Laman

Gaya Parenting Ibu Bisa Berbeda, Tapi Ketahuilah Pondasi Mendidik Anak Dimulai Dari Memilih Untuk Memerdekakan Anak Atau Memberi Hegemoni


kemerdekaan, hegemoni, mendidik, anak
Walaupun sudah seminggu lebih peringatan kemerdekaan RI yang ke-71, namun semangatnya harus tetap terpelihara. Seperti yang diungkapkan oleh mbak Nur Rochma dalam artikelnya Makna Kemerdekaan Bagi Wanita bahwa kemerdekaan adalah anugerah yang harus senantiasa kita syukuri dan nikmati.

Nah, bagi kamu yang suka sejarah, kira-kira bagaimana sih dulu para founding fathers kita membangun Indonesia? Dari sebuah bangsa yang dijajah, hingga merdeka dan lalu berkembang menjadi  seperti sekarang, tentunya butuh pemikiran panjang. Apa nafas yang akan dibawa oleh Indonesia dan mulai dari mana pembangunan itu digerakkan.

Saya teringat kuliah perdana saya dengan Prof Rudi Febriamansyah tentang konsep pembangunan berkelanjutan. Pertanyaan saya di atas, merupakan ulangan pertanyaan dari Prof Rudi pada kami. Dan ternyata prinsip membangun bangsa itu, juga sama dengan prinsip bagaimana kita membangun anak-anak kita dari kecil hingga mereka dewasa kelak.

Nanti di akhir anda akan tahu, bagaimana kesamaan prinsipnya. Saya akan terlebih dahulu memberi anda sebuah cerita, tentang Nessa anak pertama saya.

Ini masih kelanjutan cerita Nessa belajar memainkan keyboard, di tulisan saya di FB berjudulYour Inner Child yang telah raib.

Suatu hari, Nessa belajar memainkan keyboard dengan durasi yang lebih panjang dari biasanya untuk make up pertemuan sebelumnya yang tidak bisa datang. Dari yang awalnya belajar Cuma 30 menit, menjadi 60 menit. Tentunya merupakan sebuah ‘kelelahan’ bagi Nessa untuk belajar dan fokus pada alat musik. Tiga puluh menit pertama lewat dengan mulus dan mulai mendekati 15 menit terakhir, Nessa sudah mulai tidak konsentrasi. Terlihat dari beberapa kesalahan notasi yang dimainkan.

Lalu, kelas berakhir.

Pertemuan berikutnya, saya tidak bisa antar karena saya ke luar kota untuk hadir sebuah pelatihan. Saat saya pulang, saya dikabari suami kalau Nessa  gak mau lagi les keyboard.

 “Mungkin dia marah karena kakek maksa untuk antar saat mami pergi,” ujar suami. “Tapi bisa juga belajar music itu pressure buat dia.”

Beberapa hari setelah saya pulang, saya diamkan saja. Tidak bertanya juga kenapa Nessa tidak pernah latihan lagi sejak pertemuan terakhir.

Satu hari sebelum hari les, saya putuskan untuk membicakan masalah tersebut dengan Nessa. Dan waktu terbaik itu adalah pulang sekolah. Biasanya mood Nessa lagi baiknya saat pulang sekolah, apalagi tidak ada gangguan dari adik-adiknya.

“Nessa, kalau mami perhatikan Nessa gak pernah lagi latihan Keyboard. Kenapa? “ tanya saya.
“Kata papa, Nessa gak mau lagi les ya?”

Lalu dia langsung menangis. Dan saya tanyakan kenapa.

Sambil terisak-isak Nessa menjawab. Ternyata masalahnya karena dia pada pertemuan terakhir banyak salah, hingga membuatnya merasa tidak mampu. “Nessa kesal Mi, Nessa banyak salah.”

Saya gak ingin Nessa menjadi anak yang cengeng. Apa-apa ada kesulitan dikit lalu menyerah. Dan itu harus dibangun dari kecil.

“Nessa tahu, mami bisa nyetir ini belajarnya berapa lama. Sama tiga orang lho. Pertama sama kursus belajar nyetir 20 kali pertemuan. Lanjut sama kakek. Tapi masih belum mahir juga. Terakhir sama sopir di kantor nenek. Setelah itu baru mami berani bawa mobil sendiri,” cerita saya.

