Laman

Ingin Tampil Feminin? Yuk Pakai Jenis Sepatu Wanita Ballet Flat Ini

feminim, sepatu, wanita, ballet flat shoes

Jenis Sepatu Wanita - Sepatu merupakan item fashion yang sangat menunjang penampilan seorang wanita. Dengan pemakaian baju kasual atau dress, pastinya pemakaian sepatu akan akan menjadi suatu pembeda pula. Ada banyak jenis sepatu wanita  yang beredar di pasaran, salah satunya adalah jenis sepatu ballet dengan bentuk flat. Kenapa dinamakan sepatu ballet? Karena jenis sepatu seperti ini biasa digunakan untuk penari ballet saat menari. 

Jenis sepatu wanita ballet flat ini tidak memiliki hak, sehingga akan nyaman di gunakan setiap hari. Apalagi, dengan sentuhan desain yang simpel membuatnya jauh terlihat lebih simpel dari jenis sepatu wanita kebanyakan. Hal ini kiranya akan membuat kakimu nyaman serta tidak pegal.

Jenis Sepatu Wanita Ballet Flat untuk Tampil Feminin

Ingin tampil feminin? Kamu bisa memilih sepatu ballet flat sebagai alternatif. Entah digunakan saat acara formal maupun non-formal, jenis sepatu wanita ini memang menjadi pilihan banyak wanita. Namun, ada beberapa tips untuk membantumu dalam memilih jenis sepatu wanita dengan model ballet flat ini.

Pertama, pilihlah sepatu ballet dengan material yang lembut sehingga tidak akan membuat kaki lecet.

Kedua, pilih ukuran yang tepat sesuai ukuran kakimu, jika ingin menggunakannya lebih lama maka ambil satu nomor di atasnya.

Ketiga, pilih sepatu sesuai dengan tujuan, ingin memilih sepatu ballet flat untuk bersantai ataupun untuk acara yang lebih formal. Untuk kamu yag bertubuh kurang tinggi, pemilihan jenis sepatu wanita dengan model ini mungkin bukan pilihan yang tepat.

Selain itu, ada juga beberapa pilihan merk sepatu ballet flat yang sedang hype di dunia fashion serta akan membantumu tampak lebih terlihat feminin. Beberapa merek tersebut adalah Kate Spade, Tory Burch, Jessica Simpson, Melissa dan Asos.

Kate spade, merek ini memang terkenal dalam mengeluarkan jenis sepatu wanita ballet flat. Sepatu ini memiliki aksen pita yang lebih besar daripada sepatu ballet flat lainnya dan ditambah dengan materialnya yang bening seperti kaca, akan membuat kakimu semakin cantik maksimal. Kamu bisa mendapatkannya dengan harga Rp 2 jutaan saja. Meskipun agak mahal, namun akan sebanding dengan betapa mempesonanya kamu ketika memakai sepatu ballet flat Kate Spade ini.

Tory Burch, merek ini menghadirkan jenis sepatu wanita ballet flat yang berdesain cukup unik. Jika Kate Spade menggunakan material yang bening, Tory Burch ini menggunakan sulaman dan sentuhan bohemmian yang semakin menawan. Dengan material kulit dan tambahan warna emas metalik juga membuat sepatu ini terlihat lebih glamour. Produk ini ditawarkan seharga Rp 3,8 juta yang sangat pantas untuk dikenakan menghadiri acara santai di malam hari.

Selanjutnya adalah Jessica Simpson, merek ini mengeluarkan sepatu ballet flat dengan dilengkapi strap di bagian pergelangan seperti ballerina pada umumnya. Namun, strap tersebut dibuat lebih minimalis agar tidak terlalu mencolok. Ini akan membuatmu tampil feminin tanpa harus berlebihan.

Selain Jessica Simpson, ada pula Melissa. Brand ini cukup banyak menawarkan jenis sepatu wanita dengan desain dan detail yang manis. Salah satunya adalah sepatu ballet flat yang dihargai sekitar Rp 2 jutaan. Melissa berkolaborasi dengan desainer ternama, Vivian Westwood yang menghasilkan sepatu ballet flat dengan warna merah cerah yang sangat menarik perhatian. Sepatu ini bermaterial plastik dan dipercantik dengan detail logo Viviane Westwood berwarna emas. Sungguh cantik bukan?

Yang terakhir adalah Asos. Jika kamu ingin tampil feminin namun tetap terlihat kasual, ini pilihan yang tepat. Sepatu ballet flat ini bermaterial suede yang bertuliskan OOH dan LALA yang anti-mainstream. Ditambah dengan pita kecil di bagian depan, sepatu ini dipatok dengan harga Rp 400 ribuan.

