Laman

Eksotisme Sawahlunto : Tambang Batubara, dan Kenangan Jejak-jejak Imigran Belanda dan Jawa

sawahlunto, kota tambang, batubara, de greve
Courtesy : Minang Tourism
Hier rust de mijn ingenieur W.H de Greve den 12 October 1872 door een ongelekkig toeval alhier omgekomen R.I.P (Di sini beristirahat dengan tenang insinyur pertambangan W.H de Greve yang pada tanggal 22 Oktober 1872 meninggal karena kecelakaan).
Sumber : Minanglamo.blogspot.com
Makamnya hanya ditandai dengan nisan berukuran 107 cm x 88 cm. Tak ada ornament lain. Begitu sederhana. Terletak di tempat yang tidak biasa. Di kaki bukit, di pinggir sungai Kuantan  Jorong Koto Hilia Nagari Durian Gadang Sawahlunto.  Dipayungi pohon nangka, ditutupi oleh semak-semak dan rumput liar. Apa yang membuat seorang Belanda Willem Hendrik De Greve dimakamkan di tempat seperti  ini?

Demikian risalah baris demi baris dalam buku Jejak  de Greve Dalam Kenangan Sawahlunto yang ku baca. Begitu menggelorakan, begitu menakjubkan. Buku ini sudah ada sekitar dua tahun di rumah, namun baru kali ini aku berkesempatan untuk membacanya.

Emas Hitam

Berawal dari ambisi besar kerajaan Belanda dalam pencarian sumber-sumber energy untuk mendukung revolusi industry yang tengah marak di Eropa hingga mengantarkan seorang seorang insinyur pertambangan W.H de Greve hingga sampai ke Padangsche Bovenlanden, sebutan untuk daerah Minangkabau oleh Belanda.

Berbekal petunjuk dari penyelidikan awal yang dilakukan oleh C.De Groot van Embden, sembilan tahun sebelumnya.  Setelah mengkaji beberapa petunjuk, mengumpulkan beberapa benda uji dan mengujinya, pada tahun 1868 secara meyakinkan  de Greve menyatakan bahwa keberadaan batu bara di wilayah Ombilin itu benar-benar ada.

Batu bara dengan kalori terbaik dengan cadangan deposit hingga mencapai 200 juta ton. De Greve bahkan bisa memetakan wilayah sebarannya. Tapi de Greve belum puas.

Bagaimana pendistribusian batu bara itu nantinya hingga sampai ke negeri Belanda. Sawahlunto berada di tengah bentang pulau Sumatera. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan transportasi air. Inilah yang tengah di rintisnya, dijelajahinya kemungkinan jalur transportasi air hingga mencapai pantai timur Sumatera. Bagaimana menemukan jalur dari Batang (sungai) Ombilin, bertemu dengan Batang Kuantan, Sungai Kampar dan sungai Siak di Riau hingga berakhir di pertemuan sungai Indragiri dan Selat Melaka.

Namun takdir telah menemukan bahwa ekspedisi transportasi de Greve harus berakhir dengan sebuah kecelakaan di Batang Kuantan. Masih belum separuh jalan. Namun temuan de Greve di Ombilin kelak menjadi cikal bakal peradaban kota Sawahlunto.

Infrastruktur di Ranah Minang, Semua Berawal Dari Batubara


Kerajaan Belanda menanamkan modal berjuta Gulden untuk membangun infrastruktur di Sumatera Barat. Eksploitasi batu bara di Ombilin Sawahlunto membutuhkan banyak dukungan. Berbagai sarana dan prasarana dibutuhkan untuk memuluskan jalur logistic batu bara.

Proyek Tiga Serangkai dicanangkan oleh Kerajaan Belanda. Eksploitasi batu bara di Ombilin menjadi langkah awal dibangunnya sistem transportasi kereta api dari Sawahlunto hingga Padang dan dimulainya pembangunan pelabuhan Emmahaven (pelabuhan Teluk Bayur sekarang).Tidak hanya di Sawahlunto, tapi hingga menyebar ke berbagai daerah lain di Ranah Minang. Akhirnya terbangunlah sistem transportasi kereta api yang terintegrasi dari Pulau Air Padang - Padang Panjang- Bukittinggi - Solok - Muaro Kalaban - Sawahlunto - Teluk Bayur. Semua berawal dari batubara.

