Laman

Ini Dia Tipe Mahasiswa Berdasar Posisi Duduk Saat Ujian!

tipe, mahasiswa, posisi, duduk, ujian

Kebijakan pimpinan Fakultas sejak semester ini, penyelenggaraan ujian semester murni diawasi oleh dosen yang bersangkutan. Tidak ada lagi penggunaan Tenaga Kependidikan (Tendik) untuk pengawasan dengan alasan mengganggu kinerja mereka dalam pelayanan administrasi dsb. Namun kabar kaburnya sih karena ketiadaan honor dengan alasan itu sudah menjdi Tupoksi-nya.

Entahlah….   Yang pasti ujian mata kuliah yang saya ampu yang terdiri atas dua kelas paralel terpaksa saya gabungkan di satu ruang besar. Ruang pertemuan seluas 15×15 m disulap menjadi ruang ujian berkapasitas 70 mahasiswa.
  "Pusing gak ya mengawasi mahasiswa ujian seorang saja?"
Sebenarnya tidak juga, asal posisi duduk mahasiswa bisa diatur rapi dan dengan jarak antar mahasiswa cukup jauh untuk bisa saling bekerja sama. Ngomong-omong tentang posisi duduk, berikut adalah tipe-tipe mahasiswa brdasarkan posisi duduk ujian.

1. Mahasiswa Pede

Mahasiswa ini dominan mengisi baris-baris kursi di depan. Mahasiswa tipe ini yakin dengan kemampuannya dan percaya akan dapat mengerjakan ujian dengan kemampuan sendiri. Mahasiswa tipe ini jarang bekerjasama apalagi memcontek.   Saat saya datang ke ruangan kelas, tiga baris pertama kursi ternyata kosong. Bisa saja ini berarti mahasiswa tidak begitu yakin atau mereka berharap ada mahasiswa lain (baca:yang terlambat) menempatinya.

2. Baris Tengah Untuk Si Moderate

Biasanya mahasiswa yang mengambil posisi ujian pada baris-baris ditengah karena menganggap baris tengah merupakan zona aman ujian. Baik dari arah depan maupun dari arah belakang, posisi ini cukup jauh dari jangkauan ‘radar’ dosen.   Kemungkinan besar mahasiswa yang memilih posisi ini adalah mahasiswa yang tidak begitu yakin dengan kemampuannya. Sehingga dengan posisi aman tersebut memungkinkan mahasiswa untuk bekerjasama dengan mahasiswa lain di sekitarnya untuk memdapatkan kesempurnaan jawaban. Bertanya satu dua keyword tertentu kepada teman sebelah untuk membantu mengingat keseluruhan jawaban adalah modus seringnya.

3. Zona belakang untuk kesempatan cheating yang lebih luas.

Kenapa bisa begitu. Ya pasti karena dosen ga mungkin lama-lama berdiri. Bisa aja sih dosen hilir mudik kesana kemari….tapi ujungnya pasti kembaki lagi ke depan, ke meja kursi yang sudah disediakan untuk dosen.

Jauh dalam jangkauan dosen, sebuah argumentatif mahasiswa untuk memanfaatkan posisi tersebut untuk cheating. Tapi dosen gak akan kehilangan akal. Pindahkan atau rolling saja beberapa baris di belakang ke depan. Habis perkara….

Momen-momen menggelikan dalam pelaksanaan ujian mahasiswa

1. I’m so tired

Ternyata ujian tidak hanya bikin capek kepala ya tapi sudah menjalar hingga ke kaki. Kakinya minta istirahat sebentar tuh. Awas….ga bau kan?

2. Simak body language-nya
 
Mahasiswa yang bisa menjawab soal ujian dengan baik, biasanya tindak-tanduknya serius dengan posisi badan yang tertunduk tekun dan serius menghadap kertas ujian.


3.  Tangan menopang dagu tanda tak mampu?

Nah mahasiswa yang ‘bingung’ dengan jawaban yang mesti ditulis biasanya akan bertampang seperti di bawah ini.


Yang mana paling keras dalam berpikir? Apakah yang memegang ballpoint atau menopang dagu. Yang mana yang paling banyak membuahkan hasil pemikiran yang membantu dalam menjawab soal? He…he…

4.  Eits lagi apaan tuh?

Menutup muka dengan kertas ujian. Kita tidak pernah tahu apakah mahasiswa tersebut membaca ulang jawaban yang telah ditulis atau dapat juga menimbulkan praduga mencoba melakukan komunikasi dengan rekan disamping?

5. Waspada pada Injury Time

Saat-saat ujian mendekati injury time dan beberapa mahasiswa telah mengumpulkan lembar jawaban, maka mahasiswa yang belum selesai akan langsung memanfaatkan suasana yang tidak hening lagi. Ada yang berusaha menoleh, berusaha berbicara untuk mendapatkan jawaban dari rekannya, so beware!


Berkaitan dengan posisi duduk di atas, secara umum mahasiswa mana yang terlebih dahulu menyelesaikan ujian?

Ternyata hipotesis saya benar. Mahasiswa yang berada pada posisi (baris dan lajur) kanan, yang setiap waktu bisa saya mondar-mandiri, ternyata lebih cepat menyelesaikan ujiannya. Ya walaupun tidak selalu berkorelasi antara selesai dengan bisa mengerjakan jawaban ujian, paling tidak bisa disimpulkan mereka lebih dahulu selesainya. Tapi jangan lupa gunakan hipotesa terbalik. Yang kita sangka begini, ternyata malah sebaliknya. Yang nyari jawaban ternyata malah kasih jawaban. Yang terakhir ngumpul ternyata bukan cek jawaban tapi sebisa mungkin isi sampai penuh. Yang bingung ternyata berpikir keras orangnya.

Kemudian beranjak ke posisi tengah yakni posisi para mahasiswa moderate berada dan terakhir mahasiswa yang duduk di baris dan lajur kiri. Suasana menjelang injury time terekam dalam momen-momen berikut.

30 minutes - 20 minutes - 10 minutes remaining for exam closing
Masih meragukan ungkapan “Posisi Menentukan Prestasi”?
Read More

Menikmati Kejayaan Masa Lampau Kaum Baba Nyonya di Strait Chinese Jewellery Museum

Museum, Straits, chinese, jewellery, baba, nyonya

Melongok Kejayaan Masa Lampau Kaum Baba Nyonya - Bertepatan dengan Imlek, yuk kita jalan-jalan menyaksikan peradaban kaum baba nyonya di Melaka Malaysia. Kalau di Indonesia, kita sepertinya susah untuk dapat akses dan memang tidak banyak tempat seperti museum yang menyediakannya. Jadi kita gak punya kesempatan untuk menikmati kejayaan mereka.

Di Melaka Malaysia, sebenarnya ada dua museum yang bisa kita datangi untuk menjawab keingintahuan tentang kaum baba nyonya. Sudah tahu kan, kaum baba nyonya itu apa? Kaum baba nyonya aka cina peranakan Melaka yang merupakan perkawinan silang antara orang cina daratan dengan melayu, baik dari Indonesia maupun dari Thailand.

Museum pertama, yang saya datangi adalah Strait Chinese Jewellery Museum. Awalnya sebenarnya saya ingin mendatangi Baba Nyonya Heritage Museum, karena museum ini banyak sekali diulas berbagai situs pariwisata dunia dan mendapatkan rekomendasi dari tripadvisor. Namun ternyata sopir taxi-nya salah alamat. Belakangan saya tahu memang kedua museum tersebut letaknya tidak berjauhan dan masih berada pada jalan yang sama.
Tampak Depan Straits Chinese Jewellery Museum

Terletak kawasan kota tua yang dilindungi UNESCO tepatnya di jalan Tun Tan Cheng Lok No 108 Melaka ini, mulai dibuka menjadi museum pada tahun 2012. Seperti jenis-jenis rumah cina peranakan lainnya, museum ini terdiri dari dua lantai dengan dua buah open space untuk sirkulasi udara dan air, dan memanjang ke arah belakang.
Apa saja yang dapat kita nikmati disini?

