Laman

Melahirkan Bayi Kembar Secara Normal? Bisa! Simak Pengalaman Saya

melahirkan, bayi, kembar, pengalaman

Melahirkan Bayi Kembar Secara Normal? Bisa! Simak Pengalaman Saya - Pandangan dan tatapan mata penasaran dan takjub selalu mengiringi saya dan suami ketika menggendong bayi kembar kami di depan umum. Bagaimana tidak, dua sosok bayi imut dan lucu dengan penampakan wajah yang mirip dan selalu menggunakan pakaian dan aksesoris yang sama?

Tak cukup hanya itu. Orang-orang akan selalu bertanya meminta konfirmasi tentang dua bayi kami.

“Kembar ya, Bu?”

“Iya,”jawab saya.

“Ih lucunya.”

Selalu begitu. Pun tak lupa kejadian yang sama terjadi lagi ketika kami membawa sikembar ke dokter untuk imunisasi. “Dulu lahiran sikembar operasi, Bu?”tanya ibu yang duduk di sebelah saya penasaran. “Gak kok, persalinan spontan .” Si Ibu tercegang tak percaya. “Oh, bisa ya melahirkan bayi kembar dengan normal?”

Itulah pertanyaan yang selalu saya tanyakan kepada dokter kandungan ketika pemeriksaan kehamilan dulu.

Teringat Awal-awal Diberitahu Hamil Kembar

“Selamat ya, Bu, Pak. Bayinya kembar,” begitu dulu dokter kandungan menyampaikan. “Tuh lihat kantong kehamilannya ada dua.” Saya dan suami malah sempat bengong tidak percaya. Kembar? Masa iya?

Iya, kami sama sekali tidak pernah membayangkan bakal punya anak kembar karena memang tidak punya garis keturunan langsung yang kembar. Sebuah nikmat Allah SWT yang tidak diduga-duga. Alhamdulillah.

Tidak ada yang berbeda antara kehamilan kembar ini dengan kehamilan sebelumnya. Saya tidak rewel pun demikian juga dengan  calon bayi di kandungan saya. Perkembangannya selalu sesuai dengan umur kehamilan saya. Hingga saya menyadari bahwa pada usia kehamilan enam bulan, baju-baju hamil saya terdahulu sudah tidak muat lagi untuk dipakai.

“Bu Dokter, gimana apa saya bisa melahirkan normal?” tanya saya ke dokter Kiki, dokter kandungan saya. “InsyaAllah bisa, Bu. Mudah-mudahan nanti posisi kepala bayinya bagus.”

Saya memang selalu cemas menghadapi persalinan nanti. Banyak dapat cerita kalau amat jarang orang yang melahirkan normal pada bayi kembar. Belum lagi teman kuliah saya yang juga kebetulan juga hamil kembar, juga memilih untuk melahirkan secara cesar bayinya. “Gak enak banget melahirkan Cesar. Ngilu di bekas operasi sebulan gak hilang-hilang” cerita teman saya tersebut. Makin takutlah saya.

Memasuki trimester terakhir, ukuran perut makin bertambah besar. Strechmark ada dimana-mana. Belum lagi kulit perut yang teregang sempurna hingga hanya menyisakan kulit tipis mengkilat pelapis perut. Makan sudah tidak bisa banyak-banyak. Sedikit makan, perut langsung terasa penuh dan berat. Demikian juga kaki sudah tidak kuat menopang tubuh berjalan. Sedikit melangkah, perut bagian bawah terasa sakit. Saya baru menyadari bahwa ternyata minggu-minggu akhir menjelang melahirkan , saya malah makin kurus.

Tidak bisa banyak makan pun juga tidak bisa banyak gerak. Saya makin cemas dengan masa persalinan saya. Bagaimana bisa melahirkan normal tanpa ada persiapan sama sekali. Mau ikut senam hamil, udah capek duluan karena tempatnya jauh. “Bisa gak ya Pa, Mama melahirkan normal nanti,” tanya saya pada suami.