Jadi, mana nih jenis sepatu wanita ballet flat yang menjadi pilihan kamu untuk tampil cantik dan feminin? Jangan lupa sesuaikan dengan budget yang kamu miliki ya!
Read More

3 Tempat Wisata Keluarga Ramah Anak Di Pekanbaru

pekanbaru, wisata, keluarga, ramah, anak


Selama ini Pekanbaru, Riau identik dengan industri sawitnya. Namun, tak banyak yang tahu bahwa Pekanbaru memiliki banyak destinasi wisata yang menarik. Asyiknya, sejumlah objek wisata diklaim ramah anak. Dengan begini, Anda bisa mengajak si kecil untuk bersenang-senang.

                                                               (sumber : dolanyok.com)

Adapun rekomendasi tempat wisata keluarga terbaik yang patut Anda kunjungi selama berlibur di Pekanbaru, antara lain sebagai berikut.

1.    Riau Fantasi, Labersa Water Park & Theme Park
Ingin bermain air bersama anak? Datanglah ke Riau Fantasi, Labersa Water Park & Theme Park di Jalan Labersa, Tanah Merah, Siak Hulu, Kampar, Riau.

Meski masih tergolong baru, tetapi Riau Fantasi sukses menarik minat masyarakat Riau dan sekitarnya. Destinasi wisata ini menawarkan berbagai wahana air yang sangat sayang jika dilewatkan.
Di arena basah, ada sejumlah permainan menarik, seperti Adventure Pool, Crocodile River, Adult Pool, Baby Pool, dan Lazy Pool. Adventure Pool cocok untuk dimainkan si kecil karena dilengkapi dengan berbagai permainan anak, sedangkan Lazy Pool menawarkan permainan air dengan arus ringan yang sangat asyik untuk menikmati suasana.

Anda yang menyukai tantangan bisa memilih wahana Crocodile River yang menyuguhkan permainan race slide dan big jump slide dengan ketinggian 15 meter. Bagi Anda yang masih memiliki anak balita, ajaklah si kecil untuk bermain air dengan perahu mini di wahana Baby Pool.
Wahana di arena kering pun tak kalah seru, Anda bisa bermain Family Swinger, Perahu Kora-kora, Komedi Putar, atau Kereta Wisata bersama si kecil.

2.    Kebun Binatang Sang Kulim
Kebun Binatang Sang Kulin merupakan salah satu destinasi wisata yang selalu ramai dikunjungi keluarga di akhir pekan. Umumnya, anak-anak akan merasa antusias jika diajak melihat-lihat beragam jenis hewan yang ada, seperti harimau, gajah, singa, kuda, penyu, dan buaya.

Selain senang, anak pun akan belajar banyak mengenai keberagaman makhluk hidup. Wawasan si kecil semakin luas, rasa simpati dan empati pun akan terbentuk dengan sendirinya. Tak heran jika kebun binatang selalu berada di daftar teratas wisata favorit keluarga.
Kebun binatang ini terletak di Jalan Haji Usman, Kubang Raya, Siak Hulu, Kampar, Riau. Untuk mencapai Kebun Binatang Sang Kulim dari pusat kota Pekanbaru membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit berkendara.

3.    Perpustakaan Seoeman H. S.
Ajaklah si kecil ke Perpustakaan Soeman H. S. yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 462, Jadirejo, Sukajadi, Pekanbaru. Di perpustakaan ini, ada banyak sekali jenis buku yang dapat Anda baca. Buah hati Anda pun akan merasa nyaman dan senang berkat adanya fasilitas Children Library dan Kids Corner.

Tak hanya itu saja, perpustakaan berdesain unik layaknya rehal Alquran ini juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang lainnya, seperti AC, musala, kafe, kantin, dan WiFi.
Disadari atau tidak dengan mengajak si kecil ke perpustakaan, secara tidak langsung Anda telah mengajarkan anak untuk gemar membaca sedari kecil. Kegiatan ini sangat baik bagi tumbuh kembang buah hati Anda. 

Perpustakaan Soeman H. S. buka setiap hari Senin sampai Jumat sejak pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB. Di hari Sabtu dan Minggu, perpustakaan buka lebih singkat, yakni mulai pukul 09.00 WIB sampai 14.00 WIB.

Itulah sejumlah tempat wisata keluarga yang dapat Anda kunjungi selama berlibur di Pekanbaru. Pastikan untuk melakukan pemesanan hotel di Pekanbaru melalui aplikasi Airy Rooms yang dapat diunduh melalui Google Play dan App Store.


Nikmati kamar bersih dengan beragam fasilitas gratis, mulai dari peralatan mandi, hot shower, pendingin ruangan, TV layar datar, air minum, dan WiFi. Pembayarannya pun praktis, bisa melalui transfer bank atau menggunakan kartu kredit.