1. Koleksi perhiasan

Museum, Chinese Jewellry, Melaka
Ruang Pamer Perhiasan
Buat saya, koleksi perhiasan inilah jawara-nya museum Strait Chinese Jewellery Museum yang tidak ada di museum lainnya. Koleksi perhiasannya banyak banget dan besar-besar.  Angle foto saya rada salah ya. Padahal di belakang furnitur segitiga tersebut, masih ada meja pajangan memanjang ke belakang yang memuat keseluruhan perhiasan yang dipamerkan. Biar kelihatan ruangannya seperti apa. Katanya jumlah perhiasannya mencapai 400 buah, dan itu emas semua lho.Bahkan kepala tudung saji pun terbuat dari emas.

Angle geser dikit. Itu emas semua yang dipajang.

Perhiasan Yang Pernah Dipakai
Keren kan? Bahkan sampai tiara pun terbuat dari emas. Ckck...tajirnya.

2. Arsitektur Rumah Baba Nyonya
Anchestral Hall


Secara arsitektur, rumah kaum baba nyonya di Melaka, membagi zonasi ruang berdasar fungsi dari ruangan tersebut. Umumnya setiap zonasi akan selalu dibatasi dengan adanya pintu. Jadi kalau kita masuk ke museum ini, yang denahnya memanjang ke belakang, maka akan ada sekitar empat zonasi.



Terdapat dua buah open space untuk sirkulasi udara dan untuk air. Pada lantai yang berada di open space, maka tinggi muka lantainya akan diturunkan sekitar 10 cm untuk menjaga supaya keseluruhan lantai tidak basah semuanya. Terdapat juga gentongan besar di lantai tersebut yang berfungsi untuk menampung air hujan. Pada titik titik tertentu dari lantai di bawah open space, terdapat saluran yang berfungsi untuk membuang air langsung ke sungai Melaka. Keren ya sistem drainasenya....

3. Barang-barang Antik

Di museum ini banyak sekali barang-barang antik yang dipamerkan. Mulai dari furniture, keramik, perabotan makan, hingga barang-barang atau perkakas yang dipermulakan untuk memasak di dapur.







4. Belajar Budaya Baba Nyonya

Di museum Straits Chinese Jewwllery ini banyak juga dipamerkan baju-baju yang dipakai oleh pemilik rumah di masa lampau. Baju baju dikelompokkan berdasarkan even atau acara yang berlangsung, seperti kematian, kelahiran pernikahan dan sebagainya.

 Yang saya takjub dari pintu ini, adalah bukan hanya satu-satunya pintu geser yang terdapat di museum ini, tapi lebih kepada fungsinya. Pintu ini memisahkan antara ruang keluarga dengan ruang tamu. Dan bagian atas pintu sebenarnya terbuat dari bahan kayu yang ada terawangnya. Sehingga pemilik rumah dapat melihat tamu yang datang tanpa ketahuan.

Kira-kira dipergunakan buat apa pintu ini? Dulu, gadis-gadis (baca nyonya) yang akan dijodohkan melihat calon suaminya melalui pintu ini. Jadi kaum baba nyonya ternyata 'taaruf' juga dalam mencari jodoh.



Ditemani oleh guide yang cukup mahir berbahasa inggris, tiket masuk seharga RM 10 (lupa-lupa ingat) worth it-lah dengan tur yang dinikmati. Sayangnya museum ini sepi dari pengunjung dibandingan dengan Baba Nyonya Museum. Bagi yang phobia kesepian, gak disarankan ke sini. Apalagi banyak foto-foto lama yang digantung di dinding.

Untuk dicatat, di Strait Chinese Jewellry Museum, kita diperbolehkan untuk mengambil gambar. Syaratnya pengambilan gambar setelah tur dilakukan. Kita gak diperbolehkan mengambil gambar, saat tour guide menerangkan. Karena saat itu cuma saya sendiri yang datang, jadinya gak maksimal foto-fotonya. Gak nyaman saja.

