Laman

Aku, Kamu dan Kita :Unity in Diversity


Dulu aku tidak kenal kamu
Kamu pun tidak kenal aku
Lalu takdir mempertemukan kita di depan penghulu

Kamu anak chemist
Aku dengan latar belakang teknis
Tapi itu semua InsyaAllah tidak menghalangi kita untuk harmonis

Shopping membuatmu heppi
Too many shopping buatku bikin tabungan merugi
Namun denga segala diversity tetap membuat kita unity

Hari ini, sebelas tahun lalu Sabtu 3 Desember 2005 jam 15.00, kita sepakat mengikat janji.

***
" Sebagian orang berharap dapat menikah dengan laki-laki yang mereka cintai. Do’aku sedikit berbeda, Aku dengan rendah hati memohon kepada Tuhan agar aku mencintai laki-laki yang aku nikahi"

Pertengahan tahun 2005

Jantung saya berdegub kencang. Untaian kata-kata indah di atas begitu menusuk ke relung kalbu. Orang bilang tiada ada suatu kebetulan tanpa pemaknaan dari-Nya. Iseng-iseng cari buku murah di toko buku seputaran Masjid Salman, mempertemukan saya dengan sebuah novel indah karya sastrawan Pakistan. Dan melalui novel inilah, saya belajar banyak hal, bukanlah suatu ketidakmungkinan bahwa cinta dalam sebuah pernikahan dapat ditumbuhkan dari ketiadaannya.
  ***
Tak terasa, sudah sebelas tahun pernikahan kami terjalani. Ah, rasanya baru kemarin saja. Tiba-tiba, sudah ada tiga gadis kecil yang menemani di keseharian kami. Kehadiran mereka turut merekatkan rasa di antara kami.

Kami berbeda dalam banyak hal

Saya anak Teknik, dia cowok Mipa. Saya terbiasa melihat cowok ‘kumal’, gondrong dan cuma memakai jepit waktu ke kampus. Dan setelah berkenalan dengan teman suami sesama anak Mipa, saya dapatkan kesimpulan bahwa tipikal mahasiswa cowok Mipa itu adalah kulitnya putih-putih, rapih, bersih, anak rumahan, pokoknya bukan Teknik banget deh.

Suatu hari, di minggu-minggu pertama pernikahan, setelah saya diboyong ke Kerinci, Pelalawan Prop. Riau. Hari pertama suami ngantor setelah cuti nikah. Habis sarapan, saya memandangi suami yang tengah bersiap ganti baju kerja. Rapiin baju celana yang dikenakan dan tak lupa memakai parfum. Pikir saya aktifitas di depan cermin selesai, tapi ternyata belum. Masih ada yang diambil suami dari rak kosmetik.

Itu dia…

Dan sukses membuat saya terperangah. Oh my god, who’s the guy that I have been married for!
Hey, laki-laki memakai body lotion! Surprised saya.

“Ya iyalah, saya kan quality controller perusahaan bubur kertas. Yang tiap harinya selalu berurusan dengan bahan-bahan chemical. Ini salah satu proteksi kulit yang bisa dilakukan dari rumah,”demikian jawab suami ketika itu.

Okay. But it cannot eliminate my shock. Ada ya ternyata lelaki yang pake body lotion. Begitu pemikiran si anak teknik. He..he…

Kami berdua ibarat rem dan gas. Suami yang menjadi ‘gas’ dan saya adalah ‘remnya’. Saat si kembar belum ada dalam artian Nessa belum punya adik, merupakan puncak dari ‘obsesi’ belanja suami saya. Tiap pulang kampung ke Bukittinggi, ada aja  bawaan belanja buat Nessa. Sampai-sampai mama saya sedikit protes.
“Membelikan anak sesuatu memang wujud kasih sayang, tapi ingat terlalu sering secara tak langsung mengajari anak suka royal,” demikian nasihat mama.

Jangan tanya jumlah sepatu, tas dan baju. Punya siapa yang lebih banyak. Kalau saya, cukup punya dua sepatu untuk pergi kerja. Kalau sudah rusak baru beli lagi. Sedangkan si Abang, jumlah sepatunya hampir menyamai jumlah hari dalam seminggu. Kalau Senin, warna hitam. Besoknya beda lagi. Mr Matching deh.
Nah, saya nih yang harus sering ngerem nafsu belanjanya. Rekan-rekan, ada yang ‘bernasib’ sama dengan saya gak? He..he..