Jika Anda berasal dari luar kota Pekanbaru, Anda bisa menggunakan pesawat menuju kota Pekanbaru dengan membeli tiket pesawat di Airy. Tunggu apa lagi, yuk liburan!
Read More

Maker Fest bersama Tokopedia Dorong Kreator Lokal Jadi Brand Nasional yang Mendunia



Maker Fest Bersama Tokopedia Dorong Kreator Lokal Jadi Brand Nasional Yang Mendunia - Pada tanggal 18 Maret 2018 lalu di Jakarta, Maker Fest, sebuah gerakan independen untuk pemberdayaan kreator lokal, secara resmi diluncurkan. Udah tau kan, dewasa ini industri kreatif sangat menarik untuk dikembangkan karena industri kreatif mampu menggerakkan ekonomi regional.

Namun terkadang, bagi kreator-kreator pemula, start-up start-up pemula kadang ngamang juga di fase-fase awal karena kurangnya dukungan secara komunitas. Namun jangan khawatir, gerakan Maker Fest hadir untuk mencari, mengedukasi, menginspirasi, dan memberikan panggung offline & online bagi para kreator Indonesia untuk merealisasikan dan mengembangkan ide usaha kreatif 
mereka, hingga bisa menjadi brand-brand masa depan Indonesia yang mendunia. Maker Fest jadi panggung online dan offline bagi kreator muda lokal untuk kembangkan ide usaha kreatif. Maker Fest jembatani kreator lokal dengan berbagai pengetahuan agar bisa akselerasi skala bisnis. Maker Fest bertujuan agar lebih banyak lagi bisnis kreatif lokal yang dapat berkembang menjadi IKM bahkan brand nasional, sehingga dapat mendukung Indonesia untuk jadi produsen di ekonomi digital global. Keren kan?

Apa Aja Yang Ada Di Maker Fest

 

Rangkaian Maker Fest terdiri dari berbagai workshop, sharing session dan kompetisi ini akan diselenggarakan di delapan kota selama 2018. Nah kota Padang, akan memulai kegiatan Maker Festpada hari Sabtu hingga Minggu 21-22 April 2018 di Lapangan Imam Bonjol Padang.

Chairman Maker Fest 2018 William Tanuwijaya menjelaskan bahwa kelahiran Maker Fest terinspirasi oleh hasil karya para kreator lokal di seluruh Indonesia. “Dalam perjalanan saya membangun Tokopedia, saya berkesempatan menyaksikan dengan dekat perjalanan banyak kreator Indonesia dengan visi dan misi serta produk yang bagus, namun sayangnya banyak yang mentok hanya di level UMKM. Saya yakin sebenarnya dengan ekosistem yang tepat, para kreator lokal dapat berkembang dari usaha kecil menjadi industri, dan dari industri menjadi brand-brand masa depan Indonesia yang mendunia. Untuk membangun ekosistem ini, Maker Fest hadir menjadi panggung penghubung dari para pemangku kepentingan terkait dimana para maker, platform marketplace, logistik, perbankan, investor, dan pemerintah berkolaborasi mewujudkan cita-cita besar ini bersama.”

Karenanya, Maker Fest hadir secara independen. Gerakan ini berkolaborasi dengan Tokopedia dan didukung oleh institusi-institusi pemerintahan sekaligus pelaku industri Indonesia, yaitu Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Informatika serta JNE. Meski diselenggarakan bersama Tokopedia, namun Maker Fest inklusif dan terbuka bagi seluruh kreator lokal di Indonesia yang memiliki passion untuk mengembangkan diri dan produknya.

Selain menyediakan panggung, Maker Fest juga membantu mengakselerasi bisnis para kreator lokal tanah air melalui pengembangan keahlian dan pengetahuan.

“Selama ini, sebagai salah satu startup teknologi di Indonesia kami sering ditanya, kapan IPO? Bagi kami, justru indikator keberhasilan kami adalah para kreator lokal bisa lebih dulu IPO dibandingkan kami,” respon William terhadap target Maker Fest ke depan.

Siapa Yang Menjadi Target Dari Maker Fest


Target utama Maker Festadalah anak muda. Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf menjelaskan bagaimana milenial bisa menjadi motor pertumbuhan kreator lokal Indonesia. “Lebih dari 30 persen pengusaha ekonomi kreatif di Indonesia adalah generasi milenial. Sebagai populasi terbesar, anak muda Indonesia masih memiliki potensi besar untuk turut mengembangkan ekonomi kreatif Indonesia. Melalui program seperti Maker Fest, kami berharap ke depannya lebih banyak lagi pelaku bisnis kreatif Indonesia yang dapat memperluas skala usahanya, sehingga mampu memberikan dampak lebih besar terhadap lapangan pekerjaan dan kesejahteraan ekonomi, serta mampu memberikan inspirasi kepada generasi muda lainnya,” ungkap Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf.


