Laman

Disiplin Positif, Kunci Pengendalian Gadget Pada Anak


Masih ingat kan, beberapa waktu lalu viral video yang memperlihatkan seorang anak yang tengah menonton video tak pantas, luput pengawasan ibunya yang berada tak jauh dari si anak. Si Ibu mungkin beranggapan, dengan anak memainkan gadget, mereka lebih 'terkontrol' dan 'terkendali' sehingga ibu/oragtua bisa beraktifitas dengan tenang.

Sekarang ini, penggunaan gadget kadang susah untuk dikendalikan. Di satu sisi, menjadi kebutuhan karena segala informasi bisa dengan mudah didapat. Di sisi lain, gadget juga menyediakan dampak negatif yang menuntut perhatian, seperti penggunaan gadget pada anak. Bagaimana mencegah anak kecanduan gadget?

Memainkan gadget dalam waktu yang relatif lama, dengan jarak yang dekat membuat mata anak rentan sakit. Tidak hanya iritasi, tapi bisa membuat rabun dekat dalam umur yang masih dini. Belum lagi anak-anak menjadi malas bergerak dan beraktivitas karena permainan yang ditawarkan oleh gadget bersifat statis.

Kadang, kita secara tidak sadar turut membuat anak-anak menjadi kecanduan memainkan gadger. Dengan alasan supaya tidak mengganggu pekerjaan rumah tangga, anak-anak diberikan gadget. Atau supaya orangtua bisa beristirahat sebentar setelah pulang dari kantor, dan berbagai alasan lainnya.
Saya sendiri merasa kewalahan dalam mengontrol penggunaan gadget anak-anak, setelah saya memasang internet di rumah untuk keperluan studi lanjut saya. Mulai dari mengingatkan kalau mereka sudah lama bermain, tapi ini jarang digubris. Akhirnya harus diambil langsung HP yang dimainkan dari tangan anak-anak, supaya mereka berhenti bermain. Tak ayal anak-anak langsung marah dan mengamuk. Menangis tidak karuan.

Buat Kesepakatan 


Saya pikir problem disiplin memainkan gadget untuk anak-anak merupakan sesuatu yang perlu untuk dicari jalan keluarnya. Memutus penggunaan internet bukan opsi terbaik, karena saya membutuhkan koneksi yang stabil dengan kuota tidak terbatas. Di sisi lain, anak-anak mesti terkontrol dan tidak bisa diandalkan dengan jalan memarahi mereka saja kalau mereka tidak patuh.

Nah, disiplin positif adalah kunci mencegah anak kecanduan gadget. Apa itu disiplin yang positif? Disiplin positif adalah konsep lama dari Alfred Adler dan Rudolf Dreikurs yang mulai digunakan dan dikaji kembali karena munculnya banyak kekeresan yang terjadi di rumah dan sekolah. Disiplin positif merupakan sistem disiplin yang menfokuskan pada tingkah laku positif anak. Melalui disiplin positif anak diajarkan untuk berperilaku sesuai dengan aturan dan nilai keluarga.

1.  Kesepakatan dibuat dengan keterlibatan semua anggota keluarga

Dari hasil diskusi dan negosiasi antara saya, suami dan anak-anak akhirnya tercapai kesepakatan, bahwa anak-anak diperbolehkan main gadget maksimal 90 menit sehari. Mungkin waktu 90 menit ini sudah relatif lama untuk durasi penggunaan gadget pada anak. Tapi saya dan suami berpendapat, bahwa sesuatu perubahan tidak bisa secara drastis. Perlahan-lahan nanti durasi ini akan dipersingkat.