“Serahkan sama Yang Maha Kuasa saja, Ma. Mudah-mudahan ada pertolongan dari Allah nanti,” nasehat dari suami.

Minggu-minggu terakhir kehamilan

Minggu-minggu terakhir menunggu proses persalinan, merupakan sebuah penantian yang melelahkan. Ukuran perut bertambah besar yang membuat mobilitas tubuh terganggu. Tidak itu saja. Besarnya perut ternyata berefek ke kenyamanan tidur. Tidur hanya bisa di bagian tepi dari tempat tidur. Mau bergeser sedikit saja, sungguh susahnya. Pantat sudah tidak sanggup lagi bergeser ke tengah tempat tidur karena bobot perut yang besar.  Dengan posisi tidur di tepi seperti ini, kaki tinggal dijuntaikan saja ke lantai yang memudahkan untuk bangkit dari tempat tidur. Jangan coba-coba untuk tidur telentang. Bisa-bisa tidak akan sanggup untuk duduk kembali.

Jadi bagaimana posisi yang nyaman untuk tidur? Saya bilang bahwa tidak ada posisi yang benar-benar nyaman. Sebentar tertidur dengan miring ke kiri, lalu kemudian pegal. Namun untuk berpindah miring ke kanan, itu bukan sebuah proses yang mudah. Belum lagi di setiap perpindahan posisi, kita harus menyertakan pemindahan bantal untuk mengganjal perut. Ya memang, perut di setiap perpindahan posisi harus diganjal dengan bantal. Itu keadaan nyamannya.

“Pa, masukin dong baju-baju dan semua persiapan mama melahirkan nanti ke kopernya”.

“ Entar aja deh, Ma. Masih lama juga, sebulan lagi.”

“ Sekalian gitu, Pa. Cek-cek apa yang masih kurang.”

Tapi akhirnya, barang-barang persiapan melahirkan tersebut baru dimasukkan ke dalam koper di saat-saat injury time. Kami abai dalam menyikapi nasehat dokter.

“ Karena hamilnya kembar, biasanya melahirkan gak sampai umur kandungan 38 bulan lho, Bu. Jadi bu Evi mesti siap-siap,” kata dokter Kiki pada saya suatu hari.

“Kenapa bisa gitu, Dokter?” tanya saya.

“ Karena dengan bayi kembar, bobot dari kedua bayi dan perangkatnya akan menekan leher rahim lebih berat. Dan itu bisa memicu kelahiran lebih awal.”

Saya masih ingat malam sebelum melahirkan bayi kembar saya. Tidak ada yang spesial pada hari itu. Saya makan dengan porsi makan sebagaimana biasa. Saya beraktifitas di rumah seperti biasa. Tidak ada yang mencurigakan dengan kondisi kehamilan saya kala itu walaupun saat itu sudah masuk minggu ke-35. Walaupun dokter kandungan saya sudah memprediksi kelahiran yang lebih cepat, namun hingga minggu ke-35 tersebut, saya belum memiliki feeling akan melahirkan. Kontraksi palsu terjadi seperti biasa sebagai persiapan rahim untuk melahirkan.

Saya tertidur pulas malam itu. Hingga saya menyadari bahwa tubuh bagian kanan sudah pegal yang menkitakan saya terlalu lama tidur dengan posisi miring ke kanan. Pelan-pelan saya ubah posisi dari miring ke kanan menjadi telentang. Bersiap-siap untuk ganti posisi miring ke kiri.

Lalu tiba-tiba, saya merasakan sesuatu merembes di celana dalam. Pipiskah saya? Bagaimana bisa pipis sedangkan saya masih dalam posisi setengah tertidur. Pun tidak ada perasaan ingin buang air kecil. Karena kaget saya secara otomatis berdiri karena ingin melihat sesuatu yang merembes tersebut.

Oh la la. Begitu saya berdiri tegak, air berwarna putih dengan bau khas mengucur melewati sela-sela kedua paha saya.  Ketuban saya telah pecah pada pukul 03.30 dinihari pada tanggal 5 Januari 2012. Saya membangunkan suami dan segera suami juga membangunkan kedua orangtua saya. Saya hanya bisa duduk dengan kaki rapat untuk menahan laju kucuran air ketuban keluar lebih banyak.

