Laman

Buku Di Mata Mahasiswa Era Digital

mahasiswa, buuku, digital
Sumber : Pixabay.com

Saya masih ingat ketika masih jadi mahasiswa, dua puluh tahun yang lalu, buku-buku textbook yang dipakai umumnya hasil beli sendiri atau ngopy dari buku yang dipunyai oleh senior. Jaman dulu keberadaan buku amat terbatas. Kalau tidak ada di toko buku, berarti sumber lain hanya didapat dari perpustakaan dan pinjaman dosen.

Namun sepertinya karena keterbatasan keadaan, mahasiswa dulu sangat memuja buku. Rak atau lemari pajangan dengan buku buku tebal walaupun hasil copyan, tetap membawa kebanggaan bagi pemiliknya.

Pemahaman bahan kuliah, ya sumbernya dari buku. Untuk mengerjakan tugas-tugas, pedomannya ya buku. Jimat ujian, ya dari resume buku.

Tapi di era digital ini, sepertinya telah terjadi pergeseran di mahasiswa. Walaupun saya tidak menyatakan itu untuk mahasiswa secara keseluruhan, tetapi sejauh pengamatan saya sebagai dosen, saya menangkap fenomena ini.

Power Point...Si Biang Kerok

Kalau dulu buku yang menjadi sumber ilmu mahasiswa dalam belajar, namun di era digital ini posisinya sudah digantikan oleh power point dari dosennya. Jaman dulu ketika belum ada laptop, dosennya ya menerangkan dengan menggunakan spidol atau paling canggih saat itu pakai infocus dengan proyektor untuk memantulkan tulisan dosen melalui media plastik yang ditulis dengan spidol warna-warni.

Gak bisa dicopykan ya...atau dosennya yang gak mau minjamin. Karena kalau hilang resikonya tulis tangan lagi.

Sekarang, mahasiswa sudah punya file perkuliahan dosennya. Kadang ada dosen yang baik hati, selalu memberi bahan perkuliahan dalam bentuk file power poin langsung. Mahasiswa mungkin menyangka, bahan perkuliahan itu akan tetap begitu seiring waktu. Gak akan di-update sama dosennya.

Ada yang bilang, dengan penyampaian seperti ini dosen menjadi tidak berpower dan sebenarnya tidak dapat poin-poinnya. Tapi buat mahasiswa gak papa. Yang penting power poin menjadikan perkuliahan menjadi simpel. Gak perlu bawa tas bawa catatan. Cukup lihat power point dosen. Segalanya sudah ada disana.

Hardcopy vs Softcopy

Digitalisasi juga merambah ke produk buku. Banyak situs-situs yang menawarkan penjualan buku tidak dalam bentuk fisik. Belum lagi situs-situs tertetnu yang juga menyediakan buku digital secara gratis.

Cukup dalam satu klik, mahasiswa sudah punya bukunya. Puluhan buku bisa dipunyai dari unduhan yang hanya butuh koneksi data.

Tapi apakah dengan buku nonfisik ini, akan semakin mempermudah mahasiswa? Dalam sisi penyediaan mungkin. Tapi mungkin juga tidak dalam hal elaborasi pemahaman bahan atau topik ajar.

Satu hari, saya memberikan softcopy buku ajar kepada mahasiswa sebagai buku pedoman. Dari sana saya ingin melihat perilaku mahasiswa terhadap buku nonfisik ini. Ternyata memang sesuai dengan duugaan saya. Hanya satu dua mahasiswa yang mencetak kembali softcopy buku tersebut dan mayoritas menyatakan disimpan di dalam laptop masing-masing.

Keduanya punya kelebihan dan kekurangan sih. Dengan buku fisik, mungkin agak susah untuk membawanya berpindah tempat apalagi kalau bukunya tebal dan berat. Tapi dengan buku fisik, produktifitas baca akan lebih tinggi dibandingkan mebaca dalam wujud buku nonfisik.

Tanya saja sama Mbah Gugel

Berbicara produktifitas baca textbook bagi mahasiswa, salah satu hal yang yang membuat penurunan kebiasaan membaca mahasiswa adalah karena keberadaan mbah gugel. Hanya perlu ketik apa yang dicari, semua informasi yang berdekatan akan langsung tersaji. Mahasiswa tidak perlu repot membaca keseluruhan.

Namun apakah bahan yang tersaji di setiap laman gugel itu akan dibaca. Kebanyakan juga tidak. Lalu lahirnya kebiasaan copy paste tanpa menelaah terlebih dahulu.

Jadi kalau mahasiswa disuruh membuat makalah dari beberapa sumber referensi, maka makalah itu akan menyajikan gaya bahasa sesuai dengan jumlah sumber referensinya. Mahasiswa tidak terlatih untuk menseleksi maupun melakukan sintesa terhadap literatur rujukannya.

Ada kisah miris saat saya membawa sebuah buku ke hadapan mahasiswa saya di dalam kelas. Saya menunjukkan buku tersebut dan mempersilahkan kalau ada mahasiswa yang ingin mengcopy-nya. Saya yakin tidak ada yang mempunyai buku itu karena buku terbitan luar negeri. Ternyata hingga selesai perkuliahan, tidak satu pun dari mahasiswa saya yang tertarik untuk meminjamnya. Akhirnya buku tersebut saya bawa pulang kembali.

Mungkin inilah yang dimaksud era disrupsi pada kebiasaan membaca mahasiswa. Teknologi meninabobokan, tidak hanya untuk membantu. Namun saya juga percaya masih ada mahasiwa yang tidak tergoda dengan budaya instan. Karena sesungguhnya setiap proses akan menghasilkan output yang berbeda. Hasil tidak akan pernah mengkianati usaha.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar