyerah. Kami terus berlayar ke negeri impian yang penuh perjuangan, tangisan, dan pengorbanan demi mewujudkan masa depan. Majikan pertamaku suka memukul dan cerewet, majikan keduaku sering menikam dibalik punggungku, majikan ketigaku -anaknya pernah mau membunuhku, sanggupkah aku melewati hidup di negeri orang dengan segudang ujian, dari yang Esa? Inilah kisahku, Promise, Love and Life. 14316150721973298464 14316150721973298464 Nyi di Bali Mungkin kalian mengira Nyi harus menjadi BMI karena bapaknya meninggal, ya? Tidak. Bapaknya meninggalkan keluarganya dalam arti yang sebenarnya. Ia punya rumah kedua, punya keluarga baru. Lelaki itu meninggalkan keluarga lamanya dalam keadaan kesusahan dan tak pernah menafkahi mereka lagi. Betapa bahagianya Nyi ketika buku solo pertamanya terbit. Kami – kawan-kawannya di grup Be a Writer pun tak kalah bahagia untuk dirinya. Seorang kawan – Riawani Elyta pernah merensi novel tersebut dan menuliskan sepenggal kisah ini: Setiap aku melakukan kesalahan, dia akan berkata seperti itu dan kata-kata kotor lainnya. Puncak kemarahannya, waktu itu aku didorongnya menghantam tembok. Esok harinya, kali ketiga memasak kailan aku masih juga salah. Sumpit yang dibawanya buat mencicipi masakan dipukulkan ke pundakku dengan kasarnya (hal. 69-70). Tidak mudah bertahan menghadapi majikan yang cerewet, memperlakukanku seperti anjing, memukulkan benda apa saja ketika dia marah (hal.100). Namun itu semua tidak menyurutkan semangat dan kesabaran Dewi. Semua ia lakukan demi menghidupi keluarga yang ia cintai. Demi menyekolahkan adikku. Demi bisa memiliki rumah. Demi bisa membayar utang-utang peninggalan Bapak. Demi itu semua aku berusaha kuat dan tegar dengan cobaan yang ditimpakan. Demi bisa makan dan asap dapur yang terus mengepul. Demi mempertahankan nasib dan masa depan. Tidak ada alasan menyerah pada keadaan. (hal. 26). Berbagai pengalaman pahit yang dialami Dewi sempat membuatnya gamang. Salah satu pilihan tersulit adalah memutuskan menyerah atau berjuang lebih keras lagi. Aku memilih opsi aman kedua. (hal. 107). Meski untuk pilihan itu, Dewi harus menghadapi majikan yang lebih kejam dan beban pekerjaan yang jauh lebih berat. 143161515451294988 143161515451294988 4 novel pertama karya Nyi Setelah novel memoar itu terbit, berturut-turut Nyi menerbitkan 4 novel berikut yang telah beredar di toko-toko buku besar di seluruh Indonesia: Waktu (Zettu, Juli 2013), Pendamping Hatiku (Rumah Oranye, Oktober 2013), Yang Tercinta (Zettu, Februari 2014), dan Ingin Bercinta (Zettu, September 2014). Saya tahu, seorang penulis senior pernah menyindirnya, mengapa ia tak menulis buku solo, hanya antologi demi antologi saja yang diupayakannya. Saya menduga, Nyi terpicu oleh sindiran itu. Nyi luar biasa. Ia sudah terbiasa jatuh-bangun dalam kehidupan sejak masa remaja. Sejak masa, di mana kebanyakan orang melaluinya dengan bersenang-senang, Nyi sudah bekerja keras. Tahun 2012 lalu, dia pernah menulis di blognya tentang bagaimana cara dia produktif menulis: Jangan menunggu lo punya waktu baru nulis, tapi menulislah selalu dalam keadaaan kepepet sekali pun. Mau percaya mau nggak, gue nulis saat majikan gue belum bangun. Jam tujuh gue udah ke basement nyuci dua mobil bos gue (BMW + M.benz). After that, gue bawa anjing piaraan gue jalan pagi, than nyiram bunga. Nyiapin breakfast, beberes meja makan, ruang nonton tivi, ngepel, nyapu, ngelapin kaca, nyuci toilet. Ini kerjaan pagi gue sebelum mereka bangun, dan lo tau gue nulis di sela-sela gue ngerjain itu.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mugniar/nyi-penengah-dewanti-antara-hong-kong-indonesia-demi-sececah-harapan_5554b8f46523bda41d4aefae

4 komentar:

  1. Wiih keren banget ya Nyi. Luar biasa, benar-benar sosok wanita Indonesia yang tangguh dan membanggakan.

    www.talkativetya.com

    BalasHapus
  2. menulis dalam keadaan kepepet..dulu sering kalo DL lomba..sekarang kayanya otaknya ga kuat ><

    BalasHapus
  3. Ternyata, blog 'Blogger Kendal' ini mmg konten pengenalan kota ya? Wah.. hebat Nyi..

    BalasHapus
  4. Aah...Nyi kerren banget.
    Suka nyari-nyari alesan buat nulis.
    Tapi perjuangan Nyi...mashaallah.

    Semoga menjadi tabungan jariyah kelak...aamiin.

    BalasHapus