“Pa, kita belum jadi memasukkan perlengkapan melahirkan ke koper,”ujar saya cemas. Ini pengalaman pertama kehamilan dengan pecahnya ketuban.

“ Mama tenang aja,” suami menimpali. “Tinggal dimasukin aja kok ke koper dari kantong-kantong belanjanya.”

“Jangan sampai ada yang ketinggalan, Pa,” saya mengingatkan.

Rasanya waktu bergerak dengan lambat pagi itu. Menit ke menit waktu berganti terasa lama. Saya cemas dengan banyaknya air ketuban yang keluar. Apa yang terjadi kalau air ketuban yang keluar terlalu banyak. Bagaimana cara menghentikannya. Saya sama sekali tidak tahu dan tidak mempersiapkan diri kalau semua ini akan terjadi. Pembalut wanita yang saya pakai dengan cepat penuh dengan air. Akhirnya saya memakai pembalut nifas yang lebih besar dan volume tampungnya lebih banyak  daripada pembalut biasa.

“Evi, makan dulu sedikit,” saran Mama pada saya. “Biar tambah tenaga untuk melahirkan.

“Nanti aja, Ma. Ke rumah sakit aja dulu. Evi cemas, banyak sekali air ketubannya keluar.”

“Iya makan aja sedikit dulu. Nanti siapa tahu udah ga selera makan, “ kata mama meyakinkan saya.
Subuh jam 04.30 pagi kami berangkat ke rumah sakit. Untungnya Nessa, putri pertama saya tidak rewel dibangunkan menuju rumah sakit.  Dia masih terheran-heran dengan situasi yang terjadi. Maklum umurnya baru tiga tahun kala itu.

 Saya segera disuruh tidur dan tidak banyak gerak, begitu sampai di rumah sakit. “Semakin Ibu banyak bergerak, nanti air ketubannya makin banyak keluar,” demikian perawat tersebut menjelaskan.

Perawat segera menelepon dokter Kiki untuk melaporkan situasi saya. Saya dipasangi infus untuk menyuplai cairan ke rahim sebagai pengganti air ketuban yang keluar dan juga dipasangi kateter. Perawat pun memeriksa apakah sudah ada bukaan pada leher rahim. Pukul 05.30 subuh perawat tersebut memberi tahu bahwa ternyata saya belum ada bukaan.

“Kami akan memasang induksi ya, Bu, “ kata perawat pada saya.

“Mengapa gitu, Suster?“ saya cemas karena kabarnya dengan induksi kontraksi makin terasa sakit.

“Dokter Kiki bilang supaya mempercepat bukaan Ibu. Terlalu lama bayi dalam kandungan dengan air ketuban yang keluar, bisa menyebabkan bayi kekeringan,” ujar perawat menjelaskan.

Saya hanya bisa menyetujui tindakan yang dilakukan perawat. Percaya dan pasrah dengan intruksi yang diberikan dokter Kiki. Mudah-mudahan itu jalan terbaik yang diberikan Allah SWT untuk saya. Dan menunggu memang pekerjaan yang tidak mengenakkan dan terasa membosankan. Waktu terasa pelan berjalan begitu kita fokus mengikuti geraknya. Tak ada yang bisa saya lakukan, melainkan hanya menunggu dan menanti. Saya mensyukuri saran dari Mama untuk langsung makan saat subuh tadi. Sudah tidak ada nafsu makan memang dalam kondisi seperti ini. Mudah-mudahan dengan bekal yang tidak banyak itu membantu menambah tenaga buat saya.

Satu jam berlalu setelah diinduksi. “Masih belum ada bukaan, Bu,” ujar perawat pada saya. Saya resah, punya perasaan kalau proses induksi ini akan memakan waktu yang lama. Sementara badan udah mulai pegal-pegal karena kelamaan dalam posisi tidur. Berpindah-pindah posisi sudah tidak nyaman. Disamping tempat tidurnya yang sempit yang membuat saya serasa akan jatuh, tangan kiri saya juga dipasangi infus.