2.  Fokus hanya pada hal yang dianggap penting oleh semua anggota keluarga

Jadi kesepakatan yang dibuat, tidak mungkin bisa menjangkau semua aturan yang ingin diterapkan oleh orangtua. Untuk itu orangtua mesti fokus untuk beberapa hal yang dianggap penting saja. Misalkan disiplin sholat tepat waktu

3.  Hanya sedikit.

Usahakan aturan atau kesepakatan yang dibuat berupa poin –poin yang junlahnya tidak banyak sehingga anak mampu mengingat dan melaksanakan kesepakatan tersebut dengan konsisten. Kesepakatan pertama saya dan anak-anak adalah soal durasi penggunaan gadget. Di samping itu kami juga membuat aturan bahwa penggunaan hp tidak diperbolehkan di malam hari. Dengan hanya berupa dua poin kesepakatan tersebut, terlihat anak-anak mampu untuk melaksanakannya.

4.  Menyebutkan nilai yang dijunjung keluarga.

Anak memahami tanggung jawab sebagai anggota kelompok dalam keluarga dan senantiasa melaksanakan nilai-nilai kejujuran dalam keluarga. Dan tak dinyana si kembar Dhila Thiya menjadi pawang untuk penggunaan gadget untuk kakaknya. Dan sebaliknya juga demikian.

5.  Menjelaskan konsekuensi

Bila kesepakatan dilanggar, maka konsekuensinya harus ada. Saya juga menerapkan kesepakatan dalam merumuskan konsekuensi tersebut. Misalkan tadinya saya menawarkan tidak boleh belanja pada esok hari, kalau anak-anak tidak mematuhi kesepakatan penggunaan hp. Sikembar setuju, namun si kakak meminta ganti. Dia menawarkan untuk mencuci semua piring yang kotor nila melanggar kesepatan.

6.  Dibuat Tertulis

Kesepakatan bersama dibuat tertulis di area yang mudah dijangkau anak-anak. Saya juga membuatkan tabel penggunaan hp pada setiap harinya. Dengan begitu, anak-anak bisa mengontrol diri akan durasi memainkan gadget. Isi tabelnya sederhana. Terdiri atas kolom nama, keterangan waktu pagi dan sore hari yang berisi durasi setiap anak dalam penggunaan hp.

Setelah beberapa lama, kesepakatan yang dijalankan perlu ditinjau ulang. Misalkan ada masalah yang muncul dan sebagai refleksi yang baik pada anak. Hingga hari ini, durasi penggunaan yang tadinya 90 menit sudah saya kurangi menjadi 60 menit sehari. Dan itu merupakan contoh sebuah refleksi yang baik bagi anak, bahwa mereka bisa melakukan aktifitas lain yang lebih menarik dibandingkan hanya memainkan jari mereka saja.  Mudah-mudahan kesepakatan dalam mencegah anak kecanduan gadget ini bisa diterapkan dalam hal lain lain.

PS: Bahan diskusi diambil dari Kelas Rangkul Keluarga Kita


**AV**


19 komentar:

  1. saya termasuk yang berpendapat sama, bahkan anak sebenarnya sangat tidak disarankan untuk "memiliki gadget sendiri" karena dalam pakteknya sulit untuk mengontrol apa yang boleh dan dilarang untuk mereka akses, terlebih jika orangtua tidak paham tentnag teknologi dan internet.

    BalasHapus
  2. Hmmmm, ini sebuah pertanyaan yang jadi bahan pemikiran saya, jika suatu hari saya punya anak nanti., bagaimana membatasi penggunaan gadget mereka? Kalau menurut bayangan saya (karena saya belum jadi orang tua), kalau kita bikin aturan satu hari main gadget hanya 90 menit, tidak hanya anaknya, tapi orang tuanya juga harus mengikuti aturan tersebut. Jadi di luar waktu yang sudah ditentukan itu, walaupun untuk urusan pekerjaan sekalipun, kita gak boleh main gadget di depan anak. Menurut saya, seperti itu baru adil.

    BalasHapus
  3. Saya juga menerapkan cara pembatasan penggunaan gadget di rumah. Berhubung anak masih kecil, setiap dia main HP saya beri alarm, misal 5 menit. Kalau sudah bunyi ya langsung ia kembalikan. Alhamdulillah efektif.

    BalasHapus
  4. Sampai sekarang saya masih bergidik ngeri bun liat video itu. Jadi serem kalau liat anak sendiri buka youtube takut banget.huhu. Memang perlu sekali aturan disiplin gadget buat anak seperti penjelasan bunda. Semoga kita semua bisa mengaplikasikannya.