Bagi yang merencanakan untuk datang ke Strait Chinese Jewellry Museum, museum ini mulai dibuka pukul 10 hingga pukul 5 sore waktu Malaysia. Yuk, traveling to Melaka.


**AV**
Read More

Belajar Advance Internet Sama Faycha


Sering kan ya, kalau kita lagi buka-buka website atau situs tertentu, lalu anda bukannya dihantarkan pada apa yang anda ingin baca, namun sesuatu malah menghampiri dan mengganggu jalannya anda surfing di Internet. Iklan-iklan yang datang gak diundang, muncul dengan tiba-tiba.

Mengganggu banget lho. Terlebih kalau kita mau browsing dan searching dengan memakai hape yang terbatas ukuran layarnya. Terkadang malah iklan tersebut hampir menutupi website yang ingin kita jelajahi. Udah gitu gak berguna alias sampah.

Itulah yang disebut dengan iklan pop up. Kadang sangat sulit untuk menghilangkannya. Button untuk klik-nya kadang ditempatkan ditempat yang jauh dan dalam ukuran kecil. Begitu anda tidak sengaja mengklik malah lari kemana-mana.

Dulu saya hanya bisa pasrah, kalau sudah begini. Ujung-ujungnya gak jadi browsing. Tapi sekarang anda gak perlu khawatir lagi. Saya punya kenalan, blogger juga yang bisa membantu kesulitan kita bersama.

Namanya Faycha Anastasya. Seorang Blogger Tutorial dari kota Jakarta. Kalau umumnya emak-emak blogger, isi blognya berupa curhatan, maka dijamin kalo kita ulik-ulik blog-nya faycha, gak bakalan ada. Isi blog faycha memang lebih banyak berupa tutorial yang berhubungan dengan internet dan blog. Cocoklah buat mak-mak blogger kayak saya, bodoh gak tapi mahir pun tidak. :)

Kembali ke persoalan iklan pop up di atas. Ternyata dalam tutorialnya Faycha menerangkan bahwa kita sebenarnya bisa melakukan filterisasi terhadap iklan pop up dengan cara memblokirnya dari browser kita. Dengan menginstal ekstensi Adbox Plus pada bowser, dijamin iklan pop up menjauh dari kehidupan kita, eh dari browser internet kita.

Bagaimana caranya? Yuk sama -sama belajar. Cara di bawah saya copy langsung dari sumbernya, blog.imaginasiasha.web.id
 Semoga membantu.
Read More

Teknik Konseling, Untuk Komunikasi Suami Isteri Yang Efektif

konseling, suami, isteri, komunikasi

Di Suatu Sore Yang Cerah....

"Yuhuuu...Papa I'm back."

"Ih, Mama dari mana aja. Sore banget pulangnya?"

"Tau gak, Pa. Tadi barusan Mama dapat klien. Dia dokter lho, Pa. Tapi bayinya masih kesulitan menyusui, Pa. Akhirnya terkabul juga cita-cita Mama jadi Konselor Menyusui."

"Memang Mama dari mana, sih?"

"Papa, jadi ceritanya Mama hari ini resmi menjalani profesi Konselor Menyusui. Tadi itu klien pertama Mama. Belum terlalu berhasil sih, tapi minimal dia gak kesakitan lagi kalau menyusui."

" Trus Mama kesana sama siapa?"

" Sendiri aja, Pa. Rumahnya di kompleks perumahan mewah gitu Pa."

"  Nah, ini nih. Kebiasaan jelek Mama.  Gimana coba, kalau ternyata klien itu cuma kedok, dia sebenarnya mau tipu atau perdaya Mama. Gak kan ada yang tahu kan? Mama gak dengar ya, kasus adiknya Fadli Fadlan. Besok-besok kalau mau datang ke orang yang gak kenal, gak boleh sendiri. Minta izin dulu sama Papa."


.... dan percakapan terhenti sampai disitu.