Dua jam berlalu. Namun saya tetap belum ada bukaan. Saya bertambah cemas. Saya mulai dihinggapi perasaan tidak akan kuat berlama-lama dengan kondisi perut buncit dengan posisi telentang.

“ Mohon ampun pada Allah SWT dan mohon pertolongan dan perlindungan-Nya agar prosesnya mudah dan lancar,” nasehat Mama ketika pamit mau absen ke kantor beliau. Saya mengikuti nasehat Mama. Berdoa memohon kelancaran terhadap proses persalinan dan mengucapkan Istighfar. Ternyata memang, doa yang khusyuk dapat menjadi obat mujarab mengusir kegelisahan. Hati pun menjadi tenang. Saya percaya dengan pikiran yang tenang, tubuh pun akan merespon dengan baik setiap doa-doa yang kita panjatkan.

Jam 09 pagi. Alhamdulillah saya sudah mulai merasakan sedikit sakit kontraksi di perut. Bukaan satu telah terjadi. Sebuah pertkita alamiah bahwa rahim sudah mulai bersiaga untuk mengeluarkan bayi kembar saya.

Walaupun begitu yang namanya perasaan ada saja syetan pengganggunya. Tangan kiri saya yang sudah hampir tiga jam lebih dipasangi infus terasa kesemutan. Belum lagi punggung rasanya mau rontok karena menopang tubuh dalam posisi terlentang yang lama. Saya sudah mulai dihinggapi ketidakyakinan akan kekuatan saya sendiri. Kontraksi perut masih bisa ditahan sakitnya. Namun kelelahan dengan kondisi fisik yang serba terbatas gerak menurunkan daya juang saya untuk persalinan normal.

“Pa, rasanya gak kuat lama-lama kayak gini,” imbuh saya pada suami. “Cesar aja deh, Pa. Berapa harga paketnya kalau Cesar?”

“Jangan menyerah gitu dong, Ma. Mama pasti bisa,” ujar suami menyemangati. “Papa selalu mendampingi Mama kok, disini.”

“Tapi capek lama-lama kayak gini, Pa. Mama gak kuat”

“Ayo kita sama-sama berdoa yuk, semoga Mama diberi kekuatan oleh Allah SWT dalam menjalani persalinan ini.”

Jam 10 wib sudah mulai ada kemajuan. Saya sudah dalam posisi bukaan tiga. Sakit kontraksi sudah mulai terasa lebih sering dan lebih sakit dari sebelumnya. Mama menyuruh saya agar senantiasa mengucapkan Alhamdulillah kala sakit kontraksi menyerang. Dengan begitu, pertkita kita mensyukuri jalan kelahiran akan semakin dekat. Rasa sakit yang menyerang merupakan cara rahim untuk membantu bayi dalam proses kelahirannya.

“Suster, dokter Kiki kok belum juga datang,”tanya saya. Sudah sekian jam saya di ruang bersalin sejak kedatangan, namun dokter kandungan tersebut belum juga muncul.

“Ibu kan masih bukaan tiga. Masih lama kok, Bu,” jawab perawat tersebut. “Dokter Kiki selalu kami kabarkan kok mengenai perkembangan kondisi Ibu.”

Ibu mertua dan kakak ipar saya juga akhirnya datang dari Bukittinggi menjelang siang. Walaupun bukan merupakan cucu pertama beliau, namun proses kelahiran ini disambut dengan gembira karena  bakal mempunyai cucu kembar. Sementara itu rasa sakit kontraksi semakin sering datang dan semakin dalam. Benar saja yang diucapkan orang-orang. Persalinan dengan induksi jauh lebih sakit kontraksinya dibandingkan dengan tidak diinduksi. Rasa sakit yang mendera, yang membuat kita hanya mampu meresponnya dengan erangan kesakitan dan meringis memejamkan mata.

“Percepatlah proses ini, ya Allah. Berilah kekuatan pada hamba.” Tak putus-putusnya saya berdoa ditengah sakit. Entah mana yang lebih sakit, ketika melahirkan anak pertama dengan sekarang.