Kami berdua juga bukan pasangan yang romantis. Mungkin bisa disebut pasangan yang cuek, tapi bukan pasangan yang saling nge-cuekin lho ya. Semisal, di waktu pagi hari jarang sekali saya melepas kepergiannya ke kantor.

” Hati-hati di jalan ya Bang, jangan lupa pake sabuk.”

Paling saya hanya melepasnya demikian, sambil meneruskan kesibukan memandikan si kembar dan sarapan pagi si Kakak yang akan berangkat ke sekolah.

Oh ya, dalam keseharian kami jarang menggunakan kata-kata romantis. Jadi misalnya, pagi ini kami tandem masak di dapur untuk persiapan bekal makan anak-anak dan bekal siang kami, dan si Abang bilang,” Tolong ambilkan daging di kulkas, Sayang.”

Bukannya trenyuh, malah saya tertawa-tawa geli. Gak biasa siy dipanggil sayang-sayanganJ Mungkin sudah platform hubungan kami seperti itu. Toh kami berdua enjoy-enjoy saja sepanjang ini.

Tapi suatu kali, sehabis baca buku Rembulan Terbelah di Langit Eropa, saya kepo juga dengan keromantisan Rangga kepada istrinya, Hanum Rais.

“Bang, abang romantic kayak Rangga ini dong. Kan cewek senang di kasih-kasih kejutan.”

“Aduuh, gak usah macam-macam mami. Ngomong aja kalau mami ingin sesuatu. Pusing mikirin sesuatu yang gak berwujud,” ujarnya.

Saya pundung dong. Tapi kalau di pikir-pikir memang sebenarnya si Abang sering kali ngasi kejutan kepada saya. Cuma mungkin bentuk dan caranya yang ga heboh. Pastinya gak ada ucapan :  “ surprised!!!”

Suatu hari, saya menyadari ternyata saya belum memiliki baju atau gamis yang berwarna hitam. Maksudnya kalau ada even pergi melayat, masa baju yang dipakai cerah semua. Tapi dasar saya orangnya malas pergi belanja, saya pending keinginan beli baju hitam. Gak tau telepati atau gimana, pas si abang pulkam, akhirnya gamis hitam berhasil mendarat di Siteba dari hanggarnya di Aur Kuning Bukittinggi.

Kemudian di hari lainnya, tiba-tiba dia membelikan saya sebuah payung.

“ Nih, buat mami kalau ke kampus,” demkian katanya.

“Gua kan bawa mobil, Bang. Jadi gak perlu payung.”

“Trus kalau hari hujan lebat gimana, pake apa dari parkiran?” tanyanya.

“Terobos aja bang, lari-lari dikitlah. Kan dekat,” jawab saya.

“Dasar anak teknik!”

Sehingga akhirnya payung tersebut cuma memenuhi lemari di rumah.  Namun beberapa waktu kemudian, untuk suatu urusan di Rektorat Unand, saya terpaksa parkir di parkiran sebelah gedung Auditorium karena parkiran rektorat penuh. Awal datang ke parkir tersebut, saya sudah was was, karena ternyata motor juga parkir disana padahal jelas-jelas tertulis daerah tersebut untuk parkir mobil. Apalagi kondisi parkiran motor yang nyikngsek mendekati mulut jalan masuk , tapi berhubung ada satpan yang mengawasi hati saya sedikit lega.

Ternyata beberapa saat kemudian ketika urusan sudah selesai, hari hujan lebat. Karena tidak mau terlambat menjemput Nessa di sekolah, saya nekat menuju parkiran tanpa memakai payung. Langsung masuk mobil, dan berangkat. Oh la la…!! Ternyata mulut jalan keluar telah tertutup dengan motor yang parkir sembarang. Pak satpam sudah menghilang karena hujan lebat, dan saya tidak punya jalan lain untuk keluar.

Terpaksa saya keluar mobil lagi, berlari diguyur hujan lebat menuju Pos Satpam Rektorat yang lumayan jauhnya. Setelah melapor kondisi jalan keluar parkiran, akhirnya Pak Satpam mau membantu untuk menyingkirkan motor yang menghalangi mobil saya keluar. Setelah sampai di rumah, saya cerita ke suami kisah saya hujan-hujanan di parkiran tadi.

“Makanya, dengar apa kata suami,” katanya. Setelah kejadian itu, payung selalu nongkrong manis di mobil saya.

