Laman

Melahirkan Bayi Kembar Secara Normal? Bisa! Simak Pengalaman Saya

melahirkan, bayi, kembar, pengalaman

Melahirkan Bayi Kembar Secara Normal? Bisa! Simak Pengalaman Saya - Pandangan dan tatapan mata penasaran dan takjub selalu mengiringi saya dan suami ketika menggendong bayi kembar kami di depan umum. Bagaimana tidak, dua sosok bayi imut dan lucu dengan penampakan wajah yang mirip dan selalu menggunakan pakaian dan aksesoris yang sama?

Tak cukup hanya itu. Orang-orang akan selalu bertanya meminta konfirmasi tentang dua bayi kami.

“Kembar ya, Bu?”

“Iya,”jawab saya.

“Ih lucunya.”

Selalu begitu. Pun tak lupa kejadian yang sama terjadi lagi ketika kami membawa sikembar ke dokter untuk imunisasi. “Dulu lahiran sikembar operasi, Bu?”tanya ibu yang duduk di sebelah saya penasaran. “Gak kok, persalinan spontan .” Si Ibu tercegang tak percaya. “Oh, bisa ya melahirkan bayi kembar dengan normal?”

Itulah pertanyaan yang selalu saya tanyakan kepada dokter kandungan ketika pemeriksaan kehamilan dulu.

Teringat Awal-awal Diberitahu Hamil Kembar

“Selamat ya, Bu, Pak. Bayinya kembar,” begitu dulu dokter kandungan menyampaikan. “Tuh lihat kantong kehamilannya ada dua.” Saya dan suami malah sempat bengong tidak percaya. Kembar? Masa iya?

Iya, kami sama sekali tidak pernah membayangkan bakal punya anak kembar karena memang tidak punya garis keturunan langsung yang kembar. Sebuah nikmat Allah SWT yang tidak diduga-duga. Alhamdulillah.

Tidak ada yang berbeda antara kehamilan kembar ini dengan kehamilan sebelumnya. Saya tidak rewel pun demikian juga dengan  calon bayi di kandungan saya. Perkembangannya selalu sesuai dengan umur kehamilan saya. Hingga saya menyadari bahwa pada usia kehamilan enam bulan, baju-baju hamil saya terdahulu sudah tidak muat lagi untuk dipakai.

“Bu Dokter, gimana apa saya bisa melahirkan normal?” tanya saya ke dokter Kiki, dokter kandungan saya. “InsyaAllah bisa, Bu. Mudah-mudahan nanti posisi kepala bayinya bagus.”

Saya memang selalu cemas menghadapi persalinan nanti. Banyak dapat cerita kalau amat jarang orang yang melahirkan normal pada bayi kembar. Belum lagi teman kuliah saya yang juga kebetulan juga hamil kembar, juga memilih untuk melahirkan secara cesar bayinya. “Gak enak banget melahirkan Cesar. Ngilu di bekas operasi sebulan gak hilang-hilang” cerita teman saya tersebut. Makin takutlah saya.

Memasuki trimester terakhir, ukuran perut makin bertambah besar. Strechmark ada dimana-mana. Belum lagi kulit perut yang teregang sempurna hingga hanya menyisakan kulit tipis mengkilat pelapis perut. Makan sudah tidak bisa banyak-banyak. Sedikit makan, perut langsung terasa penuh dan berat. Demikian juga kaki sudah tidak kuat menopang tubuh berjalan. Sedikit melangkah, perut bagian bawah terasa sakit. Saya baru menyadari bahwa ternyata minggu-minggu akhir menjelang melahirkan , saya malah makin kurus.

Tidak bisa banyak makan pun juga tidak bisa banyak gerak. Saya makin cemas dengan masa persalinan saya. Bagaimana bisa melahirkan normal tanpa ada persiapan sama sekali. Mau ikut senam hamil, udah capek duluan karena tempatnya jauh. “Bisa gak ya Pa, Mama melahirkan normal nanti,” tanya saya pada suami.

“Serahkan sama Yang Maha Kuasa saja, Ma. Mudah-mudahan ada pertolongan dari Allah nanti,” nasehat dari suami.

Minggu-minggu terakhir kehamilan

Minggu-minggu terakhir menunggu proses persalinan, merupakan sebuah penantian yang melelahkan. Ukuran perut bertambah besar yang membuat mobilitas tubuh terganggu. Tidak itu saja. Besarnya perut ternyata berefek ke kenyamanan tidur. Tidur hanya bisa di bagian tepi dari tempat tidur. Mau bergeser sedikit saja, sungguh susahnya. Pantat sudah tidak sanggup lagi bergeser ke tengah tempat tidur karena bobot perut yang besar.  Dengan posisi tidur di tepi seperti ini, kaki tinggal dijuntaikan saja ke lantai yang memudahkan untuk bangkit dari tempat tidur. Jangan coba-coba untuk tidur telentang. Bisa-bisa tidak akan sanggup untuk duduk kembali.