Harusnya karena ini persalinan kedua, sakit kontraksi tidak akan sesakit ketika kelahiran normal pertama. Entahlah, saya hanya merasakan sakit yang teramat sangat.

Terkadang menunggu bukaan kelahiran yang prosesnya lama dan tidak menentu memang butuh kesabaran tingkat tinggi. Siapa yang tidak ingin proses melahirkan cepat dan gampang. Kalau bisa lebih cepat kenapa harus menunggu lama. Tapi ini adalah tubuh, makhluk hidup yang butuh proses dalam setiap tahapannya. Bukan mesin yang selalu mencetak produk dengan cepat. Kita harus bisa sabar terhadap setiap reaksinya. Proses melahirkan normal adalah proses yang butuh waktu. Jadi tidak bisa instan.

Yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan bersabar dalam setiap tahapannya. Buang jauh-jauh semua erangan, keluhan dan emosi-emosi negatif lainnya. Karena itu hanya akan memakan cadangan energi kita. Padahal menunggu proses bukaan belumlah puncak perjuangan kita. Siapa yang tidak merasakan sakit ketika kontraksi makin menyiksa. Tapi rasakan secukupnya saja. Yakinilah bahwa pertolongan Allah SWT akan datang masanya.

Perawat memeriksa kembali bukaan leher rahim saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 siang. Ternyata saya sudah mencapai bukaan 8. Rasa sakit makin sering datang dan bertambah hebat. Saya sudah berfirasat bahwa akan melahirkan dalam waktu yang tidak lama.

“Kenapa dokter Kiki belum datang juga, Suster,” tanya saya .

“Iya sedang kami telepon, Bu.”

Tapi saya makin khawatir karena dari ruangan sebelah, terdengar suara kepala perawat menginformasikan bahwa dokter Kiki tidak mengangkat-angkat pesawat Handphone-nya.

“Coba telepon nomor rumah beliau,” saran dari perawat lain.

Lalu terdengar bunyi pesawat telepon kembali ditekan-tekan nomornya. “Kata orang di rumah, dokter Kiki visite ke RSUP M. Djamil,” terdengar kembali suara kepala perawat menginformasikan.

“Aduh, gimana ini, Pa?” saya demikian cemas membayangkan bakal melahirkan tanpa didampingi dokter.

“Sabar sayang,” mama menenangkan, “perawat di sini kan juga bidan yang bisa membantu pasien melahirkan.”

Kepala perawat kemudian menginformasikan kalau dari bagian kebidanan dan kandungan RSUP M. Djamil Padang di dapat kabar kalau dokter Kiki pergi ke Fakultas Kedokteran Universitas Kitalas. Mendengar itu, saya makin hopeless dengan keberadaan dokter Kiki, dokter kandungan saya. Sementara itu rasa sakit kontraksi frekuensinya sudah makin sering dan hampir-hampir tidak berhenti.

“Bukaan hampir lengkap,” ujar perawat yang memeriksa saya setengah berteriak.

“Tahan dulu, Bu. Jangan mengejan dulu.”

Saya panik. Bagaimana mungkin bisa melawan dorongan bayi yang mau keluar. “Sama bidan aja. Tolong bantu saya melahirkan,” teriak saya putus asa.

Saya benar-benar kecewa dengan dokter Kiki. Bagaimana bisa saya pasiennya, yang hamil kembar, dalam posisi akan melahirkan namun keberadaannya tidak jelas. Sedari awal sudah saya sampaikan bahwa saya ingin didampingi ketika melahirkan nanti. Bagaimanapun ini kelahiran yang tidak biasa.
Lalu kepala perawat datang dengan tergopoh-gopoh ke ruangan bersalin.

 “Ayo, segera disiapkan. Dokter Kiki sedang menuju kemari,”ujarnya memberi instruksi. Kaki saya ditaruh digantungan dan diikat. Saya pasrah saja. Ini terasa menakutkan karena dulu tidak seperti ini.
Saya sudah tidak sanggup menahan dorongan untuk mengejan. Disaat yang tepat dokter Kiki akhirnya tiba di ruang bersalin.