Bicara persamaan, kami berdua sama-sama suka jalan jalan. Sama-sama doyan makan. Dan sama-sama gak pencemburu. Catat.

Si abang kalau lagi usil suka ‘ngintip-ngintip’ sms di inbox. Nah suami yang pertama menyadari bahwa si X, sesorang dari masa lalu, gak pernah say HBD lagi.

“ Hubungi dia dong, nanya apa dia sehat-sehat aja,” usul si Abang.

But, We are a good team at home

Dan kami berdua merupakan tim kompak di rumah. Saya tidak akan sukses menyusui ketiga anak kami selama dua tahun tanpa dukungan dari suami. Dua kali sehari suami membuatkan segelas susu buat saya minum. Suami juga yang memberikan ASI perah ke salah satu bayi kembar kami, jika mereka terbangun atau pingin menyusu pada saat yang bersamaan. Apalagi di waktu masa pemberian ASI ekslusif, suami mengkondisikan saya di rumah bertugas hanya untuk bolak-balik menyusui bayi kembar kami. Ayah ASI banget kan?

Dalam urusan pekerjaan rumah tangga juga. Kebetulan orangtua saya barusan pindah ke provinsi sebelah, ada tetangga yang sedikit prihatin dengan saya akibat ketiadaan asisten rumah tangga untuk bantu-bantu di rumah. Dalam hati sebenarnya  saya ingin bilang,”Tenang Buk, ada Chef Yasri.”

Ya, buat suami saya, memasak dan shopping adalah passion dia. Dia selalu bilang kalau memasak itu harus dengan cinta, makanya enak terasa walaupun gak masak pake takaran. Dan memang semua masakan dan cemilan yang dibikinnya terasa enak. Sedangkan buat saya, memasak hanya merupakan kewajiban, jadi terasa beban kalau kerjaan lagi menumpuk.

Kalau lagi masak berdua, saya kebagian urusan bersih-bersih dan nyiapin porsi bahan masakan. Begitu beres, urusan di atas kompor dilanjutkan sama Chef Yasri.

Tapi gak enaknya, beberapa minggu yang lalu suami tiba-tiba membelikan belut sawah kesukaan saya. Saya memang selalu suka belut goreng balado hiijau. Menu ini selalu hadir kalau pulang ke rumah mertua.

“Mami, nih ada belut sawah. Kebetulan tadi ada teman yang lagi ke pasar, jadi nitip. Kan mami suka makan belut.”

“Banyak sekali, Bang. Berapa kilo nih?”

“Dua kilo.”

Gubrak. Dua kilo belut harus saya bersihkan. Iiih jijay bajaj. Secara saya kan seumur umur belum pernah bersih-bersih belut. Dua kilo lagi, mana licin.

Oh Tuhan. Selama saya bersihin belut tersebut, saya gak berani lihat belutnya. Natap ke depan terus. Geli sekaligus takut. “Jangan-jangan jadi anak ular,” ucap saya dalam hatiL. Ya udah pakai perasaan aja, ini udah bersih apa belum. Sama sekali gak dilihat.

“Bang, besok-besok jangan beli lagi ya,”pinta saya.
***
Sesungguhnya di awal pernikahan saya tidak pernah membayangkan dan tidak pernah memikirkan, pun tidak pernah menanyakan akan seperti apa pernikahan yang saya jalani. Walaupun sudah beberapa kali bertemu, sesungguhnya kami belum mengenal satu sama lain.

Menikah dengan pujaan hati, mungkin impian semua perempuan di dunia. Tapi saya berbeda, saya tidak berhasil membawa seseorang ke tangga pernikahan. Sesorang yang saya pikir awalnya dialah jodoh saya, tetapi ternyata melalui 'jalanNya' Allah Swt telah 'menunjukkan' bahwa dia bukanlah orang yang tepat. Dan seorang yang bernama Yasri Alfajri telah ditakdirkan menjadi pasangan saya.

Biduk rumah tangga kami pun tak luput dari hantaman badai di awal-awal pelayarannya. Ibarat nahkoda yang baru belajar berlayar, haluan kapal 'mencong-mencong' ke kanan ke kiri. Tapi kami berdua tetap bertahan. Kami berkeyakinan bahwa haluan kapal musti diarahkan lurus menuju dermaga yang sama. Jangan tanya seperti apa rasanya, karena cuma airmata yang bisa menjawabnya.