Jadi bagaimana posisi yang nyaman untuk tidur? Saya bilang bahwa tidak ada posisi yang benar-benar nyaman. Sebentar tertidur dengan miring ke kiri, lalu kemudian pegal. Namun untuk berpindah miring ke kanan, itu bukan sebuah proses yang mudah. Belum lagi di setiap perpindahan posisi, kita harus menyertakan pemindahan bantal untuk mengganjal perut. Ya memang, perut di setiap perpindahan posisi harus diganjal dengan bantal. Itu keadaan nyamannya.

“Pa, masukin dong baju-baju dan semua persiapan mama melahirkan nanti ke kopernya”.

“ Entar aja deh, Ma. Masih lama juga, sebulan lagi.”

“ Sekalian gitu, Pa. Cek-cek apa yang masih kurang.”

Tapi akhirnya, barang-barang persiapan melahirkan tersebut baru dimasukkan ke dalam koper di saat-saat injury time. Kami abai dalam menyikapi nasehat dokter.

“ Karena hamilnya kembar, biasanya melahirkan gak sampai umur kandungan 38 bulan lho, Bu. Jadi bu Evi mesti siap-siap,” kata dokter Kiki pada saya suatu hari.

“Kenapa bisa gitu, Dokter?” tanya saya.

“ Karena dengan bayi kembar, bobot dari kedua bayi dan perangkatnya akan menekan leher rahim lebih berat. Dan itu bisa memicu kelahiran lebih awal.”

Saya masih ingat malam sebelum melahirkan bayi kembar saya. Tidak ada yang spesial pada hari itu. Saya makan dengan porsi makan sebagaimana biasa. Saya beraktifitas di rumah seperti biasa. Tidak ada yang mencurigakan dengan kondisi kehamilan saya kala itu walaupun saat itu sudah masuk minggu ke-35. Walaupun dokter kandungan saya sudah memprediksi kelahiran yang lebih cepat, namun hingga minggu ke-35 tersebut, saya belum memiliki feeling akan melahirkan. Kontraksi palsu terjadi seperti biasa sebagai persiapan rahim untuk melahirkan.

Saya tertidur pulas malam itu. Hingga saya menyadari bahwa tubuh bagian kanan sudah pegal yang menkitakan saya terlalu lama tidur dengan posisi miring ke kanan. Pelan-pelan saya ubah posisi dari miring ke kanan menjadi telentang. Bersiap-siap untuk ganti posisi miring ke kiri.

Lalu tiba-tiba, saya merasakan sesuatu merembes di celana dalam. Pipiskah saya? Bagaimana bisa pipis sedangkan saya masih dalam posisi setengah tertidur. Pun tidak ada perasaan ingin buang air kecil. Karena kaget saya secara otomatis berdiri karena ingin melihat sesuatu yang merembes tersebut.

Oh la la. Begitu saya berdiri tegak, air berwarna putih dengan bau khas mengucur melewati sela-sela kedua paha saya.  Ketuban saya telah pecah pada pukul 03.30 dinihari pada tanggal 5 Januari 2012. Saya membangunkan suami dan segera suami juga membangunkan kedua orangtua saya. Saya hanya bisa duduk dengan kaki rapat untuk menahan laju kucuran air ketuban keluar lebih banyak.

“Pa, kita belum jadi memasukkan perlengkapan melahirkan ke koper,”ujar saya cemas. Ini pengalaman pertama kehamilan dengan pecahnya ketuban.

“ Mama tenang aja,” suami menimpali. “Tinggal dimasukin aja kok ke koper dari kantong-kantong belanjanya.”

“Jangan sampai ada yang ketinggalan, Pa,” saya mengingatkan.

Rasanya waktu bergerak dengan lambat pagi itu. Menit ke menit waktu berganti terasa lama. Saya cemas dengan banyaknya air ketuban yang keluar. Apa yang terjadi kalau air ketuban yang keluar terlalu banyak. Bagaimana cara menghentikannya. Saya sama sekali tidak tahu dan tidak mempersiapkan diri kalau semua ini akan terjadi. Pembalut wanita yang saya pakai dengan cepat penuh dengan air. Akhirnya saya memakai pembalut nifas yang lebih besar dan volume tampungnya lebih banyak  daripada pembalut biasa.

“Evi, makan dulu sedikit,” saran Mama pada saya. “Biar tambah tenaga untuk melahirkan.

“Nanti aja, Ma. Ke rumah sakit aja dulu. Evi cemas, banyak sekali air ketubannya keluar.”

“Iya makan aja sedikit dulu. Nanti siapa tahu udah ga selera makan, “ kata mama meyakinkan saya.
Subuh jam 04.30 pagi kami berangkat ke rumah sakit. Untungnya Nessa, putri pertama saya tidak rewel dibangunkan menuju rumah sakit.  Dia masih terheran-heran dengan situasi yang terjadi. Maklum umurnya baru tiga tahun kala itu.

 Saya segera disuruh tidur dan tidak banyak gerak, begitu sampai di rumah sakit. “Semakin Ibu banyak bergerak, nanti air ketubannya makin banyak keluar,” demikian perawat tersebut menjelaskan.