Salah satu yang akan hadir berbagi pengalaman di Maker Fest 2018 adalah Lizzie Parra, CEO dan pendiri By Lizzie Parra (BLP), brand kosmetik lokal yang sudah dikenal luas secara nasional. “Memutuskan menjadi pengusaha apalagi di industri kreatif memang tidak mudah. Sukses tidak terjadi dalam semalam. Banyak fase jatuh bangun yang harus saya lalui dalam membangun brand kosmetik sendiri. Namun jika didasari passion, semua prosesnya dapat menjadi lebih mudah dan nikmat untuk dijalani. Semoga pengalaman saya dapat menginspirasi dan mendorong para kreator lokal agar berani berkarya dan mengembangkan passion-nya secara produktif di dunia bisnis,“ jelas Lizzie.

Rugi Kalau TIdak Ikutan Maker Fest


Maker Fest 2018 akan dilaksanakan pada April-Desember 2018 di Medan, Padang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan Makassar. Di tiap kota, akan diselenggarakan berbagai kegiatan edukasi, workshop dan sesi sharing keterampilan. Para kreator juga dapat berkonsultasi dengan pelaku usaha, konsultan bisnis serta pengusaha ekonomi kreatif skala nasional mengenai tantangan dan solusi yang dihadapi dalam mengembangkan bisnis mereka. Termasuk dalam hal pengembangan SDM, inovasi, strategi pemasaran, branding, hingga akses ke permodalan.

Di setiap kota juga akan dilaksanakan Local Maker Competition 2018, kompetisi berkreasi untuk para kreator lokal yang ingin mengenalkan dan mengembangkan bisnisnya. Pemenang dari tiap kota akan diterbangkan ke Jakarta untuk mengikuti Festival Maker Fest 2018 di Jakarta pada bulan Desember mendatang. Dari 24 peserta skala nasional, 10 finalis terbaik akan diberikan kesempatan untuk mempresentasikan bisnisnya dan memberikan sesi workshop di depan para juri dan pengunjung Festival Maker Fest 2018.

Tiga juara terbaik Local Maker Competition 2018 akan mendapatkan reward masing-masing sebesar Rp 1 Milyar, Rp 300 juta, dan Rp 200 juta sebagai modal untuk mengembangkan usahanya. Selain itu, pemenang juga mendapatkan reward lainnya berupa konsultasi kreatif dan produksi untuk branding dan marketing campaign, kolaborasi eksklusif dengan pelaku industri kreatif nasional dan kesempatan berpartisipasi dalam pameran internasional, serta mengakses jalur distribusi ke ritel internasional.

Nah, bener kan rugi banget kalau tidak ikutan? Udah bertabur hadiah, dapat ilmu dan memperkuat jejaring.

Daftar quote dari berbagai institusi yang mendukung Maker Fest 2018 :


●    Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara: Ekonomi digital memberikan ruang luas bagi anak muda Indonesia untuk berinovasi menciptakan peluang bisnis. Guna memaksimalkan peluang tersebut perlu keselarasan antara teknologi terkini dengan kompetensi sumber daya manusia yang tinggi. Untuk itu pemerintah, pemain bisnis, dan pelaku kunci lainnya dalam ekosistem kewirausahaan harus bersinergi dalam mendukung pertumbuhan kreator lokal yang unggul dan berdaya saing tinggi. Merekalah yang akan menjadi penggerak Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020.

●    Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto: Generasi muda menjadi aset penting dalam membangun masa depan Indonesia untuk menjadi Negara Industri Tangguh, terutama karena pertumbuhan para kreator muda yang tersebar di berbagai daerah dapat mendukung percepatan pembangunan industri ke seluruh wilayah Indonesia. Saat ini sudah semakin banyak brand lokal hasil karya anak muda yang tidak kalah dengan brand internasional. Agar mampu menjadi produsen di era ekonomi digital, kita perlu memunculkan lebih banyak lagi kreator muda yang inovatif, berbasis teknologi dan berdaya saing global, sehingga siap menghadapi era industri 4.0.

  • Presiden Direktur JNE M. Feriadi : UKM berperan besar dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi lokal, apalagi dengan pesatnya pertumbuhan e-commerce saat ini. Untuk itu, dengan kapabilitasnya sebagai perusahaan pengiriman ekspres dan logistik nasional, JNE berkomitmen dalam mendukung kemajuan bisnis UKM, terutama dalam hal penjualan dan pengiriman. Melalui Maker Fest 2018, JNE ingin berperan lebih jauh lagi. Bukan hanya dukungan dalam pemberdayaan UKM, namun juga menjadikan kreator muda lokal memiliki daya saing dan kualitas produk yang diterima pasar luas. Baik di Indonesia hingga ke luar negeri. Kami juga menyediakan program khusus yang bisa dinikmati oleh seluruh kreator lokal yang berpartisipasi dalam Maker Fest.
***


Narahubung:
Eliza Viyantina
PR Committee Maker Fest (IDEA Group)
eliza.viyantina@ideagroup.co.id /+6281288955961
Read More