Kalau anda jadi Mama dalam lakon di atas, kira-kira bagaimana perasaan anda pada akhir komunikasi suami isteri tersebut. Gembirakah? Atau malah jengkel, marah?

Seandainya saya dalam posisi tersebut, saya pasti kesal pada suami, karena niat baik yang dilakukan malah berujung dengan 'ceramah' singkat dari pak suami. Sebenarnya niat sang suami baik sih. Bahwa isteri juga harus mengerti situasi dan peluang untuk orang berbuat jahat. Karena itu mawas diri perlu. 

Apakah respon yang diperlihatkan suami itu merupakan respon yang salah? Jujur saya katakan tidak salah, namun hanya kurang tepat. The point is ....adanya komunikasi yang tidak efektif diantara suami dan isteri tersebut.  Bagaimana tanda-tanda komunikasi diantara pasangan suami isteri itu efektif? 

"Komunikasi yang efektif terjadi jika terwujud kesamaan makna atas pesan/informasi di antara pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proses komunikasi"
Jadi bagaimana mungkin bisa efektif, kalau diantara suami isteri tidak nyambung komunikasinya. Tanggapan atau kebutuhan isteri disalahtafsirkan. Isteri memberi pesan tentang kegembiraannya menjalani profesi baru, sedangkan suami menanggapi dengan sinis karena kekhawatirannya akan keselamatan isterinya.

Padahal, komunikasi merupakan motor relasi personal suami isteri.  Dalam banyak kasus kegagalan pernikahan, dikarenakan gagalnya faktor komunikasi dalam menjembatani suami dan isteri. Jadi supaya ingin langgeng pernikahannya, maka komunikasi yang tidak efektif, harus dibetulkan.

Baca juga : Sukses Membina Relasi Suami Isteri Ala Nyak Rotun

Menggunakan Teknik Konseling Dalam Berkomunikasi

Jadi sebulan yang lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti pelatihan tentang Teknik Konseling untuk membantu Ibu menyusui. Materinya sangat menarik dan membuka wawasan, bahwa ternyata selama ini kita (baca : saya) sering tidak menyadari melakukan kesalahan dalam berkomunikasi dengan suami. Teknik konseling ini sangat powerful karena tidak hanya membantu Ibu untuk sukses menyusui saja, namun bisa diaplikasikan dalam hal apapun yang menyangkut dengan komunikasi. Misalkan, komunikasi antara dosen dengan mahasiswa, namun saya jujur belum pernah mempraktekkannya. Komunikasi antara orangtua dengan anak dan yang ingin saya bahas sekarang adalah komunikasi antara suami dan isteri.

Coba deh, perhatikan. Salah satu faktor utama pasangan suami isteri bertengkar adalah karena adanya miskomunikasi. Dan faktor komunikasi yang buruk salah satu penyebab utama perceraian terjadi. Sekali lagi saya katakan, kunci langgeng pernikahan memang terdapat pada komunikasi. Dan komunikasi yang baik terjadi apabila pesan yang disampaikan komunikator tersampaikan dengan baik kepada komunikan.

"Teknik konseling sebenarnya merupakan the way to treat others, dengan berusaha untuk memahami perasaannya, dan membantunya untuk memutuskan apa yang dilakukan".
Untuk bisa memahami perasaan sekaligus membantu pasangan kita memutuskan, maka yang harus kita punyai adalah KETERAMPILAN MENDENGARKAN DAN MEMPELAJARI. Dan keterampilan mendengarkan pun musti kita latih. Alih-alih melakukan, mungkin banyak yang bertanya apa tidak cukup saja menggunakan telinga untuk mendengarkan? Ternyata tak sesederhana itu. Kita sebagai manusia, butuh untuk didengarkan, namun dalam prakteknya malah lebih banyak berbicara .