 “Aduh maafkan saya, HP saya silent karena sedang mengajar,”ujarnya. “Saya tidak menduga prosesnya cepat.”

“Mari, Bu. Kita mulai sekarang,” kata dokter Kiki memandu.

Ternyata walaupun ini bukan persalinan yang pertama buat saya, saya masih tidak kuat mengejan. Setelah beberapa kali mengejan, akhirnya bayi pertama terlahir ke dunia. Alhamdulillah, kami sama-sama mengucapkan rasa syukur atas nikmat dan kekuasaan Allah SWT. Hilang sudah semua rasa sakit begitu melihat bayi yang baru terlahir.

“Ayo, Bu. Kita siap-siap yang kedua,” instruksi dari dokter Kiki. Ternyata saya harus persalinan lagi untuk yang kedua kali. Dokter Kiki sama sekali tidak menunggu jeda untuk mengisi kembali tenaga yang telah terkuras.

“Mulut rahimnya masih terbuka lebar sekarang,” katanya memberi penjelasan. Saya bersiap-siap kembali untuk mengejan. Saya pikir ini tidak akan susah karena ini bayi kedua. Tentunya jalan kelahiran akan lebih mudah karena sudah dibukakan oleh bayi pertama. Ternyata sama saja dan bahkan lebih terasa sakit. Disebabkan bayi kedua ini dalam posisi sungsang. Saya mencoba untuk kembali untuk mengejan dengan sisa-sisa kekuatan yang ada. Begitu kaki dari bayi kedua keluar, dokter Kiki segera membantu kelahirannya dengan cara menariknya keluar. Bukan main terasa sakit di panggul dan vagina. Alhamdulilah bayi kembar saya terlahir selamat dan sempurna.

***

Saya langsung menangis, begitu Mama masuk ke ruang bersalin untuk melihat kedua cucunya yang baru lahir. “Sst gak boleh nangis,” kata Mama, “Alhamdulilah sudah selesai.”

“Sakit sekali, Ma,” kata saya sesegukan.

Selesai sudah perjuangan saya hari ini. 5 Januari 2012 mendekati jam 14 wib kedua puteri kembar saya terlahir. Sungguh saya tidak menyangka proses kelahirannya kurang dari 12 jam sejak pertama kali ketuban pecah. Apalagi saat ketuban pecah, bukaan sama sekali belum ada.

Saya pikir tadi akan berakhir di meja operasi. Saya sama sekali tidak yakin dengan kekuatan fisik saya. Kondisi sudah teramat tidak mengenakkan. Tubuh bagian bawah sudah basah karena air ketuban tetap keluar walaupun saya sudah dalam posisi tidur dan tidak bergerak. Tulang punggung rasanya sudah remuk menahan tekanan beban dari perut. Belum lagi keberadaan dokter Kiki yang tidak bisa dihubungi.

Namun kuasa Allah SWT memang maha besar. Tak disangka melewati bukaan 8, proses bukaan berjalan dengan cepat. Disaat-saat genting saya sudah dalam posisi siap untuk melahirkan, dokter Kiki akhirnya berhasil dihubungi. Saya percaya itu sudah menjadi scenario dari-Nya. Manusia hanya diminta menjalankan dengan sabar dan ikhlas. Yakinilah pertolongan dari Allah SWT itu akan selalu hadir di saat yang tepat terhadap hamba-Nya yang selalu meminta pertolongan.

Satu proses kelahiran saja, sudah sedemikian menguras energi. Apalagi untuk kelahiran bayi kembar, energi yang dibutuhkan menjadi berlipat gkita. Kadang ditengah rasa sakit kontraksi, saya dihinggapi perasaan tidak akan mampu dan kuat melahirkan bayi kembar saya secara normal. Ternyata kita mempunyai kekuatan yang jauh debih dasyat dari yang kita perkirakan. The strength you never know you have. Allah SWT telah mentakdirkan saya hamil bayi kembar. Allah jugalah nantinya yang akan mengatur dan membantu kelahiran bayi kembar tersebut dengan kuasa-Nya.

