Laman

Lelaki Yang Menduda Di Usia Senja


Lelaki itu tampak lemah tak berdaya. Segala aktifitas fisik dilaluinya dengan kursi roda. Kalau anda terlibat ‘diskusi’ mendalam dengannya, anda akan mendapatkan jawaban-jawaban yang sudah kehilangan arah. Lelaki itu menderita demensia. Luka batin mempercepat keparahan penyakitnya. Kenyataan harus memakamkan jenazah isterinya di tanah Haram dan kembali ke tanah air sendiri dengan keyakinan tidak akan pernah bisa menziarahi makam isterinya , begitu membuat laki-laki itu terpukul. Sejak itu kesehatannya menurun drastis.

Di banyak contoh, teramat sulit bagi laki-laki menjalani kehidupan pasca ditinggal pergi istri yan meninggal. Ada yang segera menikah lagi untuk mengisi kekosongan hati namun juga ada yang tetap bertahan hidup sendiri. Faktor psikologis yang menyebabkannya karena secara umum kebutuhan-kebutuhan seorang suami lebih banyak disediakan oleh isterinya. Ada kegagapan dan kehilangan ‘pegangan’ yang dirasakan. Indro Warkop dengan menangis menceritakan bahwa dirinya seakan berjalan dengan satu kaki pasca ditinggal istri. B.J Habibie pun harus melakukan terapi menulis sesuai saran dari psikolognya untuk mengatasai kesedihan pasca meninggalnya Bu Ainun.

Demikian juga dengan lelaki yang ada di dalam foto ini. Papa saya sendiri. Sungguh saya tidak menduga bahwa setelah kepergian mama, papa pernah konseling juga dengan psikolog. Saya menemukan secarik kertas invoice ketika merapikan barang setelah pindah rumah. Tampak dari luar, papa tegar saja dan menjalani kehidupan seperti biasa. Namun luka batin memang kadang tak tampak dan bisa disembunyikan. Bahkan saya merasa, bahwa sakitnya saya pada tahun 2015 lalu, dua setengah bulan setelah mama pergi adalah cara Allah untuk membuat papa bisa mengalihkan pikiran dan perhatian. Allah SWT Maha Tahu segalanya.

Setelah mama meninggal, saya mendapat tugas baru sebagai pengganti mama untuk mendampingi papa di ruang publik. Contohnya pergi ke pesta pernikahan, halal bi halal dan sebagainya. Pernah suatu kali, waktunya tidak cocok. Papa membatalkan kepergiannya. Seiring waktu, papa makin terbiasa pergi sendiri. Sekarang paling hanya ke tempat pesta di gedung, papa saya dampingi.

Walaupun sudah pensiun enam tahun ini, hari-hari papa sangat lah sibuk. Pagi-pagi habis subuh sudah pergi senam di GOR dengan pengurus PORPI. Lalu pulang untuk antar Nessa sekolah. Abis itu mantengin laptop untuk melihat pergerakan harga saham. Terkadang abis itu juga masak kalau saya tidak sempat atau berkebun beres-beres buah naga maupun bunga. Siangnya baca-baca Koran yang biasanya akan membawa beliau jatuh tertidur. Waktu-waktu tertentu rapat organisasi Muhammadyah. Kehidupan sosial beliau tidak hanya di Masjid dekat rumah namun juga diluar.

Karena sudah berumur 71 tahun, beliau sangat concern dengan olahlatih pikiran dan raga. Pernah ada dokter yang menyarankan supaya beliau bermain keyboard untuk meredakan efek tremor pada jari tangan. Bukan hanya keyboar yang dibeli, namun papa juga ikut les di Purwacaraka. Jadilah papa ‘murid’ tertua disana kala itu.
Namun begitu, walaupun beliau mampu mengurus diri sendiri dan bahkan mengurus cucu, saya tahu ada ruang kosong di hati papa. Papa kesepian dan merasa sendiri. Saya tidak bisa menemani papa menonton hingga pukul 11 jam tidur papa. Saya tidak bisa menemani papa berangkat subuh-subuh ke RS untuk ambil antrian kala waktu kontrol kesehatan regular tiba.

Saya berusaha memahami keadaan walau bagaimana saya sebagai anak takkan mampu mengisi ruang kosong itu. Kalaupun pada suatu hari nanti, papa ditakdirkan mendapat jodoh lagi, saya akan berusaha mengikhlaskannya. Saya tahu itu berat. Karena papa akan selalu jadi lelaki cinta pertama saya, tak peduli apakah nantinya kita akan selalu bersama atau hidup terpisah.

1 komentar:

  1. Yah semoga ibunda mbak diterima amal dan ibadah di SisiNya. Oh iya mbak, ini saya yang dari gariswarnafoto, salam kenal ya

    BalasHapus