Untuk melatih keterampilan mendengar dan mempelajari, maka lakukan enam hal berikut terhadap pasangan anda.


teknik, konseling, komuikasi, suami, isteri

1. Komunikasi non verbal.

Komunikasi non verbal adalah cara kita berkomunikasi dengan pasangan melalui sikap tubuh, gerakan tubuh, ekspresi tanpa perlu bicara. Komunikasi verbal yang bermanfaat dapat berupa sikap tubuh dengan posisi tubuh (baca : kepala) sama tinggi, adanya bentuk perhatian, ketersediaan waktu tanpa terburu-buru, tanpa penghalang dan melalui sentuhan.

Sering sekali kan, jika salah seorang (suami/isteri) berbicara, pasangan lainnya malah terkadang asyik dengan benda lain. Misalnya HP, TV dan sebagainya. Komunikasi akan efektif kalau komunikan memandang dan menghadap ke arah komunikator. Dengan begitu komunikan dapat memperhatikan dengan baik apa yang disampaikan komunikator.

"Mama...dengar ga sih yang barusan papa bilang?". Dengan begitu adegan seperti ini gak mesti ada.

Di lain waktu, baik komunikan maupun komunikator mesti memperhatikan apakah posisi kepala mereka sudah sama tinggi. Gak enak kan ngomong, yang satu berdiri, yang satunya malah duduk.

Singkirkan HP atau matikan TV kalau ingin komunikasi efektif, semisal ada pembahasan yang cukup serius. Sehingga keduanya bisa fokus.

"Nanti aja deh Ma, kita bahas. Papa udah telat nih. Ntar kena macet lagi."

Idealnya komunikasi memang tidak dilakukan pada timing yang tidak tepat. Namun terkadang, karena merasa harus cepat dituntaskan masalah yang ada, komunikator harus berbicara pada waktu yang tidak tepat. Untuk itu komunikan dan komunikator perlu tahu bahwa komunikasi yang efektif akan terselenggara tanpa ada keterburuan dalam mengakhiri pembicaraan.

2. Mengajukan pertanyaan terbuka

Perlu kita ingat bahwa ketika salah satu pasangan memulai komunikasi, itu artinya bahwa dia ingin memberikan banyak informasi. Untuk membuat pasangan tersebut lebih banyak bicara, sehingga informasi tergali, jalannya melalui penggalian dengan melakukan teknik konseling Mengajukan Pertanyaan Terbuka.

Pertanyaan terbuka biasanya dimulai dengan Bagaimana? Apa? Kapan? Mengapa? dan sebagainya.

Pertanyaan tertutup hanya menghasilkan jawaban Ya dan Tidak. Ekplorasi komunikasi antar suami isteri membutuhkan lebih banyak pertanyaan terbuka, terkadang boleh diselingi dengan pertanyaan tertutup.

"Papa kenapa sih, dari tadi diam aja? Papa ngambek ya? Coba cerita, apa ada yang salah dari Mama?"

3. Menggunakan respon dan gerakan tubuh yang menunjukkan perhatian.

Sepintas keterampilan ini sepele. Tapi bila suami/isteri ingin menunjukkan perhatian bahwa dia masih ingin melanjutkan percakapan/pembicaraan dengan pasangan, maka berikan respon atau gerakan tubuh yang menunjukkan perhatian.

Misalnya ucapan, "Oh, gitu ya Ma." dilakukan sambil mengangguk-angguk. Sebuah respon sederhana yang diperkuat dengan gerakan tubuh, cukup meyakinkan komunikator bahwa komunikan mengerti dan memahami apa yang dia sampaikan.

4. Mengatakan kembali apa yang dikatakan (reflect back)

Terkadang respon dan gerakan tubuh tidak cukup untuk menunjukkan perhatian. Komunikan perlu mengatakan kembali apa yang dikatakan komunikator untuk menunjukkan dia memahami apa yang disampaikan. Ini perlu untuk menunjukkan perhatian bahwa komunikan peduli dan masih ingin melanjutkan pembicaraan.

5. Berempati

Berempati tidak sama dengan bersimpati. Bersimpati lebih menunjukkan respon komunikan terhadap komunikator, dari sudut pandangnya sebagai komunikan. Berempati lebih dari sekedar bersimpati. Berempati menunjukkan bahwa komunikan memahami perasaan dari komunikator.