Eksotisme Sawahlunto : Tambang Batubara, dan Kenangan Jejak-jejak Imigran Belanda dan Jawa

sawahlunto, kota tambang, batubara, de greve
Courtesy : Minang Tourism
Hier rust de mijn ingenieur W.H de Greve den 12 October 1872 door een ongelekkig toeval alhier omgekomen R.I.P (Di sini beristirahat dengan tenang insinyur pertambangan W.H de Greve yang pada tanggal 22 Oktober 1872 meninggal karena kecelakaan).
Sumber : Minanglamo.blogspot.com
Makamnya hanya ditandai dengan nisan berukuran 107 cm x 88 cm. Tak ada ornament lain. Begitu sederhana. Terletak di tempat yang tidak biasa. Di kaki bukit, di pinggir sungai Kuantan  Jorong Koto Hilia Nagari Durian Gadang Sawahlunto.  Dipayungi pohon nangka, ditutupi oleh semak-semak dan rumput liar. Apa yang membuat seorang Belanda Willem Hendrik De Greve dimakamkan di tempat seperti  ini?

Demikian risalah baris demi baris dalam buku Jejak  de Greve Dalam Kenangan Sawahlunto yang ku baca. Begitu menggelorakan, begitu menakjubkan. Buku ini sudah ada sekitar dua tahun di rumah, namun baru kali ini aku berkesempatan untuk membacanya.

Emas Hitam

Berawal dari ambisi besar kerajaan Belanda dalam pencarian sumber-sumber energy untuk mendukung revolusi industry yang tengah marak di Eropa hingga mengantarkan seorang seorang insinyur pertambangan W.H de Greve hingga sampai ke Padangsche Bovenlanden, sebutan untuk daerah Minangkabau oleh Belanda.

Berbekal petunjuk dari penyelidikan awal yang dilakukan oleh C.De Groot van Embden, sembilan tahun sebelumnya.  Setelah mengkaji beberapa petunjuk, mengumpulkan beberapa benda uji dan mengujinya, pada tahun 1868 secara meyakinkan  de Greve menyatakan bahwa keberadaan batu bara di wilayah Ombilin itu benar-benar ada.

Batu bara dengan kalori terbaik dengan cadangan deposit hingga mencapai 200 juta ton. De Greve bahkan bisa memetakan wilayah sebarannya. Tapi de Greve belum puas.

Bagaimana pendistribusian batu bara itu nantinya hingga sampai ke negeri Belanda. Sawahlunto berada di tengah bentang pulau Sumatera. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan transportasi air. Inilah yang tengah di rintisnya, dijelajahinya kemungkinan jalur transportasi air hingga mencapai pantai timur Sumatera. Bagaimana menemukan jalur dari Batang (sungai) Ombilin, bertemu dengan Batang Kuantan, Sungai Kampar dan sungai Siak di Riau hingga berakhir di pertemuan sungai Indragiri dan Selat Melaka.

Namun takdir telah menemukan bahwa ekspedisi transportasi de Greve harus berakhir dengan sebuah kecelakaan di Batang Kuantan. Masih belum separuh jalan. Namun temuan de Greve di Ombilin kelak menjadi cikal bakal peradaban kota Sawahlunto.

Infrastruktur di Ranah Minang, Semua Berawal Dari Batubara


Kerajaan Belanda menanamkan modal berjuta Gulden untuk membangun infrastruktur di Sumatera Barat. Eksploitasi batu bara di Ombilin Sawahlunto membutuhkan banyak dukungan. Berbagai sarana dan prasarana dibutuhkan untuk memuluskan jalur logistic batu bara.

Proyek Tiga Serangkai dicanangkan oleh Kerajaan Belanda. Eksploitasi batu bara di Ombilin menjadi langkah awal dibangunnya sistem transportasi kereta api dari Sawahlunto hingga Padang dan dimulainya pembangunan pelabuhan Emmahaven (pelabuhan Teluk Bayur sekarang).Tidak hanya di Sawahlunto, tapi hingga menyebar ke berbagai daerah lain di Ranah Minang. Akhirnya terbangunlah sistem transportasi kereta api yang terintegrasi dari Pulau Air Padang - Padang Panjang- Bukittinggi - Solok - Muaro Kalaban - Sawahlunto - Teluk Bayur. Semua berawal dari batubara.

‘The Little Dutch’ Sawahlunto


Terletak di lembah Soegar, dikelilingi oleh perbukitan bukit barusan. Belantara hutan, persawahan dan areal lainnya dalam sekejap berubah menjadi kota industry. Gedung-gedung bernuansa kolonial Belanda dan China banyak dibangun, yang hingga kini masih terawat.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap didirikan untuk mendukung pertambangan. Lembah Soegar tidak lagi gelap di malam hari. Mana ada di Indonesia pada awal abad ke-20 listrik terang benderang di malam hari. Batu-bara telah mengubah segalanya. Sawahlunto telah menjadi daerah penting dalam geopolitik ekonomi Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, Indonesia sekarang.

