Laman

Personal Satisfaction For Lecturer And How To Create It


Pernahkah anda dalam bekerja, sekali waktu memikirkan apakah pekerjaan yang sedang anda jalani sekarang mendatangkan kepuasan pribadi? Kira-kira hal apa saja yang mendatangkan kepuasan anda dalam bekerja?

Hasil kerja yang melebihi ekspektasi? Bonus yang berkali lipat dari biasanya atau penghargaan dari rekan kerja dan atasan bisa jadi merupakan komponen-komponen sumber kepuasaan dalam bekerja.
Tidak seperti profesi lain, sayangnya kepuasan pribadi dosen dalam menjalani tugasnya juga terkait dengan bagaimana penerimaan dari mahasiswa akan dirinya dan apa yang diajarkannya. Khususnya menyangkut tugas utama dosen dalam mengajar.

Kebetulan semester ini saya mengajar lebih banyak dari biasanya, dikarenakan adanya perubahan kurikulum di jurusan saya. 11.5 SKS terasa benar-benar menguras energi karena ada dua mata kuliah baru yang saya ampu. Mengampu mata kuliah baru berarti harus menyediakan ekstra waktu dan energy untuk meng-create bahan ajar baru. Terkadang selesainya bahan ajar hanya satu hari sebelum bahan ajar tersebut disampaikan.

Rutinitas mengajar yang padat serta minimnya apresiasi, makin mempercepat datangnya kejenuhan melanda. Apa halnya yang akan dirasakan jika jenuh melanda dosen dalam bertugas?

Perasaan enggan untuk memulai perkuliahan, perasaan ingin cepat-cepat menyelesaikan perkuliahan, berbicara dan menyampaikan tanpa adanya 'feel' yang 'touchable' dengan mahasiswa. Semuanya berimpak pada kesuksesan delivery materi ajar.

Dan apapun jenis profesi yang anda lakoni, tanpa anda bisa mendeskripsikan secara jelas hal-hal apa yang membuat anda merasa puas dalam bekerja,maka kejenuhan bekerja akan datang melanda diri anda.

Jadi pada suatu waktu saya ingin memetakan khususnya hal-hal apa saja dalam suatu perkuliahan yang membuat saya mendapatkan kepuasan dalam mengajar. Caranya mudah saja, cari hal-hal yang membuat anda merasa bahagia akan pekerjaan tersebut dan buang jauh-jauh segala hal yang anda benci.

Jadi saya ingin mahasiswa saya datang tepat waktu. Mereka datang ke kelas dalam keadaan siap untuk mengikuti perkuliahan. Mereka aktif di dalam kelas ....dan sebagainya.

Tahukah anda, seorang dosen sesungguhnya juga pandai membaca pikiran dan emosi mahasiswanya. Bagaimana mungkin sebuah perkuliahan akan enak tersampaikan jika mahasiswa yang datang hanya untuk duduk tanpa ingin tahu lebih lanjut dari apa yang dosen sampaikan. Mereka ada tapi sesungguhnya pikirannya entah dimana. Jari-jari mereka diam, seperti ingin menyatakan bahwa apa yang disampaikan dosen bukan merupakan sesuatu yang penting untuk dicatat. Mulut mereka yang bungkam dan tatapannya yang tidak fokus seperti ingin menunjukkan perasaan kebosanan.

Tahukah anda, apa rasanya 'digitukan' oleh mahasiswa? Saya harus bernafas panjang dan menghembuskannya keras, dalam rangka menetralisir emosi saya.

Belum lagi melihat ulah segelintir mahasiswa yang kelakuannya benar-benar membuat 'gemas'. Sudah datang terlampat, jalan pelan-pelan menuju bangku tanpa membawa apa pun. Ya, tidak membawa apa pun, melainkan hanya badan. Lalu memilih duduk di belakang. Selama perkuliahan lebih banyak membuang muka.

Bagi saya, dia - yang saya tidak tahu namanya dan memang saya tidak ingin tahu namanya - benar-benar seperti setitik nila dalam belanga susu. Mood saya jatuh ke dasar kalau dia datang ke kelas. Tapi walau bagaimanapun saya tidak ingin membuang susu sebelanga tersebut hanya karena noda segelintir nila.

Jadi saya putuskan untuk merombak total metode pengajaran. Dari yang semula full Teacher centered-Learning menjadi Student centered- Learning. Walaupun ini bulan metode lama tapi butuh efford lebih juga untuk mengerjakannya. Pertama kesiapan dosen untuk merubah arah belajar dari by Content menjadi by Process. Kesiapan dukungan material yang dibutuhkan selama proses pengajaran.
Arah belajar lebih banyak kepada ekplorasi mahasiswa sendiri. Biasanya metode sederhana dilakukan dengan diskusi. Dari sana akan kelihatan mana mahasiswa yang memang ingin belajar, mana yang tak acuh - asyik dengan diri sendiri.

Menjadi dosen zaman sekarang mungkin tak sama lagi dengan dosen zaman dulu, yang terkadang kehadirannya saja sudah menggembirakan. Menjadi dosen sekarang, dituntut lebih kreatif sehingga proses belajar lebih menyenangkan dan mengasyikkan.

Seperti yang dikatakan oleh pakar passion Rene Suhardono tidak ada yang lebih penting dari Makes Fun Something Important.

Bahan-bahan yang diperlukan sudah saya persiapkan terlebih dahulu. Mereka berdiskusi dan bekerja untuk 'merumuskan' sesuatu. Lalu hasil kerja setiap kelompok ditampilkan di depan kelas dan setiap kelompok menilai hasil kerja kelompok lain. Dan itu diciptakan dalam suasana kompetisi.

Ternyata mereka senang. 75% dari mahasiswa menikmati proses belajar seperti itu. Dan sebagai 'hadiah' bagi pemenang 'kompetisi' sebuah buku motivasi pun berpindah ke tangan jawara. Gemuruh tepuk tangan dan teriakan membahana ketika saya sebutkan kelompok pemenang. Dan ajaibnya, dia-mahasiswa yang tidak saya inginkan- ternyata sangat aktif terlibat dalam diskusi. Bahkan dia kekeuh minta disebutkan pemenang keberapa yang didapat oleh kelompoknya. Dia benar-benar menjadi sosok yang berbeda dari selama ini yang saya kenal. Saya benar-benar menikmati kelas kala itu.

Sesungguhnya dosen juga manusia biasa, yang seperti kata Maslow tidak hanya butuh aktualisasi diri, namun juga butuh penghargaan. Saya percaya, setiap dosen tidak ada yang menunggu ucapan terimakasih setelah perkuliahan selesai, namun respon yang attraktif, simpatik dan nilai ujian yang bagus, itu saja sudah cukup.

1 komentar:

  1. setuju bu, seseorang mmg butuh diapresiasi saya lun begitu jenuh sekali sbg karyawan yang memang saya rasakan keberadaan saya ga tll urgent shg seringkali ide atau pendapat yg saya layangkan tak digubris maka kejenuhan yg saya dpt rasanya spt mahasiswa ibu raga ada dikelas namun fikiran entah kemana ☺️
    beruntung ibu sbg dosen peka shg mengubah metode belajarnya ini menarik bu dan saya dlu sbg mahasiswa mmg menginginkan cara belajar yg bervariasi.

    BalasHapus