    BalasHapus
  5. Yg susah itu anak kan lihat orang terdekat alias orang tua. Kalau anak dibatasi pegang gadget sementara orangtuanya malah tidak lepas dari gadget kayanya gimana ya... Hehehe

    BalasHapus
  6. Setuju banget Bun dengan poin-poin di atas. Kalau di saya yang paling sulit adalah komitmen terhadap aturan. Maklumlah saya memang kerjanya nggak jauh-jauh dari gadget, baik laptop maupun HP. Dan efeknya tentu saja anak-anak jadi merajuk minta nonton kalau saya asik juga dengan gadget. Ujung-ujungnya, nyari waktu yang tepat buat kerja. Pas anak-anak udah tidur, misalnya :)

    BalasHapus
  7. Anak-anak sekarang sedang diuji dari berbagai arah. Cobaan,godaan, atau bahkan ujian bagi para orang tuanya. Sungguh berat hidup menjadi anak-anak zaman ini.

    BalasHapus
  8. Iya mba, bener, gadget harus tegas dalam aturan dan konsekuensi, kalo aku sendiri paling 10 menit si kaka (adek masih bayi, 20bulan, jadi ga boleh banget) kecuali lagi dalam perjalanan dimana mainannya sudah ga bikin dia berminat nah baru deh bole agak lamaan. Tapi ya, dia pasti ngiri liat ortunya pegang hp walaupun sebenarnya urusan BW, wkwk, nah itu masih PR banget gimana supaya kerasa adil sama si anak

    BalasHapus
  9. Nah..ini juga mesti dibicarakan dengan anggota keluarga lain, dirumahnya dibatasi..eh..begitu tempat kerabat..anak nempel terus sama yg bawa gadget..

    BalasHapus
  10. Miris banget video anak nonton video tak pantas dan ibunya sama sekali nggak curiga atau memeriksa anaknya nonton apa.setidaknya anak didampingi apalagi kalo liat videonya kan lagi nunggu, bkn kegiatan yg bikin ibu sbk

    BalasHapus
  11. Saya dan suami termasuk yang jarang kasi gadget ke anak. Tapi kalau kakek neneknya ke sini kadang suka dikasi grrrrhh... ya gmn ya, gaya parentingnya beda... #malahcurcol
    Tapi untungnya msh bisa dialihkan ke mainan lain sih...

    BalasHapus
  12. Buat kesepakatan dg anak, itu juga yg kulakukan di keluarga kami. Kalo ortu bikin peraturan tanpa mendengar pendapat anak, suka susah ditaati sama mereka.

    BalasHapus
  13. Aku termasuk emak yg membolah kan anak main gadget, yg penting terkontrol, dan imbangi dg aktifitas fisik dan komunikasi/ngobrol interaktif

    BalasHapus
  14. buat kesepakatan ino bisa dimulai usia brp ya mbaa? ini anak saya masih umur 2 tahin sepertinya belum paham tentang kesepakatan tertulis. hiks.

    BalasHapus
  15. iya miris banget liat video itu jadi tamparan juga buat kita yah mba utamanya bisa mengendalikan, memberikan tapi tidak membebaskan juga kepada anak untuk sesuka hatinya :)

    BalasHapus
  16. Meskipun menggunakan gawai untuk bermain, saya usahakan mendampingi anak, agar dia tidak berlama-lama main. Pingin juga sih membatasi dengan tepat, tapi masih sering nggak tega kalo liat dia nangis. Hiks

    BalasHapus
  17. dilema kalo emak lagi sibuk biar anak anteng dikasih gejet nonton youtube hiks...

    BalasHapus
  18. Setuju banget.... Penggunaan gadget pada anak harus dibatasi. Semua anggota keluarga harus bersinergi

    BalasHapus
  19. Kadang gadget diperlukan untuk mendiamkan anak yg cerewet, tapi waktunya harus dibatasi tidak bisa terus menerus

    BalasHapus