Perawat segera menelepon dokter Kiki untuk melaporkan situasi saya. Saya dipasangi infus untuk menyuplai cairan ke rahim sebagai pengganti air ketuban yang keluar dan juga dipasangi kateter. Perawat pun memeriksa apakah sudah ada bukaan pada leher rahim. Pukul 05.30 subuh perawat tersebut memberi tahu bahwa ternyata saya belum ada bukaan.

“Kami akan memasang induksi ya, Bu, “ kata perawat pada saya.

“Mengapa gitu, Suster?“ saya cemas karena kabarnya dengan induksi kontraksi makin terasa sakit.

“Dokter Kiki bilang supaya mempercepat bukaan Ibu. Terlalu lama bayi dalam kandungan dengan air ketuban yang keluar, bisa menyebabkan bayi kekeringan,” ujar perawat menjelaskan.

Saya hanya bisa menyetujui tindakan yang dilakukan perawat. Percaya dan pasrah dengan intruksi yang diberikan dokter Kiki. Mudah-mudahan itu jalan terbaik yang diberikan Allah SWT untuk saya. Dan menunggu memang pekerjaan yang tidak mengenakkan dan terasa membosankan. Waktu terasa pelan berjalan begitu kita fokus mengikuti geraknya. Tak ada yang bisa saya lakukan, melainkan hanya menunggu dan menanti. Saya mensyukuri saran dari Mama untuk langsung makan saat subuh tadi. Sudah tidak ada nafsu makan memang dalam kondisi seperti ini. Mudah-mudahan dengan bekal yang tidak banyak itu membantu menambah tenaga buat saya.

Satu jam berlalu setelah diinduksi. “Masih belum ada bukaan, Bu,” ujar perawat pada saya. Saya resah, punya perasaan kalau proses induksi ini akan memakan waktu yang lama. Sementara badan udah mulai pegal-pegal karena kelamaan dalam posisi tidur. Berpindah-pindah posisi sudah tidak nyaman. Disamping tempat tidurnya yang sempit yang membuat saya serasa akan jatuh, tangan kiri saya juga dipasangi infus.

Dua jam berlalu. Namun saya tetap belum ada bukaan. Saya bertambah cemas. Saya mulai dihinggapi perasaan tidak akan kuat berlama-lama dengan kondisi perut buncit dengan posisi telentang.

“ Mohon ampun pada Allah SWT dan mohon pertolongan dan perlindungan-Nya agar prosesnya mudah dan lancar,” nasehat Mama ketika pamit mau absen ke kantor beliau. Saya mengikuti nasehat Mama. Berdoa memohon kelancaran terhadap proses persalinan dan mengucapkan Istighfar. Ternyata memang, doa yang khusyuk dapat menjadi obat mujarab mengusir kegelisahan. Hati pun menjadi tenang. Saya percaya dengan pikiran yang tenang, tubuh pun akan merespon dengan baik setiap doa-doa yang kita panjatkan.

Jam 09 pagi. Alhamdulillah saya sudah mulai merasakan sedikit sakit kontraksi di perut. Bukaan satu telah terjadi. Sebuah pertkita alamiah bahwa rahim sudah mulai bersiaga untuk mengeluarkan bayi kembar saya.

Walaupun begitu yang namanya perasaan ada saja syetan pengganggunya. Tangan kiri saya yang sudah hampir tiga jam lebih dipasangi infus terasa kesemutan. Belum lagi punggung rasanya mau rontok karena menopang tubuh dalam posisi terlentang yang lama. Saya sudah mulai dihinggapi ketidakyakinan akan kekuatan saya sendiri. Kontraksi perut masih bisa ditahan sakitnya. Namun kelelahan dengan kondisi fisik yang serba terbatas gerak menurunkan daya juang saya untuk persalinan normal.

“Pa, rasanya gak kuat lama-lama kayak gini,” imbuh saya pada suami. “Cesar aja deh, Pa. Berapa harga paketnya kalau Cesar?”

“Jangan menyerah gitu dong, Ma. Mama pasti bisa,” ujar suami menyemangati. “Papa selalu mendampingi Mama kok, disini.”

“Tapi capek lama-lama kayak gini, Pa. Mama gak kuat”

“Ayo kita sama-sama berdoa yuk, semoga Mama diberi kekuatan oleh Allah SWT dalam menjalani persalinan ini.”

Jam 10 wib sudah mulai ada kemajuan. Saya sudah dalam posisi bukaan tiga. Sakit kontraksi sudah mulai terasa lebih sering dan lebih sakit dari sebelumnya. Mama menyuruh saya agar senantiasa mengucapkan Alhamdulillah kala sakit kontraksi menyerang. Dengan begitu, pertkita kita mensyukuri jalan kelahiran akan semakin dekat. Rasa sakit yang menyerang merupakan cara rahim untuk membantu bayi dalam proses kelahirannya.

“Suster, dokter Kiki kok belum juga datang,”tanya saya. Sudah sekian jam saya di ruang bersalin sejak kedatangan, namun dokter kandungan tersebut belum juga muncul.

“Ibu kan masih bukaan tiga. Masih lama kok, Bu,” jawab perawat tersebut. “Dokter Kiki selalu kami kabarkan kok mengenai perkembangan kondisi Ibu.”