Dulu disebut sebagai gedung Societeit. Dibangun pada tahun 1910 yang digunakan oleh petinggi tambang sebagai bangunan entertainment. Kini gedung ini difungsikan sebagai Pusat Kebudayaan Sawahlunto.
Kerlap-kerlip Lampu Gedung Societeit di Malam Hari (Sumber : Sawahlunto A Journey Into The Past)
Tampilan Gedung Societeit Kini

Senjakala Sawahlunto dan Transformasi Kota


Sejak penambangan pertama kali di Sungai Durian pada tahun 1891 yang membuahkan hasil produksi satu tahun berikutnya, kota Sawahlunto praktis bertumpu pada batu bara. Berduyun-duyun berbagai etnis berpindah hidup ke sini. Suku Jawa, Melayu, Batak dan lain sebagainya. Puluhan tahun masyarakatnya menumpukan kehidupannya pada batubara. Tambang batubara Ombilin merupakan tambang batubara terbesar di Indonesia pada masanya.

Menjelang tahun 1998, PT Bukit Asam sebagai BUMN yang bertindak sebagai operator tambang batubara Ombilin Sawahlunto, memindahkan kegiatan eksplorasinya karena cadangan yang sudah tidak ekonomis untuk ditambang. Denyut kehidupan mulai kembang kempis dan Sawahlunto terancam menjadi kota mati. Ribuan orang eksodus dari Sawahlunto hingga menjelang tahun 2002.

Kemudian datanglah seorang pengusaha Ir Amran Nur, putra daerah yang menjadi Walikota. Potret suram Sawahlunto direvitalisasi pada tahun 2005. Kota itu kini tidak lagi mengandalkan sektor pertambangan, tetapi dari pariwisata. Sawahlunto bangkit dengan menjual kisah masa lalunya.

Sawahlunto, A Cultural Tourism City

Yang kuingat dari memori kanak-kanak ketika pertama kali aku ke Sawahlunto adalah kota ini berbeda dari kota-kota lainnya yang pernah kukunjungi. Tidak terlalu besar, dikelilingi oleh perbukitan, bangunan-bangunan ‘aneh’ dan suasana yang ‘lain’.

Tak pernah lagi kukunjungi Sawahlunto hingga besar. Agustus tahun 2016 akhirnya aku kembali ke kota ini untuk suatu keperluan riset. Hari itu kota Sawahlunto  tengah bersiap-siap menggelar hajat Sawahlunto International Songket Carnival (SISCa) yang kedua. Sebuah gelaran dalam rangka ekspose Songket Silungkang kepada dunia internasional. Songket Silungkang merupakan salah satu kekayaan kultural nagari Silungkang Sawahlunto. Industri kreatif ini mampu mendukung geliat pariwisata Sawahlunto. Dengan menggunakan  mesin tenun tradisional, songket Silungkang dihasilkan dari tangan-tangan terampil nan lincah.

Aku senang sekali bisa menyaksikan kegiatan SISCa ini. Ratusan peserta datang dari berbagai daerah di dalam dan luar propinsi Sumatera Barat. Peserta parade berjalan mengelilingi daerah kota tua untuk mempromosikan songket Silungkang dan pariwisata Sawahlunto. Berharap gaungnya bisa menyamai Jember Fashion Carnival di tahun-tahun mendatang.
Berpose Di Depan Parade SISCa

Inilah masterpiece Songket Silungkang yang dipamerkan dalam gelaran Sawahlunto Internasional Songket Carnival tahun 2016. Dengan panjang hampir mencapai 20 meter lebih, perlu beberapa orang untuk merentangkannya. . .

Jejak-jejak Imigran Belanda dan Jawa 

Karena gelaran SISCa baru dimulai pukul dua siang, sehabis waawancara untuk keperluan riset, aku dan tim menyempatkan berkunjung ke beberapa destinasi yang menarik. Tujuan pertama kami adalah Lubang Mbah Soero.
Aku dan Tim berpose di mulut Lubang Soero
Lubang Soero merupakan saksi bisu sejarah panjang pertambangan batubara di Sawahlunto. Lubang Soero merupakan terowongan pertama yang digali untuk penambangan batubara. Dibuka pada tahun 1898. Terowongan ini mempunyai tiga level. Pada gambar di bawah merupakan level pertama dari terowongan. Dulunya terdapat rel pada jalan sekarang ditutup dengan paving block, untuk mendistribusikan batu bara dari tempat galian ke atas. Setelah 30 tahun beroperasi terowongan ini akhirnya ditutup karena terjadi rembesan dari Batang Lunto.
Intersection di Dalam Tunnel (Sumber Sawahlunto A Journey Into The Past)
Dua puluh ribu pekerja dari seluruh Indonesia dengan mayoritas dari Jawa didatangkan untuk menggali terowongan ini. Sebagian besar dari mereka merupakan orang tahanan. Satu grup pekerja terdiri dari sekitar tujuh orang pekerja yang diawasi oleh satu pengawas. Soerono merupakan salah satu pengawas lokal pertama dalam penggalian terowongan batubara ini. Namanya diabadikan sebagai branding destinasi wisata ini.