Namun bagaimana sesungguhnya dunia kedokteran menyikapi kelahiran bayi kembar secara normal?
Selama kondisi kedua bayi normal dan tidak ada gangguan kehamilan lain, ibu bisa melahirkan bayi kembarnya dengan normal meskipun tercatat sebanyak 6 dari 10 bayi kembar dilahirkan melalui operasi caesar. Posisi bayi dalam kandungan menjadi salah satu faktor penentu proses persalinan yang akan dijalani ibu.

Persalinan normal dapat dilakukan jika setidaknya kembaran yang akan lahir pertama berada dalam posisi kepala di bawah dan plasenta tidak menghalangi leher rahim. Bayi kembarnya juga bukan merupakan kembar identik, sehingga tidak berbagi plasenta yang sama.

Beberapa rumah sakit akan merekomendasikan operasi caesar untuk ibu dengan bayi kembar dalam satu plasenta. Pasalnya, kembar identik berisiko mengalami komplikasi selama kelahiran.
Calon orangtua akan dianjurkan untuk melahirkan bayi kembar di rumah sakit atau klinik bersalin dengan fasilitas yang memadai, bukan di rumah. Ini karena persalinan bayi kembar memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi daripada persalinan satu bayi.

Apapun keputusan yang akan dijalani, keselamatan ibu dan bayi akan diawasi secara ketat. Persalinan normal untuk bayi kembar tentunya memerlukan penanganan yang lebih intensif daripada persalinan normal untuk satu bayi. Hal ini dapat meningkatkan kemungkinan operasi caesar demi keselamatan ibu dan anak. Pada beberapa kasus, salah satu bayi kembar dapat dilahirkan secara normal, sementara bayi yang lain diangkat melalui operasi caesar.

Para ahli memperkirakan bahwa setengah kasus bayi kembar akan dilahirkan premature. Ada banyak alasan mengapa banyak bayi kembar lahir prematur. Misalnya karena rahim sudah berkontraksi, air ketuban sudah pecah, atau leher rahim sudah membuka. Hamil anak kembar memang meningkatkan risiko persalinan lebih cepat.

Sekarang puteri kembar saya sudah berusia enam tahun. Setelah besar mereka tak lagi terlihat seperti anak kembar. Memang mereka bukanlah kembar identik yang mempunyai sifat dan kemiripan wajah. Bahkan sekarang mereka sudah tidak suka lagi memakai baju-baju yang sama. Masing-masing sudah mempunyai keinginan yang berbeda terhadap sesuatu.

Tapi buat saya, mereka tetaplah anak kembar saya. Dua bayi yang saya kandung dalam waktu sekaligus. Begitu banyak keajaiban yang saya rasakan semenjak kehamilannya. Suatu pengalaman hidup yang maha dasyat yang tidak semua orang miliki. Menjadi ibu kembar dengan kelahiran normal.

                                                                              ++ AV ++

23 komentar:

  1. Whuaaa senengnya punya anak kembar, iya kaya saudaraku juga lahiran kembar tapi normal.

    Lucuu banget siih dede kembarnya

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah... senengnya punya anak kembar... istri saya sedang hamil (meskipun bukan kembar) tapi saya jadi mengerti apa yang harus saya lakukan nanti kalau mau lahiran.

    Terimakasih dan Semoga sehat selalu..

    BalasHapus
  3. Mba aku bacanya sampe nangis, sekarang aku juga sedang menunggu sejak minggu lalu sudah ada pembukaan 1 hanya sja sudah seminggu terlewati aku belum lagi mules2 pasrah dg keputusan dokter nanti apakah mesti induksi lagi. krn kelahiran pertama aku diinduksi dan aku merasakan banget sakitnya diinduksi sampe 3 botol dlm waktu 30jam mb makanya aku takut heee tp bener kata mba pasrahkan dan ikhlaskan y mba Alloh tahu yang terbaik buat kita. makasi sharingnya mba 🙏🏻 sehat2 mb dan keluarga 😻

    BalasHapus
  4. Aku bacanya deg-degan. Kok gemes sama dokternya ya.
    Alhamdulillah ya semuanya sehat. Senang bacanya.