Ibu mertua dan kakak ipar saya juga akhirnya datang dari Bukittinggi menjelang siang. Walaupun bukan merupakan cucu pertama beliau, namun proses kelahiran ini disambut dengan gembira karena  bakal mempunyai cucu kembar. Sementara itu rasa sakit kontraksi semakin sering datang dan semakin dalam. Benar saja yang diucapkan orang-orang. Persalinan dengan induksi jauh lebih sakit kontraksinya dibandingkan dengan tidak diinduksi. Rasa sakit yang mendera, yang membuat kita hanya mampu meresponnya dengan erangan kesakitan dan meringis memejamkan mata.

“Percepatlah proses ini, ya Allah. Berilah kekuatan pada hamba.” Tak putus-putusnya saya berdoa ditengah sakit. Entah mana yang lebih sakit, ketika melahirkan anak pertama dengan sekarang.

Harusnya karena ini persalinan kedua, sakit kontraksi tidak akan sesakit ketika kelahiran normal pertama. Entahlah, saya hanya merasakan sakit yang teramat sangat.

Terkadang menunggu bukaan kelahiran yang prosesnya lama dan tidak menentu memang butuh kesabaran tingkat tinggi. Siapa yang tidak ingin proses melahirkan cepat dan gampang. Kalau bisa lebih cepat kenapa harus menunggu lama. Tapi ini adalah tubuh, makhluk hidup yang butuh proses dalam setiap tahapannya. Bukan mesin yang selalu mencetak produk dengan cepat. Kita harus bisa sabar terhadap setiap reaksinya. Proses melahirkan normal adalah proses yang butuh waktu. Jadi tidak bisa instan.

Yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan bersabar dalam setiap tahapannya. Buang jauh-jauh semua erangan, keluhan dan emosi-emosi negatif lainnya. Karena itu hanya akan memakan cadangan energi kita. Padahal menunggu proses bukaan belumlah puncak perjuangan kita. Siapa yang tidak merasakan sakit ketika kontraksi makin menyiksa. Tapi rasakan secukupnya saja. Yakinilah bahwa pertolongan Allah SWT akan datang masanya.

Perawat memeriksa kembali bukaan leher rahim saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 siang. Ternyata saya sudah mencapai bukaan 8. Rasa sakit makin sering datang dan bertambah hebat. Saya sudah berfirasat bahwa akan melahirkan dalam waktu yang tidak lama.

“Kenapa dokter Kiki belum datang juga, Suster,” tanya saya .

“Iya sedang kami telepon, Bu.”

Tapi saya makin khawatir karena dari ruangan sebelah, terdengar suara kepala perawat menginformasikan bahwa dokter Kiki tidak mengangkat-angkat pesawat Handphone-nya.

“Coba telepon nomor rumah beliau,” saran dari perawat lain.

Lalu terdengar bunyi pesawat telepon kembali ditekan-tekan nomornya. “Kata orang di rumah, dokter Kiki visite ke RSUP M. Djamil,” terdengar kembali suara kepala perawat menginformasikan.

“Aduh, gimana ini, Pa?” saya demikian cemas membayangkan bakal melahirkan tanpa didampingi dokter.

“Sabar sayang,” mama menenangkan, “perawat di sini kan juga bidan yang bisa membantu pasien melahirkan.”

Kepala perawat kemudian menginformasikan kalau dari bagian kebidanan dan kandungan RSUP M. Djamil Padang di dapat kabar kalau dokter Kiki pergi ke Fakultas Kedokteran Universitas Kitalas. Mendengar itu, saya makin hopeless dengan keberadaan dokter Kiki, dokter kandungan saya. Sementara itu rasa sakit kontraksi frekuensinya sudah makin sering dan hampir-hampir tidak berhenti.

“Bukaan hampir lengkap,” ujar perawat yang memeriksa saya setengah berteriak.

“Tahan dulu, Bu. Jangan mengejan dulu.”

Saya panik. Bagaimana mungkin bisa melawan dorongan bayi yang mau keluar. “Sama bidan aja. Tolong bantu saya melahirkan,” teriak saya putus asa.

Saya benar-benar kecewa dengan dokter Kiki. Bagaimana bisa saya pasiennya, yang hamil kembar, dalam posisi akan melahirkan namun keberadaannya tidak jelas. Sedari awal sudah saya sampaikan bahwa saya ingin didampingi ketika melahirkan nanti. Bagaimanapun ini kelahiran yang tidak biasa.
Lalu kepala perawat datang dengan tergopoh-gopoh ke ruangan bersalin.

 “Ayo, segera disiapkan. Dokter Kiki sedang menuju kemari,”ujarnya memberi instruksi. Kaki saya ditaruh digantungan dan diikat. Saya pasrah saja. Ini terasa menakutkan karena dulu tidak seperti ini.
Saya sudah tidak sanggup menahan dorongan untuk mengejan. Disaat yang tepat dokter Kiki akhirnya tiba di ruang bersalin.