‘The Little Dutch’ Sawahlunto


Terletak di lembah Soegar, dikelilingi oleh perbukitan bukit barusan. Belantara hutan, persawahan dan areal lainnya dalam sekejap berubah menjadi kota industry. Gedung-gedung bernuansa kolonial Belanda dan China banyak dibangun, yang hingga kini masih terawat.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap didirikan untuk mendukung pertambangan. Lembah Soegar tidak lagi gelap di malam hari. Mana ada di Indonesia pada awal abad ke-20 listrik terang benderang di malam hari. Batu-bara telah mengubah segalanya. Sawahlunto telah menjadi daerah penting dalam geopolitik ekonomi Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, Indonesia sekarang.

Dulu disebut sebagai gedung Societeit. Dibangun pada tahun 1910 yang digunakan oleh petinggi tambang sebagai bangunan entertainment. Kini gedung ini difungsikan sebagai Pusat Kebudayaan Sawahlunto.
Kerlap-kerlip Lampu Gedung Societeit di Malam Hari (Sumber : Sawahlunto A Journey Into The Past)
Tampilan Gedung Societeit Kini

Senjakala Sawahlunto dan Transformasi Kota


Sejak penambangan pertama kali di Sungai Durian pada tahun 1891 yang membuahkan hasil produksi satu tahun berikutnya, kota Sawahlunto praktis bertumpu pada batu bara. Berduyun-duyun berbagai etnis berpindah hidup ke sini. Suku Jawa, Melayu, Batak dan lain sebagainya. Puluhan tahun masyarakatnya menumpukan kehidupannya pada batubara. Tambang batubara Ombilin merupakan tambang batubara terbesar di Indonesia pada masanya.

Menjelang tahun 1998, PT Bukit Asam sebagai BUMN yang bertindak sebagai operator tambang batubara Ombilin Sawahlunto, memindahkan kegiatan eksplorasinya karena cadangan yang sudah tidak ekonomis untuk ditambang. Denyut kehidupan mulai kembang kempis dan Sawahlunto terancam menjadi kota mati. Ribuan orang eksodus dari Sawahlunto hingga menjelang tahun 2002.

Kemudian datanglah seorang pengusaha Ir Amran Nur, putra daerah yang menjadi Walikota. Potret suram Sawahlunto direvitalisasi pada tahun 2005. Kota itu kini tidak lagi mengandalkan sektor pertambangan, tetapi dari pariwisata. Sawahlunto bangkit dengan menjual kisah masa lalunya.

Sawahlunto, A Cultural Tourism City

Yang kuingat dari memori kanak-kanak ketika pertama kali aku ke Sawahlunto adalah kota ini berbeda dari kota-kota lainnya yang pernah kukunjungi. Tidak terlalu besar, dikelilingi oleh perbukitan, bangunan-bangunan ‘aneh’ dan suasana yang ‘lain’.

Tak pernah lagi kukunjungi Sawahlunto hingga besar. Agustus tahun 2016 akhirnya aku kembali ke kota ini untuk suatu keperluan riset. Hari itu kota Sawahlunto  tengah bersiap-siap menggelar hajat Sawahlunto International Songket Carnival (SISCa) yang kedua. Sebuah gelaran dalam rangka ekspose Songket Silungkang kepada dunia internasional. Songket Silungkang merupakan salah satu kekayaan kultural nagari Silungkang Sawahlunto. Industri kreatif ini mampu mendukung geliat pariwisata Sawahlunto. Dengan menggunakan  mesin tenun tradisional, songket Silungkang dihasilkan dari tangan-tangan terampil nan lincah.

Aku senang sekali bisa menyaksikan kegiatan SISCa ini. Ratusan peserta datang dari berbagai daerah di dalam dan luar propinsi Sumatera Barat. Peserta parade berjalan mengelilingi daerah kota tua untuk mempromosikan songket Silungkang dan pariwisata Sawahlunto. Berharap gaungnya bisa menyamai Jember Fashion Carnival di tahun-tahun mendatang.
Berpose Di Depan Parade SISCa

Inilah masterpiece Songket Silungkang yang dipamerkan dalam gelaran Sawahlunto Internasional Songket Carnival tahun 2016. Dengan panjang hampir mencapai 20 meter lebih, perlu beberapa orang untuk merentangkannya. . .