    BalasHapus
  5. Ya Allah, sehat selalu ya ibu dan anak, terharu dan deg deg an bacanya. ibu luarbiasa.

    BalasHapus
  6. Masya Allah..setiap cerita persalinan memang mendebarkan jadi ikutan haru karena teringat melahirkan juga. Mba keren kembar dan normal..sakitnya dobel tapirezekinya dobel insyaAllah

    BalasHapus
  7. Duh bahagia nya punya anak kembar dan sehat-sehat semua

    BalasHapus
  8. Wih.. Bacanya deg degan juga. Kami sempat meminta ingin anak kembar. Tapi katanya kalau tidak ada turunan kembar susah juga ya...?

    Sekarang anak kembar atau bukan alhamdulillah ya. Yg penting sehat ya anaknya.

    BalasHapus
  9. Masyaallah..bacanya haru biru. Alhamdullilah semua lancar, sehat selalu ya mb. Mohon doanya kehamilan anak ke lima saya lancar, anak.lahir sempurna dan sehat, aamiin

    BalasHapus
  10. MashaAllaaaaah mbak. Bacanya ikut deg degan. Selamat ya mbak atas perjuangannya, si kembar lahir dan sehat :D gk bs bayangin repotnya. Tapi pasti bahagiaaa ya :)

    BalasHapus
  11. MasyaAllah, semangat terus mba, semoga sehat selalu keluarga :)

    BalasHapus
  12. Lucu bangettt. Pengen punya dede bayi kembar #eh

    BalasHapus
  13. Perjuangan melahirkan seorang ibu memang luar biasa ya, namun gak setiap ibu dikaruniai kesehatan dan kekuatan fisik yang memadai. Salam kenal, semoga anak kembarnya sehat selalu mbak

    BalasHapus
  14. Kok malah aku yang deg-degan bacanya mbak, dulu juga sempet pengen punya anak kembar, tapi sayang dikeluarga ga ada keturunan kembar jadi kecil kemungkinannya. Salut mbak bisa lahirin 2 anak kembar secara normal.

    BalasHapus
  15. Lucu lucu banget anaknya mbak, ibu hebat bisa lahiran anak kembar normal, 1 aja sakitnya minta amoun gimana 2

    BalasHapus
  16. Aku terharu sekaligus senang baca pengalaman mbak dari awal sampai akhir, rasa sakit jadi terobati setelah si kembar muncul ke dunia ya mbak. Alhamdulillah.

    BalasHapus
  17. ikutan ngrasain "keseruan" baca cerita lahirannya hehe, alhamdulillah yaaaa lahir selamat semua :D
    Saudaraku jg ada yg bidan bbrp kali bantuin bumil lahiran kembar mbk :D

    BalasHapus
  18. Hebat mbak, bisa melahirkan kembar dengan normal

    BalasHapus
  19. Aduh mbaa aku kok pingin nangis, serasa ikut ngerasain sakitnya. Udah 4 kali melahirkan, tapi sepertinya gk sesakit dirimu. Terutama pas mau lahirin bayi yg sungsang itu. Heuheu. ALHAMDULILLAH semua sehat selamat ya mbaa

    BalasHapus
  20. Masya Allah, Mbak. Perjuangan melahirkan bayi kembar seperti itu ya. Saya pikir saat ketuban pecah berarti udah ada bukaan. Ketuban saya malah ga keluar-keluar. Barengan keluar dengan si jabang bayi.

    BalasHapus
  21. Huaaah aku terharu bacanya...
    Punya anak kembar semuanya harus double ya mbak..

    BalasHapus
  22. Ikut terharu saya membacanya,tidak terasa air Mata ini menetes. Perjuangan Yang luar biasa.
    semoga kelak saya bisa melahirkan bayi kembar dengan proses normal

    BalasHapus