 “Aduh maafkan saya, HP saya silent karena sedang mengajar,”ujarnya. “Saya tidak menduga prosesnya cepat.”

“Mari, Bu. Kita mulai sekarang,” kata dokter Kiki memandu.

Ternyata walaupun ini bukan persalinan yang pertama buat saya, saya masih tidak kuat mengejan. Setelah beberapa kali mengejan, akhirnya bayi pertama terlahir ke dunia. Alhamdulillah, kami sama-sama mengucapkan rasa syukur atas nikmat dan kekuasaan Allah SWT. Hilang sudah semua rasa sakit begitu melihat bayi yang baru terlahir.

“Ayo, Bu. Kita siap-siap yang kedua,” instruksi dari dokter Kiki. Ternyata saya harus persalinan lagi untuk yang kedua kali. Dokter Kiki sama sekali tidak menunggu jeda untuk mengisi kembali tenaga yang telah terkuras.

“Mulut rahimnya masih terbuka lebar sekarang,” katanya memberi penjelasan. Saya bersiap-siap kembali untuk mengejan. Saya pikir ini tidak akan susah karena ini bayi kedua. Tentunya jalan kelahiran akan lebih mudah karena sudah dibukakan oleh bayi pertama. Ternyata sama saja dan bahkan lebih terasa sakit. Disebabkan bayi kedua ini dalam posisi sungsang. Saya mencoba untuk kembali untuk mengejan dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Begitu kaki dari bayi kedua keluar, dokter Kiki segera membantu kelahirannya dengan cara menariknya keluar. Bukan main terasa sakit di panggul dan vagina. Alhamdulilah bayi kembar saya terlahir selamat dan sempurna.

***

Saya langsung menangis, begitu Mama masuk ke ruang bersalin untuk melihat kedua cucunya yang baru lahir. “Sst gak boleh nangis,” kata Mama, “Alhamdulilah sudah selesai.”

“Sakit sekali, Ma,” kata saya sesegukan.

Selesai sudah perjuangan saya hari ini. 5 Januari 2012 mendekati jam 14 wib kedua puteri kembar saya terlahir. Sungguh saya tidak menyangka proses kelahirannya kurang dari 12 jam sejak pertama kali ketuban pecah. Apalagi saat ketuban pecah, bukaan sama sekali belum ada.

Saya pikir tadi akan berakhir di meja operasi. Saya sama sekali tidak yakin dengan kekuatan fisik saya. Kondisi sudah teramat tidak mengenakkan. Tubuh bagian bawah sudah basah karena air ketuban tetap keluar walaupun saya sudah dalam posisi tidur dan tidak bergerak. Tulang punggung rasanya sudah remuk menahan tekanan beban dari perut. Belum lagi keberadaan dokter Kiki yang tidak bisa dihubungi.

Namun kuasa Allah SWT memang maha besar. Tak disangka melewati bukaan 8, proses bukaan berjalan dengan cepat. Disaat-saat genting saya sudah dalam posisi siap untuk melahirkan, dokter Kiki akhirnya berhasil dihubungi. Saya percaya itu sudah menjadi scenario dari-Nya. Manusia hanya diminta menjalankan dengan sabar dan ikhlas. Yakinilah pertolongan dari Allah SWT itu akan selalu hadir di saat yang tepat terhadap hamba-Nya yang selalu meminta pertolongan.

Satu proses kelahiran saja, sudah sedemikian menguras energi. Apalagi untuk kelahiran bayi kembar, energi yang dibutuhkan menjadi berlipat gkita. Kadang ditengah rasa sakit kontraksi, saya dihinggapi perasaan tidak akan mampu dan kuat melahirkan bayi kembar saya secara normal. Ternyata kita mempunyai kekuatan yang jauh debih dasyat dari yang kita perkirakan. The strength you never know you have. Allah SWT telah mentakdirkan saya hamil bayi kembar. Allah jugalah nantinya yang akan mengatur dan membantu kelahiran bayi kembar tersebut dengan kuasa-Nya.

Namun bagaimana sesungguhnya dunia kedokteran menyikapi kelahiran bayi kembar secara normal?
Selama kondisi kedua bayi normal dan tidak ada gangguan kehamilan lain, ibu bisa melahirkan bayi kembarnya dengan normal meskipun tercatat sebanyak 6 dari 10 bayi kembar dilahirkan melalui operasi caesar. Posisi bayi dalam kandungan menjadi salah satu faktor penentu proses persalinan yang akan dijalani ibu.

Persalinan normal dapat dilakukan jika setidaknya kembaran yang akan lahir pertama berada dalam posisi kepala di bawah dan plasenta tidak menghalangi leher rahim. Bayi kembarnya juga bukan merupakan kembar identik, sehingga tidak berbagi plasenta yang sama.

Beberapa rumah sakit akan merekomendasikan operasi caesar untuk ibu dengan bayi kembar dalam satu plasenta. Pasalnya, kembar identik berisiko mengalami komplikasi selama kelahiran.
Calon orangtua akan dianjurkan untuk melahirkan bayi kembar di rumah sakit atau klinik bersalin dengan fasilitas yang memadai, bukan di rumah. Ini karena persalinan bayi kembar memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi daripada persalinan satu bayi.