Dua tahun pertama adalah masa-masa kami memadukan perbedaan. Saya berkeyakinan bahwa pernikahan pada hakekatnya berfungsi untuk memadukan segala perbedaan yang ada, tetapi bukan untuk menyatukan. Sejauh kita masih berjalan beriringan di garis yang sama, sejauh kita masih bisa berkompromi dengan perbedaan yang ada, yakinlah bahwa pernikahan itu akan selalu ada.

Tak sedikit pun saya menyesalinya. Setelah Allah Swt menilai bahwa kami sudah berpadu sebagai pasangan, Dia menitipkan amanah di rahim saya. Begitu indahnya skenario Allah. Sekarang, kalau berantem dikit-dikit, paling saya tenang aja.

"Easy, itu cuma riak-riak kecil. Tomorrow, everything it’s gonna be alright."

Fakus pada kelebihan masing-masing pasangan, jangan pada kekurangannya. Karena sesungguhnya kita merupakan 'pakaian' buat pasangan masing-masing, untuk melengkapi dan menutupi kekurangan yang ada.
Ada masanya ketika kita tidak bisa mengikuti apa yg kita pikirkan, ikuti saja kata hatimu. Tapi bukankah kebahagiaan terasa adanya di akhir? Jadi percaya saja pada garis nasib. Jangan disesali. Yakinlah bahwa ini yang terbaik yang disediakan Allah SWt buat kita.

Marriage is not a noun; it’s a verb. It isn’t something you get. It’s something you do. It’s the way you love your partner every day.” - Barbara De Angelis -

PS : Happy Our Anniversary, ya Bang

21 komentar:

  1. Aaah, so sweet banget mbak yervi kisah cinta-nya... Semoga langgeng terus ya mbak. Aamiin.

    www.talkativetya.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Every love story is sweet ya mb Tya

      Hapus
  2. Sebelas tahun, wow...
    semoga tetap langgeng ya Mbak dan Mas nya :)

    BalasHapus
  3. Happy anniversary mbak...Wah sudah 11 tahun ya.Saya tahun ini juga 12 tahun. Kalau hobi shopping sama deh kayaknya suaminya.Suami saya juga hobi belanja online.Tapi bukan baju atau sepatu.Tapi printilan-printilan gak jelas gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ternyata saya ada temannya, sesama punya suami suka shopping

      Hapus
  4. Happy anniversasy mba :))
    Baca ceritanya enjoy dan beberapa hal bikin saya lucu sendiri, hhehehe.
    menurut gw sih, romatis enggak ada standarnya mba, enggak harus kasih bunga atau kejutan tiba-tiba. Hal sepele pun bisa romantis trgantung cara pandang nya, kwkwk

    salam kenal yah.

    BalasHapus
  5. suka banget bait yang ini

    Shopping membuatmu heppi
    Too many shopping buatku bikin tabungan merugi
    Namun denga segala diversity tetap membuat kita unity

    kereen mbak :D

    BalasHapus
  6. Happy anniv mba semoga semakin samara dan romantis y mba :D lucu bacanya hehehe

    BalasHapus
  7. Waw so sweet...udah sebelas tahun ya mba. Happy anniversary! Aku bikin gini juga deh kalau ulang tahun pernikahan (eh tapi akunya sering lupa tanggal)

    BalasHapus
  8. Happy wedding anniversary mbak :D
    Hehehe saling melengkapi ya :D

    BalasHapus
  9. Baca kisah ini, buat saya senyum-senyu sendiri. Kebalikan bangeet dengan kondisi saya hehehe Saya yang lebih banyak ngoleksi barang-barang ^_^

    BalasHapus
  10. Kompak banget mba Yervi ^^

    Semoga Allah menguatkan pernikahan ini dengan ikatan dan penjagaan tiada henti hingga jannahNya kelak.
    Aamiin.


    Happy wedd-anniversary.
    ^^

    BalasHapus
  11. Hemm. Bikin envy nih kalo postingan gini

    Btw happy annivrrsary mbak..

    BalasHapus
  12. verlasting love! Aamiin. Bahagia selalu, mbak sama keluarganya.

    Salam,
    Syanu.

    BalasHapus
  13. Mmg sebelum nikah, ngak tau kalo laki nya pake body lotion ??? hahaha

    BalasHapus
  14. Mbaaa, saya juga pernah loh dibeliin belut idup2 hiyyy..bingung masaknya

    BalasHapus