Orang rantai, demikian masyarakat menyebutnya. Pekerja-pekerja tambang dalam keadaan kaki di rantai dipaksa bekerja menggali terowongan dan batubara untuk memenuhi target dari pengawas. Tak jarang karena beban kerja yang berlebihan, banyak diantara mereka akhirnya menemukan ajal di sini.  Pemerintah Belanda hanya membuat nomor identifikasi pekerja pada batu nisannya. Tidak ada informasi yang lain.

Replikas Batu Nisan Orang Rantai Di Museum Gudang Ransum

Hingga sekarang di Sawahlunto sudah terjadi akulturasi kebudayaan jawa pada kehidupan masyarakatnya. Nama-nama penduduk yang berbau Jawa hingga diadakannya kegiatan pewayangan dan kuda lumping pada waktu-waktu tertentu.

Beranjak dari Lubang Soero, lalu kami menyinggahi Museum Gudang Ransum yang letaknya tidak begitu jauh dari Lubang Soero.

Museum Gudang Ransum memiliki kaitan erat dengan penambangan batubara. Disebut Gudang Ransum karena bangunan ini menyediakan konsumsi setiap harinya untuk ribuan pekerja tambang. Dibangun pada tahun 1918, kompleks bangunan Gudang Ransum merupakan sebuah konsep dapur masakan yang terintegrasi.

Terdapat enam bangunan di komplek ini. Ada bangunan yang memproduksi panas dari uap batubara dan mengalirkannya melalui pipa ke bangunan dapur untuk memasak. Terdapat juga gudang makanan yang memiliki tujuh ruangan untuk menyimpan tujuh jenis bahan makanan yang berbeda. Disamping itu juga ada bangunan yang khusus untuk memproduksi Es Krim dan penggilingan padi.
Bangunan Tungku Pembakaran



Periuk-periuk Raksasa Yang Digunakan Untuk Memasak
Berada di dalam Museum Gudang Ransum ini, aku membayangkan kesibukan di dapur umum dalam menyediakan konsumsi untuk pekerja. Hawa panasnya, riuh ramai suara pekerja di dapur diringi dengan asap yang menyeruak hingga keluar dapur. Semua peralatan memasak digunakan dalam ukuran besar dan dalam jumlah yang banyak. Dan dilengkapi dengan tiang-tiang tinggi yang menggunakan sistem katrol untuk mengangkat penutup periuk ketika memasak. Begitu terintegrasi, begitu terencana sistem logistik yang digunakan dalam gudang ransum ketika itu.

How To Get  Sawahlunto by SkyScanner


Sawahlunto berjarak sekitar 115 km dari Padang, ibukota Sumatera Barat. Traveler bisa menggunakan bus antar kota maupun jasa penyewaan mobil maupun mobil-mobil travel dengan durasi perjalanan berkisar 2.5 jam. Terletak di ketinggian 250 - 650 di atas permukaan laut.

Bagi Traveler yang juga ingin mengeksplor Sawahlunto sebagai tempat untuk menghabiskan liburan, jangan khawatir. Sekarang sudah ada situs yang membantu kamu untuk mewujudkan impian tersebut. Yup, pakai Skyscanner dong. Masak masih datang ke biro travel konvensional kayak dulu.

Sekarang kan zamannya online. Apa-apa bisa dilakukan dengan hape dan ujung jari. Nah kalau kamu pake aplikasi Skyscanner kamu gak hanya bisa booking tiket pesawat dan hotel, kayak kompetitor lainnya. Tapi kamu juga bisa sewa mobil sekalian. Jadi buat yang belum pernah ke Sawahlunto dan bingung cari kendaraan umumnya dari Bandar Udara Minangkabau, Skyscanner adalah solusi yang tepat.
Tampilan antar muka web Skyscanner

Oh ya maskapai apa aja yang bisa kamu gunakan kalau mau ke Sawahlunto? Banyak dong. Hampir semua maskapai brand dalam negeri membuka rute penerbangan ke Padang. Bagi kamu yang memilih Garuda Indonesia, kamu yang berangkat dari Jakarta terdapat tujuh kali penerbangan ke Padang, dan dari Batam sekali penerbangan sehari. Tiket Pesawat Garuda Indonesia pun bisa kamu dapatkan di Skyscanner.

Trus apalagi kemudahannya?