Apapun keputusan yang akan dijalani, keselamatan ibu dan bayi akan diawasi secara ketat. Persalinan normal untuk bayi kembar tentunya memerlukan penanganan yang lebih intensif daripada persalinan normal untuk satu bayi. Hal ini dapat meningkatkan kemungkinan operasi caesar demi keselamatan ibu dan anak. Pada beberapa kasus, salah satu bayi kembar dapat dilahirkan secara normal, sementara bayi yang lain diangkat melalui operasi caesar.

Para ahli memperkirakan bahwa setengah kasus bayi kembar akan dilahirkan premature. Ada banyak alasan mengapa banyak bayi kembar lahir prematur. Misalnya karena rahim sudah berkontraksi, air ketuban sudah pecah, atau leher rahim sudah membuka. Hamil anak kembar memang meningkatkan risiko persalinan lebih cepat.

Sekarang puteri kembar saya sudah berusia enam tahun. Setelah besar mereka tak lagi terlihat seperti anak kembar. Memang mereka bukanlah kembar identik yang mempunyai sifat dan kemiripan wajah. Bahkan sekarang mereka sudah tidak suka lagi memakai baju-baju yang sama. Masing-masing sudah mempunyai keinginan yang berbeda terhadap sesuatu.

Tapi buat saya, mereka tetaplah anak kembar saya. Dua bayi yang saya kandung dalam waktu sekaligus. Begitu banyak keajaiban yang saya rasakan semenjak kehamilannya. Suatu pengalaman hidup yang maha dasyat yang tidak semua orang miliki. Menjadi ibu kembar dengan kelahiran normal.

                                                                              ++ AV ++
Read More

Mencapai Indonesia Sehat Dengan Germas, Apa Yang Harus Dilakukan?

germas, indonesia, sehat, 7 kegiatan
Copyright : Mitra Kesehatan Masyarakat

Mencapai Indonesia Sehat Dengan Germas, Apa Yang Harus Dilakukan?- Sebagai peserta JKN, saya terperangah ketika membaca berita yang mewartakan bahwa BPJS mengalam deficit dalam pembiayaan. Bagaimana tidak dari tahun ke tahun, BPJS menanggung pembiayaan pengobatan pasien yang terus merangkak naik. Hingga September 2017 BPJS sudah membayarkan klaim pengobatan senilai lebih dari 12 Milyar. Dan itu didominasi oleh penyakit katastropik yang merupakan penyakit tidak menular seperti  jantung, kanker, diabeter, sirosis, leukemia dan lain-lain.

Dalam suatu riset menyebutkan Indonesia telah mengalami transisi epidemologi. Jika dibandingkan data penyakit yang signifikan terjadi pada tahun 1990 dengan 2015, telah terjadi perubahan polanya. Tahun 1990 56% penyakit yang sering menjangkiti adalah penyakit menular seperti TB, diare, ispa dll sedangkan tahun 2015 sekitar 57% penyakit merupakan penyakit tidak menular. Saya berhipotesis PTM ini lebih didominasi faktor individu terkait gaya hidup dan faktor perilaku. Berbeda dengan penyakit menular yang banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang tidak bisa dikontrol.

Derajat Kesehatan dan Teori HL Blum

Faktor apa yang mempengaruhi derajat kesehat masyarakat? Pakar kesehatan HL Blum mengeluarkan teori bahwa ada empat faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan.
Seingga dengan demikian bagaimana respon kita terhadap penyakit? Pilihannya Cuma dua : menjaga agar selalu sehat atau mengobati.

Inisiasi Indonesia Sehat Dengan Germas dan Bagaimana Mencapainya?

Presiden Jokowi sudah mengeluarkan Instruksi Presiden no 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Germas ini merupaka suatu tindakan sistematis dan terencana  yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa  dengan kesadaran, kemauan dan kemampuanberprilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.

Dengan adanya Germas diharapkan lingkungan menjadi bersih sehingga kesehatan terjaga, sehingga masyarakat produktif bekerja dan tercapainya pengurangan biaya berobat.

Siapa Saja Yang Melaksanakan Germas?

Seluruh masyarakat diharapkan dapat mengaplikasikan germas dalam kehidupannya sehari-hari baik sebagai individu, keluarga atau pun masyarakat.  Institusi dan organisasi juga diharapkan menjadi penggerak kegiatan germas ini dan ditunjang oleh pemerintah pusat dan daerah dalam menyediakan beberapa layanan terkait dengan germas.

Apa Saja Bentuk Kegiatan Germas?

Tujug kegiatan Germas
Germas dimulai dengan 3 fokus kegiatan yaitu meningkatkan aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur dan deteksi dini penyakit tidak menular (PTM). Namun untuk lebih mensukseskan tujuan gerakan masyarakat sehat dan meningkatkan kebiasan pola hidup sehat, ada 4 kegiatan tambahan yang bisa dilakukan.

