Laman

How To Set 'Eman Segone' As Your Family Value

eman segone, family value

"Evi cucuku sayang, jadi petani di sawah itu susah. Kulit terbakar matahari. Telapak kaki pecah-pecah. Jadi jangan sampai nasi terbuang. "

Saya selalu ingat pesan nenek untuk tidak dengan mudah membuang nasi dengan percuma. Mungkin inilah ajaran nenek yang selalu saya ingat hingga sekarang. Semenjak saya kecil,  nasehat ini selalu digaung-gaungkan beliau. Tidak hanya melalui ucapan, bahkan nenek sampai memperlihatkan bagaimana telapak kaki petani yang pecah-pecah.

" Tapi dengan sawah itu, nenek bisa menyekolahkan tiga anak nenek hingga ke perguruan tinggi," cerita nenek dengan penuh kebanggaan. Mungkin bagi kita jaman sekarang, perkara nasi sisa yang terbuang bukanlah merupakan persoalan. Lihatlah ke gerai-gerai makanan, restoran-restoran. Saya berhipotesis lebih banyak orang dengan makanan bersisa dibanding dengan orang yang menghabiskan makanan hingga ludes. Entah itu adalah life style atau ada keseganan untuk menghabiskan makanan.  Tapi tidak buat nenek saya. Satu biji nasi saja yang bersisa adalah sebuah 'pengkianatan' buat beliau. Lalu ceramah seperti kalimat diawal akan muncul lagi ke telinga saya.

Dan memang karena doktrin neneklah, dari kecil hingga dewasa sekarang, saya jarang sekali membuang nasi sisa makanan.Dari kecil sudah di didik untuk selalu menghabiskan nasi yang dimakan. Saya dituntut untuk selalu bisa memperkirakan kapasitas perut. 

Tapi ajaran nenek, sangat sulit untuk dilanjutkan kepada cicit-cicit beliau. Anak-anak sekarang lebih banyak manja dibandingkan generasi saya (baca : kita) dulu. Terkadang banyak sisa nasi karena lauk yang dimakan tidak enak. Jadi satu-satunya cara untuk menghabiskan makanan karena faktor enak. Begitu tidak enak, maka bye.

Dan ajaran nenek, selalu saya ulangi lagi ke anak-anak. Walaupun belum terlalu berhasil, apalagi karena umurnya masih kecil-kecil 9 tahun dan 5 tahun, paling tidak ajaran nenek akan tertanam pada memori mereka. Karena memang tidak gampang untuk menanamkan value yang demikian.

Eman Segone, Sebuah Gerakan DI Yogya


Dalam artikel Eman Segone, Habiskan Makananmu yang ditulis oleh mbak Siti Hairul Dayah disebutkan bahwa Eman Segone merupakan sebuah gerakan yang di gagas oleh suatu komunitas di Yogyakarta yang bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk tidak dengan mudah membuang makanan sisa.

Apa pentingnya gerakan ini? Dalam tulisan tersebut dipaparkan bahwa jumlah makanan yang terbuang dalam sebuah artikel di National Geographic itu mencapai 1..3 juta ton dan itu bisa digunakan untuk memberi makan 800 juta orang yang kelaparan. Signifikan sekali manfaat gerakan ini.

Eman Segone, Family Values and how it influenced who you are..

Keluarga merupakan unit terkecil dalam suatu lingkungan sosial. Family values atau nilai-nilai dalam keluarga didefinisikan sebagai cara/metode diantara anggota keluarga berinteraksi atau diantara Atanggota keluarga dengan lingkungan sosialnya.Nah darimana family values ini berkembang? Ada banyak faktor yang mempengaruhi, terutama ajaran agama yang dianut, ideology politik, dan kultur dalam keluarga.

Saya jadi teringat cerita blogger Jihan Davincka yang menceritakan tentang kebiasaan suaminya ketika masih menetap di Arab Saudi dulu untuk siap sedia antri demi membeli premium murah. Banyak teman suaminya yang kadang merasa geli, kenapa harus pusing-pusing antri, padahal premium yang lebih mahal bisa dibeli. Dalam blognya, Jihan banyak juga menceritakan kehidupan suaminya yang irit.