Jejak-jejak Imigran Belanda dan Jawa 

Karena gelaran SISCa baru dimulai pukul dua siang, sehabis waawancara untuk keperluan riset, aku dan tim menyempatkan berkunjung ke beberapa destinasi yang menarik. Tujuan pertama kami adalah Lubang Mbah Soero.
Aku dan Tim berpose di mulut Lubang Soero
Lubang Soero merupakan saksi bisu sejarah panjang pertambangan batubara di Sawahlunto. Lubang Soero merupakan terowongan pertama yang digali untuk penambangan batubara. Dibuka pada tahun 1898. Terowongan ini mempunyai tiga level. Pada gambar di bawah merupakan level pertama dari terowongan. Dulunya terdapat rel pada jalan sekarang ditutup dengan paving block, untuk mendistribusikan batu bara dari tempat galian ke atas. Setelah 30 tahun beroperasi terowongan ini akhirnya ditutup karena terjadi rembesan dari Batang Lunto.
Intersection di Dalam Tunnel (Sumber Sawahlunto A Journey Into The Past)
Dua puluh ribu pekerja dari seluruh Indonesia dengan mayoritas dari Jawa didatangkan untuk menggali terowongan ini. Sebagian besar dari mereka merupakan orang tahanan. Satu grup pekerja terdiri dari sekitar tujuh orang pekerja yang diawasi oleh satu pengawas. Soerono merupakan salah satu pengawas lokal pertama dalam penggalian terowongan batubara ini. Namanya diabadikan sebagai branding destinasi wisata ini.

Orang rantai, demikian masyarakat menyebutnya. Pekerja-pekerja tambang dalam keadaan kaki di rantai dipaksa bekerja menggali terowongan dan batubara untuk memenuhi target dari pengawas. Tak jarang karena beban kerja yang berlebihan, banyak diantara mereka akhirnya menemukan ajal di sini.  Pemerintah Belanda hanya membuat nomor identifikasi pekerja pada batu nisannya. Tidak ada informasi yang lain.

Replikas Batu Nisan Orang Rantai Di Museum Gudang Ransum

Hingga sekarang di Sawahlunto sudah terjadi akulturasi kebudayaan jawa pada kehidupan masyarakatnya. Nama-nama penduduk yang berbau Jawa hingga diadakannya kegiatan pewayangan dan kuda lumping pada waktu-waktu tertentu.

Beranjak dari Lubang Soero, lalu kami menyinggahi Museum Gudang Ransum yang letaknya tidak begitu jauh dari Lubang Soero.

Museum Gudang Ransum memiliki kaitan erat dengan penambangan batubara. Disebut Gudang Ransum karena bangunan ini menyediakan konsumsi setiap harinya untuk ribuan pekerja tambang. Dibangun pada tahun 1918, kompleks bangunan Gudang Ransum merupakan sebuah konsep dapur masakan yang terintegrasi.

Terdapat enam bangunan di komplek ini. Ada bangunan yang memproduksi panas dari uap batubara dan mengalirkannya melalui pipa ke bangunan dapur untuk memasak. Terdapat juga gudang makanan yang memiliki tujuh ruangan untuk menyimpan tujuh jenis bahan makanan yang berbeda. Disamping itu juga ada bangunan yang khusus untuk memproduksi Es Krim dan penggilingan padi.
Bangunan Tungku Pembakaran



Periuk-periuk Raksasa Yang Digunakan Untuk Memasak
Berada di dalam Museum Gudang Ransum ini, aku membayangkan kesibukan di dapur umum dalam menyediakan konsumsi untuk pekerja. Hawa panasnya, riuh ramai suara pekerja di dapur diringi dengan asap yang menyeruak hingga keluar dapur. Semua peralatan memasak digunakan dalam ukuran besar dan dalam jumlah yang banyak. Dan dilengkapi dengan tiang-tiang tinggi yang menggunakan sistem katrol untuk mengangkat penutup periuk ketika memasak. Begitu terintegrasi, begitu terencana sistem logistik yang digunakan dalam gudang ransum ketika itu.

How To Get  Sawahlunto by SkyScanner


Sawahlunto berjarak sekitar 115 km dari Padang, ibukota Sumatera Barat. Traveler bisa menggunakan bus antar kota maupun jasa penyewaan mobil maupun mobil-mobil travel dengan durasi perjalanan berkisar 2.5 jam. Terletak di ketinggian 250 - 650 di atas permukaan laut.

Bagi Traveler yang juga ingin mengeksplor Sawahlunto sebagai tempat untuk menghabiskan liburan, jangan khawatir. Sekarang sudah ada situs yang membantu kamu untuk mewujudkan impian tersebut. Yup, pakai Skyscanner dong. Masak masih datang ke biro travel konvensional kayak dulu.