“Jadi kalau kita bisa sesuatu, itu gak seperti sulap. Langsung bisa dalam sekejap. Butuh waktu dan latihan. Dan pasti akan ada kesalahan. Tapi jangan marah sama kesalahan karena dari kesalahan itu kita bisa tahu, mana yang benarnya,” saya memotivasi Nessa.

Saya ceritakan pengalaman belajar nyetir, dulu saya pernah menabrak angkot, masuk roda mobil ke selokan, gores mobil lain di parkiran ketika mundur. “Akhirnya, mami sekarang jago kan nyetirnya? Nah kalau dulu mami langsung gak mau nyetir, begitu mami nabrak angkot dan supirnya marah minta ganti, pasti sekarang mami gak pandai-pandai.”

“Sekarang Nessa masih takut salah?”

Dia menggeleng.

“Besok mau les lagi?”

“Iya, Mi?”

***
Hegemoni? Terlihat sebagai sebuah kata yang berkonotasi negatif. Seakan-akan sebuah kedigdayaan mencengkeram sebuah kemerdekaan. Hegemoni dalam kamus besar Bahasa Indonesia berarti pengaruh kepemimpinan, kekuasaan atas sesuatu. Kira-kira kalau saya tanyakan, apakah kita ingin menjadi Ibu yang memerdekakan anak atau Ibu yang memberi hegemoni?

Saya yakin, banyak yang jawab memerdekakan anak. Karena anda gak ingin hak-hak anak terpasung. Anda ingin memberikan ruang yang seluas-luasnya  untuk anak tumbuh.

Saya beritahu, apa yang saya berikan pada Nessa di atas dalam rangka saya memberi hegemoni pada dirinya.

Dalam perkuliahan dengan Prof Rudi, seperti cerita saya diatas, kemerdekaan Indonesia berarti Indonesia melepaskan pengaruh, kepemimpinan dari bangsa lain. Namun dalam membangun bangsanya sendiri, Negara tidak secara serta merta memberikan kemerdekaan bagi warganya. Dengan latar belakang keberagaman yang ada, Negara memerlukan satu nafas yang sama diantara warga negara. Karena itulah Pancasila ada dan alat-alat negara lainnya. Itu merupakan pengejawantahan hegemoni Negara terhadap warganya agar tercipta kesatuan dan keselarasan.

Demikian juga kita dalam membesarkan anak. Ada nilai-nilai, norma dan ajaran yang akan kita berikan, arahkan pada anak-anak. Tidak serta merta, anak-anak dimerdekakan dan dibebaskan untuk berbuat apa saja sesuka hatinya. Itulah hegemoni yang diberikan oleh orangtua terhadap anak-anaknya.

Jadi kemerdekaan, tidak selalu diartikan sebagai kebebasan yang absolut ya. Apakah anda sepakat?


**AV**


6 komentar:

  1. Aduh, kalau anak-anak dimerdekakan secara absolut bakal seperti apa? Bebas sebebasnya bisa menimbulkan hal-hal buruk. Anak bisa kehilangan arah, dan role model.

    BalasHapus
  2. saya selalu suka cara mbak bertutur, juga cara mengkomunikasikannya dengan anak. Saya nggak bisa bayangin kemerdekaan berarti kebebasan yang absolut.

    BalasHapus
  3. Setuju, kemerdekaan itu tetap harus memiliki pembatas atau ukuran biar gak kebablasan. Karena dalam islam sendiri sudah ditulis di Al-quran kalau manusia itu makhluk yang melampaui batas. Jadi memang harus ada yang membatasi yang berfungsi sebagai pengingat/reminder/alarm.

    BalasHapus
  4. Setuju mba. Kebebasan absolut rasanya malah menjerumuskan mereka.
    Mba, salut deh bisa ngomong gitu ke nessa. Klo aku pasti udah emosi duluan.

    BalasHapus
  5. Keren nih, bisa di contoh bagaimana cara menyampaikannya kepada anak. Bagaimana pun itu, anak harus tetap ada pantaian orangtua ya, Teh.. Aku sekarang-sekarang jadi suka sama anak kecil, rasanya seneng aja gitu. Dulu waktu punya adek masih kecil malah gak, karena dulunya aku belum sebesar ini..hehe

    BalasHapus
  6. kemerdekaan yang absolut juga berbahaya. Orang tua tetap memberi batasan lewat penanaman nilai agama dan moral.

    BalasHapus