Our family tree

Suami dari Jihan tersebut merupakan sepupu saya, mertua perempuannya adalah kakak almh.mama yang biasa saya panggil maktuo. Saya sedikit cerita tentang keluarga ya. Jadi maktuo menikah diumur 20 tahun saat beliau masih duduk di tahun kedua kuliah di IAIN dan langsung dibawa merantau oleh suaminya. Artinya almh.mama dan kakak perempuan tidak terlalu lama dan tidak terus menerus hidup bersama-sama dengan nenek saya.

Namun saya takjub, ternyata diantara saya dan anak-anak maktuo, ada satu irisan value yang sama yang kami sandang yaitu sikap hidup hemat. Tentunya ini bukan merupakan suatu kebetulan belaka. Tetapi adalah buah dari grand design nenek yang telah menanamkan value tersebut ke anak-anaknya, dan telah diteruskan kepada cucu-cucunya dan insyaAllah juga bagi cicit-cicit beliau.

Dan Eman Segone, telah berhasil dijadikan sebagai family value, local wisdom bagi keluarga kami oleh nenek melalui ceritanya seperti yang saya sebutkan diatas. Tentunya cerita susah ke sawah dan kaki yang pecah hanya tinggal cerita kalau itu diteruskan kepada cicit beliau karena mereka sudah tidak bisa menyaksikan buktinya. Harus ada metode lain sehingga kebiasaan untuk tidak mudah membuang nasi/makanan bisa terintegrasi menjadi nilai-nilai yang dianut oleh anak-anak kita.

Pertama, saya akan masuk melalui ajaran agama dulu. “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al A’raf : 31). Tentunya untuk menghindari kemubadziran haruslah dilakukan di setiap waktu dan tempat dikarenakan perbuatan ini adalah kebiasaan setan. Sebisa mungkin ketika anak mengambil makanan dan minuman diingatkan sesuai dengan ukuran kebutuhan perutnya sehingga tidak ada yang berlebih dan sedapat mungkin mengharuskan untuk menghabiskannya.

Hal kedua, dapat kita lakukan dengan mengajak anak-anak untuk turun ke sawah melihat petani bekerja. Bisa diceritakan sejak awal bagaimana benih padi tersebut ditanam, usaha-usaha petani untuk menjaga supaya tanaman padinya tumbuh, dan lamanya padi tersebut dapat dipanen. Dengan begitu kita harapkan anak-anak punya awareness untuk mempunyai value yang tidak mudah untuk membuang makanan.

Ketiga tentunya kita bisa mengajak anak-anak melihat kaum papa dan fakir miskin yang tidak mudah untuk makan dikesehariannya.

So, mulai sekarang mari kita galakkan Eman Segone pada keluarga terdekat. Kalau kamu, apakah sudah menerapkannya?

**AV**











6 komentar:

  1. Aku lihat anak-anak sekarang itu konsumtif. Termasuk dalam hal makan. Nggak cocok nggak mau makan. Padahal di daerah lain butuh makanan. Nah, ketika melihat orang-orang yang kesulitan untuk makan, akhirnya anak-anak jadi tahu. TFS ya, mba.

    BalasHapus
  2. Di sini masih susah menerapkan hiks :(

    BalasHapus
  3. Saya suka memberi praktik kepada anak, praktik berteman, praktik memberi, dan praktik berbuat baik. Saya juga kasih tahu apa itu berbuat salah. Semoga dia mengerti apa yang diperbuatnya kelak. salam

    BalasHapus
  4. Saya sering bilang klo nasi ini butuh perjuangan panjang sampai bisa dimakan seperti ini..tapi anak2 sering belum paham

    BalasHapus
  5. Saya juga dibiasain ngabisin sisa makanan, apalagi yang saya ambil sendiri. Bahkan kalau di acara seminar2/kondangan saya malah terbiasa mengembalikan piring kotor di tempat khusus, daripada menunggu petugas yang mengambil.
    Ini gerakan unik sih, tapi menunjukkan kepedulian nyata. Jujur, dulu saya pikir orang yg tidak menghabiskan makanannya ya karena udah kenyang aja. Ternyata nggak. Dari sebagian yang ngaku, mereka merasa malu menghabiskan makanan karena takut dikira rakus.

    BalasHapus