Laman

Trik Menciptakan Komunikasi Produktif Dalam keluarga

komunikasi, produktif, keluarga, lendy

Aku sama sekali tidak menuntut anak-anak harus segera membereskan mainan ketika rumah mirip kapal pecah. Atau keberatan memandikan mereka (lagi) saat pulang sekolah dan kudapati tubuh anak-anak penuh pasir.

Justru ujian itu datang ketika anak-anak sakit. Sehingga tengah malam, aku mesti bolak-balik mengganti seprai karena terkena muntahan, atau sekedar menggantikan baju yang kembali kuyup. Dan dengan wajah lelahnya, suami lebih memilih tidur di kamar terpisah denganku dan anak-anak.


Apa yang akan anda rasakan klo anda berada dalam posisi seperti tokoh Aku diatas? Sedih kah? Atau lebih dominan marah. Itu manusiawi sekali bahwa sebagai ibu terkadang kita ingin berbagi beban pengasuhan anak dengan suami. Namun apa daya suami karena intensitas pekerjaan diluar tidak bisa membagi perhatiannya karena terkendala fisik yang sudah meminta untuk beristirahat.

Mungkin ibu-ibu lainnya sudah mencak-mencak protes pada suami. Namun tidak bagi mb Lendy Agasshi, seorang mom blogger dari Bandung.

Jadi apa yang mesti aku lakukan jika membereskan masalah diri sendiri saja tidak mampu?

Begitulah mbak Lendy bermuhasabah. Beruntung mbak Lendy sudah dibekali dengan ilmu dalam kelas Sayang Institut Ibu Profesional Bandung. Bagaimana menciptakan komunikasi yang produktif di keluarga, tidak hanya terhadap pasangan tetapi juga terhadap anak.

Lesson 1. Melihat masalah dari akarnya. Bukan hanya permukaannya.

Terkadang secara alamiah kita selalu bereaksi terhadap masalah dengan mempertanyakan apa yang kita rasakan. Kok suami tega ya ninggalin saya sendiri untuk mengurus anak yang lagi sakit. Saya kan capek juga.

Kita tidak sadar bahwa aksi suami diatas merupakan reaksi atas kepenatan bekerja yang dia rasakan. Kita tidak bisa merasakan bahwa tubuhnya meminta untuk beristirahat karena besok pagi akan kembali menempuh rutinitas yang sama. Maunya isteri walaupun suami tidak akan membantu dalam mengurus keperluan anak, paling tidak dia ingin ditemani. Padahal kita lupa bahwa suami esok di pagi hari tidak punya kesempatan lagi untuk ‘membayar’ istirahat malam yang terambil waktunya.
Dengan melihat masalah melalui akarnya, insyaAllah kehidupan dengan pasangan jauh dari pertengkaran karena kita selalu berusaha menciptakan komunikasi yang produktif.

***

Dilain waktu, mbak Lendy sedang ‘memanen’ anak tikus yang terjebak di lem tikus yang ditaruh di beberapa tempat di rumahnya. Anak-anak mbak Lendi bukannya jijik namun malah menjadikan anak tikus tersebut sebagai objek usilan mereka. Diganggu-ganggu yang bikin anak tikus tersebut makin mencicit.

Ketakutan karena terus diganggu membuat tikus-tikus tersebut semakin kuat ingin melepaskan diri. Dan memang tak berapa lama, dua tikus berhasil terlepas dari jerat lem.
Komentar anak pertama,” Tikusnya tadi ada 4, trus lari 2 jadi tinggal 2.”

Lesson 2. Apapun itu makhluk hidupnya, dapat dijadikan sarana belajar bagi anak.

Mbak Lendy akhirnya tersadar. Bahwa si kakak dan adiknya Hana tengah belajar tentang pengurangan objek melalui observasi langsung. Jika mbak Lendy tidak membiarkan anak-anaknya melihat anak tikus yang terjerat, namun langsung membuangnya, tentunya proses pembelajaran itu tidak akan terjadi.

Sebagai orangtua kita patut untuk membiarkan anak untuk mempelajari apa yag menarik bagi mereka. Dengan begitu, anak-anak tidak hanya belajar dari literatur, tapi juga actual moment, yang bisa jadi justru lebih mudah di pahami.

Dari contoh tikus yang terjerat, mbak Lendy juga mengajarkan tentang naluri. Bahwa makhluk hidup secara naluari akan berusaha untuk melepaskan diri jika mengalami kesulitan atau dalam keadaan bahaya.

Dari ini kita bisa belajar dari kisah mbak Lendy dan anak bahwa komunikasi yang produktif dengan anak, harus bisa menciptakan pengalaman, kesan yang dibarengi dengan belajar tentang konsep dan konteks.

***

Suatu hari mbak Lendy dan keluarga menghabiskan akhir pekan dengan berjalan-jalan. Anak-anak sangat senang karena mereka sudah lama tidak bepergian karena terkadang ayahnya juga bekerja di waktu akhir pekan. Di sepanjang jalan Asia Afrika Bandung banyak ditemui penjual baik yang menjual jajanan maupun mainan yang menarik perhatian anak-anak

Lesson 3 : Komunikasi yang produktif akan membantu menciptakan family value

Anak-anak diberi tahu konsep butuh vs ingin. Bahwa keinginan tidak selalu mencerminkan kebutuhan. Anak-anak harus diajarkan untuk mengelola keinginannya. Karena jika tidak mereka sampai besar akan selalu menjadi pribadi yang meminta tanpa tahu harus berbuat apa untuk mendapatkan. Sikap hidup hemat juga dapat ditumbuhkan saat anak-anak mampu untuk mengenali kebutuhannya dan mampu untuk melawan keinginannya.

Beginilah nilai-nilai yang bisa kita pelajari dalam menciptakan komunikasi yang produktif di keluarga mbak Lendy Agasshi. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.

                                                                         **AV**






4 komentar:

  1. Bener banget Bunda, kalau melihat masalah dari luar aja, kayanya ini bibit baper berkelanjutan. Alhasil ga ada jalan keluar selain duduk bareng komunikasi. Tapi kalo bisa kaya mba lendy, tarik napas baru berpikir ulang kayany hidup akan tentram ya.

    BalasHapus
  2. Penting banget ini mba Yerva, komunikasi adalah tolak ukur dari sebuah kebahagiaan untuk menjadi apa adanya. *_*

    BalasHapus
  3. Mba Yerviii,
    Terima kasih sudah membaca pengalaman hidup keluarga kami.

    Yang sebenarnya adalah bagian dari pelaksanaan tugas kelas Bunda Sayang IIP.

    Mba Yervi juga IIP kah?

    BalasHapus
  4. TFS mba, semoga kita bisa menjadi orangtua yg bijak buat anak

    BalasHapus