1.    Aktivitas Fisik

Banyak dijumpai masyarakat usia produktif yang terserang penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, serangan jantung, obesitas, kolesterol tinggi, diabetes dan hipertensi akibat dari kurangnya aktivitas fisik dan pola hidup yang tidak sehat seperti merokok.

Meningkatkan aktivitas fisik setiap hari menjadi salah satu kegiatan Germas untuk menghindari dan mencegah timbulnya berbagai penyakit yang disebabkan karena obesitas atau penumpukan lemak dalam tubuh.

Kita juga bisa melakukan aktifitas fisik di sela-sela kegiatan kantor dengan melakukan senam ringan selama beberapa menit.

2. Konsumsi Buah dan Sayur

Buah dan sayur juga mengandung antioksidan yang mampu mencegah proses oksidasi molekul lain yang menghasilkan radikal bebas yang dapat merusak sel-sel dalam tubuh. Kalori yang terdapat pada buah dan sayur cukup rendah dan bebas dari lemak jahat sehingga sangat baik untuk mencegah kelebihan kalori dalam tubuh.

Hampir semua buah-buahan dan sayuran kaya akan vitamin, mineral. serat, antioksidan yang berguna untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan menghindari berbagai jenis penyakit secara alami.

3. Rutin Memeriksa Kesehatan

Pemeriksaan kesehatan atau medical chekup dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui kondisi kesehatan secara berkala. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dapat mendeteksi lebih dini penyakit yang ada dalam tubuh, khususnya penyakit-penyakit tidak menular yang berbahaya dan mematikan, sehingga kondisi penyakit yang lebih parah dapat dicegah.

Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan memiliki banyak manfaat diantaranya mengetahui kondisi kesehatan tubuh secara dini, juga dapat menekan biaya pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup seperti cita-cita Germas.

4. Membersihkan Lingkungan

Menjaga lingkungan agar selalu bersih menjadi salh satu kegiatan Germas yang harus dilaksanakan oleh setiap lapisan masyarakat. Tidak hanya lingkungan rumah sendiri namun juga lingkungan sekitar. Di Indonesia masalah lingkungan bersih masih sering dijumpai dan dapat menjadi sumber penyakit.

5. Menggunakan Jamban Sehat

Penggunaa jamban sehat dan bersih sangat diperlukan untuk mencegah penularan berbagai penyakit diantara penggunanya akibat bakteri dan virus. Pada umumnya jamban digunakan secara umum atau bersama-sama yang berpotensi meningkatkan angka penularan penyakit.

6. Tidak Merokok

Dampak buruk rokok dapat menyerang berbagai organ tubuh manusia, seperti otak, mulut dan tenggorokan, paru-paru, lambung, tulang, kulit dan organ reproduksi. Selain itu, rokok juga dapat meningkatkan tingkat stres dan sangat dapat menjadi sumber penyakit bagi lingkungan disekitarnya.

7. Tidak Mengkonsumsi Alkohol

Banyak dampak buruk yang diakibatkan oleh konsumsi alkohol seperti meningkatnya kadar trigliserida (suatu jenis lemak yang terdapat dalam darah) dan meningkatkan tekanan darah tinggi. Selain itu, mengkonsumsi alkohol juga berdampak pada psikologi yang menyebabkan hilangnya kesadaran sehingga sulit mengendalikan pikiran, perasaan dan tindakan.

Dengan 7 kegiatan Germas diatas kualitas hidup sehat dan tingkat kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Masyarakat sehat dan sejahtera adalah landasan untuk mencapai Indonesia Sehat.

PS : Artikel Ditulis Berdasarkan Paparan dr. Osca Primadi MPH  Irjen Kemenkes RI pada acara Temu Blogger Kesehatan di Padang
Read More

Disiplin Positif, Kunci Pengendalian Gadget Pada Anak


Masih ingat kan, beberapa waktu lalu viral video yang memperlihatkan seorang anak yang tengah menonton video tak pantas, luput pengawasan ibunya yang berada tak jauh dari si anak. Si Ibu mungkin beranggapan, dengan anak memainkan gadget, mereka lebih 'terkontrol' dan 'terkendali' sehingga ibu/oragtua bisa beraktifitas dengan tenang.

Sekarang ini, penggunaan gadget kadang susah untuk dikendalikan. Di satu sisi, menjadi kebutuhan karena segala informasi bisa dengan mudah didapat. Di sisi lain, gadget juga menyediakan dampak negatif yang menuntut perhatian, seperti penggunaan gadget pada anak. Bagaimana mencegah anak kecanduan gadget?

Memainkan gadget dalam waktu yang relatif lama, dengan jarak yang dekat membuat mata anak rentan sakit. Tidak hanya iritasi, tapi bisa membuat rabun dekat dalam umur yang masih dini. Belum lagi anak-anak menjadi malas bergerak dan beraktivitas karena permainan yang ditawarkan oleh gadget bersifat statis.