Jadi semisal ada percakapan seperti ini, "Aduh Pa. Kok sekarang apa-apa naik terus harganya. Minggu kemarin seekor ayam masih 32 ribu, sekarang kok udah naik aja jadi 40 ribu. Mana daging sapi jarang yang jual lagi."

Maka respon dengan simpati kira-kira akan begini, "Biasa itu, Ma. Namanya juga lagi mau puasa, Ma. Ya semua barang harganya naik."

Namun dengan respon yang berempati, komunikan dapat menyampaikannya menjadi seperti ini, " Jadi harga barang semuanya pada naik ya, Ma. Tenang aja, Ma. Biasanya gak lama kok. Ini karena mau puasa aja.  Nanti harganya kembali normal."

Jadi kunci berempati, adalah dengan mengulangi perasaan dari komunikator.

6. Hindari kata-kata menghakimi

"Aduh Pa. Kok sekarang apa-apa naik terus harganya. Minggu kemarin seekor ayam masih 32 ribu, sekarang kok udah naik aja jadi 40 ribu. Mana daging sapi jarang yang jual lagi."

"Mama lebay deh. Ini kan mau puasa. Ya biasa lah, Ma. Semua barang pada naik.

Hindari penggunaan kata-kata yang menghakimi untuk mewujudkan pembicaraan yang efektif. Penggunaan kata-kata yang  menghakimi dari komunikan dapat membuat komunikator merasa bersalah dengan dirinya (pikiran dan ucapannya). Gunakan kata-kata untuk suatu kalimat yang bermakna sama, namun dalam konotasi positif. Yang lebih penting penggunaan kata-kata menghakimi akan membuat perasaan komukator menjadi tersinggung.


Ayo, mari coba praktekkan teknik konseling ini pada pasangan anda, dan rasakan hasil yang mengejutkan dan bermanfaat untuk terciptanya kelanggengan dalam pernikahan anda.

Until death do us part, semoga.

Read More

Sukses Membina Relasi Suami Isteri Ala Nyak Rotun

relasi,suami,isteri,rotun

Mengapa Relasi Suami Isteri Itu Penting?

Kelanggengan dan kesuksesan sebuah rumahtangga tak terlepas dari kesuksesan membina relasi atau hubungan suami isteri. Relasi antara suami dan isteri tentu berbeda jauh dengan relasi dengan sesama rekan kerja, relasi dengan atasan maupun relasi dengan tetangga. Relasi dengan rekan kerja maupun atasan, interestnya sama yakni pekerjaan. Tak dapat dipungkiri relasi dengan rekan kerja dan atasan juga bisa menimbulkan gesekan diantaranya. Namun kita masih dapat menghindarinya jika situasi memburuk. Karena pada prinsipnya relasi rekan kerja dan atasan hanya bersifat temporary, dipengaruhi karena kebersamaan pada tempat yang sama.

Lalu bagaimana relasi dengan suami? Apa urgensinya kita membina relasi dengan suami? Yuk sama-sama kita bahas bareng mbak Rotun Df atau yang lebih dikenal dengan Nyak Rotun, seorang mom blogger yang sekarang menatap di Palopo Sulawesi Selatan.
Nyak dan Anak-anak

Nyak Rotun sudah menikah selama tujuh tahun dengan dua orang anak. Walaupun usia pernikahan Nyak sudah tidak muda lagi, namun hingga kini dan akan datang relasi Nyak dengan suami tetap harus dibina. Menurut Nyak sendiri, relasi suami isteri harus dibina terus hingga akhir hayat karena memang suami/isteri merupakan pasangan/parter seumur hidup. Dalam sebuah pernikahan tentunya ada tujuan yang ingin dicapai oleh kedua pasangan. Dan tentu dibutuhkan kerjasama kedua belah pihak untuk mencapai tujuan tersebut.

Bagaimana mencapai kesuksesan relasi suami isteri?

Relasi suami isteri harus dibina dalam segala hal. Menurut Nyak Rotun ada tiga variabel yang sangat menuntut kerjasama dalam relasi suami isteri.