Sekarang kan zamannya online. Apa-apa bisa dilakukan dengan hape dan ujung jari. Nah kalau kamu pake aplikasi Skyscanner kamu gak hanya bisa booking tiket pesawat dan hotel, kayak kompetitor lainnya. Tapi kamu juga bisa sewa mobil sekalian. Jadi buat yang belum pernah ke Sawahlunto dan bingung cari kendaraan umumnya dari Bandar Udara Minangkabau, Skyscanner adalah solusi yang tepat.
Tampilan antar muka web Skyscanner

Oh ya maskapai apa aja yang bisa kamu gunakan kalau mau ke Sawahlunto? Banyak dong. Hampir semua maskapai brand dalam negeri membuka rute penerbangan ke Padang. Bagi kamu yang memilih Garuda Indonesia, kamu yang berangkat dari Jakarta terdapat tujuh kali penerbangan ke Padang, dan dari Batam sekali penerbangan sehari. Tiket Pesawat Garuda Indonesia pun bisa kamu dapatkan di Skyscanner.

Trus apalagi kemudahannya?

Situs Skyscanner merupakan situs terpercaya di seluruh dunia. Menampilkan harga yang jujur. Harga yang tertera merupakan harga yang anda bayar. Disamping itu pastinya hemat waktu. Iya dong karena sekarang Skyscanner juga sudah ada dalam platform aplikasi di gadget. Jadi bisa lebih ringkas.


Disamping itu Skyscanner juga menampilkan informasi, harga tiket pada penyedia jasa lainnya. Jadi kita bisa dengan mudah dapat informasi dan gak perlu ngabisin waktu buka dan search di tiap situs penyedia.

Kembali Ke Sawahlunto Dalam Impianku

Petang membatasi aku menjelajahi Sawahlunto pada hari itu. Aku dan rombongan harus kembali lagi ke Padang. Masih banyak tempat lagi yang belum aku kunjungi.

Ada Masjid Nurul Islam, masjid kebanggaan masyarakat Sawahlunto. Sepintas tidak ada yang istimewa dari masjid yang dibangun tahun 1952 ini. Selain fasad bangunannya yang memang mencirikan arsitektur jaman lampau dan jumlah kubahnya yang banyak. Aku belum belihat seperti apa di dalamnya, seperti apa cantik tegelnya.

Tapi lihatlah dari dekat kedua gambar di bawah ini. Sepertinya keduanya memiliki kemiripan. Hey coba pandangi kedua tiang tinggi yang terdapat di kedua gambar itu.
Kompleks PLTU Sawahlunto dulu (Sumber : Sawahlunto A Journey Into The Past)

Masjid Nurul Islam Sawahlunto (Sumber Beritanuansa.wordpress.com)
Benar kawan, itu adalah benda yang sama namun dengan fungsi yang berbeda. Cerobong asap dari pembakaran batubara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang dibangun pemerintah Belanda pada tahun 1894. Gedung instalasi pembangkit listriknya memang sekarang sudah tidak ada lagi. Sudah digantikan oleh bangunan fisik masjid. Namun tiang tinggi cerobong asapnya masih ada, dan difungsikan sebagai menara masjid. Menakjubkan bukan?

Masih ada Museum Kereta Api yang merupakan satu dari dua museum kereta api di Indonesia. Aku membayangkan suatu hari bisa menaiki kereta wisata dari Sawahlunto ke Muaro Kalaban yang ditarik oleh lokomotif Mak Itam, lokomotif uap peninggalan masa lampau. Ah betapa menyenangkan menyaksikan bentang alam sambil sesekali diselingi jeritan lokomotif uapnya.

Di Sawahlunto masih terdapat areal pemakaman Belanda, satu-satunya di Sumatera Barat. Terletak di Lubang Panjang sekitar dua kilometer dari pusat kota. Dengan luas areal 7000 m2 kamu bakal menyaksikan kuburan dengan ornamen-ornamen kolonial yang elegan.

Courtesy : @rizaanggraini
Sawahlunto bertabur bangunan-bangunan kolonial bergaya art deco. Keberadaannya hingga sekarang masih dapat kita jumpai. Bagi kamu yang suka selfie-selfie, Sawahlunto adalah tempatnya.
Kantor Pusat PT Bukit Asam (courtesy Minangtourism.com)
Berada di Sawahlunto seakan-akan membawa aku kembali ke masa lampau. Bangunan-bangunan kuno yang masih tegak berdiri, memberi tahu betapa hebatnya peradaban masa lampau. Tugas kitalah untuk menjaganya. Bukan berarti kita melestarikan kekuatan imperialis di bumi pertiwi ini, namun bangunan-bangunan itulah yang menjadi sebentuk penghubung dari masa sekarang dengan masa lampau. Yang bisa kita gunakan sebagai telaah berpikir untuk rencana di masa depan.