Kadang, kita secara tidak sadar turut membuat anak-anak menjadi kecanduan memainkan gadger. Dengan alasan supaya tidak mengganggu pekerjaan rumah tangga, anak-anak diberikan gadget. Atau supaya orangtua bisa beristirahat sebentar setelah pulang dari kantor, dan berbagai alasan lainnya.
Saya sendiri merasa kewalahan dalam mengontrol penggunaan gadget anak-anak, setelah saya memasang internet di rumah untuk keperluan studi lanjut saya. Mulai dari mengingatkan kalau mereka sudah lama bermain, tapi ini jarang digubris. Akhirnya harus diambil langsung HP yang dimainkan dari tangan anak-anak, supaya mereka berhenti bermain. Tak ayal anak-anak langsung marah dan mengamuk. Menangis tidak karuan.

Buat Kesepakatan 


Saya pikir problem disiplin memainkan gadget untuk anak-anak merupakan sesuatu yang perlu untuk dicari jalan keluarnya. Memutus penggunaan internet bukan opsi terbaik, karena saya membutuhkan koneksi yang stabil dengan kuota tidak terbatas. Di sisi lain, anak-anak mesti terkontrol dan tidak bisa diandalkan dengan jalan memarahi mereka saja kalau mereka tidak patuh.

Nah, disiplin positif adalah kunci mencegah anak kecanduan gadget. Apa itu disiplin yang positif? Disiplin positif adalah konsep lama dari Alfred Adler dan Rudolf Dreikurs yang mulai digunakan dan dikaji kembali karena munculnya banyak kekeresan yang terjadi di rumah dan sekolah. Disiplin positif merupakan sistem disiplin yang menfokuskan pada tingkah laku positif anak. Melalui disiplin positif anak diajarkan untuk berperilaku sesuai dengan aturan dan nilai keluarga.

1.  Kesepakatan dibuat dengan keterlibatan semua anggota keluarga

Dari hasil diskusi dan negosiasi antara saya, suami dan anak-anak akhirnya tercapai kesepakatan, bahwa anak-anak diperbolehkan main gadget maksimal 90 menit sehari. Mungkin waktu 90 menit ini sudah relatif lama untuk durasi penggunaan gadget pada anak. Tapi saya dan suami berpendapat, bahwa sesuatu perubahan tidak bisa secara drastis. Perlahan-lahan nanti durasi ini akan dipersingkat.

2.  Fokus hanya pada hal yang dianggap penting oleh semua anggota keluarga

Jadi kesepakatan yang dibuat, tidak mungkin bisa menjangkau semua aturan yang ingin diterapkan oleh orangtua. Untuk itu orangtua mesti fokus untuk beberapa hal yang dianggap penting saja. Misalkan disiplin sholat tepat waktu

3.  Hanya sedikit.

Usahakan aturan atau kesepakatan yang dibuat berupa poin –poin yang junlahnya tidak banyak sehingga anak mampu mengingat dan melaksanakan kesepakatan tersebut dengan konsisten. Kesepakatan pertama saya dan anak-anak adalah soal durasi penggunaan gadget. Di samping itu kami juga membuat aturan bahwa penggunaan hp tidak diperbolehkan di malam hari. Dengan hanya berupa dua poin kesepakatan tersebut, terlihat anak-anak mampu untuk melaksanakannya.

4.  Menyebutkan nilai yang dijunjung keluarga.

Anak memahami tanggung jawab sebagai anggota kelompok dalam keluarga dan senantiasa melaksanakan nilai-nilai kejujuran dalam keluarga. Dan tak dinyana si kembar Dhila Thiya menjadi pawang untuk penggunaan gadget untuk kakaknya. Dan sebaliknya juga demikian.

5.  Menjelaskan konsekuensi

Bila kesepakatan dilanggar, maka konsekuensinya harus ada. Saya juga menerapkan kesepakatan dalam merumuskan konsekuensi tersebut. Misalkan tadinya saya menawarkan tidak boleh belanja pada esok hari, kalau anak-anak tidak mematuhi kesepakatan penggunaan hp. Sikembar setuju, namun si kakak meminta ganti. Dia menawarkan untuk mencuci semua piring yang kotor nila melanggar kesepatan.

6.  Dibuat Tertulis

Kesepakatan bersama dibuat tertulis di area yang mudah dijangkau anak-anak. Saya juga membuatkan tabel penggunaan hp pada setiap harinya. Dengan begitu, anak-anak bisa mengontrol diri akan durasi memainkan gadget. Isi tabelnya sederhana. Terdiri atas kolom nama, keterangan waktu pagi dan sore hari yang berisi durasi setiap anak dalam penggunaan hp.

Setelah beberapa lama, kesepakatan yang dijalankan perlu ditinjau ulang. Misalkan ada masalah yang muncul dan sebagai refleksi yang baik pada anak. Hingga hari ini, durasi penggunaan yang tadinya 90 menit sudah saya kurangi menjadi 60 menit sehari. Dan itu merupakan contoh sebuah refleksi yang baik bagi anak, bahwa mereka bisa melakukan aktifitas lain yang lebih menarik dibandingkan hanya memainkan jari mereka saja.  Mudah-mudahan kesepakatan dalam mencegah anak kecanduan gadget ini bisa diterapkan dalam hal lain lain.

PS: Bahan diskusi diambil dari Kelas Rangkul Keluarga Kita


**AV**


Read More