1.    Manajemen Keluarga

Dalam ilmu manajemen, ada tiga hal yang mesti diperhatikan yakni Planning atau perencanan, staffing atau pembagian PIC pekerjaan, directing dan controlling yang terkait dengan kepemimpinan dalam keluarga. Beberapa hal dalam rumah tangga yang perlu dimanajemi adalah keuangan dan pekerjaan rumah tangga. Suami isteri harus membuat perencanaan yang jelas dan pembagian kerja yang dikomunikasikan diantara keduanya. Siapa yang memegang kendali keuangan, apakah suami atau isteri dan bisa juga keduanya. Kalau suami isteri bekerja, bagaimana tanggungjawab terhadap pos-pos pengeluaran buat masing-masingnya.


Terhadap pekerjaan rumah tangga juga demikian. Meski diharapkan saling membantu, tapi tetap butuh pembagian yang jelas dan perlu dikomunikasikan. Tugas rumah tangga apa saja yang ada dan pada bagian mana suami bisa mengambil peran. Misalkan kalau isteri fokus memasak dan mengurus anak-anak, suami bisa mengambil peran di bagian kebersihan, cuci piring dan cuci baju. Pembagian tugas tersebut haruslah fleksibel, mungkin ada kalanya terjadi pergantian atau rotasi. Hal tersebut wajar terjadi.

2.    Pengasuhan

Kerjasama suami isteri juga dituntut dalam hal pengasuhan anak. Bahkan bunda Elly Risman menegaskan bagaimana pentingnya peran Ayah dalam pengasuhan anak. Beliau sendiri mengistilahkannya dengan Vitamin A, untuk menganalogikan peran seorang ayah.

Pendekatan ayah terhadap anak tentunya berbeda dengan pendekatan ibu. Dan anak mengambil nilai-nilai positif dari keduanya. Jadi gak jamannya lagi, pengasuhan anak merupakan tanggung jawab ibu semata. Banyak hal yang perlu diajarkan ayah ke anak-anak yang  mungkin tidak sempat/tidak bisa Ibu lakukan, seperti permainan fisik, logika dan sebagainya.

3.    Komunikasi sebagai Motor Relasi personal suami isteri

Relasi personal ini dimaksudkan pada tataran hubungan suami dan isteri sebagai individu dalam sebuah pernikahan. Dalam banyak kasus kegagalan pernikahan, dikarenakan gagalnya faktor komunikasi dalam menjembatani suami dan isteri.

Sering dengar permasalahan yang sebenarnya sederhana tapi seolah-olah begitu besar? Salah satu penyebabnya adalah gagap komunikasi yang menyebabkan banyak salah paham sehingga masalah yang ada semakin ruwet. Dengan keterampilan komunikasi, maka masalah yang mudah akan tetap mudah dan yang sulit akan lebih mudah.

Terus gimana dong kalau seandainya salah satu pasangan termasuk orang yang gagap dalam berkomunikasi? Susah mengutarakan apa yang dirasakan? Kabar baiknya adalah kemampuan komunikasi itu bukan sebuah bakat khusus yang hanya dimiliki oleh segelintir orang. Tapi komunikasi merupakan sebuah keterampilan yang bisa diperoleh dengan belajar dan mempraktekkan.

Latihannya berapa lama? Jawabannya relative, bisa 5 tahun, 6 tahun, atau bahkan 10 tahun, karena sembari berlatih, kita juga belajar mengenal dan memahami karakter suami kita. Dan harus diingat juga bahwa manusia merupakan makhluk yang fleksibel, sehingga karakter dan sifat bisa berubah seiring waktu.
Terakhir menurut Nyak, ada banyak media untuk berkomunikasi dengan suami. Komunikasi tidak melulu dengan cara verbal. Mungkin ada masanya ketika komunikasi lebih jalan ketika dilakukan melalui media surat. Pasangan lebih bisa menyampaikan isi hati dengan menuliskannya.



                                                                                 **AV**




Read More