Laman

Jatuh Cinta Pada Villa Isola

vila isola, bandung, art deco

Saya sudah jatuh cinta dengan Villa Isola sejak seorang blogger Bandung memberikan informasi akan adanya Historical Trip ke Villa Isola. Dulu tiga tahun menetap di Bandung, malah sama sekali tidak tahu tentang vila ini. Sejak itu saya sudah menjadikan Villa Isola sebagai must visit jika saya berkunjung ke Bandung. Alhamdulilah September yang lalu akhirnya kesampaian.

Terletak di Jalan Setiabudi, Bandung Utara. Hari senin minggu terakhir di bulan September, lalu lintas menuju Lembang tidak terlalu ramai. Hanya sekitar 15 menit dari hotel tempat saya menginap di Simpang Dago, Villa Isola sudah di depan mata. Rasanya pengen segera naik ke atas gedung. Tapi kami harus parkir di lokasi yang tidak terlalu jauh dari vila.



Sejak dulu saya begitu suka dengan bangunan-bangunan kuno, klasik. Maklum dulu sempat pernah mau kuliah di arsitektur, tapi gak jadi. Waktu kuliah di Bandung, kesukaan pada bangunan-bangunan Ar Deco yang banyak disana, makin menjadi-jadi. Namun sayang, karena masih berstatus mahasiswa yang gak punya kamera. Jadi hanya dipandang dan dijadikan kenangan dalam ingatan saja.

Saat ini Villa Isola difungsikan sebagai kantor Rektor Universitas Pendidikan Indonesia. Pengen banget sebenarnya mengeksplor ruangan-ruangan yang ada didalamnya. Kalaulah saya datang sendiri, maka dengan pede saya akan minta izin dengan satpam/petugas front office gedung. Namun karena bawa tiga anak, dan rasanya saya gak akan dapat izin, akhirnya niat itu saya urungkan. Cukup dengan hanya memandangi dari pintu depan, dua tangga melingkar yang saling bersisian dalam arah yang berlawanan menuju lantai dua, saya membayangkan betapa megahnya Villa Isola ini dulu.

Fakta-fakta Menarik Terkait  Villa Isola

1)    Dominique Willem Berrety membangun Villa Isola di Bandung, yang pada masa tersebut merupakan puncak modernitas. Bangunan tersebut dirancang oleh Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker, dan dana pembangunannya yang sebesar ƒ500.000 (setara Rp250.000.000.000,-) berasal dari Jepang, yang pada tahun-tahun tersebut mulai menunjukkan tendensi menjajah daerah-daerah sekitarnya dengan menjalin hubungan dengan Berretty melalui hubungan komunikasi antara Jawa-Jepang. Sumber lain dananya diduga berasal dari korupsi, mengingat ekonomi zaman itu yang tengah depresi.

2)    Dimulai dari peletakan batu pertama pada tanggal 12 Maret 1933 yang dihadiri oleh Wali Kota Bandung, Bupati Bandung, Penghulu Bandung, beberapa anggota Volksraad, dan pejabat-pejabat penting lainnya. Dengan waktu yang relatif singkat (Oktober 1932- Maret 1933/ 5 bulan) 700 buruh dikerahkan untuk menyelesaikan  gedung megah Villa Isola dengan luas 12.000 m di lahan seluas 7,5 ha. Namun gedung itu baru diresmikan delapan bulan setelah bangunan selesai, yaitu pada tanggal 18 Desember 1933.
Tampak Depan  Villa Isola Dulu

Tampak Belakang Villa, Taman Air Kini Sudah Tidak Ada
Bird View, Di sekelilingnya merupakan persawahan
3)    Pemilik Villa Isola, Dominique Willem Berretty (1890-1934) kelahiran Jogyakarta yang merupakan anak dari pasangan ayah berdarah Italia - Perancis dan ibu orang Jawa (Maria Salem). Berretty yang pernah bekerja sebagai jurnalis di Java Bode (1915) ini akhirnya mendirikan perusahaan jasa berita dan telegraf ANETA di Batavia yang membuatnya menjadi seorang milyader dan  raja media yang paling berpengaruh di Hindia Belanda karena kemampuannya memonopoli berita-berita di Hindia Belanda saat itu . Berretty adalah orang yang sangat energik, tidak saja dalam kehidupan bisnisnya , tetapi juga kehidupan pribadinya. Antara tahun 1912-1934 ia enam kali menikah dan mempunyai lima anak. Dalam perjalanan pulang dari Amsterdam ke Batavia, ia tewas saat Douglas DC-2 Uiver dari KLM yang ditumpanginya jatuh di dekat perbatasan Suriah-Irak, tak jauh dari kilang minyak Ruthbah pada akhir tahun 1934. Ia dimakamkan di pemakaman Inggris di Baghdad.

4)    Gosip-gosip tentang D.W. Berretty yang flamboyan serta gaya hidupnya yang mewah, pergaulannya yang luas dan dikelilingi oleh para wanita cantik membuat dirinya banyak digunjingkan orang. Salah satu gosip yang sempat beredar adalah tentang salah seorang anak perempuannya yang bunuh diri dengan cara gantung diri di salah satu pohon besar di halaman Villa Isola. Sedangkan gosip yang paling sensasional mengatakan bahwa D.W. Berrety menjalin asmara dengan putri Gubernur Jendral B.C. de Jonge. Hubungan ini tidak direstui oleh de Jonge sehingga kelak menghadirkan spekulasi bahwa kematiannya Berrety ada kaitannya dengan hubungan terlarangnya dengan anak sang Gubernur Jenderal,. Dugaan bahwa kematian dalam kecelakaan pesawat sengaja dibuat juga dilandasi dugaan bahwa  Berretty adalah mata-mata Jepang.