Situs Skyscanner merupakan situs terpercaya di seluruh dunia. Menampilkan harga yang jujur. Harga yang tertera merupakan harga yang anda bayar. Disamping itu pastinya hemat waktu. Iya dong karena sekarang Skyscanner juga sudah ada dalam platform aplikasi di gadget. Jadi bisa lebih ringkas.


Disamping itu Skyscanner juga menampilkan informasi, harga tiket pada penyedia jasa lainnya. Jadi kita bisa dengan mudah dapat informasi dan gak perlu ngabisin waktu buka dan search di tiap situs penyedia.

Kembali Ke Sawahlunto Dalam Impianku

Petang membatasi aku menjelajahi Sawahlunto pada hari itu. Aku dan rombongan harus kembali lagi ke Padang. Masih banyak tempat lagi yang belum aku kunjungi.

Ada Masjid Nurul Islam, masjid kebanggaan masyarakat Sawahlunto. Sepintas tidak ada yang istimewa dari masjid yang dibangun tahun 1952 ini. Selain fasad bangunannya yang memang mencirikan arsitektur jaman lampau dan jumlah kubahnya yang banyak. Aku belum belihat seperti apa di dalamnya, seperti apa cantik tegelnya.

Tapi lihatlah dari dekat kedua gambar di bawah ini. Sepertinya keduanya memiliki kemiripan. Hey coba pandangi kedua tiang tinggi yang terdapat di kedua gambar itu.
Kompleks PLTU Sawahlunto dulu (Sumber : Sawahlunto A Journey Into The Past)

Masjid Nurul Islam Sawahlunto (Sumber Beritanuansa.wordpress.com)
Benar kawan, itu adalah benda yang sama namun dengan fungsi yang berbeda. Cerobong asap dari pembakaran batubara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang dibangun pemerintah Belanda pada tahun 1894. Gedung instalasi pembangkit listriknya memang sekarang sudah tidak ada lagi. Sudah digantikan oleh bangunan fisik masjid. Namun tiang tinggi cerobong asapnya masih ada, dan difungsikan sebagai menara masjid. Menakjubkan bukan?

Masih ada Museum Kereta Api yang merupakan satu dari dua museum kereta api di Indonesia. Aku membayangkan suatu hari bisa menaiki kereta wisata dari Sawahlunto ke Muaro Kalaban yang ditarik oleh lokomotif Mak Itam, lokomotif uap peninggalan masa lampau. Ah betapa menyenangkan menyaksikan bentang alam sambil sesekali diselingi jeritan lokomotif uapnya.

Di Sawahlunto masih terdapat areal pemakaman Belanda, satu-satunya di Sumatera Barat. Terletak di Lubang Panjang sekitar dua kilometer dari pusat kota. Dengan luas areal 7000 m2 kamu bakal menyaksikan kuburan dengan ornamen-ornamen kolonial yang elegan.

Courtesy : @rizaanggraini
Sawahlunto bertabur bangunan-bangunan kolonial bergaya art deco. Keberadaannya hingga sekarang masih dapat kita jumpai. Bagi kamu yang suka selfie-selfie, Sawahlunto adalah tempatnya.
Kantor Pusat PT Bukit Asam (courtesy Minangtourism.com)
Berada di Sawahlunto seakan-akan membawa aku kembali ke masa lampau. Bangunan-bangunan kuno yang masih tegak berdiri, memberi tahu betapa hebatnya peradaban masa lampau. Tugas kitalah untuk menjaganya. Bukan berarti kita melestarikan kekuatan imperialis di bumi pertiwi ini, namun bangunan-bangunan itulah yang menjadi sebentuk penghubung dari masa sekarang dengan masa lampau. Yang bisa kita gunakan sebagai telaah berpikir untuk rencana di masa depan.

Menyusuri eksotisme Sawahlunto mengingatkanku betapa banyak peluh keringat bangsaku dalam membangun kota ini. Yang bahkan tidak hanya cukup diberikan dengan tenaga dan airmata, karena banyak dari mereka akhirnya menemui kematiannya disini.

Sawahlunto kaya dengan hasil bumi. Sawahlunto berlimpah kerajinan kreatif. Dan yang tidak kalah penting, Sawahlunto kaya akan sejarah perjuangan bangsa. Sudah sepantasnyalah kamu memilih Sawahlunto sebagai destinasi wisatamu. Skyscanner nanti yang akan membantumu.

Ah, Sawahlunto. Aku tak sabar untuk kembali bertemu denganmu...

                                                                        **AV**


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner


Referensi :
1. Yonni Saputra, Jejak de Greve Dalam Kenangan Sawahlunto, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2011
2. Yenny Narny, Sawahlunto A Journey Into The Past, Pemerintah Daerah Sawahlunto
3. https://minanglamo.blogspot.co.id/2013/04/wh-de-greve-explorer-1840-1872.html?m=1
Read More