Menyusuri eksotisme Sawahlunto mengingatkanku betapa banyak peluh keringat bangsaku dalam membangun kota ini. Yang bahkan tidak hanya cukup diberikan dengan tenaga dan airmata, karena banyak dari mereka akhirnya menemui kematiannya disini.

Sawahlunto kaya dengan hasil bumi. Sawahlunto berlimpah kerajinan kreatif. Dan yang tidak kalah penting, Sawahlunto kaya akan sejarah perjuangan bangsa. Sudah sepantasnyalah kamu memilih Sawahlunto sebagai destinasi wisatamu. Skyscanner nanti yang akan membantumu.

Ah, Sawahlunto. Aku tak sabar untuk kembali bertemu denganmu...

                                                                        **AV**


Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner


Referensi :
1. Yonni Saputra, Jejak de Greve Dalam Kenangan Sawahlunto, Penerbit Ombak Yogyakarta, 2011
2. Yenny Narny, Sawahlunto A Journey Into The Past, Pemerintah Daerah Sawahlunto
3. https://minanglamo.blogspot.co.id/2013/04/wh-de-greve-explorer-1840-1872.html?m=1

17 komentar:

  1. Sawahlunto emang keren! Pengen ke Danau Biru 😀

    BalasHapus
  2. Wah Sawablunto memang kaya akan sejarahnya ya bu. Saya baru ngeh sebagai tempat memanen batu bara, Sawahlunto menjadi awal pembangunan sistem transportasi KA di sumbar ya bu? Saya tidak ingat saya pernah ke Sawahlunto atau belum. Kalau sudah, pastilah telah lama sekali tidak ke sana lagi. Wah pengen banget ke sana.

    Ternyata skyscanner juga bisa rental mobil. Hmm. Mungkin nanti saya coba lihat dulu bisa sewa mobil dari Padang ke sana ga ya?

    BalasHapus
  3. wahh sawahlunto menarik sekali sejarahnya. Sisa-sisa bangunannya juga menarik ya untuk diexplore.

    BalasHapus
  4. Menarik sekali melongok kembali ke masa lalu Sawah Lunto. Bagaimana negeri ini mengalirkan kekayaan ke Eropa dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Entah Belanda yang sebagai tuan maupun pribumi sebagai kuli paksa.Syukur lah setelah batu bara habis, Sawah Lunto tak sudi jadi kota mati. Sekarang ia menarik duit dari pariwisata. Aku pikir memasukan Tenun Silungkang sebagai salah satu daya tarik pariwisata Sawah Lunto sangat tepat

    BalasHapus
  5. Ahhh udah lama pengen kesiniii tapi nggak pernah ada waktu
    Semoga aku juga bisa segera mengunjungi kota penuh sejarah ini

    BalasHapus
  6. Aku pernah ke sawah Lunto seakan flashback ke zaman itu ya mba, merinding dan kepengen tau menyatu deh

    BalasHapus
  7. Ahh , Sawah Lunto emang keren penuh dengan sejarah ya mbaa, btw itu kain songketnya, mauuu..

    BalasHapus
  8. Sejarah nusantara apalagi soal peninggalan belanda emang selalu menarik untuk di simak.

    BalasHapus
  9. Aku ngebayangin . Pada saat proses pembangunan,pekerja kaki di rantai dan mati-nya jg disitu

    Ya allam kejam nya pemerintah Belanda pada saat itu

    BalasHapus
  10. Membaca ini seakan diajak masuk ke Sawahlunto. Mbak Yervi bisa aja membawa saya ke pelesiran ke sejarahnya.

    BalasHapus
  11. Wah menakjudbkan ternyata pesona sawahlunto ya uni... belum pernah menjejak di sana. Mudah2an suatu saat bisa terwujud.
    Jadi bangun2an lama masih digunakan beberapa ya dengan fungsi yang berbeda. Sukaa...

    BalasHapus
  12. Ternyata Sawahlunto banyak memiliki kekayaan sejarah masa lalu yang nggak bisa dilupakan

    BalasHapus
  13. Kolonial Belanda memang menyisakan bangunan-bangunan keren ya,kak ...
    Gagah bentuknya dan kokoh.

    Patut dilestarikan sebagai destinasi wisata sejarah.

    BalasHapus
  14. Kemarin ke padang ga sekalian mampir ke sawahlunto aku, eman.

    BalasHapus
  15. Waktu masih kecil saya sering ke sini, secara orang tua kerja di Perum Batubara................sayang masih belum kenal blog sama fotografi hiks......

    BalasHapus
  16. Tulisan ini makin bikin tambah bucket list jelajah Nusantara aku nih

    BalasHapus