5)    Pasca meninggalnya Berretty, Villa Isola akhirnya dijual dan dimiliki oleh Hotel Savoy Homan.  Setelah Jepang mendarat di Pulau Jawa, Villa Isola dijadikan termpat tinggal dan kantor Komandan Divisi Tentara Hindia Belanda. Setelah itu berturut-turut Villa ini berganti fungsi yaitu  dijadikan markas tentara Jepang, kediaman sementara Jenderal Immamura, markas Kenpetai, museum kemenangan Jepang, markas tentara Sekutu, dan terbengkalai rusak parah selama masa revolusi kemerdekaan.

Pada tahun 1952 vila ini dibeli pemerintah (Kementerian P.P. dan K) seharga Rp. 1.500.000,- Villa Isola akhirnya difungsikan sebagai tempat perkuliahan dan perkantoran Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Bandung. Pada upacara peresmian dan pembukaan PTPG tanggal 20 Oktober 1954 nama Bumi Siliwangi diresmikan sebagai pengganti nama Villa Isola oleh Mr. Muh. Yamin, menteri P.P dan K saat itu.

6)    Sejak vila ini berdiri, Berretty tidak sempat menikmati lama tinggal di vila ini. Kehidupan mewahnya membawa ia hidup dengan banyak intrik dengan pemerintahan Hindia Belanda. Kehidupan yang penuh intrik ini membuat Berretty sering menyendiri dan enggan bertemu banyak orang. Tidak heran jika Villa Isola yang tenang dan damai ini dijadikan semacam tempat untuk berdiam diri oleh Berretty. Di bagian dalam vila tertulis “M’ Isolo E Vivo” yang artinya kurang lebih: menyendiri untuk bertahan hidup

7)    Selain keindahan arsitektur art deco yang tak habis dikagumi, Villa Isola juga mempunyai sisi misterius. Villa ini juga mempunyai bunker atau ruang bawah tanah yang dulunyamenyimpan peralatan perang -mulai dari senapan hingga meriam sandang (bazooka). Barang-barang tersebut masih bisa ditlihat di Museum Pendidikan Kompleks UPI Bandung. Cerita-cerita yang berkembang menyatakan bunker Villa Isola terhubung dengan gua militer di Bandung Utara.

8)    Villa isola memiliki arsitektur bangunan dan tata letak yang menarik ini dapat menjadi contoh perpaduan serasi antara seni bangunan barat dan timur. Bangunan ini mampu menunjukkan semangat aliran modernisme dengan sentuhan Art Deco. Dipadukan dengan lingkungan berkontur, yaitu terletak pada punggung bukit, sehingga kita bisa menikmati pemandangan ke utara yakni Gunung Tangkuban Perahu dan ke selatan ke arah Kota Bandung. Pemandangan ke berbagai arah ini dapat dinikmati dari berbagai sudut seperti ruang tidur, keluarga, makan, dan terutama teras atau balkon, membuat kehadiran bangunan ini sangat menonjol.

9)    Villa Isola merupakan pembangkit memori masyarakat akan kota bandung. Setiap melihat gambar villa isola, ingatan masyarakat tertuju pada kota bandung. Peran suatu karya arsitektur dalam membangkitkan kenangan orang banyak akan suatu tempat merupakan salah satu aspek dalam penilaian makna cultural yang dimiliki Villa Isola selain aspek sejarah, dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1954 Villa Isola dibeli pemerintah untuk keperluan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Bandung dan berganti nama menjadi  Bumi Siliwangi. Dari peristiwa itulah akhir kemewahan dan kemegahan villa isola.
Dalam Villa
Villa isola, salah satu bangunan yang menonjol seni art deconya Namun sekarang tidak lebih dari sekadar gedung atau kantor rektorat UPI saja. Bangunan yang telah lama dirubah fungsi tanpa memikirkan nilai sejarah dan seninya untuk masa depan. Tidak satu pun furniture asli bergaya art deco yang dulunya diimpor dari Perancis, yang masih ada di Isola kecuali Piano dan dudukannya serta sebuah Bench berbentuk sofa yang joknya pun telah diganti. Railing tangga sudah diganti menjadi kayu dari yang dulunya stainless steel. Ruangan pun sudah banyak berubah. Begitu banyak sekat / partisi antar ruang. Saya membayangkan villa Isola yang sekarang merupakan sebuah museum dengan isi yang masih utuh. Ah, alih fungsi Villa Isola merupakan awal dari hilangnya sejarah Villa Isola itusendiri.

Referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Dominique_Willem_Berretty
https://id.wikipedia.org/wiki/Villa_Isola
http://geospotter.org/952/villa-isola-bandung-sebuah-kisah-tragis
http://bukuygkubaca.blogspot.co.id/2015/03/dari-villa-isola-ke-bumi-siliwangi.html
http://lib.itenas.ac.id/kti/wp-content/uploads/2014/03/Tinjauan-FuRNiTuRe-aRT-DeCo-PaDa-ViLLa-iSoLa_Riza-Septiani-D-31-2005-051.pdf

Sumber Foto:
http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1580302
http://movingcities.org/movingmemos/tropical-modernity-review-oct11/
http://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Villa_Isola_aan_de_Lembangweg_bij_Bandoeng_TMnr_60026636.jpg


Tidak ada komentar:

Posting Komentar